Mantri Kesehatan tak punya Obat
Di Solo Mbah
Kakung dinas di RC sebuah komplek pusat rehabilitasi penderita cacat, di
tempatkan di bagian pengawasan dan penditribusian obat.
Banyak orang, bahkan saudara sendiri tidak
percaya hidup kami selalu hanya pas-pasan. Padahal Mbah Kakung dipercaya menguasai gudang
obat. Dimulai dari menerima barang dari pabrik dan pedagang obat, menyimpan
sampai mendistribusikan ke unit-unit yang memerlukan obat di Rumah Sakit itu.
Kata orang, itu jabatan basah, bisa bikin
cepat kaya, apa lagi Mbah Kakung Mantri Kesehatan, bisa buka paraktek dirumah,
bahkan kalau mau, bisa buka toko obat.
Tetapi itu tidak dilakukan Mbah Kakung,
padahal saat itu perekonomian nasional sedang ambruk. Bung Karno mencanangkan
Berdikari, Pemerintah tak mau mencari pinjaman dari Luar Negeri. Saat itu kami
mengalami makan beras campur jagung, kemudian menerima tunjangan makanan yang
dinamakan bulgur. Kalau mau beli beras, minyak tanah, dan sembako lainnya
dijatah, harus antri pakai kupon. Makanya tidak salah Mbah Putri berkata:
“Mbah Kakung itu orangnya jujur, paling
jujur sedunia.”
Pada suatu
hari Mbah Putri sakit
agak berat. Sore hari setelah pulang kerja, Mbah Kakung, membawa Mbah Putri berobat ke dokter praktek umum.
Dokter itu salah satu dokter yang menjadi atasan mbah Kakung di RC. Meskipun
mbah Kakung kenal Dokternya, tetapi nggak mau nyrobot pasien yang datang
duluan.
Dengan
sabar Mbah Kakung dan Mbah Putri ikut antri di ruang
tunggu. Setelah sampai gilirannya, Mbah Kakung dan Mbah Putri masuk
ruang praktek. Melihat mbah Kakung berobat, Dokter kaget, bingung dan heran.
Akhirnya malahan marah.
“Pak Mantri, sampeyan itu bisa ngobati sendiri,
bahkan punya lisensi menyuntik pasien. Lakukan tindakan, tidak perlu ibu dibawa kesini,” kata dokter.
“Betul dokter, malahan di rumah juga masih ada
spet (alat suntik), tetapi saya tidak punya obat-obatan,” jawab mbah kakung.
“Hah?” Dokter bengong.
Orang
bilang kerja dibagian obat-obatan, itu bagain paling basah, bisa buka toko
obat, malahan bisa mendirikan Apotik. Lho lha kok obat penurun panas dan anti
radang saja nggak punya.
Itu memang
dialog serius, bukan untuk humor. Di rumah memang ada lemari obat tetapi isinya
hanya obat-obat P3K dan obat luar serta obat yang dijual bebas. Tidak ada obat
yang harus menggunakan resep dokter atau obat daftar G semacam antibiotika dan
sejenis itu.
Sejak itu Mbah Kakung semakin mendapat
kepercayaan dari hampir semua dokter dirumah sakit itu. Dan rata-rata mereka
puas atas kemapuan kerja Mbah Kakung. Sudah berkali-kali jabatan Mbah Kakung diincar
orang, namun sampai pensiun nanti jabatan itu tetap dipegangnya.
Bertepatan dengan itu Mbah Amah nyusul
ke Solo. Mesti kehidupan kami pas-pasan, tetapi Mbah
Putri sangat peduli dan mendorong pendidikan anak-anak. Semua anak di
persilahkan memilih sekolah yang terbaik dengan jenjang tertinggi menurut
kemampuannya masing-masing. Tidak murah biaya untuk fasilitas itu, untuk itu Mbah
Putri mencari tambahan penghasilan. Mbah Putri dan mbak Amah bekerja sebagai pengrajin bordir
di sebuah toko Cina di Pasar Legi. Yang punya toko itu namanyan Nyah Giok, begitu kami
memanggilnya, ia putrinya
Nyah Tete patner dagang Mbah Ceper Putri. Orangnya baik sekali, saking
baiknya, kami sudah dianggap seperti saudara. Oleh karena itu pekerjaan bordir
boleh dikerjakan dirumah, hingga tidak menyita waktu dan bisa diselingi
mengurus pekerjaan rumah.
Selain bordir Mbah Putri juga pandai
membatik, dari pekerjaan-pekerjaan sambilan itu sangat membantu ekonomi
keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar