Tarzan masuk kota
Masuk Cilacap doktrin yang saya terima, harus adaptasi dengan pola hidup orang kota. Sekolah harus pakai
sepatu. Ada dua kenangan tatkala aku harus mengenakan sepatu. Jika sepatu baru,
pasti kakiku lecet. Setelah sekolah selesai, sampai di luar halaman sekolahan,
buru-buru sepatu aku lepas. Pulang sekolah berjalan dengan kaki telanjang
sambil menjinjing sepatu.
Sering aku mendapat olok-olok dari
tetangga:
”Hallo mas,
nenteng kepiting, mau dijual kepasar ya?”
Aku tidak
menyahut, acuh saja, pokoknya aku terbebas diri jepitan kulit sapi ini.
Yang kedua, aku selalu direpotkan dengan
tali sepatu yang lepas. Aku tak pernah bisa menalikan kembali dengan benar,
kadang ikatannya malah menjadi simpul mati. Kalau sudah begitu, dipastikan
menangis jika mau melepas sepatu sepulang sekolah.
Hidup di kota sepertinya membatasi ruang
gerak. Ruang itu hanya tersedia di halaman sekolah dan pekarangan rumah yang
hanya sejengkal. Tidak bisa lagi mandi dan menagkap ikan di sungai, bermain di
sawah, berjalan di pematangnya atau rebah telentang di padang rumput.
Ketika ikut angon
kerbau sampai di pinggiran perkebunan karet di lereng-lereng bukit, mencari
sisa-sisa getah karet, dijadikan bola, lalu ramai-ramai main kasti. Sungguh
kenangan yang tak bisa dilupakan.
Hasrat
melampiaskan rasa kangen kehidupan desa, kadang aku dan kakak kembarku berjalan
berdua pergi ke pantai. Jarak pantai ke rumah cukup lumayan jauh, kira-kira setengah jam
perjalanan, tapi kami tak peduli. Sampai di pantai, duduk dibawah pohon pandan liar,
sambil melihat kesibukan nelayan menarik jaring. Kadang pergi ke tepi laut
bermain dengan ombak dan pasir. Bisa seharian, kami betah main disini. Aku tahu Mbah Putri
pasti cemas jika kami tidak cepat-cepat pulang. Tetapi aku juga tahu, Mbah Putri tak berani
menyuruh orang mencari kami dengan naik sepeda sambil membunyikan peluit, seperti ketika di
Lebeng.
Ada kenangan
yang benar-benar tak pernah aku lupakan seumur hidup di teluk Penyu, nama
pantai di Cilacap.
Hari minggu, habis sarapan kami berdua kabur
ke pantai. Melihat deburan ombak pecah dipantai, hati tergiur untuk mandi,
berenang sambil bebermain dengn ombak. Segera kami lepas semua pakaian, ditaruh dibawah
pohon pandan lalu lari masuk kedalam laut.
Setelah puas mandi, kami menuju ke pohon
pandan tempat kami menyimpan pakaian. Wah celaka, baju dan celana kami tidak ada,
sepertinya terbang terbawa angin kencang.
Kami memang salah, seharusnya pakaian tadi ditindih dengan batu besar
agar tidak tersapu angin, begitu melihat ombak kami lupa segala-galanya.
Kami berjalan menyisir pantai mencari pakaian, hasilnya hanya baju kakak yang bisa ditemukan.
Bagaiman ini? Kalau telanjang bulat masih
di pantai ya tidak apa-apa, tetapi kalau telanjang bulat berjalan
sepanjang keramain kota, lewat depan toko, rumah orang, pasar, waduh seperti apa
malunya?
Sekali lagi kami mencari, tetap nihil, tiba-tiba kami melihat
kantong gandum bekas. Dahulu kantong untuk tempat gandum terbuat dari kain katun. Kami ambil kantong
itu lalu dicuci dilaut dan dijemur diatas rumput liar.
Kami berdua
pulang, meskipun sepanjang jalan orang tersenyum senyum memperhatikan kami, kami
acuh saja. Sebenarnya ya malu tetapi tak malu malu amat, saya pakai sarung mini
kantong gandum kakak saya pakai baju dibalik dijadikan celana. Bandingkan jika
kami berdua pulang dengan telanjang bulat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar