Pindah ke Ceper.
Kini jumlah anak Mbah Putri yang tertinggal di rumah Oom Harno
tinggal 4, namun bagi Mbah Putri masih berat mengelola keuangan keluarga. Oleh karena
itu Mbah Putri usul pada Mbah Kakung untuk pindah saja ke Solo. Meskipun Solo
kota yang lebih besar dari Cilacap, akan tetapi disana ada kesempatan Mbah
Putri bisa mencari pekerjaan sambilan untuk membantu keuangan keluarga.
Sebenarnya sudah sejak
awal Mbah Putri kepingin pindah ke Solo dan Mbah Kakung juga sudah mengajukan permohonan
pindah ke Solo, akan tetapi ketika pindah di RSU Cilacap ini kebetulan Mbah
Kakung ditempatkan menjadi Asisten salah seorang dokter dan dokter itu sangat
cocok dengan Mbah Kakung, maka permohonan itu masih terus tertunda-tunda.
Saatnya dokter yang menjadi atasan Mbah Kakung pindah, Mbah Putri mendesak Mbah
Kakung agar juga ikut pindah, ke Solo. Kebetulan ketika itu sekolahan sudah
kenaikan kelas, harapan Mbah Putri, jika bisa pindah sekarang, anak-anak tak
ketinggalan pelajaran. Ketika itu aku baru saja naik kelas 3 SR.
Mbah Kakung menyetujui usulan Mbah Putri,
lalu membuat surat permohonan pindah. Mutasi Mbah Kakung ke Solo disetujui, dipindah
bekerja ke salah satu rumah sakit Negeri di kota itu. Namun kendalanya urusan dokumen dan administrasi
harus menunggu bebulan bulan.
Karena Mbah Putri
khawatir sekolah anak anaknya terlantar, maka Mbah Putri dan anak-anak pindah
lebih dulu, tapi tidak langsung kota Solo, kami transit di Ceper, tinggal di Rumah
Loji Karangmodjo. Ternyata urusan kepindahan Mbah kaku ke Solo molor. Terpaksa
aku dan saudara kembarku di sekolahkan dulu di SR Negri 1 Ceper. Setahun lebih
Mbah Kakung baru selesai urusan mutasi, kami pun boyong pindah ke Kota Solo.
Kehidupan keluarga kami di Solo, tidak
lebih baik dari ketika kami tinggal di Cilacap. Hanya, sekarang kami lebih
dekat dengan sanak saudara yang tinggal dalam satu kota. Meskipun kami tidak
mintak tolong, uluran tangan dan bantuan dari saudara-saudara silih ganti
berdatangan. Itu tak lebih dari ungkpan rasa senang saudara kandung baik dari
pihak Mbah Kakung maupun pihak Mbah Putri, keluarga kami mau pulang ke Solo.
Selama ini keluarga kami dianggap hilang. Saudara Mbah Putri yang sulung bernama Pakde Malimin kami
memanggilnya Pakde PO dengan senang hati meminjamkan
satu rumah untuk sementara waktu ditempati, di jalan Kendeng, komplek Perumahan Rakyat
Gremet, Manahan. Didepan rumah yang kami tempati adalah rumah saudara Mbah
Putri juga, kami memanggilnya Bude Wignyo, sedangkan persis dibelakang rumah, menghadap
ke jalan Merapi, ditempati Bu Ugi adik mbah Putri juga (hirarkinya lihat di Trah
Sastrotaruno).
Setahun dua tahun kemudian kehidupan
keluarga kami mulai mapan. Lebih beruntung lagi, tidak lama dari itu, Mbah
Kakung bisa membeli rumah di Komplek
Perumahan Rakyat Gremet itu juga di Jalan Sindoro, tidak jauh dari jalan
Kendeng dan Merapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar