Uang logam 25 sen gambar Diponegoro
Aku tidak ingat
tanggal tepatnya, kalau tidak salah saat itu semasa aku kenaikan kelas, dari
kelas 1 ke kelas 2. Tetapi yang aku ingat, hampir setiap hari setelah
poliklinik tutup, Mbah Kakung dan mbak Yanti sibuk membungkus uang logam gambar
Pangeran Diponegoro bernilai 25 sen. Uang yang sepintas seperti koin emas itu
hasil pembayaran pasien yang akan disetor ke Cilacap setiap bulannya. Sebelum
dikirim, uang itu dimasukkan dalam kaleng bekas roti, lalu disimpan dalam
lemari baju Mbah Kakung. Jadi saat itu sekitar tahun 1952an.
Malam telah larut, ketika pintu rumah
diketuk-ketuk orang dari luar. Semakin lama ketukan itu makin keras, membut
hampir seisi rumah terbangun. Kaget dan takut akan kejadian tamu misterius beberapa bulan
yang lalu. Tetapi ketika orang itu memangil manggil nama Mbah Kakung, semua
mengenali itu suara bah Acong dan segera pintu dibuka. Setelah duduk bah Acong
ceritera, pasukan DI sedang menuju ke arah Lebeng. Mereka sekarang sudah sampai
di Gumilir. Mereka sedang menjarah dan membakari rumah penduduk. Mungkin
sebelum fajar pasukan itu sampai di Lebeng. Kalau bisa sekarang cepat-cepat
mengungsi kearah timur ke Kesugihan atau langsung Cilacap. Keluarga babah Acong
sudah berangkat mengungsi tadi pagi, katanya mereka mau ke Gombong dan malam
ini Babah Acong mau menyusulnya naik sepeda kumbang. Pak Mantri Guru dan
istrinya juga sudah sepekan lalu mengungsi ke Yogya.
Mbah Putri
sebenarnya juga sudah lama kepingin ngungsi ke Solo, tetapi Mbah Kakung tak
mengijinkan. Satu-satunya kendaraan ke Solo saat itu naik kereta api. Tetapi
ketika itu jembatan rel kereta api kali Progo masih putus, belum diperbaiki
akibat perang kles ke 2 dengan Belanda. Jembatan itu termasuk target bumi
hangus seperti poliklinik gunung Pagak. Jadi kereta api dari Kroya menuju Solo
berhenti di setatsiun Wates, dekat dengan kali Progo, lalu semua penumpang
turun, jalan kaki menyeberang sungai melewati jembatan darurat, untuk ganti
kereta api yang akan melanjutkan perjalanan ke Yogya dan Solo.
Mungkin jika saat itu mas Saban ada di
Lebeng, bisa membantunya. Tetapi sudah sebulan lalu mas Saban berangkat ke Madiun,
katanya sedang dalam pendidikan agar bisa naik pangkat.
Makanya Mbah Kakung tak tega melihat bakal
repotnya Mbah Putri bepergian sendiri dengan membawa keluarga yang masih
kecil-kecil.
Banyak pertimbangan yang membuat Mbah
Kakung tak mau mengikuti saran bah Acong mengungsi di malam itu. Selain
kesulitan kendaraan juga Mbah Kakung merasa berat meninggal poliklinik tanpa
instruksi dari pusat. Perhitungkan Mbah Kakung, kami keluarga dinas kesehatan,
kemungkinan tak akan diusik. Undang-undang perang Internasional pun juga
menyebutkan demikian, dilarang keras menembak, menghancur semua yang ada
hubungannya dengan kesehatan, seperti petugas palang merah, bangunan poliklinik
ataupun
rumah sakit.
“Kalau begitu,
selamatkan barang-barang yang berharga, sembunyikan, sebelum dijarah tentara
DI.” Kata babah Acong.
“Tetapi
disembunyikan dimana semua ruangan dalam rumah ini terbuka, percuma, pasti
ketahuan juga,” kata Mbah Putri.
