Senin, 13 November 2023

tarzan masuk kota

 

Tarzan masuk kota

 

        Masuk Cilacap doktrin yang saya terima, harus adaptasi dengan pola hidup orang kota. Sekolah harus pakai sepatu. Ada dua kenangan tatkala aku harus mengenakan sepatu. Jika sepatu baru, pasti kakiku lecet. Setelah sekolah selesai, sampai di luar halaman sekolahan, buru-buru sepatu aku lepas. Pulang sekolah berjalan dengan kaki telanjang sambil menjinjing sepatu.

Sering aku mendapat olok-olok dari tetangga:

        ”Hallo mas, nenteng kepiting, mau dijual kepasar ya?”

        Aku tidak menyahut, acuh saja, pokoknya aku terbebas diri jepitan kulit sapi ini.

Yang kedua, aku selalu direpotkan dengan tali sepatu yang lepas. Aku tak pernah bisa menalikan kembali dengan benar, kadang ikatannya malah menjadi simpul mati. Kalau sudah begitu, dipastikan menangis jika mau melepas sepatu sepulang sekolah.

Hidup di kota sepertinya membatasi ruang gerak. Ruang itu hanya tersedia di halaman sekolah dan pekarangan rumah yang hanya sejengkal. Tidak bisa lagi mandi dan menagkap ikan di sungai, bermain di sawah, berjalan di pematangnya atau rebah telentang di padang rumput.

        Ketika ikut angon kerbau sampai di pinggiran perkebunan karet di lereng-lereng bukit, mencari sisa-sisa getah karet, dijadikan bola, lalu ramai-ramai main kasti. Sungguh kenangan yang tak bisa dilupakan.

 

        Hasrat melampiaskan rasa kangen kehidupan desa, kadang aku dan kakak kembarku berjalan berdua pergi ke pantai. Jarak pantai ke rumah cukup lumayan jauh, kira-kira setengah jam perjalanan, tapi kami tak peduli. Sampai di pantai, duduk dibawah pohon pandan liar, sambil melihat kesibukan nelayan menarik jaring. Kadang pergi ke tepi laut bermain dengan ombak dan pasir. Bisa seharian, kami betah main disini. Aku tahu Mbah Putri pasti cemas jika kami tidak cepat-cepat pulang. Tetapi aku juga tahu, Mbah Putri tak berani menyuruh orang mencari kami dengan naik sepeda sambil membunyikan peluit, seperti ketika di Lebeng.

        Ada kenangan yang benar-benar tak pernah aku lupakan seumur hidup di teluk Penyu, nama pantai di Cilacap.

Hari minggu, habis sarapan kami berdua kabur ke pantai. Melihat deburan ombak pecah dipantai, hati tergiur untuk mandi, berenang sambil bebermain dengn ombak. Segera kami lepas semua pakaian, ditaruh dibawah pohon pandan lalu lari masuk kedalam laut.

Setelah puas mandi, kami menuju ke pohon pandan tempat kami menyimpan pakaian. Wah celaka, baju dan celana kami tidak ada, sepertinya terbang terbawa angin kencang.

Kami memang salah, seharusnya pakaian tadi ditindih dengan batu besar agar tidak tersapu angin, begitu melihat ombak kami lupa segala-galanya.

Kami berjalan menyisir pantai mencari pakaian, hasilnya hanya baju kakak yang bisa ditemukan.

Bagaiman ini? Kalau telanjang bulat masih di pantai ya tidak apa-apa, tetapi kalau telanjang bulat berjalan sepanjang keramain kota, lewat depan toko, rumah orang, pasar, waduh seperti apa malunya?

Sekali lagi kami mencari, tetap nihil, tiba-tiba kami melihat kantong gandum bekas. Dahulu kantong untuk tempat gandum terbuat dari kain katun. Kami ambil kantong itu lalu dicuci dilaut dan dijemur diatas rumput liar.

Kami berdua pulang, meskipun sepanjang jalan orang tersenyum senyum memperhatikan kami, kami acuh saja. Sebenarnya ya malu tetapi tak malu malu amat, saya pakai sarung mini kantong gandum kakak saya pakai baju dibalik dijadikan celana. Bandingkan jika kami berdua pulang dengan telanjang bulat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...