Senin, 13 November 2023

G 30 S

 

G 30 S

 

Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Selesai pesta sederhana, sore hari kami mendengar berita dari radio, Persiden Sukarno sudah diamankan, dari pemberontakan Dewan Jendral. Rakyat mulai resah, yang selama ini dianggap aman-aman saja tiba-tiba muncul pemberontakan.

Kami sekeluarga terus memantau. Malam hari tersiar berita justru yang berontak Golongan komunis yang ingin menguasai Negara. Hari-hari berikutnya sangat mengerikan, seperti ada aba-aba Golongan Komunis bergerak serentak diseluruh daerah-daerah hampir diseluruh Indonesia, memerangi apa saja yang tidak sepaham dengan Aliran Komunis, salah satunya musuh terbesarnya Partai dimana Mbah Putri beroganisasi.

Solo adalah basis Komunis terbesar, banyak Kelompok TNI yang ikut bergabung, maka tak heran di Solo saat itu benar-benar seperti perang saudara, suara tembakan sporadis tidak hanya siang hari, malampun sering terdengar, hingga Pemerintah Solo meberlakukan jam malam.

Atas saran keluarga Mbah Putri dilarang aktif lagi di Organisasi Partai, dan kebetulan memang kesehata Mbah Putri sedang terganngu dengan adanya Kista di rahimnya.

Gerombolan Komunis semakin liar, rumah-rumah yang dihuni orang yang dianggap musuh dibakar, mata mata tersebar dimana-mana setiap orang yang sudah dicap non komunis ditangkap dihabisi. Terrmasuk Mas Man.

Sementar itu mas Man pulang ke Ceper, mau meneruskan kuliah di Klaten. Ia memang pengikut setia Mbah Putri, masuk Organisasi Pemuda Partai besar yang diikut Mbah Putri, maka tak heran ia pun menjadi incaran Gerombolan Kaum Komunis.

Cerita Mas Man. Suatu hari Mas Man dikejutkan ada rumah kebakaran, ia bersama teman-temannya berbondong-bondong datang ingin menolong, tidak tahunya itu sebuah jebakan, dengan mudahnya Mas Man dan teman-temannya ditangkap, dibawa ke sebuah arel pemakaman, mereka dimasukkan kedalam sebuah cungkup (Rumah atau semacam gubuk yang didalamnya ada makamnya) lalu dikunci. Setelah menginap semalam, pagi harinya ada satu orang diseret keluar dan tidak kembali lagi, selang waktu kemudian satu lagi orang diseret keluar.

Betapa ngerinya mereka yang masih hidup didalam cungkup, mereka sudah sering mendengar orang non komunis disembelih, dan kini mereka mengalaminya sendiri. Kini di cungkup kira-kira tinggal 2-3 orang, lama Algojonya tidak muncul-muncul, kelak kemudian diketahui jagalnya BAB dulu sebelum menghabisi sisa mangsanya. Allah memberi pertolongan, tepat saat itu RPKAD alias Pasukan baret Merah datang membasmi Gerombolan Komunis hingga pelosok pelosok, termasuk ke makan dimana Mas Man berada. Selamatlah mas Man, kami menyebutnya nyowo balen.

 

        Kembali ceritera di rumah Sindoro, pagi-pagi kami melihat ada tanda cet hitam silang, desas desusnya rumah yang ditandai itu sasaran untuk dibakar gerombolan Komunis. Ya panik juga sekeluarga, untung pas hari itu Pakde dan Bude Wiryono datang, memang sengaja menjeput Mbah Putri untuk operasi kista di RS Eizabet. Akhirnya semua keluarga ikut ngungsi ke Semarang, kecuali aku dan mas Drajat untuk tunggu rumah.

        Beberapa hari kemudian, saat itu jam malam sudah mulai berlaku, aku, mas Drajat dan Windu putranya Bude Warso tunggu rumah, habis makan malam, terus berjaga-jaga selalu siap siaga nggak boleh jauh dari kentongan. Jika ada yang membahayakan kentongan itu akan ditabuh sebagai alarm minta bantuan.

Tiba-tiba ada suara ketukan dipintu, kami bertiga saling pandang, tak berani membuka, ketukan berulang, kami sudah siap memegang kentongan, tiba-tiba terdengar suara panggilan:

        “Dik dik... dik Drajat dik Pangkat ini mas Samsudin.”

        Kami bertiga saling pandang, siapa Samsudin itu, jangan janga jebakan.

        “Dik dik Drajat dik Pangkat ini suami mbak Amah.”

        Ya ampun saking paniknya nggak ingat nama suami mbak Amah namanya Samsudin, berebut kami bukakan pintu dan seorang Tentara dengan Gagahnya berdiri didepan pintu dengan menyadang Standgun.

Rupanya Pemberontak Komunis yang berada di Solo dan sekitarnya akan dihabisi maka didatangkan bala bantuan baik dari Baret Merah juga dari Batalion lainya termasuk Kompinya mas Samsudin.

 

        Bertepatan dengan itu pagi harinya, segerombolan orang tak dikenal yang diindikasikan gerombolan kaum Komunis akan masuk komplek perumahan. Mendengar ada alarm kentongan, mas Samsudin keluar sambil menjinjing senjatanya. Serta dilihat disebelah barat ujung jalan Sindoro gerombolan orang mau merangsek masuk komplek, mas Samsudin menembakkan senjatanya kearah udara. Medengar rentetan sejata geromoban bubar berhamburan melarikan diri.

Mas Samsudin masuk rumah sambil ketawa-ketawa:

        “Kalau nekat masuk komplek ya tak tembak wetenge, klipuk” kata mas Samsudin dengan bahasa ngapak Banyumasan artinya saya tembak perutnya mampus.

 

        Setelah situasi Solo aman. Mbah Kakung dan Mbah putri pulang ke Solo, sebaliknya aku dan dik Ning pindah ke Semarang, ikut keluaga Bude Wir, untuk meneruskan kuliah.

Mas Man pindah ke Ceper, untuk meneruskan kuliahnya di Klaten sambil magang disebuah Bank.

Yang tinggal di Jl Sindoro Gremet hanya Mbah kakung, Mbah Putri, mas Drajat yang kuliah di Solo dan dik Agus.

Beberapa tahun kemudian, Pakde Wir diangkat menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Canberra, Australia, selama 15 tahun tugas di Negara Kanguru itu. Semua keluarga ikut pindah ke Australi, termasuk Bu Tin dan dik Ning, aku tidak ikut, masih nerusin kuliah.

 

Di Australia Dik Ning ketemu Jodohnya seorang Pemuda Bali bernama Cokorde Rake, ia seorang Anggota AURI ajudan Duta besar Australi saat itu. Di kurun waktu itu juga Bu Tin berhasil menjadi Pegawai Departen Luar Negeri, pisah dengan keluarga Bude Wir, karena dinas di Luar Negeri yang tugasnya berpindah-pindah dari satu negera ke negara lain.

Itulah sebabnya Mbah Kakung dan Mbah Putri seperti menghilang dari Indonesia, ketika Mbah Kakung dan Mbah Putri diboyong Bude Wir ke Australia, dan selanjutnya Mbah Kakung dan Mbah Putri mengikuti Mbak Tin mulai dari Kanda, pindah Swis dan terakhir di Philiphina.

Setelah semua anak mapan, membangun rumah tangga sendiri, jika Mbah Kakung dan Mbah Putri pulang ke Indonesia seperti Turis, mampir sebentar di Jakarta tempat tinggalku, lanjut ke Cirebon tempat tinggal Mas Drajat, mapir ke Semarang menengok Bude Wir lanjut menengok Bude Warso ke Solo terus ke Surabaya tempat tinggal Pak Bekti dan ke Bali tempat tinggal dik Ning dan dik Rake.







napak tilas

 

Napak tilas

 

Seiring perjalanan waktu, sebagian anak sudah mentas, Yu Sri selanjutnya kami panggil Bude Warso, karena nikah dengan Mas Suwarso tinggal di Nusukan, mbakyu Siti Partini selanjutnya kami panggil Bude Wir karena menikah dengan mas Wiryono tinggal di Semarang dan mbak Tin, selanjutnya kami memanggilnya Bu Tien mengikuti keluarga Bude Wir, dari sejak keluarga Bude Wir pindah di Malang, Makasar hingga menetap di Semarang. Mbak Amah pulang ke Jengrana, karena akan menikah.

Aku tidak ingat tahunnya, sekitar 60 an, kami sekeluarga diundang ke Jengrana, menyaksikan pesta perkawinan Mbak Amah dengan sorang anggota TNI AD. kalau tidak salah dari Batalion Slawi, bernama Samsudin. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan, bagaikan napak tilas, selesai pesta perkawinan di Jengrana, kami ikut acara mengantar manten ke Banjarnegara, tempat tinggal keluarga mas Samsudin, dilanjukan menjelajah desa-desa yang pernah kami singgahi, seperti Pagak, Jeruk Legi, Lebeng hingga Kota Cilacap.

Setiap tempat yang kami singgahi ada sebagian Penduduk yang masih mengenal pak Mantri dan anak kembarnya, membuat pertemuan itu menjadi sangat berkesan.

 

Kini yang tinggal di Perumahan Rakyat Gremet Solo hanya aku, Mas Drajat, mas Man, dik Ning dan dik Agus. Saatnya Mbah Putri punya banyak waktu luang, apa lagi urusan pekerjaan rumah tangga sudah di kerjakan anak-anak dengan sisitem pembagian kerja. Aku bagian mencuci baju semua penghuni rumah, mas Drajat bagian seterika, mas Man urusan kebersihan rumah, Dik Ning bagian belanja dan masak, dik Agus meskipun waktu itu masih kecil tetap mendapat pekerajaan yakni membersihkan sepatu.

Banyak waktu luang bukan berarti Mbah Putri leha-leha, untuk mengisi kekosogan itu Mbah Putri mulai ikut berbagai kegiatan semacam Karawitan, bahkan ikut Organisasi sebuah Partai Besar. Peran Mbah Putri disetiap kegiatan yang diikuti selalu punya pososi yang buka kaleng-kaleng. Di komunitas Karawitan Mbah Putri dianggap sebagai tukang kendang yang piawai, di Organisasi Partai Mbah Putri ditunjuk sebagai wakil ketua Ranting Organisasi Wanita Partai, demikian juga dikegiatan yang lain semacam arisan, PKK dan lain sejenis itu.

menghindari agama islam

 

Menghindari Agama Islam

 

Saat kami pindah ke Solo, tahun ajaran baru sudah berjalan, aku dan saudara kembarku terpaksa mengulang masuk kelas 3 lagi di SR Negeri 47 Surakarta yang letaknya dekat dengan rumah. Baru berjalan dua minggu, datang rekomendasi dari bekas sekolahku SRN 1 Ceper, bahwa aku dan saudara kembarku naik kelas, boleh mengikuti pelajaran kelas 4. Akhirnya aku resmi dinaikan menjadi murid kelas 4.

Masalah pelajaran, semacam matematika, pengetahuan alam, pengetahuan sosial dan bahasa Indonesia aku tidak takut tertinggal, kami punya dasar yang kuat ketika kami sekolah di Cilacap di sekolah yang di kelola oleh Yayasan Katholik yang terbaik diwilayah Banyumas. Tetapi rupanya sekolahan di Solo lebih bervariasi mata pelajarannya, seperti ada pelajaran Kerawitan, Menulis Halus, Kerajinan tangan dan lain-lainnya.

Ada 2 mata pelajaran yang benar-benar aku mati kutu, bahkan baru kali ini aku menemuinya yakni pelajaran bahsa Jawa dan agama Islam. Dua mata pelajaran itu di kelas 4 sudah masuk tahap tinggi.

Dengan bantuan saudara-saudara sepupu yang tinggal satu komplek perumahan, pelajaran bahasa Jawa masih bisa dikejar, kecuali menulis huruf Jawa yang tak pernah melampaui angka 4, itu pun berkat kebaikan teman sebangkuku, ia namanya Budi. Jika ulangan sering aku mendapat ‘masukan’ lewat bisik-bisik malah kadang ditulis di secarik kertas.

Akan halnya pelajaran agama Islam, sama sekali buta. Apa lagi Budi tidak duduk disampingku, ia boleh keluar kelas jika waktunya pelajaran agama Islam, sebab ia beragama Kristen.

Suatu hari saatnya pelajaran agama Islam, kalau tak salah ingat guru agama itu namanya pak Ismail, tetapi yang selalu kuingat guru itu masih muda. Rambutnya disisir rapi lurus kebelakang, wajahnya selalu bersih, kulitnya kuning penampilanya simpatik.

Ketika itu ada PR menghafal doa Iftitah, sebuah kalimat yang diucapkan setelah takbir sebagai pembuka dalam ritual sholat. Dengan lantang dan lancar hampir semua murid yang ditunjuk, hafal.

Kini giliranku ditunjuk. Tak sepatah katapun keluar dari mulut, kata-kata dalam kalimat yang aku hafal itu hilang dari ingatan, jadi apa yang mau diucapkan? Keringat dingin keluar bahkan sampai (maaf) ngompol, menambah ketakutan dan malu. Ketika itu aku mengupat dalam hati, Islam ini benar-benar membuat susah orang. Kenapa mau-maunya didikte orang Arab, semua harus di ucapkan dengan bahasa Arab.

Aku ingat ketika masih di Lebeng, keponakan pak Mantri Guru, ia masih kecil, memimpin doa sebelum makan diawali dengan :

“Konjuk hing asmo dalem soho sang putro……” dan seterusnya dengan bahasa Jawa dialek Yogya yang halus, enak didengar, mudah dimengerti gampang dihafal.

Ketika aku sekolah di Cilacap, saat masuk kelas, salah satu murid disuruh memimpin doa sebelum belajar, diawali dengan:

“Atas nama Bapa dan Putra …” dan seterusnya dengan bahasa Indonesia, meski dengan dialek Banyumas medok, enak didengar, mudah dihafal.

 

“Apa kamu tidak menghafal?” tanya pak Ismail.

Aku kaget mendapat pertanyaan itu. Karena gugup dan suasan hati sedang kacau, pertanyaan yang mungkin wajar-wajar saja, tetapi di telangku kata-katanya seperti membentak. Dan segera aku menjawab lantang:

”Tidak.”

Pak Ismail tertegun. Segera aku sadar membuat kesalahan. Walaupun sejak kecil aku tak diberi pelajaran Agama, namun sejak kecil aku sudah menerima doktrin etika dan sopan santun dalam pergaulan, seperti makan tidak boleh sampai mulutnya bunyi, memberi, menerima dan mengambil sesuat harus selalu pakai tangan kanan, kepada orang tua harus hormat, ucapkan terima kasih jika kau senang dan ucapkan maaf jika orang lain tidak senang.

        “Kenapa? “ tanya pak Ismail.

        Aku tertunduk, diam saja.

        “Apa agamu bukan Islam?”

        Meskipun ragu aku mengguk, sambil berkata lirih:

        “Katholik.”

        “Oh, kalu begitu kamu boleh tidak mengikuti pelajaran ini, kamu boleh keluar kelas seprti teman-teman yang lain yang tidak beragama Islam.”

        Setelah mendapat ijin aku keluar kelas. Karena celana basah segera aku lari pulang kerumah. Niatku setelah ganti celana aku mau balik lagi ke sekolah. Tetapi hati sedang kacau, ya dongkol, ya malu, ya takut juga. Bagaimana kalau nanti ada orang dari sekolahan yang mengecek kerumah apa benar agamaku Katholik, ketahuan aku berbohong. Ah masa bodoh, akhirnya aku milih tidur saja.

Esok harinya aku masuk kelas tidak membawa tas, sebab tasku masih tertinggal dalam kelas. Jam istirahat pertama aku dipanggil kekantor menghadap Bu Mulyani, ia wali kelas 4 mengajar bahasa Indonesia. Kemarin setelah pelajaran Agama diteruskan pelajaran bahasa Indonesia, jadi bu Mulyani tau kalau aku bolos. Meskipun aku murid baru tetapi bu Mulyani sangat mengenal aku, sebab pas aku pindah, masuk ke kelas 4, saat itu ia sedang mengajar dan memberi PR mengarang. Tema karangan, menggambarkan kehidupan didesa. Tak ada kesulitan bagiku, tinggal menulis seperti aku membuat catatan buku harian.

Beberapa hari setelah karanganku diperiksa, dinyatakan sangat bagus, malah akan diikut sertakan dalam lomba mengarang antar SR tingkat daerah. Jika nanti menang, mendapat nomer, akan dilanjutkan ke tingkat Nasional. Tetapi aku tidak ingat bagaimana kelanjut perlombaan mengarang itu.

Bu Mulyani memberi tahu, aku diijinkan tidak mengikuti pelajaran agama Islam, tetapi tidak berarti pulang sekolah lebih awal, harus mengikuti pelajaran berikutnya. Aku paham peraturan itu tetapi kemarin keadaan darurat, aku mau bilang maaf kemarin aku ngompol, tetapi tidak berani.

Aku berani tidak mengikuti pelajaran Agama Islam, selain sulit bagiku mengejar ketinggalan, mata pelajarannya Agama Islam tidak diikut sertakan dalam ujian Negara. Tambahan lagi di sekolahan itu tidak ada pelajaran Agama lain, maka dengan seenaknya aku bisa berkelit menghindari pelajaran agama Islam. Coba kalau ada pelajaran agama Katholik, Kristen atau agama yang lain dan aku diharuskan mengikuti salah satu diantaranya, mungkin berpikir lain.

Keluar kelas saat murid lain belajar sangat menyenangkan, hitung-hitung seminggu sekali mendapat tambahan jam istirahat, itu yang menyebabkan tambah malas untuk mengikuti perlajaran agama Islam.

Sampai kelas 6 SR berakhir, aku berhasil lulus ujian Negara. Disekolah itu aku mendapat peringkat ke 3. Aku jatuh di mata ujian menulis yang hanya mendapat nilai 5. Sedang dua rivalku mata ujian menulis mendapat nilai 7. Aku menyumpah kenapa ada ujian menulis, sejak kecil tulisanku jelek, sebaliknya murid Sekolah di Solo, mulai dari kelas 1 SR sudah dapat pelajaran menulis halus. Kalau tidak pakai ujian menulis, akulah yang menjadi peringkat pertama, sebab total nilai dari 3 mata ujian yang pokok, bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan dan Berhitung aku mendapat nilai 28, hampir sempurna, sedang dua rivalku hanya mendapat angka 26.

Ketika itu, yang menjadi wali klas 6 Pak Ismail, ia sangat puas, hampir separoh kelas, nilai ujian murid yang diasuhnya mendapat nilai 30 keatas, itu berarti sekitar 20 siswa, otomatis masuk SMP Negeri.

Suatu yang berkesan dengan Pak Ismail, meskipun aku rangking 3 tetapi ia tetap menunjuk aku, sebagai murid yang prestasinya terbaik. Oleh karena itu aku mendapat tugas membuat karangan yang akan dibacakan oleh siswi rangking satu pada saat perpisahan sekolah nanti.

Baru kali ini aku mendapat perintah membuat naskah untuk pidato. Kalau mengarang bebas, aku sudah biasa. Apalagi aku senang baca komik, koran dan majalah. Malah aku pernah tergila-gila dengan majalah mingguan bahasa Jawa yang diterbitan di Surabaya, Penyebar Semangat nama majalahnya. Tidak hanya lembaran dongeng anak, tetapi semua artikel dan judul dalam majalah itu habis aku baca dalam waktu seminggu.

Meski dengan tertatih-tatih, nyabet kata dari sana dan mengambil kalimat dari sini, akhirnya naskah pidato dua lembar kertas folio jadi, setelah itu aku serahkan pada pak Ismail untuk dikoreksi.

Selesai membaca naskahku, pak Ismail diam sebentar sambil memandangiku dengan tajam. Aku jadi merasa tidak enak.

        “Ada yang salah pak?” tanyaku.

        “Kalau aku boleh komentar, nuansa tulisan ini Islamis. Mencerminkan anak yang berbudi luhur, yang berbakti pada orang tua maupun gurunya. Tidak sombong, merasa suksenya bukan semata-mata usahanya sendiri namun karena ada restu dari orang tua. Dan ini kamu menulis terakhirnya tepat sekali, ‘harus ada ridho Allah’. Ini cocok dengan judul naskah, Doa.”

        “Jadi karangan ini tak bisa dipakai?” tanyaku ragu-ragu.

        “Oh bukan begitu. Jujur aku harus mengakui, tulisan ini bagus sekali dan harus dibaca pada saat perpisahan nanti. Hanya yang aku heran kamu kan keluarga Kristen kok bisa menulis seperti ini?”

        Disebut keluarga Kristen aku jadi malu. Meskipun banyak sanak saudara dari keluarga kami yang beragama Kristen, Katholik bahkan ada yang beragama Hindu, tetapi orang-orang yang tinggal serumah dengan aku semuanya beragama Islam. Dua kakaku yang dulu sekolah di susteran Purworejo kini meneruskan sekolah di Solo juga sudah beralih ke agama Islam, tetapi seisi rumah tak jelas ibadahnya. Hanya mbak Amah yang tak pernah ketinggalan sholatnya, maklum ia anak Kiyai. Akhir-akhir ini Mbah Putri juga terlihat mulai rajin Sholat. Mbah Kakung sekali-sekali kelihatan sholat sedangkan aku dan saudara lain, sama sekali belum melakukan sholat. Akan halnya kakak nomer 2 masih beragama Kristen, mengikuti Agama yang dianut Ibu angkatnya.

Yang tau kalau aku beragama Katholik, ya hanya teman sekolah. Orang serumah tidak ada yang tau, selain aku tak pernah ceritera, aku juga tidak melakukan ibadah sebagai mana orang beragama Katholik, tak pernah pergi ke Gereja. Aku mengatakan orang Katholik, sebenarnya hanya alasan untuk menghindar dari pelajaran agama Islam yang aku merasa kesulitan untuk mengejar, terutama semua hafalan yang harus diucapkan dengan bahasa dan tulisan Arab.

        “Orang tuamu juga beragam Kristen?” tanya pak Ismail.

        Aku geragapan mendapat pertanyaan yang tiba-tiba, tanpa aku sadari kepalaku menggeleng.

        “Lho? Lantas apa agama orang tuamu?”

        “Islam, “jawabku perlahan.

        “Oh pantas namamu sendiri, Rahman sudah mencerminkan nama Islam, tentu yang memberi nama juga orang Islam.”

 

        Karena nilai ujianku bagus, selanjutnya aku diterima di SMP Negeri. Sayangnya aku tidak diterima di sekolah SMP Negeri Favorit gara-gara aku hanya peringkat 3. Sekali lagi aku mengumpat kenapa tahun itu diadakan ujian menulis, sebab tahun-tahun berikutnya ujian menulis dihapus.

Di Sekolah Menegah Pertama itu aku masih berkelit dari pelajaran Agama Islam. Awal kuwartal pertama aku masih mengikuti pelajaran Agama Islam tetapi ketika meteri pelajaran sudah mengenai hafalan dan tulisan Arab, aku lapor pada Wali kelas, sejak di SR aku tidak mengikuti pelajaran Agama Islam. Dan setelah dicek raportku ketika di SR, tak ada nilai pelajaran agama Islam, kemudian aku dibebaskan, boleh keluar tidak mengikuti pelajaran agama Islam. Di SMP ini pun tak ada pelajaran Agama lain, hingga aku semakin bebas.

Setelah lulus SMP aku memilih SMA yang dikelola yayasan Katholik. Sebab ketika itu semua ujian sekolah mulai dari SR sampi SMA diselenggarakan oleh Negara, jadi untuk lulus harus melalui perjuangan berat dan harus diakui faktor sekolahan sangat berperan. Dan nyatanya aku bisa lulus dengan nilai bagus. Sayangnya ketika masuk perguruan tinggi, nilai ujian sebagus apapun tak berlaku secara otomatis masuk Universitas Negeri, harus melalui ujian masuk perguruan tinggi. Dan aku gagal masuk Universitas Negeri. Akhirnya aku masuk perguruan tinggi Swasta di Semarang.

Selama sekolah aku tak pernah mengikuti pelajaran agama Islam tetapi uniknya semua dokumen sekolah seperti raport dan ijazahku mulai dari SD sampai SMA semua tertulis:

Nama                                      : Pangkat Surachman.

Kewarga Negaraan     : Indonesia.

Agama                                     : Islam.

 

Mantri Kesehatan tak punya Obat

 

Di Solo Mbah Kakung dinas di RC sebuah komplek pusat rehabilitasi penderita cacat, di tempatkan di bagian pengawasan dan penditribusian obat.

Banyak orang, bahkan saudara sendiri tidak percaya hidup kami selalu hanya pas-pasan. Padahal Mbah Kakung dipercaya menguasai gudang obat. Dimulai dari menerima barang dari pabrik dan pedagang obat, menyimpan sampai mendistribusikan ke unit-unit yang memerlukan obat di Rumah Sakit itu.

Kata orang, itu jabatan basah, bisa bikin cepat kaya, apa lagi Mbah Kakung Mantri Kesehatan, bisa buka paraktek dirumah, bahkan kalau mau, bisa buka toko obat.

Tetapi itu tidak dilakukan Mbah Kakung, padahal saat itu perekonomian nasional sedang ambruk. Bung Karno mencanangkan Berdikari, Pemerintah tak mau mencari pinjaman dari Luar Negeri. Saat itu kami mengalami makan beras campur jagung, kemudian menerima tunjangan makanan yang dinamakan bulgur. Kalau mau beli beras, minyak tanah, dan sembako lainnya dijatah, harus antri pakai kupon. Makanya tidak salah Mbah Putri berkata:

“Mbah Kakung itu orangnya jujur, paling jujur sedunia.”

 

Pada suatu hari Mbah Putri sakit agak berat. Sore hari setelah pulang kerja, Mbah Kakung, membawa Mbah Putri berobat ke dokter praktek umum. Dokter itu salah satu dokter yang menjadi atasan mbah Kakung di RC. Meskipun mbah Kakung kenal Dokternya, tetapi nggak mau nyrobot pasien yang datang duluan.

Dengan sabar Mbah Kakung dan Mbah Putri ikut antri di ruang tunggu. Setelah sampai gilirannya, Mbah Kakung dan Mbah Putri masuk ruang praktek. Melihat mbah Kakung berobat, Dokter kaget, bingung dan heran. Akhirnya malahan marah.

 

        “Pak Mantri, sampeyan itu bisa ngobati sendiri, bahkan punya lisensi menyuntik pasien. Lakukan tindakan, tidak perlu ibu dibawa kesini,” kata dokter.

        “Betul dokter, malahan di rumah juga masih ada spet (alat suntik), tetapi saya tidak punya obat-obatan,” jawab mbah kakung.

        “Hah?” Dokter bengong.

Orang bilang kerja dibagian obat-obatan, itu bagain paling basah, bisa buka toko obat, malahan bisa mendirikan Apotik. Lho lha kok obat penurun panas dan anti radang saja nggak punya.

 

        Itu memang dialog serius, bukan untuk humor. Di rumah memang ada lemari obat tetapi isinya hanya obat-obat P3K dan obat luar serta obat yang dijual bebas. Tidak ada obat yang harus menggunakan resep dokter atau obat daftar G semacam antibiotika dan sejenis itu.

Sejak itu Mbah Kakung semakin mendapat kepercayaan dari hampir semua dokter dirumah sakit itu. Dan rata-rata mereka puas atas kemapuan kerja Mbah Kakung. Sudah berkali-kali jabatan Mbah Kakung diincar orang, namun sampai pensiun nanti jabatan itu tetap dipegangnya.

 

        Bertepatan dengan itu Mbah Amah nyusul ke Solo. Mesti kehidupan kami pas-pasan, tetapi Mbah Putri sangat peduli dan mendorong pendidikan anak-anak. Semua anak di persilahkan memilih sekolah yang terbaik dengan jenjang tertinggi menurut kemampuannya masing-masing. Tidak murah biaya untuk fasilitas itu, untuk itu Mbah Putri mencari tambahan penghasilan. Mbah Putri dan mbak Amah bekerja sebagai pengrajin bordir di sebuah toko Cina di Pasar Legi. Yang punya toko itu namanyan Nyah Giok, begitu kami memanggilnya, ia putrinya Nyah Tete patner dagang Mbah Ceper Putri. Orangnya baik sekali, saking baiknya, kami sudah dianggap seperti saudara. Oleh karena itu pekerjaan bordir boleh dikerjakan dirumah, hingga tidak menyita waktu dan bisa diselingi mengurus pekerjaan rumah.

        Selain bordir Mbah Putri juga pandai membatik, dari pekerjaan-pekerjaan sambilan itu sangat membantu ekonomi keluarga.

 

 

pindah ke ceper

 

Pindah ke Ceper.

 

Kini jumlah anak Mbah Putri yang tertinggal di rumah Oom Harno tinggal 4, namun bagi Mbah Putri masih berat mengelola keuangan keluarga. Oleh karena itu Mbah Putri usul pada Mbah Kakung untuk pindah saja ke Solo. Meskipun Solo kota yang lebih besar dari Cilacap, akan tetapi disana ada kesempatan Mbah Putri bisa mencari pekerjaan sambilan untuk membantu keuangan keluarga.

Sebenarnya sudah sejak awal Mbah Putri kepingin pindah ke Solo dan Mbah Kakung juga sudah mengajukan permohonan pindah ke Solo, akan tetapi ketika pindah di RSU Cilacap ini kebetulan Mbah Kakung ditempatkan menjadi Asisten salah seorang dokter dan dokter itu sangat cocok dengan Mbah Kakung, maka permohonan itu masih terus tertunda-tunda.

Saatnya dokter yang menjadi atasan Mbah Kakung pindah, Mbah Putri mendesak Mbah Kakung agar juga ikut pindah, ke Solo. Kebetulan ketika itu sekolahan sudah kenaikan kelas, harapan Mbah Putri, jika bisa pindah sekarang, anak-anak tak ketinggalan pelajaran. Ketika itu aku baru saja naik kelas 3 SR.

Mbah Kakung menyetujui usulan Mbah Putri, lalu membuat surat permohonan pindah. Mutasi Mbah Kakung ke Solo disetujui, dipindah bekerja ke salah satu rumah sakit Negeri di kota itu. Namun kendalanya urusan dokumen dan administrasi harus menunggu bebulan bulan.

Karena Mbah Putri khawatir sekolah anak anaknya terlantar, maka Mbah Putri dan anak-anak pindah lebih dulu, tapi tidak langsung kota Solo, kami transit di Ceper, tinggal di Rumah Loji Karangmodjo. Ternyata urusan kepindahan Mbah kaku ke Solo molor. Terpaksa aku dan saudara kembarku di sekolahkan dulu di SR Negri 1 Ceper. Setahun lebih Mbah Kakung baru selesai urusan mutasi, kami pun boyong pindah ke Kota Solo.

 

Kehidupan keluarga kami di Solo, tidak lebih baik dari ketika kami tinggal di Cilacap. Hanya, sekarang kami lebih dekat dengan sanak saudara yang tinggal dalam satu kota. Meskipun kami tidak mintak tolong, uluran tangan dan bantuan dari saudara-saudara silih ganti berdatangan. Itu tak lebih dari ungkpan rasa senang saudara kandung baik dari pihak Mbah Kakung maupun pihak Mbah Putri, keluarga kami mau pulang ke Solo. Selama ini keluarga kami dianggap hilang. Saudara Mbah Putri yang sulung bernama Pakde Malimin kami memanggilnya Pakde PO dengan senang hati meminjamkan satu rumah untuk sementara waktu ditempati, di jalan Kendeng, komplek Perumahan Rakyat Gremet, Manahan. Didepan rumah yang kami tempati adalah rumah saudara Mbah Putri juga, kami memanggilnya Bude Wignyo, sedangkan persis dibelakang rumah, menghadap ke jalan Merapi, ditempati Bu Ugi adik mbah Putri juga (hirarkinya lihat di Trah Sastrotaruno).

Setahun dua tahun kemudian kehidupan keluarga kami mulai mapan. Lebih beruntung lagi, tidak lama dari itu, Mbah Kakung bisa membeli rumah di Komplek Perumahan Rakyat Gremet itu juga di Jalan Sindoro, tidak jauh dari jalan Kendeng dan Merapi.

tarzan masuk kota

 

Tarzan masuk kota

 

        Masuk Cilacap doktrin yang saya terima, harus adaptasi dengan pola hidup orang kota. Sekolah harus pakai sepatu. Ada dua kenangan tatkala aku harus mengenakan sepatu. Jika sepatu baru, pasti kakiku lecet. Setelah sekolah selesai, sampai di luar halaman sekolahan, buru-buru sepatu aku lepas. Pulang sekolah berjalan dengan kaki telanjang sambil menjinjing sepatu.

Sering aku mendapat olok-olok dari tetangga:

        ”Hallo mas, nenteng kepiting, mau dijual kepasar ya?”

        Aku tidak menyahut, acuh saja, pokoknya aku terbebas diri jepitan kulit sapi ini.

Yang kedua, aku selalu direpotkan dengan tali sepatu yang lepas. Aku tak pernah bisa menalikan kembali dengan benar, kadang ikatannya malah menjadi simpul mati. Kalau sudah begitu, dipastikan menangis jika mau melepas sepatu sepulang sekolah.

Hidup di kota sepertinya membatasi ruang gerak. Ruang itu hanya tersedia di halaman sekolah dan pekarangan rumah yang hanya sejengkal. Tidak bisa lagi mandi dan menagkap ikan di sungai, bermain di sawah, berjalan di pematangnya atau rebah telentang di padang rumput.

        Ketika ikut angon kerbau sampai di pinggiran perkebunan karet di lereng-lereng bukit, mencari sisa-sisa getah karet, dijadikan bola, lalu ramai-ramai main kasti. Sungguh kenangan yang tak bisa dilupakan.

 

        Hasrat melampiaskan rasa kangen kehidupan desa, kadang aku dan kakak kembarku berjalan berdua pergi ke pantai. Jarak pantai ke rumah cukup lumayan jauh, kira-kira setengah jam perjalanan, tapi kami tak peduli. Sampai di pantai, duduk dibawah pohon pandan liar, sambil melihat kesibukan nelayan menarik jaring. Kadang pergi ke tepi laut bermain dengan ombak dan pasir. Bisa seharian, kami betah main disini. Aku tahu Mbah Putri pasti cemas jika kami tidak cepat-cepat pulang. Tetapi aku juga tahu, Mbah Putri tak berani menyuruh orang mencari kami dengan naik sepeda sambil membunyikan peluit, seperti ketika di Lebeng.

        Ada kenangan yang benar-benar tak pernah aku lupakan seumur hidup di teluk Penyu, nama pantai di Cilacap.

Hari minggu, habis sarapan kami berdua kabur ke pantai. Melihat deburan ombak pecah dipantai, hati tergiur untuk mandi, berenang sambil bebermain dengn ombak. Segera kami lepas semua pakaian, ditaruh dibawah pohon pandan lalu lari masuk kedalam laut.

Setelah puas mandi, kami menuju ke pohon pandan tempat kami menyimpan pakaian. Wah celaka, baju dan celana kami tidak ada, sepertinya terbang terbawa angin kencang.

Kami memang salah, seharusnya pakaian tadi ditindih dengan batu besar agar tidak tersapu angin, begitu melihat ombak kami lupa segala-galanya.

Kami berjalan menyisir pantai mencari pakaian, hasilnya hanya baju kakak yang bisa ditemukan.

Bagaiman ini? Kalau telanjang bulat masih di pantai ya tidak apa-apa, tetapi kalau telanjang bulat berjalan sepanjang keramain kota, lewat depan toko, rumah orang, pasar, waduh seperti apa malunya?

Sekali lagi kami mencari, tetap nihil, tiba-tiba kami melihat kantong gandum bekas. Dahulu kantong untuk tempat gandum terbuat dari kain katun. Kami ambil kantong itu lalu dicuci dilaut dan dijemur diatas rumput liar.

Kami berdua pulang, meskipun sepanjang jalan orang tersenyum senyum memperhatikan kami, kami acuh saja. Sebenarnya ya malu tetapi tak malu malu amat, saya pakai sarung mini kantong gandum kakak saya pakai baju dibalik dijadikan celana. Bandingkan jika kami berdua pulang dengan telanjang bulat.

hijrah

 

HIDUP DI LINGKUNGAN KOTA

 

Dari hidup dilingkungan desa yang masih primitip pindah ke kota rasanya seperti bangun dari mimpi. Ada yang aneh, namun membuat hati berbinar binar menyenangkan. Dari serba gelap diwaktu malam menjadi terang benderang siang maupun malam. Tak habis habisnya aku memandang bolam lampu yang bisa menyala tanpa minyak. Tak ada lagi lumpur dijalan. Jalan licin beraspal, yang aku ingat pertama dan berkesan ketika habis hujan jalan itu warnanya hitam mengkilat seperti cermin berpendar pendar memantulkan cahaya lampu-lampu jalanan.

Tak ada lagi rumah beratap ilalang. Menyenangkan namun itu kesan pertama. Hari berganti hari bulan berganti bulan telah dilalui, terasa ada yang hilang, rindu mandi di kali, telentang di padang rumput, aroma khas kambing dan kerbau. Tapi kami harus beradaptasi dengan habitat baru.

 

Hijrah

 

        Selama itu kami mengenal yang namanya Kota, yakni daerah atau tempat yang lebih ramai dari pasar Lebeng ketika hari pasaran, seperti Jeruk Legi dan Kesugihan. Makanya ketika kami masuk kota Cilacap terkagum kagum, aku menggangap ini kota paling besar yang pernah aku singgahi.

Ketika kami masuk kota Cilacap selepas senja, kebetulan cuaca sudah terang sehabis diguyur hujan. Kesan kami yang pertama yang tak pernah aku lupakan, aku melihat semua jalan dikota warnanya hitam licin mengkilap, bak cermin berpendar pendar memantulkan lampu penerangan sepanjang jalan yang kami lalui.

Sangat kontras dengan jalanan di Lebeng. Jalan protokolnya saja hanya berupa batu kali ditata. Karena seringnya dilalui menjadi rata dan keras. Namun jika hujan, lumpur dan pasir berncampur menyelimuti diatas jalan.

Untuk sementara waktu keluarga kami ditampung oleh adik Mbah Putri dari Trah Sastrotaruno, kami memangginya Oom Harno. Kebetulan Oom Harno dibenum menjadi kepala Duane wilayah Cilacap. Beliau baru menikah, belum punya anak, sedangkan rumah dinas yang ditempati besar, kamarnya banyak hingga mampu menampung keluarga kami.

Sekitar 2-3 tahun keluarga kami tinggal di Cilacap, di kota ini Agus, adikku bungsu laki-laki lahir. Lengkap sudah, dari 7 anak, tak satupun mempunyai kota kelahiran yang sama, kecuali sikembar Drajat dan Pangkat.

 

Bagi Mbah Kakung, pindah ke kota manapun asal ditempat tujuan ada tempat untuk mengabdi pada bidang kesehatan dan pengobatan tidak masalah.

Sebaliknya bagi Mbah Putri, orang yang berperan penting memutar perekonomian keluarga, pindah dari daerah kedaerah lain harus berhitung, anggaran pendapatan dan anggaran belanja harus disesuaikan jumlah anggota keluarganya.

Semisal ketika kami pindah ke kota Cilacap, Mbah Putri tidak mengajak para pembantu rumah tangga termasuk mbak Amah, mereka dipulangkan ke keluarga masing-masing. Mbah Putri hanya mengajak anak kandung dan mbak Yanti yang akan masuk asrama Perawat.

 

Pertimbangan Mbah Putri, hidup dikota tidak sesedarhana hidup di desa, lebih rumit lebih kompleks. Meskipun seluruh gaji Mbah Kakung utuh diserahkan pada Mbah Putri, namun masih jauh dari cukup untuk keperluan hidup satu bulan.

Kalau soal makan masih bisa bernafas lega, selain disuport adik Mbah Putri, kami masih sering mendapat kiriman bahan mentah dari Kiyai Jengrana, orang tua mbak Amah. Tetapi rupanya hidup dikota tidak hanya perlu cukup makan saja, masih banyak pengeluaran yang lebih besar lagi.

Celakanya semua transaski di kota berupa uang tunai, tidak seperti dahulu di Lebeng, masih berlaku transaksi barter, tukar minyak klentik bikian sendiri bisa jadi beras. Bawa ayam ke pasar, pulang sudah bisa jadi baju dan lain semacam itu.

Beruntung keluarga Pak Mantri Guru mencari keluarga Pak Mantri Kesehatan, untuk memberi beawiswa, masuk asrama Suteran di Purworejo untuk Kakak nomer 1 Sri Amiyati kami memanggilnya Yu Sri, masuk setingkat SMP dan kakak nomer 3 Siti Partinah kami memanggilnya mbak Tin, masuk setingkat SR (sekarang SD). Semua keperluan sekolah dan keperluan hidup termasuk asrama gratis.

Kakak no 2 Siti Partini, Yu Tin (kelak kami memnaggilnya Yu Wir) tidak ikut, sebab sejak kecil sudah diadopsi keluarga Mbah Putri, lihat ceriteranya di Trah Sastroatmodjo.

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...