Rupanya bah
Acong cerdik, semua barang berharga ada perhiasan uang termasuk sepeda dan
sepeda kumbang dimasukkan kedalam kandang ternak, lalu ditimbunnya dengan
jerami dan daun-daun kering. Setelah selesai membantu kami, bah Acong pamit
melanjutkan perjalanan.
Malam itu semua anggota keluarga disuruh
tidur berkumpul di ruangan tengah, namun tak satupun yang bisa memejamkan mata.
Menjelang subuh dari arah barat terdengar tembakan tembakan sporadis, tambah
menciutkan yali. Jalan
didepan rumah sepi.
Tiba-tiba pintu rumah didobrak paksa dari
luar tahu-tahu enama orang bersenjata sudah masuk kedalam rumah. Pakaiannya tidak
seragam malah kelihatan acak-acakan, tampangnya sangar-sangar. Seorang dari
mereka yang paling garang dengan senjata bren ditangannya memerintahkan semua
yang ada di dalam ruang itu duduk dilantai. Ia sendiri berdiri, mengancam
sambil mengacungkan senjatanya siap tembak. Bukan alang kepalang takutnya kami
sekeluarga, dibawah ancaman senjata orang itu. Mungkin dalam hitungan detik
kalau dia menyapukan tembakan kearah kami, tak ada satupun yang bisa selamat.
Ini diluar dugaan Mbah Kakung, mereka sama
sekali tidak mengindahkan kode etik, di depan ada tanda piliklinik, ada tanda
palang merah, seharusnya tidak boleh digangu. Kini malah kami diperlakukan
seperti tawanan, duduk bersimpuh tak berdaya dibawah ancaman senjata. Diam-diam
Mbah Kakung menyesal tidak mau mengikuti saran bah Acong untuk mengungsi.
Sesaat kemudian salah seorang dari
gerombolan itu berkata:
“Jangan dianggap
kami kejam, membunuhi orang, kami hanya melakukan jihat menumbangkan rezim yang
kafir. Siapa pun yang tidak bisa diajak kompromi, tidak sejalan
dengan nafas Islam pasti kami binasakan. Saya mengajak saudara-saudara ikut
jihad mendirikan Negara Islam. Tetapi saudara-saudara tidak usah ikut maju
perang, cukup kami-kami yang digaris depan, saudara-saudara cukup membantu,
menyumbangkan apa saja yang berharga untuk menambah kekuatan kami.”
Mbah Kakung
berdiri, mungkin ingin mengatakan sesuatu, tapi spontan orang yang membawa bren
mendorong Mbah Kakung sambil menghardik:
”Duduk!”
Karena kerasnya
dorongan itu sampai Mbah Kakung jatuh telentang, belum sempat Mbah Kakung duduk
orang itu telah menempelkan laras brennya tepat didahi Mbah Kakung. Semuanya
terdiam, tegang. Kejadian itu aku saksikan dengan mata kepala sendiri, menjadi
sebuah memori yang paling buruk mungkin sepanjang hidupku.
Selagi suasana mencekam, dari pintu,
tiba-tiba muncul seorang yang berpakain loreng. Melihat adegan itu orang yang
baru datang tadi berseru:
“Tahan
Kar…(menyembut nama).”
Semua orang yang
ada di ruangan menoleh kearah pintu. Rupanya orang yang datang itu komandan
mereka, dan orang itu yang pernah diopersi dadanya oleh Mbah Kakung. Orang itu
menghapiri Mbah Kakung, ditolongnya Mbah Kakung berdiri lalu katanya:
“Kami hanya
minta partisipasi, sumbangan untuk kelangsungan perjuangan kita mendirikan
Negara Islam.”
“Kami tidak
mempunyai barang berharga, disini hanya ada obat-obatan, silahkan periksa
sendiri, apa yang anda suka silahkan diambil,” kata Mbah Kakung yang masih
gemetaran.
Tanpa menunggu
perintah, beberapa orang mulai mengobrak abrik seisi rumah mencari
barang-barang yang berharga. Salah seorang yang menggeledah kamar Mbah Kakung
menemukan kaleng bekas roti berisi uang Diponegoro, buru-buru ia keluar menemui
Komandannya. Komandan itu melihat isi kaleng, dibawah cahaya lampu tempel yang
remang-ramang, uang itu dikira kepingan emas. Rupanya mereka belum pernah
melihat uang logam baru, makanya mereka kelihatan puas. Setelah memasukkan
kaleng itu dalam karung yang dibawa salah satu anggota gerombolan, komandan DI
itu memerintahkan anak buahnya keluar. Sebelum keluar, komandan itu mendekati Mbah
Kakung lalu katanya:
“Trima kasih,
bapak sudah memberi sumbangan banyak sekali, maafkan kelakuan anak buah saya.”
Tidak lama
setelah gerombolan DI meninggalkan rumah, dari arah timur terdengar rentetan
tembakan, diselingi dentaman suara mortir. Rupanya bala bantuan TNI telah
datang dari arah Kesugihan. Mendapat serangan itu tentara DI lari kocar kacir.
Sambil mengundurkan diri kearah utara sesekali mereka melepaskan tembakan
balasan. Nampaknya TNI akan mengahajar hambis DI yang sudah merambah Jawa Tengah. Kabarnya
dari arah Jeruk Legi, TNI juga mengadakan serangan, makanya sampai di Lebeng
ini gerombolan DI tercepit. Satu-satunya jalan, mereka melarikan diri kearah
utara, masuk hutan lereng pegunungan Kendeng. Hanya sekitar dua jam tembak
menembak dipagi buta itu sudah reda.
Sementara waktu Lebeng dinyatakan sebagai
daerah darurat artinya daerah dalam keadaan perang, sebab daerah ini berhadapan
langsung dengan markas DI. Untuk mengimbangi itu TNI mendirikan markas
sementara di dekat setatsiun Lebeng.
Diluar rumah
matahari sudah bersinar cerah, tapi kami sekeluarga belum berani beranjak dari
ruang tengah. Meskipun sudah ada rasa lega lepas dari maut, naum hati tetap
was-was kalau-kalau terjadi lagi peristiwa yang sangat mengerikan seperti tadi.
Tiba-tiba dari luar muncul kang Kasim.
Baju, celana dan sarungnya kotor berlumuran lumpur, tidak hanya itu, wajah dan
rambutnya juga penuh lumpur yang sudah mengering. Sudah kulitnya hitam dengan
pakaian seperti itu menambah penampilannya lucu. Melihat kang Kasim seperti
badut, semua yang ada diruangan itu tak kuat menahan ketawanya. Dasar kang
Kasim orangnya kocak, suasana yang tadinya mencekam, cair dengan sendirinya.
Kata kang Kasim, tadi malam ia mau ke
Ploklinik, tetapi takut, jalanan sepi sekali, makanya ia tidur di langgar (bahasa lokal, semacam musola). Subuh baru berani jalan ke Poliklinik. Tapi ditengah jalan
terdengar rentetan tembakan keras, ia segera terjun ke sawah, tiarap diatas lumpur tak
berani bergerak.
Mbah Putri menyuruh kang Kasim mandi, dan
minta supaya ia selalu siaga di poliklinik.
Tak lama kemudian kang Kasim selesai mandi,
tetapi ketika ia muncul di ruang tengah, semua yang berada disitu meledak
tertawanya. Badanya memang sudah bersih, tapi baju dan celananya yang dipakai
serba kekecilan, sebab ia pijam pakaian kang Parjo.
Pagi itu Mbah
Kakung mengutarakan niatnya, mau pindah ke Cilacap. Sementara waktu kang Kasim
disuruh tunggu Poliklinik sampai ada ketentuan dari Pusat. Hari itu juga Mbah
Kakung pergi ke Cilacap naik bronfits dan malamnya Mbah Kakung tidak pulang,
baru esok siang Mbah Kakung datang.
Permohonan Mbah Kakung pindah ke Cilacap,
disetujui kantor pusat. Mbah Kakung ditempatkan ke kantor pusat, di RSU Cilacap.
“Dua hari lagi,
kita akan dijemput. Mulai sekarang siapkan barang-barang apa saja yang akan dibawa,”
kata Mbah Kakung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar