Senin, 13 November 2023

pindah ke ceper

 

Pindah ke Ceper.

 

Kini jumlah anak Mbah Putri yang tertinggal di rumah Oom Harno tinggal 4, namun bagi Mbah Putri masih berat mengelola keuangan keluarga. Oleh karena itu Mbah Putri usul pada Mbah Kakung untuk pindah saja ke Solo. Meskipun Solo kota yang lebih besar dari Cilacap, akan tetapi disana ada kesempatan Mbah Putri bisa mencari pekerjaan sambilan untuk membantu keuangan keluarga.

Sebenarnya sudah sejak awal Mbah Putri kepingin pindah ke Solo dan Mbah Kakung juga sudah mengajukan permohonan pindah ke Solo, akan tetapi ketika pindah di RSU Cilacap ini kebetulan Mbah Kakung ditempatkan menjadi Asisten salah seorang dokter dan dokter itu sangat cocok dengan Mbah Kakung, maka permohonan itu masih terus tertunda-tunda.

Saatnya dokter yang menjadi atasan Mbah Kakung pindah, Mbah Putri mendesak Mbah Kakung agar juga ikut pindah, ke Solo. Kebetulan ketika itu sekolahan sudah kenaikan kelas, harapan Mbah Putri, jika bisa pindah sekarang, anak-anak tak ketinggalan pelajaran. Ketika itu aku baru saja naik kelas 3 SR.

Mbah Kakung menyetujui usulan Mbah Putri, lalu membuat surat permohonan pindah. Mutasi Mbah Kakung ke Solo disetujui, dipindah bekerja ke salah satu rumah sakit Negeri di kota itu. Namun kendalanya urusan dokumen dan administrasi harus menunggu bebulan bulan.

Karena Mbah Putri khawatir sekolah anak anaknya terlantar, maka Mbah Putri dan anak-anak pindah lebih dulu, tapi tidak langsung kota Solo, kami transit di Ceper, tinggal di Rumah Loji Karangmodjo. Ternyata urusan kepindahan Mbah kaku ke Solo molor. Terpaksa aku dan saudara kembarku di sekolahkan dulu di SR Negri 1 Ceper. Setahun lebih Mbah Kakung baru selesai urusan mutasi, kami pun boyong pindah ke Kota Solo.

 

Kehidupan keluarga kami di Solo, tidak lebih baik dari ketika kami tinggal di Cilacap. Hanya, sekarang kami lebih dekat dengan sanak saudara yang tinggal dalam satu kota. Meskipun kami tidak mintak tolong, uluran tangan dan bantuan dari saudara-saudara silih ganti berdatangan. Itu tak lebih dari ungkpan rasa senang saudara kandung baik dari pihak Mbah Kakung maupun pihak Mbah Putri, keluarga kami mau pulang ke Solo. Selama ini keluarga kami dianggap hilang. Saudara Mbah Putri yang sulung bernama Pakde Malimin kami memanggilnya Pakde PO dengan senang hati meminjamkan satu rumah untuk sementara waktu ditempati, di jalan Kendeng, komplek Perumahan Rakyat Gremet, Manahan. Didepan rumah yang kami tempati adalah rumah saudara Mbah Putri juga, kami memanggilnya Bude Wignyo, sedangkan persis dibelakang rumah, menghadap ke jalan Merapi, ditempati Bu Ugi adik mbah Putri juga (hirarkinya lihat di Trah Sastrotaruno).

Setahun dua tahun kemudian kehidupan keluarga kami mulai mapan. Lebih beruntung lagi, tidak lama dari itu, Mbah Kakung bisa membeli rumah di Komplek Perumahan Rakyat Gremet itu juga di Jalan Sindoro, tidak jauh dari jalan Kendeng dan Merapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...