Senin, 13 November 2023

G 30 S

 

G 30 S

 

Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Selesai pesta sederhana, sore hari kami mendengar berita dari radio, Persiden Sukarno sudah diamankan, dari pemberontakan Dewan Jendral. Rakyat mulai resah, yang selama ini dianggap aman-aman saja tiba-tiba muncul pemberontakan.

Kami sekeluarga terus memantau. Malam hari tersiar berita justru yang berontak Golongan komunis yang ingin menguasai Negara. Hari-hari berikutnya sangat mengerikan, seperti ada aba-aba Golongan Komunis bergerak serentak diseluruh daerah-daerah hampir diseluruh Indonesia, memerangi apa saja yang tidak sepaham dengan Aliran Komunis, salah satunya musuh terbesarnya Partai dimana Mbah Putri beroganisasi.

Solo adalah basis Komunis terbesar, banyak Kelompok TNI yang ikut bergabung, maka tak heran di Solo saat itu benar-benar seperti perang saudara, suara tembakan sporadis tidak hanya siang hari, malampun sering terdengar, hingga Pemerintah Solo meberlakukan jam malam.

Atas saran keluarga Mbah Putri dilarang aktif lagi di Organisasi Partai, dan kebetulan memang kesehata Mbah Putri sedang terganngu dengan adanya Kista di rahimnya.

Gerombolan Komunis semakin liar, rumah-rumah yang dihuni orang yang dianggap musuh dibakar, mata mata tersebar dimana-mana setiap orang yang sudah dicap non komunis ditangkap dihabisi. Terrmasuk Mas Man.

Sementar itu mas Man pulang ke Ceper, mau meneruskan kuliah di Klaten. Ia memang pengikut setia Mbah Putri, masuk Organisasi Pemuda Partai besar yang diikut Mbah Putri, maka tak heran ia pun menjadi incaran Gerombolan Kaum Komunis.

Cerita Mas Man. Suatu hari Mas Man dikejutkan ada rumah kebakaran, ia bersama teman-temannya berbondong-bondong datang ingin menolong, tidak tahunya itu sebuah jebakan, dengan mudahnya Mas Man dan teman-temannya ditangkap, dibawa ke sebuah arel pemakaman, mereka dimasukkan kedalam sebuah cungkup (Rumah atau semacam gubuk yang didalamnya ada makamnya) lalu dikunci. Setelah menginap semalam, pagi harinya ada satu orang diseret keluar dan tidak kembali lagi, selang waktu kemudian satu lagi orang diseret keluar.

Betapa ngerinya mereka yang masih hidup didalam cungkup, mereka sudah sering mendengar orang non komunis disembelih, dan kini mereka mengalaminya sendiri. Kini di cungkup kira-kira tinggal 2-3 orang, lama Algojonya tidak muncul-muncul, kelak kemudian diketahui jagalnya BAB dulu sebelum menghabisi sisa mangsanya. Allah memberi pertolongan, tepat saat itu RPKAD alias Pasukan baret Merah datang membasmi Gerombolan Komunis hingga pelosok pelosok, termasuk ke makan dimana Mas Man berada. Selamatlah mas Man, kami menyebutnya nyowo balen.

 

        Kembali ceritera di rumah Sindoro, pagi-pagi kami melihat ada tanda cet hitam silang, desas desusnya rumah yang ditandai itu sasaran untuk dibakar gerombolan Komunis. Ya panik juga sekeluarga, untung pas hari itu Pakde dan Bude Wiryono datang, memang sengaja menjeput Mbah Putri untuk operasi kista di RS Eizabet. Akhirnya semua keluarga ikut ngungsi ke Semarang, kecuali aku dan mas Drajat untuk tunggu rumah.

        Beberapa hari kemudian, saat itu jam malam sudah mulai berlaku, aku, mas Drajat dan Windu putranya Bude Warso tunggu rumah, habis makan malam, terus berjaga-jaga selalu siap siaga nggak boleh jauh dari kentongan. Jika ada yang membahayakan kentongan itu akan ditabuh sebagai alarm minta bantuan.

Tiba-tiba ada suara ketukan dipintu, kami bertiga saling pandang, tak berani membuka, ketukan berulang, kami sudah siap memegang kentongan, tiba-tiba terdengar suara panggilan:

        “Dik dik... dik Drajat dik Pangkat ini mas Samsudin.”

        Kami bertiga saling pandang, siapa Samsudin itu, jangan janga jebakan.

        “Dik dik Drajat dik Pangkat ini suami mbak Amah.”

        Ya ampun saking paniknya nggak ingat nama suami mbak Amah namanya Samsudin, berebut kami bukakan pintu dan seorang Tentara dengan Gagahnya berdiri didepan pintu dengan menyadang Standgun.

Rupanya Pemberontak Komunis yang berada di Solo dan sekitarnya akan dihabisi maka didatangkan bala bantuan baik dari Baret Merah juga dari Batalion lainya termasuk Kompinya mas Samsudin.

 

        Bertepatan dengan itu pagi harinya, segerombolan orang tak dikenal yang diindikasikan gerombolan kaum Komunis akan masuk komplek perumahan. Mendengar ada alarm kentongan, mas Samsudin keluar sambil menjinjing senjatanya. Serta dilihat disebelah barat ujung jalan Sindoro gerombolan orang mau merangsek masuk komplek, mas Samsudin menembakkan senjatanya kearah udara. Medengar rentetan sejata geromoban bubar berhamburan melarikan diri.

Mas Samsudin masuk rumah sambil ketawa-ketawa:

        “Kalau nekat masuk komplek ya tak tembak wetenge, klipuk” kata mas Samsudin dengan bahasa ngapak Banyumasan artinya saya tembak perutnya mampus.

 

        Setelah situasi Solo aman. Mbah Kakung dan Mbah putri pulang ke Solo, sebaliknya aku dan dik Ning pindah ke Semarang, ikut keluaga Bude Wir, untuk meneruskan kuliah.

Mas Man pindah ke Ceper, untuk meneruskan kuliahnya di Klaten sambil magang disebuah Bank.

Yang tinggal di Jl Sindoro Gremet hanya Mbah kakung, Mbah Putri, mas Drajat yang kuliah di Solo dan dik Agus.

Beberapa tahun kemudian, Pakde Wir diangkat menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Canberra, Australia, selama 15 tahun tugas di Negara Kanguru itu. Semua keluarga ikut pindah ke Australi, termasuk Bu Tin dan dik Ning, aku tidak ikut, masih nerusin kuliah.

 

Di Australia Dik Ning ketemu Jodohnya seorang Pemuda Bali bernama Cokorde Rake, ia seorang Anggota AURI ajudan Duta besar Australi saat itu. Di kurun waktu itu juga Bu Tin berhasil menjadi Pegawai Departen Luar Negeri, pisah dengan keluarga Bude Wir, karena dinas di Luar Negeri yang tugasnya berpindah-pindah dari satu negera ke negara lain.

Itulah sebabnya Mbah Kakung dan Mbah Putri seperti menghilang dari Indonesia, ketika Mbah Kakung dan Mbah Putri diboyong Bude Wir ke Australia, dan selanjutnya Mbah Kakung dan Mbah Putri mengikuti Mbak Tin mulai dari Kanda, pindah Swis dan terakhir di Philiphina.

Setelah semua anak mapan, membangun rumah tangga sendiri, jika Mbah Kakung dan Mbah Putri pulang ke Indonesia seperti Turis, mampir sebentar di Jakarta tempat tinggalku, lanjut ke Cirebon tempat tinggal Mas Drajat, mapir ke Semarang menengok Bude Wir lanjut menengok Bude Warso ke Solo terus ke Surabaya tempat tinggal Pak Bekti dan ke Bali tempat tinggal dik Ning dan dik Rake.







napak tilas

 

Napak tilas

 

Seiring perjalanan waktu, sebagian anak sudah mentas, Yu Sri selanjutnya kami panggil Bude Warso, karena nikah dengan Mas Suwarso tinggal di Nusukan, mbakyu Siti Partini selanjutnya kami panggil Bude Wir karena menikah dengan mas Wiryono tinggal di Semarang dan mbak Tin, selanjutnya kami memanggilnya Bu Tien mengikuti keluarga Bude Wir, dari sejak keluarga Bude Wir pindah di Malang, Makasar hingga menetap di Semarang. Mbak Amah pulang ke Jengrana, karena akan menikah.

Aku tidak ingat tahunnya, sekitar 60 an, kami sekeluarga diundang ke Jengrana, menyaksikan pesta perkawinan Mbak Amah dengan sorang anggota TNI AD. kalau tidak salah dari Batalion Slawi, bernama Samsudin. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan, bagaikan napak tilas, selesai pesta perkawinan di Jengrana, kami ikut acara mengantar manten ke Banjarnegara, tempat tinggal keluarga mas Samsudin, dilanjukan menjelajah desa-desa yang pernah kami singgahi, seperti Pagak, Jeruk Legi, Lebeng hingga Kota Cilacap.

Setiap tempat yang kami singgahi ada sebagian Penduduk yang masih mengenal pak Mantri dan anak kembarnya, membuat pertemuan itu menjadi sangat berkesan.

 

Kini yang tinggal di Perumahan Rakyat Gremet Solo hanya aku, Mas Drajat, mas Man, dik Ning dan dik Agus. Saatnya Mbah Putri punya banyak waktu luang, apa lagi urusan pekerjaan rumah tangga sudah di kerjakan anak-anak dengan sisitem pembagian kerja. Aku bagian mencuci baju semua penghuni rumah, mas Drajat bagian seterika, mas Man urusan kebersihan rumah, Dik Ning bagian belanja dan masak, dik Agus meskipun waktu itu masih kecil tetap mendapat pekerajaan yakni membersihkan sepatu.

Banyak waktu luang bukan berarti Mbah Putri leha-leha, untuk mengisi kekosogan itu Mbah Putri mulai ikut berbagai kegiatan semacam Karawitan, bahkan ikut Organisasi sebuah Partai Besar. Peran Mbah Putri disetiap kegiatan yang diikuti selalu punya pososi yang buka kaleng-kaleng. Di komunitas Karawitan Mbah Putri dianggap sebagai tukang kendang yang piawai, di Organisasi Partai Mbah Putri ditunjuk sebagai wakil ketua Ranting Organisasi Wanita Partai, demikian juga dikegiatan yang lain semacam arisan, PKK dan lain sejenis itu.

menghindari agama islam

 

Menghindari Agama Islam

 

Saat kami pindah ke Solo, tahun ajaran baru sudah berjalan, aku dan saudara kembarku terpaksa mengulang masuk kelas 3 lagi di SR Negeri 47 Surakarta yang letaknya dekat dengan rumah. Baru berjalan dua minggu, datang rekomendasi dari bekas sekolahku SRN 1 Ceper, bahwa aku dan saudara kembarku naik kelas, boleh mengikuti pelajaran kelas 4. Akhirnya aku resmi dinaikan menjadi murid kelas 4.

Masalah pelajaran, semacam matematika, pengetahuan alam, pengetahuan sosial dan bahasa Indonesia aku tidak takut tertinggal, kami punya dasar yang kuat ketika kami sekolah di Cilacap di sekolah yang di kelola oleh Yayasan Katholik yang terbaik diwilayah Banyumas. Tetapi rupanya sekolahan di Solo lebih bervariasi mata pelajarannya, seperti ada pelajaran Kerawitan, Menulis Halus, Kerajinan tangan dan lain-lainnya.

Ada 2 mata pelajaran yang benar-benar aku mati kutu, bahkan baru kali ini aku menemuinya yakni pelajaran bahsa Jawa dan agama Islam. Dua mata pelajaran itu di kelas 4 sudah masuk tahap tinggi.

Dengan bantuan saudara-saudara sepupu yang tinggal satu komplek perumahan, pelajaran bahasa Jawa masih bisa dikejar, kecuali menulis huruf Jawa yang tak pernah melampaui angka 4, itu pun berkat kebaikan teman sebangkuku, ia namanya Budi. Jika ulangan sering aku mendapat ‘masukan’ lewat bisik-bisik malah kadang ditulis di secarik kertas.

Akan halnya pelajaran agama Islam, sama sekali buta. Apa lagi Budi tidak duduk disampingku, ia boleh keluar kelas jika waktunya pelajaran agama Islam, sebab ia beragama Kristen.

Suatu hari saatnya pelajaran agama Islam, kalau tak salah ingat guru agama itu namanya pak Ismail, tetapi yang selalu kuingat guru itu masih muda. Rambutnya disisir rapi lurus kebelakang, wajahnya selalu bersih, kulitnya kuning penampilanya simpatik.

Ketika itu ada PR menghafal doa Iftitah, sebuah kalimat yang diucapkan setelah takbir sebagai pembuka dalam ritual sholat. Dengan lantang dan lancar hampir semua murid yang ditunjuk, hafal.

Kini giliranku ditunjuk. Tak sepatah katapun keluar dari mulut, kata-kata dalam kalimat yang aku hafal itu hilang dari ingatan, jadi apa yang mau diucapkan? Keringat dingin keluar bahkan sampai (maaf) ngompol, menambah ketakutan dan malu. Ketika itu aku mengupat dalam hati, Islam ini benar-benar membuat susah orang. Kenapa mau-maunya didikte orang Arab, semua harus di ucapkan dengan bahasa Arab.

Aku ingat ketika masih di Lebeng, keponakan pak Mantri Guru, ia masih kecil, memimpin doa sebelum makan diawali dengan :

“Konjuk hing asmo dalem soho sang putro……” dan seterusnya dengan bahasa Jawa dialek Yogya yang halus, enak didengar, mudah dimengerti gampang dihafal.

Ketika aku sekolah di Cilacap, saat masuk kelas, salah satu murid disuruh memimpin doa sebelum belajar, diawali dengan:

“Atas nama Bapa dan Putra …” dan seterusnya dengan bahasa Indonesia, meski dengan dialek Banyumas medok, enak didengar, mudah dihafal.

 

“Apa kamu tidak menghafal?” tanya pak Ismail.

Aku kaget mendapat pertanyaan itu. Karena gugup dan suasan hati sedang kacau, pertanyaan yang mungkin wajar-wajar saja, tetapi di telangku kata-katanya seperti membentak. Dan segera aku menjawab lantang:

”Tidak.”

Pak Ismail tertegun. Segera aku sadar membuat kesalahan. Walaupun sejak kecil aku tak diberi pelajaran Agama, namun sejak kecil aku sudah menerima doktrin etika dan sopan santun dalam pergaulan, seperti makan tidak boleh sampai mulutnya bunyi, memberi, menerima dan mengambil sesuat harus selalu pakai tangan kanan, kepada orang tua harus hormat, ucapkan terima kasih jika kau senang dan ucapkan maaf jika orang lain tidak senang.

        “Kenapa? “ tanya pak Ismail.

        Aku tertunduk, diam saja.

        “Apa agamu bukan Islam?”

        Meskipun ragu aku mengguk, sambil berkata lirih:

        “Katholik.”

        “Oh, kalu begitu kamu boleh tidak mengikuti pelajaran ini, kamu boleh keluar kelas seprti teman-teman yang lain yang tidak beragama Islam.”

        Setelah mendapat ijin aku keluar kelas. Karena celana basah segera aku lari pulang kerumah. Niatku setelah ganti celana aku mau balik lagi ke sekolah. Tetapi hati sedang kacau, ya dongkol, ya malu, ya takut juga. Bagaimana kalau nanti ada orang dari sekolahan yang mengecek kerumah apa benar agamaku Katholik, ketahuan aku berbohong. Ah masa bodoh, akhirnya aku milih tidur saja.

Esok harinya aku masuk kelas tidak membawa tas, sebab tasku masih tertinggal dalam kelas. Jam istirahat pertama aku dipanggil kekantor menghadap Bu Mulyani, ia wali kelas 4 mengajar bahasa Indonesia. Kemarin setelah pelajaran Agama diteruskan pelajaran bahasa Indonesia, jadi bu Mulyani tau kalau aku bolos. Meskipun aku murid baru tetapi bu Mulyani sangat mengenal aku, sebab pas aku pindah, masuk ke kelas 4, saat itu ia sedang mengajar dan memberi PR mengarang. Tema karangan, menggambarkan kehidupan didesa. Tak ada kesulitan bagiku, tinggal menulis seperti aku membuat catatan buku harian.

Beberapa hari setelah karanganku diperiksa, dinyatakan sangat bagus, malah akan diikut sertakan dalam lomba mengarang antar SR tingkat daerah. Jika nanti menang, mendapat nomer, akan dilanjutkan ke tingkat Nasional. Tetapi aku tidak ingat bagaimana kelanjut perlombaan mengarang itu.

Bu Mulyani memberi tahu, aku diijinkan tidak mengikuti pelajaran agama Islam, tetapi tidak berarti pulang sekolah lebih awal, harus mengikuti pelajaran berikutnya. Aku paham peraturan itu tetapi kemarin keadaan darurat, aku mau bilang maaf kemarin aku ngompol, tetapi tidak berani.

Aku berani tidak mengikuti pelajaran Agama Islam, selain sulit bagiku mengejar ketinggalan, mata pelajarannya Agama Islam tidak diikut sertakan dalam ujian Negara. Tambahan lagi di sekolahan itu tidak ada pelajaran Agama lain, maka dengan seenaknya aku bisa berkelit menghindari pelajaran agama Islam. Coba kalau ada pelajaran agama Katholik, Kristen atau agama yang lain dan aku diharuskan mengikuti salah satu diantaranya, mungkin berpikir lain.

Keluar kelas saat murid lain belajar sangat menyenangkan, hitung-hitung seminggu sekali mendapat tambahan jam istirahat, itu yang menyebabkan tambah malas untuk mengikuti perlajaran agama Islam.

Sampai kelas 6 SR berakhir, aku berhasil lulus ujian Negara. Disekolah itu aku mendapat peringkat ke 3. Aku jatuh di mata ujian menulis yang hanya mendapat nilai 5. Sedang dua rivalku mata ujian menulis mendapat nilai 7. Aku menyumpah kenapa ada ujian menulis, sejak kecil tulisanku jelek, sebaliknya murid Sekolah di Solo, mulai dari kelas 1 SR sudah dapat pelajaran menulis halus. Kalau tidak pakai ujian menulis, akulah yang menjadi peringkat pertama, sebab total nilai dari 3 mata ujian yang pokok, bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan dan Berhitung aku mendapat nilai 28, hampir sempurna, sedang dua rivalku hanya mendapat angka 26.

Ketika itu, yang menjadi wali klas 6 Pak Ismail, ia sangat puas, hampir separoh kelas, nilai ujian murid yang diasuhnya mendapat nilai 30 keatas, itu berarti sekitar 20 siswa, otomatis masuk SMP Negeri.

Suatu yang berkesan dengan Pak Ismail, meskipun aku rangking 3 tetapi ia tetap menunjuk aku, sebagai murid yang prestasinya terbaik. Oleh karena itu aku mendapat tugas membuat karangan yang akan dibacakan oleh siswi rangking satu pada saat perpisahan sekolah nanti.

Baru kali ini aku mendapat perintah membuat naskah untuk pidato. Kalau mengarang bebas, aku sudah biasa. Apalagi aku senang baca komik, koran dan majalah. Malah aku pernah tergila-gila dengan majalah mingguan bahasa Jawa yang diterbitan di Surabaya, Penyebar Semangat nama majalahnya. Tidak hanya lembaran dongeng anak, tetapi semua artikel dan judul dalam majalah itu habis aku baca dalam waktu seminggu.

Meski dengan tertatih-tatih, nyabet kata dari sana dan mengambil kalimat dari sini, akhirnya naskah pidato dua lembar kertas folio jadi, setelah itu aku serahkan pada pak Ismail untuk dikoreksi.

Selesai membaca naskahku, pak Ismail diam sebentar sambil memandangiku dengan tajam. Aku jadi merasa tidak enak.

        “Ada yang salah pak?” tanyaku.

        “Kalau aku boleh komentar, nuansa tulisan ini Islamis. Mencerminkan anak yang berbudi luhur, yang berbakti pada orang tua maupun gurunya. Tidak sombong, merasa suksenya bukan semata-mata usahanya sendiri namun karena ada restu dari orang tua. Dan ini kamu menulis terakhirnya tepat sekali, ‘harus ada ridho Allah’. Ini cocok dengan judul naskah, Doa.”

        “Jadi karangan ini tak bisa dipakai?” tanyaku ragu-ragu.

        “Oh bukan begitu. Jujur aku harus mengakui, tulisan ini bagus sekali dan harus dibaca pada saat perpisahan nanti. Hanya yang aku heran kamu kan keluarga Kristen kok bisa menulis seperti ini?”

        Disebut keluarga Kristen aku jadi malu. Meskipun banyak sanak saudara dari keluarga kami yang beragama Kristen, Katholik bahkan ada yang beragama Hindu, tetapi orang-orang yang tinggal serumah dengan aku semuanya beragama Islam. Dua kakaku yang dulu sekolah di susteran Purworejo kini meneruskan sekolah di Solo juga sudah beralih ke agama Islam, tetapi seisi rumah tak jelas ibadahnya. Hanya mbak Amah yang tak pernah ketinggalan sholatnya, maklum ia anak Kiyai. Akhir-akhir ini Mbah Putri juga terlihat mulai rajin Sholat. Mbah Kakung sekali-sekali kelihatan sholat sedangkan aku dan saudara lain, sama sekali belum melakukan sholat. Akan halnya kakak nomer 2 masih beragama Kristen, mengikuti Agama yang dianut Ibu angkatnya.

Yang tau kalau aku beragama Katholik, ya hanya teman sekolah. Orang serumah tidak ada yang tau, selain aku tak pernah ceritera, aku juga tidak melakukan ibadah sebagai mana orang beragama Katholik, tak pernah pergi ke Gereja. Aku mengatakan orang Katholik, sebenarnya hanya alasan untuk menghindar dari pelajaran agama Islam yang aku merasa kesulitan untuk mengejar, terutama semua hafalan yang harus diucapkan dengan bahasa dan tulisan Arab.

        “Orang tuamu juga beragam Kristen?” tanya pak Ismail.

        Aku geragapan mendapat pertanyaan yang tiba-tiba, tanpa aku sadari kepalaku menggeleng.

        “Lho? Lantas apa agama orang tuamu?”

        “Islam, “jawabku perlahan.

        “Oh pantas namamu sendiri, Rahman sudah mencerminkan nama Islam, tentu yang memberi nama juga orang Islam.”

 

        Karena nilai ujianku bagus, selanjutnya aku diterima di SMP Negeri. Sayangnya aku tidak diterima di sekolah SMP Negeri Favorit gara-gara aku hanya peringkat 3. Sekali lagi aku mengumpat kenapa tahun itu diadakan ujian menulis, sebab tahun-tahun berikutnya ujian menulis dihapus.

Di Sekolah Menegah Pertama itu aku masih berkelit dari pelajaran Agama Islam. Awal kuwartal pertama aku masih mengikuti pelajaran Agama Islam tetapi ketika meteri pelajaran sudah mengenai hafalan dan tulisan Arab, aku lapor pada Wali kelas, sejak di SR aku tidak mengikuti pelajaran Agama Islam. Dan setelah dicek raportku ketika di SR, tak ada nilai pelajaran agama Islam, kemudian aku dibebaskan, boleh keluar tidak mengikuti pelajaran agama Islam. Di SMP ini pun tak ada pelajaran Agama lain, hingga aku semakin bebas.

Setelah lulus SMP aku memilih SMA yang dikelola yayasan Katholik. Sebab ketika itu semua ujian sekolah mulai dari SR sampi SMA diselenggarakan oleh Negara, jadi untuk lulus harus melalui perjuangan berat dan harus diakui faktor sekolahan sangat berperan. Dan nyatanya aku bisa lulus dengan nilai bagus. Sayangnya ketika masuk perguruan tinggi, nilai ujian sebagus apapun tak berlaku secara otomatis masuk Universitas Negeri, harus melalui ujian masuk perguruan tinggi. Dan aku gagal masuk Universitas Negeri. Akhirnya aku masuk perguruan tinggi Swasta di Semarang.

Selama sekolah aku tak pernah mengikuti pelajaran agama Islam tetapi uniknya semua dokumen sekolah seperti raport dan ijazahku mulai dari SD sampai SMA semua tertulis:

Nama                                      : Pangkat Surachman.

Kewarga Negaraan     : Indonesia.

Agama                                     : Islam.

 

Mantri Kesehatan tak punya Obat

 

Di Solo Mbah Kakung dinas di RC sebuah komplek pusat rehabilitasi penderita cacat, di tempatkan di bagian pengawasan dan penditribusian obat.

Banyak orang, bahkan saudara sendiri tidak percaya hidup kami selalu hanya pas-pasan. Padahal Mbah Kakung dipercaya menguasai gudang obat. Dimulai dari menerima barang dari pabrik dan pedagang obat, menyimpan sampai mendistribusikan ke unit-unit yang memerlukan obat di Rumah Sakit itu.

Kata orang, itu jabatan basah, bisa bikin cepat kaya, apa lagi Mbah Kakung Mantri Kesehatan, bisa buka paraktek dirumah, bahkan kalau mau, bisa buka toko obat.

Tetapi itu tidak dilakukan Mbah Kakung, padahal saat itu perekonomian nasional sedang ambruk. Bung Karno mencanangkan Berdikari, Pemerintah tak mau mencari pinjaman dari Luar Negeri. Saat itu kami mengalami makan beras campur jagung, kemudian menerima tunjangan makanan yang dinamakan bulgur. Kalau mau beli beras, minyak tanah, dan sembako lainnya dijatah, harus antri pakai kupon. Makanya tidak salah Mbah Putri berkata:

“Mbah Kakung itu orangnya jujur, paling jujur sedunia.”

 

Pada suatu hari Mbah Putri sakit agak berat. Sore hari setelah pulang kerja, Mbah Kakung, membawa Mbah Putri berobat ke dokter praktek umum. Dokter itu salah satu dokter yang menjadi atasan mbah Kakung di RC. Meskipun mbah Kakung kenal Dokternya, tetapi nggak mau nyrobot pasien yang datang duluan.

Dengan sabar Mbah Kakung dan Mbah Putri ikut antri di ruang tunggu. Setelah sampai gilirannya, Mbah Kakung dan Mbah Putri masuk ruang praktek. Melihat mbah Kakung berobat, Dokter kaget, bingung dan heran. Akhirnya malahan marah.

 

        “Pak Mantri, sampeyan itu bisa ngobati sendiri, bahkan punya lisensi menyuntik pasien. Lakukan tindakan, tidak perlu ibu dibawa kesini,” kata dokter.

        “Betul dokter, malahan di rumah juga masih ada spet (alat suntik), tetapi saya tidak punya obat-obatan,” jawab mbah kakung.

        “Hah?” Dokter bengong.

Orang bilang kerja dibagian obat-obatan, itu bagain paling basah, bisa buka toko obat, malahan bisa mendirikan Apotik. Lho lha kok obat penurun panas dan anti radang saja nggak punya.

 

        Itu memang dialog serius, bukan untuk humor. Di rumah memang ada lemari obat tetapi isinya hanya obat-obat P3K dan obat luar serta obat yang dijual bebas. Tidak ada obat yang harus menggunakan resep dokter atau obat daftar G semacam antibiotika dan sejenis itu.

Sejak itu Mbah Kakung semakin mendapat kepercayaan dari hampir semua dokter dirumah sakit itu. Dan rata-rata mereka puas atas kemapuan kerja Mbah Kakung. Sudah berkali-kali jabatan Mbah Kakung diincar orang, namun sampai pensiun nanti jabatan itu tetap dipegangnya.

 

        Bertepatan dengan itu Mbah Amah nyusul ke Solo. Mesti kehidupan kami pas-pasan, tetapi Mbah Putri sangat peduli dan mendorong pendidikan anak-anak. Semua anak di persilahkan memilih sekolah yang terbaik dengan jenjang tertinggi menurut kemampuannya masing-masing. Tidak murah biaya untuk fasilitas itu, untuk itu Mbah Putri mencari tambahan penghasilan. Mbah Putri dan mbak Amah bekerja sebagai pengrajin bordir di sebuah toko Cina di Pasar Legi. Yang punya toko itu namanyan Nyah Giok, begitu kami memanggilnya, ia putrinya Nyah Tete patner dagang Mbah Ceper Putri. Orangnya baik sekali, saking baiknya, kami sudah dianggap seperti saudara. Oleh karena itu pekerjaan bordir boleh dikerjakan dirumah, hingga tidak menyita waktu dan bisa diselingi mengurus pekerjaan rumah.

        Selain bordir Mbah Putri juga pandai membatik, dari pekerjaan-pekerjaan sambilan itu sangat membantu ekonomi keluarga.

 

 

pindah ke ceper

 

Pindah ke Ceper.

 

Kini jumlah anak Mbah Putri yang tertinggal di rumah Oom Harno tinggal 4, namun bagi Mbah Putri masih berat mengelola keuangan keluarga. Oleh karena itu Mbah Putri usul pada Mbah Kakung untuk pindah saja ke Solo. Meskipun Solo kota yang lebih besar dari Cilacap, akan tetapi disana ada kesempatan Mbah Putri bisa mencari pekerjaan sambilan untuk membantu keuangan keluarga.

Sebenarnya sudah sejak awal Mbah Putri kepingin pindah ke Solo dan Mbah Kakung juga sudah mengajukan permohonan pindah ke Solo, akan tetapi ketika pindah di RSU Cilacap ini kebetulan Mbah Kakung ditempatkan menjadi Asisten salah seorang dokter dan dokter itu sangat cocok dengan Mbah Kakung, maka permohonan itu masih terus tertunda-tunda.

Saatnya dokter yang menjadi atasan Mbah Kakung pindah, Mbah Putri mendesak Mbah Kakung agar juga ikut pindah, ke Solo. Kebetulan ketika itu sekolahan sudah kenaikan kelas, harapan Mbah Putri, jika bisa pindah sekarang, anak-anak tak ketinggalan pelajaran. Ketika itu aku baru saja naik kelas 3 SR.

Mbah Kakung menyetujui usulan Mbah Putri, lalu membuat surat permohonan pindah. Mutasi Mbah Kakung ke Solo disetujui, dipindah bekerja ke salah satu rumah sakit Negeri di kota itu. Namun kendalanya urusan dokumen dan administrasi harus menunggu bebulan bulan.

Karena Mbah Putri khawatir sekolah anak anaknya terlantar, maka Mbah Putri dan anak-anak pindah lebih dulu, tapi tidak langsung kota Solo, kami transit di Ceper, tinggal di Rumah Loji Karangmodjo. Ternyata urusan kepindahan Mbah kaku ke Solo molor. Terpaksa aku dan saudara kembarku di sekolahkan dulu di SR Negri 1 Ceper. Setahun lebih Mbah Kakung baru selesai urusan mutasi, kami pun boyong pindah ke Kota Solo.

 

Kehidupan keluarga kami di Solo, tidak lebih baik dari ketika kami tinggal di Cilacap. Hanya, sekarang kami lebih dekat dengan sanak saudara yang tinggal dalam satu kota. Meskipun kami tidak mintak tolong, uluran tangan dan bantuan dari saudara-saudara silih ganti berdatangan. Itu tak lebih dari ungkpan rasa senang saudara kandung baik dari pihak Mbah Kakung maupun pihak Mbah Putri, keluarga kami mau pulang ke Solo. Selama ini keluarga kami dianggap hilang. Saudara Mbah Putri yang sulung bernama Pakde Malimin kami memanggilnya Pakde PO dengan senang hati meminjamkan satu rumah untuk sementara waktu ditempati, di jalan Kendeng, komplek Perumahan Rakyat Gremet, Manahan. Didepan rumah yang kami tempati adalah rumah saudara Mbah Putri juga, kami memanggilnya Bude Wignyo, sedangkan persis dibelakang rumah, menghadap ke jalan Merapi, ditempati Bu Ugi adik mbah Putri juga (hirarkinya lihat di Trah Sastrotaruno).

Setahun dua tahun kemudian kehidupan keluarga kami mulai mapan. Lebih beruntung lagi, tidak lama dari itu, Mbah Kakung bisa membeli rumah di Komplek Perumahan Rakyat Gremet itu juga di Jalan Sindoro, tidak jauh dari jalan Kendeng dan Merapi.

tarzan masuk kota

 

Tarzan masuk kota

 

        Masuk Cilacap doktrin yang saya terima, harus adaptasi dengan pola hidup orang kota. Sekolah harus pakai sepatu. Ada dua kenangan tatkala aku harus mengenakan sepatu. Jika sepatu baru, pasti kakiku lecet. Setelah sekolah selesai, sampai di luar halaman sekolahan, buru-buru sepatu aku lepas. Pulang sekolah berjalan dengan kaki telanjang sambil menjinjing sepatu.

Sering aku mendapat olok-olok dari tetangga:

        ”Hallo mas, nenteng kepiting, mau dijual kepasar ya?”

        Aku tidak menyahut, acuh saja, pokoknya aku terbebas diri jepitan kulit sapi ini.

Yang kedua, aku selalu direpotkan dengan tali sepatu yang lepas. Aku tak pernah bisa menalikan kembali dengan benar, kadang ikatannya malah menjadi simpul mati. Kalau sudah begitu, dipastikan menangis jika mau melepas sepatu sepulang sekolah.

Hidup di kota sepertinya membatasi ruang gerak. Ruang itu hanya tersedia di halaman sekolah dan pekarangan rumah yang hanya sejengkal. Tidak bisa lagi mandi dan menagkap ikan di sungai, bermain di sawah, berjalan di pematangnya atau rebah telentang di padang rumput.

        Ketika ikut angon kerbau sampai di pinggiran perkebunan karet di lereng-lereng bukit, mencari sisa-sisa getah karet, dijadikan bola, lalu ramai-ramai main kasti. Sungguh kenangan yang tak bisa dilupakan.

 

        Hasrat melampiaskan rasa kangen kehidupan desa, kadang aku dan kakak kembarku berjalan berdua pergi ke pantai. Jarak pantai ke rumah cukup lumayan jauh, kira-kira setengah jam perjalanan, tapi kami tak peduli. Sampai di pantai, duduk dibawah pohon pandan liar, sambil melihat kesibukan nelayan menarik jaring. Kadang pergi ke tepi laut bermain dengan ombak dan pasir. Bisa seharian, kami betah main disini. Aku tahu Mbah Putri pasti cemas jika kami tidak cepat-cepat pulang. Tetapi aku juga tahu, Mbah Putri tak berani menyuruh orang mencari kami dengan naik sepeda sambil membunyikan peluit, seperti ketika di Lebeng.

        Ada kenangan yang benar-benar tak pernah aku lupakan seumur hidup di teluk Penyu, nama pantai di Cilacap.

Hari minggu, habis sarapan kami berdua kabur ke pantai. Melihat deburan ombak pecah dipantai, hati tergiur untuk mandi, berenang sambil bebermain dengn ombak. Segera kami lepas semua pakaian, ditaruh dibawah pohon pandan lalu lari masuk kedalam laut.

Setelah puas mandi, kami menuju ke pohon pandan tempat kami menyimpan pakaian. Wah celaka, baju dan celana kami tidak ada, sepertinya terbang terbawa angin kencang.

Kami memang salah, seharusnya pakaian tadi ditindih dengan batu besar agar tidak tersapu angin, begitu melihat ombak kami lupa segala-galanya.

Kami berjalan menyisir pantai mencari pakaian, hasilnya hanya baju kakak yang bisa ditemukan.

Bagaiman ini? Kalau telanjang bulat masih di pantai ya tidak apa-apa, tetapi kalau telanjang bulat berjalan sepanjang keramain kota, lewat depan toko, rumah orang, pasar, waduh seperti apa malunya?

Sekali lagi kami mencari, tetap nihil, tiba-tiba kami melihat kantong gandum bekas. Dahulu kantong untuk tempat gandum terbuat dari kain katun. Kami ambil kantong itu lalu dicuci dilaut dan dijemur diatas rumput liar.

Kami berdua pulang, meskipun sepanjang jalan orang tersenyum senyum memperhatikan kami, kami acuh saja. Sebenarnya ya malu tetapi tak malu malu amat, saya pakai sarung mini kantong gandum kakak saya pakai baju dibalik dijadikan celana. Bandingkan jika kami berdua pulang dengan telanjang bulat.

hijrah

 

HIDUP DI LINGKUNGAN KOTA

 

Dari hidup dilingkungan desa yang masih primitip pindah ke kota rasanya seperti bangun dari mimpi. Ada yang aneh, namun membuat hati berbinar binar menyenangkan. Dari serba gelap diwaktu malam menjadi terang benderang siang maupun malam. Tak habis habisnya aku memandang bolam lampu yang bisa menyala tanpa minyak. Tak ada lagi lumpur dijalan. Jalan licin beraspal, yang aku ingat pertama dan berkesan ketika habis hujan jalan itu warnanya hitam mengkilat seperti cermin berpendar pendar memantulkan cahaya lampu-lampu jalanan.

Tak ada lagi rumah beratap ilalang. Menyenangkan namun itu kesan pertama. Hari berganti hari bulan berganti bulan telah dilalui, terasa ada yang hilang, rindu mandi di kali, telentang di padang rumput, aroma khas kambing dan kerbau. Tapi kami harus beradaptasi dengan habitat baru.

 

Hijrah

 

        Selama itu kami mengenal yang namanya Kota, yakni daerah atau tempat yang lebih ramai dari pasar Lebeng ketika hari pasaran, seperti Jeruk Legi dan Kesugihan. Makanya ketika kami masuk kota Cilacap terkagum kagum, aku menggangap ini kota paling besar yang pernah aku singgahi.

Ketika kami masuk kota Cilacap selepas senja, kebetulan cuaca sudah terang sehabis diguyur hujan. Kesan kami yang pertama yang tak pernah aku lupakan, aku melihat semua jalan dikota warnanya hitam licin mengkilap, bak cermin berpendar pendar memantulkan lampu penerangan sepanjang jalan yang kami lalui.

Sangat kontras dengan jalanan di Lebeng. Jalan protokolnya saja hanya berupa batu kali ditata. Karena seringnya dilalui menjadi rata dan keras. Namun jika hujan, lumpur dan pasir berncampur menyelimuti diatas jalan.

Untuk sementara waktu keluarga kami ditampung oleh adik Mbah Putri dari Trah Sastrotaruno, kami memangginya Oom Harno. Kebetulan Oom Harno dibenum menjadi kepala Duane wilayah Cilacap. Beliau baru menikah, belum punya anak, sedangkan rumah dinas yang ditempati besar, kamarnya banyak hingga mampu menampung keluarga kami.

Sekitar 2-3 tahun keluarga kami tinggal di Cilacap, di kota ini Agus, adikku bungsu laki-laki lahir. Lengkap sudah, dari 7 anak, tak satupun mempunyai kota kelahiran yang sama, kecuali sikembar Drajat dan Pangkat.

 

Bagi Mbah Kakung, pindah ke kota manapun asal ditempat tujuan ada tempat untuk mengabdi pada bidang kesehatan dan pengobatan tidak masalah.

Sebaliknya bagi Mbah Putri, orang yang berperan penting memutar perekonomian keluarga, pindah dari daerah kedaerah lain harus berhitung, anggaran pendapatan dan anggaran belanja harus disesuaikan jumlah anggota keluarganya.

Semisal ketika kami pindah ke kota Cilacap, Mbah Putri tidak mengajak para pembantu rumah tangga termasuk mbak Amah, mereka dipulangkan ke keluarga masing-masing. Mbah Putri hanya mengajak anak kandung dan mbak Yanti yang akan masuk asrama Perawat.

 

Pertimbangan Mbah Putri, hidup dikota tidak sesedarhana hidup di desa, lebih rumit lebih kompleks. Meskipun seluruh gaji Mbah Kakung utuh diserahkan pada Mbah Putri, namun masih jauh dari cukup untuk keperluan hidup satu bulan.

Kalau soal makan masih bisa bernafas lega, selain disuport adik Mbah Putri, kami masih sering mendapat kiriman bahan mentah dari Kiyai Jengrana, orang tua mbak Amah. Tetapi rupanya hidup dikota tidak hanya perlu cukup makan saja, masih banyak pengeluaran yang lebih besar lagi.

Celakanya semua transaski di kota berupa uang tunai, tidak seperti dahulu di Lebeng, masih berlaku transaksi barter, tukar minyak klentik bikian sendiri bisa jadi beras. Bawa ayam ke pasar, pulang sudah bisa jadi baju dan lain semacam itu.

Beruntung keluarga Pak Mantri Guru mencari keluarga Pak Mantri Kesehatan, untuk memberi beawiswa, masuk asrama Suteran di Purworejo untuk Kakak nomer 1 Sri Amiyati kami memanggilnya Yu Sri, masuk setingkat SMP dan kakak nomer 3 Siti Partinah kami memanggilnya mbak Tin, masuk setingkat SR (sekarang SD). Semua keperluan sekolah dan keperluan hidup termasuk asrama gratis.

Kakak no 2 Siti Partini, Yu Tin (kelak kami memnaggilnya Yu Wir) tidak ikut, sebab sejak kecil sudah diadopsi keluarga Mbah Putri, lihat ceriteranya di Trah Sastroatmodjo.

uang logam diponegoro

 

Uang logam 25 sen gambar Diponegoro

 

        Aku tidak ingat tanggal tepatnya, kalau tidak salah saat itu semasa aku kenaikan kelas, dari kelas 1 ke kelas 2. Tetapi yang aku ingat, hampir setiap hari setelah poliklinik tutup, Mbah Kakung dan mbak Yanti sibuk membungkus uang logam gambar Pangeran Diponegoro bernilai 25 sen. Uang yang sepintas seperti koin emas itu hasil pembayaran pasien yang akan disetor ke Cilacap setiap bulannya. Sebelum dikirim, uang itu dimasukkan dalam kaleng bekas roti, lalu disimpan dalam lemari baju Mbah Kakung. Jadi saat itu sekitar tahun 1952an.

Malam telah larut, ketika pintu rumah diketuk-ketuk orang dari luar. Semakin lama ketukan itu makin keras, membut hampir seisi rumah terbangun. Kaget dan takut akan kejadian tamu misterius beberapa bulan yang lalu. Tetapi ketika orang itu memangil manggil nama Mbah Kakung, semua mengenali itu suara bah Acong dan segera pintu dibuka. Setelah duduk bah Acong ceritera, pasukan DI sedang menuju ke arah Lebeng. Mereka sekarang sudah sampai di Gumilir. Mereka sedang menjarah dan membakari rumah penduduk. Mungkin sebelum fajar pasukan itu sampai di Lebeng. Kalau bisa sekarang cepat-cepat mengungsi kearah timur ke Kesugihan atau langsung Cilacap. Keluarga babah Acong sudah berangkat mengungsi tadi pagi, katanya mereka mau ke Gombong dan malam ini Babah Acong mau menyusulnya naik sepeda kumbang. Pak Mantri Guru dan istrinya juga sudah sepekan lalu mengungsi ke Yogya.

        Mbah Putri sebenarnya juga sudah lama kepingin ngungsi ke Solo, tetapi Mbah Kakung tak mengijinkan. Satu-satunya kendaraan ke Solo saat itu naik kereta api. Tetapi ketika itu jembatan rel kereta api kali Progo masih putus, belum diperbaiki akibat perang kles ke 2 dengan Belanda. Jembatan itu termasuk target bumi hangus seperti poliklinik gunung Pagak. Jadi kereta api dari Kroya menuju Solo berhenti di setatsiun Wates, dekat dengan kali Progo, lalu semua penumpang turun, jalan kaki menyeberang sungai melewati jembatan darurat, untuk ganti kereta api yang akan melanjutkan perjalanan ke Yogya dan Solo.

Mungkin jika saat itu mas Saban ada di Lebeng, bisa membantunya. Tetapi sudah sebulan lalu mas Saban berangkat ke Madiun, katanya sedang dalam pendidikan agar bisa naik pangkat.

Makanya Mbah Kakung tak tega melihat bakal repotnya Mbah Putri bepergian sendiri dengan membawa keluarga yang masih kecil-kecil.

Banyak pertimbangan yang membuat Mbah Kakung tak mau mengikuti saran bah Acong mengungsi di malam itu. Selain kesulitan kendaraan juga Mbah Kakung merasa berat meninggal poliklinik tanpa instruksi dari pusat. Perhitungkan Mbah Kakung, kami keluarga dinas kesehatan, kemungkinan tak akan diusik. Undang-undang perang Internasional pun juga menyebutkan demikian, dilarang keras menembak, menghancur semua yang ada hubungannya dengan kesehatan, seperti petugas palang merah, bangunan poliklinik ataupun rumah sakit.

 

        “Kalau begitu, selamatkan barang-barang yang berharga, sembunyikan, sebelum dijarah tentara DI.” Kata babah Acong.

        “Tetapi disembunyikan dimana semua ruangan dalam rumah ini terbuka, percuma, pasti ketahuan juga,” kata Mbah Putri.

        Rupanya bah Acong cerdik, semua barang berharga ada perhiasan uang termasuk sepeda dan sepeda kumbang dimasukkan kedalam kandang ternak, lalu ditimbunnya dengan jerami dan daun-daun kering. Setelah selesai membantu kami, bah Acong pamit melanjutkan perjalanan.

Malam itu semua anggota keluarga disuruh tidur berkumpul di ruangan tengah, namun tak satupun yang bisa memejamkan mata.

Menjelang subuh dari arah barat terdengar tembakan tembakan sporadis, tambah menciutkan yali. Jalan didepan rumah sepi.

Tiba-tiba pintu rumah didobrak paksa dari luar tahu-tahu enama orang bersenjata sudah masuk kedalam rumah. Pakaiannya tidak seragam malah kelihatan acak-acakan, tampangnya sangar-sangar. Seorang dari mereka yang paling garang dengan senjata bren ditangannya memerintahkan semua yang ada di dalam ruang itu duduk dilantai. Ia sendiri berdiri, mengancam sambil mengacungkan senjatanya siap tembak. Bukan alang kepalang takutnya kami sekeluarga, dibawah ancaman senjata orang itu. Mungkin dalam hitungan detik kalau dia menyapukan tembakan kearah kami, tak ada satupun yang bisa selamat.

Ini diluar dugaan Mbah Kakung, mereka sama sekali tidak mengindahkan kode etik, di depan ada tanda piliklinik, ada tanda palang merah, seharusnya tidak boleh digangu. Kini malah kami diperlakukan seperti tawanan, duduk bersimpuh tak berdaya dibawah ancaman senjata. Diam-diam Mbah Kakung menyesal tidak mau mengikuti saran bah Acong untuk mengungsi.

Sesaat kemudian salah seorang dari gerombolan itu berkata:

        “Jangan dianggap kami kejam, membunuhi orang, kami hanya melakukan jihat menumbangkan rezim yang kafir. Siapa pun yang tidak bisa diajak kompromi, tidak sejalan dengan nafas Islam pasti kami binasakan. Saya mengajak saudara-saudara ikut jihad mendirikan Negara Islam. Tetapi saudara-saudara tidak usah ikut maju perang, cukup kami-kami yang digaris depan, saudara-saudara cukup membantu, menyumbangkan apa saja yang berharga untuk menambah kekuatan kami.”

        Mbah Kakung berdiri, mungkin ingin mengatakan sesuatu, tapi spontan orang yang membawa bren mendorong Mbah Kakung sambil menghardik:

        ”Duduk!”

        Karena kerasnya dorongan itu sampai Mbah Kakung jatuh telentang, belum sempat Mbah Kakung duduk orang itu telah menempelkan laras brennya tepat didahi Mbah Kakung. Semuanya terdiam, tegang. Kejadian itu aku saksikan dengan mata kepala sendiri, menjadi sebuah memori yang paling buruk mungkin sepanjang hidupku.

Selagi suasana mencekam, dari pintu, tiba-tiba muncul seorang yang berpakain loreng. Melihat adegan itu orang yang baru datang tadi berseru:

        “Tahan Kar…(menyembut nama).”

        Semua orang yang ada di ruangan menoleh kearah pintu. Rupanya orang yang datang itu komandan mereka, dan orang itu yang pernah diopersi dadanya oleh Mbah Kakung. Orang itu menghapiri Mbah Kakung, ditolongnya Mbah Kakung berdiri lalu katanya:

        “Kami hanya minta partisipasi, sumbangan untuk kelangsungan perjuangan kita mendirikan Negara Islam.”

        “Kami tidak mempunyai barang berharga, disini hanya ada obat-obatan, silahkan periksa sendiri, apa yang anda suka silahkan diambil,” kata Mbah Kakung yang masih gemetaran.

        Tanpa menunggu perintah, beberapa orang mulai mengobrak abrik seisi rumah mencari barang-barang yang berharga. Salah seorang yang menggeledah kamar Mbah Kakung menemukan kaleng bekas roti berisi uang Diponegoro, buru-buru ia keluar menemui Komandannya. Komandan itu melihat isi kaleng, dibawah cahaya lampu tempel yang remang-ramang, uang itu dikira kepingan emas. Rupanya mereka belum pernah melihat uang logam baru, makanya mereka kelihatan puas. Setelah memasukkan kaleng itu dalam karung yang dibawa salah satu anggota gerombolan, komandan DI itu memerintahkan anak buahnya keluar. Sebelum keluar, komandan itu mendekati Mbah Kakung lalu katanya:

        “Trima kasih, bapak sudah memberi sumbangan banyak sekali, maafkan kelakuan anak buah saya.”

 

        Tidak lama setelah gerombolan DI meninggalkan rumah, dari arah timur terdengar rentetan tembakan, diselingi dentaman suara mortir. Rupanya bala bantuan TNI telah datang dari arah Kesugihan. Mendapat serangan itu tentara DI lari kocar kacir. Sambil mengundurkan diri kearah utara sesekali mereka melepaskan tembakan balasan. Nampaknya TNI akan mengahajar hambis DI yang sudah merambah Jawa Tengah. Kabarnya dari arah Jeruk Legi, TNI juga mengadakan serangan, makanya sampai di Lebeng ini gerombolan DI tercepit. Satu-satunya jalan, mereka melarikan diri kearah utara, masuk hutan lereng pegunungan Kendeng. Hanya sekitar dua jam tembak menembak dipagi buta itu sudah reda.

Sementara waktu Lebeng dinyatakan sebagai daerah darurat artinya daerah dalam keadaan perang, sebab daerah ini berhadapan langsung dengan markas DI. Untuk mengimbangi itu TNI mendirikan markas sementara di dekat setatsiun Lebeng.

 

        Diluar rumah matahari sudah bersinar cerah, tapi kami sekeluarga belum berani beranjak dari ruang tengah. Meskipun sudah ada rasa lega lepas dari maut, naum hati tetap was-was kalau-kalau terjadi lagi peristiwa yang sangat mengerikan seperti tadi.

Tiba-tiba dari luar muncul kang Kasim. Baju, celana dan sarungnya kotor berlumuran lumpur, tidak hanya itu, wajah dan rambutnya juga penuh lumpur yang sudah mengering. Sudah kulitnya hitam dengan pakaian seperti itu menambah penampilannya lucu. Melihat kang Kasim seperti badut, semua yang ada diruangan itu tak kuat menahan ketawanya. Dasar kang Kasim orangnya kocak, suasana yang tadinya mencekam, cair dengan sendirinya.

Kata kang Kasim, tadi malam ia mau ke Ploklinik, tetapi takut, jalanan sepi sekali, makanya ia tidur di langgar (bahasa lokal, semacam musola). Subuh baru berani jalan ke Poliklinik. Tapi ditengah jalan terdengar rentetan tembakan keras, ia segera terjun ke sawah, tiarap diatas lumpur tak berani bergerak.

Mbah Putri menyuruh kang Kasim mandi, dan minta supaya ia selalu siaga di poliklinik.

Tak lama kemudian kang Kasim selesai mandi, tetapi ketika ia muncul di ruang tengah, semua yang berada disitu meledak tertawanya. Badanya memang sudah bersih, tapi baju dan celananya yang dipakai serba kekecilan, sebab ia pijam pakaian kang Parjo.

 

        Pagi itu Mbah Kakung mengutarakan niatnya, mau pindah ke Cilacap. Sementara waktu kang Kasim disuruh tunggu Poliklinik sampai ada ketentuan dari Pusat. Hari itu juga Mbah Kakung pergi ke Cilacap naik bronfits dan malamnya Mbah Kakung tidak pulang, baru esok siang Mbah Kakung datang.

Permohonan Mbah Kakung pindah ke Cilacap, disetujui kantor pusat. Mbah Kakung ditempatkan ke kantor pusat, di RSU Cilacap.

        “Dua hari lagi, kita akan dijemput. Mulai sekarang siapkan barang-barang apa saja yang akan dibawa,” kata Mbah Kakung.

tamu misterius

 

Tamu Misterius

 

        Bertepatan dengan ceritera aku diculik makhluk halus, saat itu di desa Lebeng memang sedang santer tersebar isue penculikan. Tetapi yang diculik bukan anak-anak, malainkan orang dewasa.

Kata kang Kasim, salah satu saudara sepupunya sudah seminggu tidak pulang ke rumah, hingga kini tidak ada kabarnya, sudah dicari kemana-mana tidak ketemu, kemungkinan saudaranya itu menjadi korban penculikan.

Dua bersaudara orang Sunda, tukang jahit di pasar Lebeng, sudah sepuluh hari belakangan ini tidak kelihatan di dalam kiosnya, diduga mereka juga diculik. Masih banyak lagi kabar angin mengatakan orang-orang dewasa hilang, bagaikan lenyap ditelan bumi.

Desa Lebeng yang tadinya aman, tenang dan tentram, kini kelihatan resah. Mereka tak berani membicarakan penculikan dengan kata-kata keras atau blak-blakan, mereka hanya berani berbisi-bisik. Dari kabar mulut ke mulut, orang-orang yang diculik, dibawa ke hutan di wilayah perbatasan Jawa Barat. Mereka dipaksa menjadi tentara DI. Kabarnya DI itu singkatan Darul Islam, pasukan yang dibentuk oleh Kartosuwiryo. Mereka mau berontak, pemerintah Republik Indonesia akan dijadikan Negara Islam Indonesia. Penduduk yang tinggal di kawasan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan tak berani membicarakan soal gerombolan pembrontak itu, katanya dimana-mana sekarang sudah tersebar mata-mata DI.

Dari hari ke hari berikutnya suasan desa Lebeng semakin mencekam. Kadang-kadang di kejauhan terdengar rentetean tembakan. Orang-orang berbisi-bisik lagi, katanya tentara DI kepregok patroli TNI, mereka sedang dikejar-kejar.

 

        Hari itu, tengah siang hari bolong. Dari jarak jauh terdengar lagi rentetan tembakan, meskipun suaranya terdengar samar-samar dan hanya sebentar, namun cukup membuat miris hati rakyat.

Malam harinya. Kang kasim kebetulan tidur dirumah kami, semua keluarganya sudah ngungsi ke Kawunganten tempat tinggal orang tuanya. Memang semenjak desa Lebeng terasa tidak aman banyak keluarga yang ngungsi. Sebagian besar keluarga pak Mantri Guru termasuk keponakan-keponakannya yang menjadi penghuni Magersari, sudah diungsikan ke Cilacap, dirumah besar itu tingal pak Mantri Guru sekalian dengan beberapa pembantu saja. Umumnya orang orang mengungsi ke arah timur, menjahui perbatasan Jawa Barat.

Kira-kira tengah malam pintu rumah kami digedor-gedor orang dari luar sambil berseru:

        Pak buka pintu, pak buka pintu!”

        Karena kerasnya gedoran di pintu, hampir seisi rumah terbangung. Suasana tegang, kang Kasim sudah berdiri di ruang tengah, tetapi tidak berani membukakan pintu. Suara gedoran pintu semakin keras, Mbah Kakung mendekati kang Kasim.

        “Mungkin orang perlu pertolongan pengobatan,” bisik Mbah Kakung.

        Kang Kasim diiringi Mbah Kakung memberanikan diri membukakan pintu. Begitu pintu terbuka sebuah moncong senjata laras panjan langsung menempel didada kang Kasim.

        “Jangan banyak bertanya, teman saya kena tembak di dada, tolong keluarkan pelurunya,” kata tamu misterius itu dengan garangnya.

        Tubuh kang Kasim, tinggi dan besar, tetapi ketika dadanya ditempel mulut bedil, tak urung badannya gemetaran hebat.

        “Begini, kami orang-orang dari dinas kesehatan mempunyai sumpah, tanpa memandang bangsa, suku, musuh dan perbedaan lain, sudah menjadi kuwajiban kami untuk menolong orang yang sakit, tarik senjatamu, sekarang mana yang sakit cepat bawa ke poliklinik,” kata Mbah Kakung sambil membawa lampu minyak menuju ruangan poliklinik untuk membukakan pintu.

        “Baik Pak,” kata tamu misterius nadanya beralih sopan, sambil menarik senjatanya.

        Sesaat kemudian ia memasukkan jari-jari tangannya ke mulut lalu terdengar siulan keras. Tiba-tiba dari arah kegelapan muncul seorang yang dipapah dua orang temannya, sepertinya ia yang dikatakan kena tembak. Di belakang mereka muncul lagi dua orang masing-masing membawa senjata laras panjang sepertinya yang mengawal.

Sementara orang yang tertembak itu dibaringkan didipan pasien, Mbah Kakung menyiapkan peralatan operasi, sedang kang Kasim menyiapkan petromak agar terang untuk melakukan operasi. Tetapi begitu kang Kasim masuk ke poliklinik sambil membawa petromak yang sudah nyala, timbul sedikit ketegangan. Tamu-tamu yang tak diundang itu tidak mau cahaya terang, mungkin takut dikenali wajahnya. Tetapi Mbah Kakung ngotot, nggak bisa melaukan operasi dengan cahaya remang-remang.

Dengan nada acaman tamu misterius itu berkata:

        “Baik, tetapi bapak-bapak sekalian harus jaga rahasia ini, kalau tidak, tau sendiri akibatnya.”

        “Kami punya kode etik, tidak akan pernah menceriterakan penyakit seorang pasien kepada sipapun, termasuk operasi ini,” kata Mbah Kakung lantang.

        Semua yang hadir disitu terdiam. Dengan cekatan Mbah Kakung dibantu kang Kasim melakukan bedah kecil untuk mengeluarkan peluru. Untung timah itu terjepit diantara tulang iga, hingga memudahkan jalannya operasi.

Operasi berjalan sukses, tamu tamu yang tak diundang kelihatan puas, apa lagi Mbah Putri ambil inisiatif, memeritahkan yu War menyuguhkan wedang kopi. Setelah semua beres, wedang kopi pun kering, tamu-tamu misterius itu pamitan:

        “Terima kasih, bapak telah menyelamatkan Komandan kami, jasa bapak tak pernah kami lupakan,” kata salah satu tamu misterius.

        Mungkin Mbah Kakung dan kang Kasim tau, mereka adalah tentara DI. Dilihat dari gayanya seperti militer tetapi seragamnya campuran ada yang hijau ada yang loreng ada pula yang pakaian biasa malah ada yang berkalung sarung. Mbah Kakung pun pesan pada semua anggota keluarga, agar kita selamat tidak usah berceritera tentang peristiwa semalam.

digondol wewe

 

Digondol Wewe

        Aku masih ingat, saat itu sepertinya aku sudah sekolah di kelas 1 SR (Sekolah Rakyat). Setelah bubaran sekolah, aku dan saudara kembarku tidak langsung pulang. Ikut teman, main kerumahnya yang tinggalnya dekat pasar. Jadi, dari sekolahan melewati depan rumah, tetapi kami tidak belok pulang, malah mengendap-endap supaya tak terlihat, terus kearah barat menuju pasar.

Orang tua temanku, aku lupa namanya sebut saja pak Jumadi, seperti kebanyakan penduduk desa, tahu betul anak kembar anaknya pak Mantri. Makanya setelah makan siang kami dibujuknya untuk pulang, lalu kami diantar pak Jumadi pulang dengan jalan kaki. Sampai batas desa, dekat Gereja, aku bilang, bisa pulang sendiri. Karena rumah sudah dekat, pak Jumadi tidak merasa kuatir, lalu ia balik pulang ke pasar.

Merasa belum puas bermain, kami tidak langsung pulang melainkan belok, masuk halaman depan Gerja. Tak lama antaranya kami asyik bermain, sayup-sayup terdengar suara peluit. Nah itu kang Parjo sedang mencari, padahal kami masih ingin main, makanya kami lari menjauhi Gereja masuk ke tegalan. Bunyi peluit semakin dekat, takut ditangkap kang Parjo kami masuk ke hamparan sawah yang luas, berlari diatas pematang-pematang. Pikiran kami tak mungkin sepeda bisa lewat pematang. Saat itu tanaman padi sudah saatnya panen malah ada beberapa petak yang telah di panen. Sambil mengendap endap diantara rimbunya padi kami terus berlari. Entah sudah belok ganti berapa pematang akirnya kami tiba disebuah kebon kosong.

        Nah lho.... sampai dimana ini? Kami kaget, seperti mendarat ditempat terasing, sama sekali tak mengenali daerah apa ini namanya, bahkan nggak tau dimana letak utara selatan. Aku dan kakak saling pandang dalam kebingungan, apa lagi langit mulai gelap, menambah panik. Pikiran buntu, tak ada ide yang keluar dari otak, malahan kami seperti menyerah, hanya bisa pasrah, duduk dibawah pohon randu sambil berharap ada orang menemukan kami.

Langit benar benar sudah gelap, entah sudah berapa lama kami hanya bisa duduk berdiam diri hanya sekali sekali mengusir nyamuk yang semakin lama semakin banyak.

Tiba tiba dari kejauhan kami mendengar sura gemuruh tetabuhan dan teriak teriakan yang tidak jelas. Kami sempat berdiri, mana kala melihat beberapa titik nyala api berarak-arakan ditengah sawah, seketika badan kami bergetar hebat bahana takutnya.

        “Memedi colok (hantu api),” gumam kami, sertamerta kami kembali duduk sambil berangkulan menyembunyikan kepala.

        Memedi colok menurut ceritera setempat adalah hantu yang kemana mana membawa api untuk menebar teror.

Tetabuhan dan nyala api semakin dekat bahkan sesekali terdengan nama kami dipanggil, menambah ketakutan. Tiba tiba nyala api menjadi terang dan terdengar teriakan:

        “Itu itu disana,” disusul suara lain.

        “Den Drajat den Pangkat.”

        Mendengar nama kami dipanggil semakin erat berpelukan dan semakin dalam kepala disembunyikan sambil terisak menangis.

        Tiba tiba ada yang datang lalu membongkar rangkulan dan berusaha membangunkan kami, karena takut kami bertahan, meronta ronta sambil menangis menjerit jerit histeris. Akhirnya rangkulan kami terbuka dan seorang raksasa mengangkangi kami dalam posisi telentang diatas tanah.

        “Den, den... ini saya.... kang Kasim.”

        Mendengar nama Kasim, kami memberanikan diri membuka mata. Ya ampun... memang benar itu kang Kasim yang kulitnya hitam, badannya besar, tinggi jangkung kami kira raksasa.

 

        Ceritera Mbah Putri. Setelah kang Parjo tidak bisa menemukan kami dan hingga sore tak kunjung pulang, penduduk setempat mengatakanan kami digondol wewe (diculik makhluk halus semacam gendruwo perempuan atau kuntilanak). Lalu mereka mendatangkan Pawang. Maka dibentuk regu mencari anak hilang digondol wewe. Regu itu terdiri dari orang laki laki dewasa, sebagian membawa tetabuhan dan sebagian lagi membawa obor. Tetabuhan itu barang apa saja yang dipukul bisa meghasilkan suara, seperti kentongan, batang besi, kaleng bekas bahkan perabot dapur seperti tampah, panci, dan lain semacam itu. Semula Mbah Kakung mau ikut mencari, tetapi kang Kasim melarangnya.

        “Dari pada capek dijalan sebaiknya tunggu saja di rumah, biar saya saja yang mencari,” kata kang Kasim. Meskipun Mbah Kakung adatnya keras, tetapi kadang-kadang sama kang Kasim tidak membantah. Soalnya kang Kasim selain total setia, juga pandai melayani Mbah Kakung baik dalam pekerjaan maupun diluar kedinasan. Makanya sering, kalau Mbah Putri mau memberi saran atau melarang Mbah Kakung, terpaksa harus lewat minta tolong pada kang Kasim. Kalau Mbah Putri sendiri yang melarang sering Mbah Kakung membantah. Seperti saat mencari kami diogondol wewe, Mbah Putri bilang pada kang Kasim:

        “Sim, bilang babak, enggak usah ikut mencari.”

 

        Tepat bedug Maghrib, regu pencari yang dipimpin seorang Pawah mulai bergerak. Kata Pawang, pergantian atara terang ke gelap, saat itu semua makhluh ciptaan Tuhan sedang kosong pikirannya. Dan saat itu jika Wewe mendengar tetabuhan, melihat obor berarak-arakan ia kaget, pikirannya menjadi kacau. Karena ketakutan, lalu lari. Anak yang diculiknya yang tadinya tak bisa dilihat manusia, setelah ditinggal Wewe kembali bisa terlihat.

Ketika arak-arakan regu pencari anak digondol wewe sampai di pasar, pak Jumadi keluar rumah, mau melihat ada apa kok ramai-ramai. Saat melihat kang Kasim ia mendekat lalu tanyanya:

        “Kang Kasim Siapa yang digondol wewe?”

        Den Drajat sama den Pangkat.

        “Lho siang tadi habis main disini, lalu aku sendiri yang ngatar pulang, tapi hanya sampai depan Gereja. Karena sudah dekat Poliklinik, ya sudah saya tinggal,” kata pak Jumadi.

        “Kalau begitu ayo kita cari sekitar Gereja,” kata Pawang. Dan arak-arakan tetabuhan balik arah menuju Gereja.

        Di halaman gereja, kebon seputar gereja sudah dikitari tapi tak membuahkan hasil. Pawang dan tim pencari sudah hampir menyerah. Tiba tiba datang seorang yang pingin melihat ada apa ramai ramai disekitar gereja.

        “Ada anak digondol Wewe” kata salah seorang yang membawa obor.

        “Yang digondol wewe siapa?” Tanya orang itu ternyata ia seorang gembala bebek.

        “Den Drajat sama den Pangkat anaknya pak Mantri.”

        “Oh anak kembar itu ya, tadi sore waktu saya nggiring bebek pulang, saya lihat dua anak itu lari lari lewat pematang kearah sana,” kata Gembala bebek sambil menunjuk desa diseberang bulakan sawah.

        Akhirnya tim pencari, memutuskan untuk menelusuri pematang sawah hingga kebon kosong dimana kami bisa ditemukan.

 

        Sampai dirumah, betapa senang dan terharunya Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh penghuni rumah, melihat kami pulang. Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan, dan kami ingin menjawab, kepingin ceritera bagaimana rasanya ketakutan setengah mati melihat memedi colok yang sebenarnya bukan hantu dan tak ada Wewe yang menculik kami dan macam-macam ceritera lagi, tetapi suaraku dan juga kakaku menjadi parau mungkin karena tenggoran sangat kering, sehabis ketakutan hebat dan manangis menjerit jerit.

        “Biasa bu, kalau habis digondol Wewe pasti menjadi bisu, tetapi besok sudah bisa bicara lagi,” kata Pawang, menjawab pertanyaan Mbah Putri.

Ketika beberapa hari suaraku sudah pulih, aku berceritera apa yang terjadi sesungguhnya. Tetapi tak ada yang mau percaya, semua mengira, aku anak kecil yang sedang membual. Oleh karenanya peristiwa itu tetap dipercaya penduduk Lebeng sebagai legenda anak kembar digondol wewe. Semenjak peristiwa itu aku lebih ketat diawasi, dan diberinya aku gelang terbuat dari batang pohon murbei ditambah macam-macam rempah ada kunyit, dlingo bengle dan lain sejenis itu yang harus aku selalu pakai jika keluar rumah. Pakai jimat, katanya sebagai pagar, agar tidak diculik wewe lagi.

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...