Senin, 13 November 2023

G 30 S

 

G 30 S

 

Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Selesai pesta sederhana, sore hari kami mendengar berita dari radio, Persiden Sukarno sudah diamankan, dari pemberontakan Dewan Jendral. Rakyat mulai resah, yang selama ini dianggap aman-aman saja tiba-tiba muncul pemberontakan.

Kami sekeluarga terus memantau. Malam hari tersiar berita justru yang berontak Golongan komunis yang ingin menguasai Negara. Hari-hari berikutnya sangat mengerikan, seperti ada aba-aba Golongan Komunis bergerak serentak diseluruh daerah-daerah hampir diseluruh Indonesia, memerangi apa saja yang tidak sepaham dengan Aliran Komunis, salah satunya musuh terbesarnya Partai dimana Mbah Putri beroganisasi.

Solo adalah basis Komunis terbesar, banyak Kelompok TNI yang ikut bergabung, maka tak heran di Solo saat itu benar-benar seperti perang saudara, suara tembakan sporadis tidak hanya siang hari, malampun sering terdengar, hingga Pemerintah Solo meberlakukan jam malam.

Atas saran keluarga Mbah Putri dilarang aktif lagi di Organisasi Partai, dan kebetulan memang kesehata Mbah Putri sedang terganngu dengan adanya Kista di rahimnya.

Gerombolan Komunis semakin liar, rumah-rumah yang dihuni orang yang dianggap musuh dibakar, mata mata tersebar dimana-mana setiap orang yang sudah dicap non komunis ditangkap dihabisi. Terrmasuk Mas Man.

Sementar itu mas Man pulang ke Ceper, mau meneruskan kuliah di Klaten. Ia memang pengikut setia Mbah Putri, masuk Organisasi Pemuda Partai besar yang diikut Mbah Putri, maka tak heran ia pun menjadi incaran Gerombolan Kaum Komunis.

Cerita Mas Man. Suatu hari Mas Man dikejutkan ada rumah kebakaran, ia bersama teman-temannya berbondong-bondong datang ingin menolong, tidak tahunya itu sebuah jebakan, dengan mudahnya Mas Man dan teman-temannya ditangkap, dibawa ke sebuah arel pemakaman, mereka dimasukkan kedalam sebuah cungkup (Rumah atau semacam gubuk yang didalamnya ada makamnya) lalu dikunci. Setelah menginap semalam, pagi harinya ada satu orang diseret keluar dan tidak kembali lagi, selang waktu kemudian satu lagi orang diseret keluar.

Betapa ngerinya mereka yang masih hidup didalam cungkup, mereka sudah sering mendengar orang non komunis disembelih, dan kini mereka mengalaminya sendiri. Kini di cungkup kira-kira tinggal 2-3 orang, lama Algojonya tidak muncul-muncul, kelak kemudian diketahui jagalnya BAB dulu sebelum menghabisi sisa mangsanya. Allah memberi pertolongan, tepat saat itu RPKAD alias Pasukan baret Merah datang membasmi Gerombolan Komunis hingga pelosok pelosok, termasuk ke makan dimana Mas Man berada. Selamatlah mas Man, kami menyebutnya nyowo balen.

 

        Kembali ceritera di rumah Sindoro, pagi-pagi kami melihat ada tanda cet hitam silang, desas desusnya rumah yang ditandai itu sasaran untuk dibakar gerombolan Komunis. Ya panik juga sekeluarga, untung pas hari itu Pakde dan Bude Wiryono datang, memang sengaja menjeput Mbah Putri untuk operasi kista di RS Eizabet. Akhirnya semua keluarga ikut ngungsi ke Semarang, kecuali aku dan mas Drajat untuk tunggu rumah.

        Beberapa hari kemudian, saat itu jam malam sudah mulai berlaku, aku, mas Drajat dan Windu putranya Bude Warso tunggu rumah, habis makan malam, terus berjaga-jaga selalu siap siaga nggak boleh jauh dari kentongan. Jika ada yang membahayakan kentongan itu akan ditabuh sebagai alarm minta bantuan.

Tiba-tiba ada suara ketukan dipintu, kami bertiga saling pandang, tak berani membuka, ketukan berulang, kami sudah siap memegang kentongan, tiba-tiba terdengar suara panggilan:

        “Dik dik... dik Drajat dik Pangkat ini mas Samsudin.”

        Kami bertiga saling pandang, siapa Samsudin itu, jangan janga jebakan.

        “Dik dik Drajat dik Pangkat ini suami mbak Amah.”

        Ya ampun saking paniknya nggak ingat nama suami mbak Amah namanya Samsudin, berebut kami bukakan pintu dan seorang Tentara dengan Gagahnya berdiri didepan pintu dengan menyadang Standgun.

Rupanya Pemberontak Komunis yang berada di Solo dan sekitarnya akan dihabisi maka didatangkan bala bantuan baik dari Baret Merah juga dari Batalion lainya termasuk Kompinya mas Samsudin.

 

        Bertepatan dengan itu pagi harinya, segerombolan orang tak dikenal yang diindikasikan gerombolan kaum Komunis akan masuk komplek perumahan. Mendengar ada alarm kentongan, mas Samsudin keluar sambil menjinjing senjatanya. Serta dilihat disebelah barat ujung jalan Sindoro gerombolan orang mau merangsek masuk komplek, mas Samsudin menembakkan senjatanya kearah udara. Medengar rentetan sejata geromoban bubar berhamburan melarikan diri.

Mas Samsudin masuk rumah sambil ketawa-ketawa:

        “Kalau nekat masuk komplek ya tak tembak wetenge, klipuk” kata mas Samsudin dengan bahasa ngapak Banyumasan artinya saya tembak perutnya mampus.

 

        Setelah situasi Solo aman. Mbah Kakung dan Mbah putri pulang ke Solo, sebaliknya aku dan dik Ning pindah ke Semarang, ikut keluaga Bude Wir, untuk meneruskan kuliah.

Mas Man pindah ke Ceper, untuk meneruskan kuliahnya di Klaten sambil magang disebuah Bank.

Yang tinggal di Jl Sindoro Gremet hanya Mbah kakung, Mbah Putri, mas Drajat yang kuliah di Solo dan dik Agus.

Beberapa tahun kemudian, Pakde Wir diangkat menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Canberra, Australia, selama 15 tahun tugas di Negara Kanguru itu. Semua keluarga ikut pindah ke Australi, termasuk Bu Tin dan dik Ning, aku tidak ikut, masih nerusin kuliah.

 

Di Australia Dik Ning ketemu Jodohnya seorang Pemuda Bali bernama Cokorde Rake, ia seorang Anggota AURI ajudan Duta besar Australi saat itu. Di kurun waktu itu juga Bu Tin berhasil menjadi Pegawai Departen Luar Negeri, pisah dengan keluarga Bude Wir, karena dinas di Luar Negeri yang tugasnya berpindah-pindah dari satu negera ke negara lain.

Itulah sebabnya Mbah Kakung dan Mbah Putri seperti menghilang dari Indonesia, ketika Mbah Kakung dan Mbah Putri diboyong Bude Wir ke Australia, dan selanjutnya Mbah Kakung dan Mbah Putri mengikuti Mbak Tin mulai dari Kanda, pindah Swis dan terakhir di Philiphina.

Setelah semua anak mapan, membangun rumah tangga sendiri, jika Mbah Kakung dan Mbah Putri pulang ke Indonesia seperti Turis, mampir sebentar di Jakarta tempat tinggalku, lanjut ke Cirebon tempat tinggal Mas Drajat, mapir ke Semarang menengok Bude Wir lanjut menengok Bude Warso ke Solo terus ke Surabaya tempat tinggal Pak Bekti dan ke Bali tempat tinggal dik Ning dan dik Rake.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...