Senin, 13 November 2023

 

Mantri Kesehatan tak punya Obat

 

Di Solo Mbah Kakung dinas di RC sebuah komplek pusat rehabilitasi penderita cacat, di tempatkan di bagian pengawasan dan penditribusian obat.

Banyak orang, bahkan saudara sendiri tidak percaya hidup kami selalu hanya pas-pasan. Padahal Mbah Kakung dipercaya menguasai gudang obat. Dimulai dari menerima barang dari pabrik dan pedagang obat, menyimpan sampai mendistribusikan ke unit-unit yang memerlukan obat di Rumah Sakit itu.

Kata orang, itu jabatan basah, bisa bikin cepat kaya, apa lagi Mbah Kakung Mantri Kesehatan, bisa buka paraktek dirumah, bahkan kalau mau, bisa buka toko obat.

Tetapi itu tidak dilakukan Mbah Kakung, padahal saat itu perekonomian nasional sedang ambruk. Bung Karno mencanangkan Berdikari, Pemerintah tak mau mencari pinjaman dari Luar Negeri. Saat itu kami mengalami makan beras campur jagung, kemudian menerima tunjangan makanan yang dinamakan bulgur. Kalau mau beli beras, minyak tanah, dan sembako lainnya dijatah, harus antri pakai kupon. Makanya tidak salah Mbah Putri berkata:

“Mbah Kakung itu orangnya jujur, paling jujur sedunia.”

 

Pada suatu hari Mbah Putri sakit agak berat. Sore hari setelah pulang kerja, Mbah Kakung, membawa Mbah Putri berobat ke dokter praktek umum. Dokter itu salah satu dokter yang menjadi atasan mbah Kakung di RC. Meskipun mbah Kakung kenal Dokternya, tetapi nggak mau nyrobot pasien yang datang duluan.

Dengan sabar Mbah Kakung dan Mbah Putri ikut antri di ruang tunggu. Setelah sampai gilirannya, Mbah Kakung dan Mbah Putri masuk ruang praktek. Melihat mbah Kakung berobat, Dokter kaget, bingung dan heran. Akhirnya malahan marah.

 

        “Pak Mantri, sampeyan itu bisa ngobati sendiri, bahkan punya lisensi menyuntik pasien. Lakukan tindakan, tidak perlu ibu dibawa kesini,” kata dokter.

        “Betul dokter, malahan di rumah juga masih ada spet (alat suntik), tetapi saya tidak punya obat-obatan,” jawab mbah kakung.

        “Hah?” Dokter bengong.

Orang bilang kerja dibagian obat-obatan, itu bagain paling basah, bisa buka toko obat, malahan bisa mendirikan Apotik. Lho lha kok obat penurun panas dan anti radang saja nggak punya.

 

        Itu memang dialog serius, bukan untuk humor. Di rumah memang ada lemari obat tetapi isinya hanya obat-obat P3K dan obat luar serta obat yang dijual bebas. Tidak ada obat yang harus menggunakan resep dokter atau obat daftar G semacam antibiotika dan sejenis itu.

Sejak itu Mbah Kakung semakin mendapat kepercayaan dari hampir semua dokter dirumah sakit itu. Dan rata-rata mereka puas atas kemapuan kerja Mbah Kakung. Sudah berkali-kali jabatan Mbah Kakung diincar orang, namun sampai pensiun nanti jabatan itu tetap dipegangnya.

 

        Bertepatan dengan itu Mbah Amah nyusul ke Solo. Mesti kehidupan kami pas-pasan, tetapi Mbah Putri sangat peduli dan mendorong pendidikan anak-anak. Semua anak di persilahkan memilih sekolah yang terbaik dengan jenjang tertinggi menurut kemampuannya masing-masing. Tidak murah biaya untuk fasilitas itu, untuk itu Mbah Putri mencari tambahan penghasilan. Mbah Putri dan mbak Amah bekerja sebagai pengrajin bordir di sebuah toko Cina di Pasar Legi. Yang punya toko itu namanyan Nyah Giok, begitu kami memanggilnya, ia putrinya Nyah Tete patner dagang Mbah Ceper Putri. Orangnya baik sekali, saking baiknya, kami sudah dianggap seperti saudara. Oleh karena itu pekerjaan bordir boleh dikerjakan dirumah, hingga tidak menyita waktu dan bisa diselingi mengurus pekerjaan rumah.

        Selain bordir Mbah Putri juga pandai membatik, dari pekerjaan-pekerjaan sambilan itu sangat membantu ekonomi keluarga.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...