Senin, 13 November 2023

uang logam diponegoro

 

Uang logam 25 sen gambar Diponegoro

 

        Aku tidak ingat tanggal tepatnya, kalau tidak salah saat itu semasa aku kenaikan kelas, dari kelas 1 ke kelas 2. Tetapi yang aku ingat, hampir setiap hari setelah poliklinik tutup, Mbah Kakung dan mbak Yanti sibuk membungkus uang logam gambar Pangeran Diponegoro bernilai 25 sen. Uang yang sepintas seperti koin emas itu hasil pembayaran pasien yang akan disetor ke Cilacap setiap bulannya. Sebelum dikirim, uang itu dimasukkan dalam kaleng bekas roti, lalu disimpan dalam lemari baju Mbah Kakung. Jadi saat itu sekitar tahun 1952an.

Malam telah larut, ketika pintu rumah diketuk-ketuk orang dari luar. Semakin lama ketukan itu makin keras, membut hampir seisi rumah terbangun. Kaget dan takut akan kejadian tamu misterius beberapa bulan yang lalu. Tetapi ketika orang itu memangil manggil nama Mbah Kakung, semua mengenali itu suara bah Acong dan segera pintu dibuka. Setelah duduk bah Acong ceritera, pasukan DI sedang menuju ke arah Lebeng. Mereka sekarang sudah sampai di Gumilir. Mereka sedang menjarah dan membakari rumah penduduk. Mungkin sebelum fajar pasukan itu sampai di Lebeng. Kalau bisa sekarang cepat-cepat mengungsi kearah timur ke Kesugihan atau langsung Cilacap. Keluarga babah Acong sudah berangkat mengungsi tadi pagi, katanya mereka mau ke Gombong dan malam ini Babah Acong mau menyusulnya naik sepeda kumbang. Pak Mantri Guru dan istrinya juga sudah sepekan lalu mengungsi ke Yogya.

        Mbah Putri sebenarnya juga sudah lama kepingin ngungsi ke Solo, tetapi Mbah Kakung tak mengijinkan. Satu-satunya kendaraan ke Solo saat itu naik kereta api. Tetapi ketika itu jembatan rel kereta api kali Progo masih putus, belum diperbaiki akibat perang kles ke 2 dengan Belanda. Jembatan itu termasuk target bumi hangus seperti poliklinik gunung Pagak. Jadi kereta api dari Kroya menuju Solo berhenti di setatsiun Wates, dekat dengan kali Progo, lalu semua penumpang turun, jalan kaki menyeberang sungai melewati jembatan darurat, untuk ganti kereta api yang akan melanjutkan perjalanan ke Yogya dan Solo.

Mungkin jika saat itu mas Saban ada di Lebeng, bisa membantunya. Tetapi sudah sebulan lalu mas Saban berangkat ke Madiun, katanya sedang dalam pendidikan agar bisa naik pangkat.

Makanya Mbah Kakung tak tega melihat bakal repotnya Mbah Putri bepergian sendiri dengan membawa keluarga yang masih kecil-kecil.

Banyak pertimbangan yang membuat Mbah Kakung tak mau mengikuti saran bah Acong mengungsi di malam itu. Selain kesulitan kendaraan juga Mbah Kakung merasa berat meninggal poliklinik tanpa instruksi dari pusat. Perhitungkan Mbah Kakung, kami keluarga dinas kesehatan, kemungkinan tak akan diusik. Undang-undang perang Internasional pun juga menyebutkan demikian, dilarang keras menembak, menghancur semua yang ada hubungannya dengan kesehatan, seperti petugas palang merah, bangunan poliklinik ataupun rumah sakit.

 

        “Kalau begitu, selamatkan barang-barang yang berharga, sembunyikan, sebelum dijarah tentara DI.” Kata babah Acong.

        “Tetapi disembunyikan dimana semua ruangan dalam rumah ini terbuka, percuma, pasti ketahuan juga,” kata Mbah Putri.

        Rupanya bah Acong cerdik, semua barang berharga ada perhiasan uang termasuk sepeda dan sepeda kumbang dimasukkan kedalam kandang ternak, lalu ditimbunnya dengan jerami dan daun-daun kering. Setelah selesai membantu kami, bah Acong pamit melanjutkan perjalanan.

Malam itu semua anggota keluarga disuruh tidur berkumpul di ruangan tengah, namun tak satupun yang bisa memejamkan mata.

Menjelang subuh dari arah barat terdengar tembakan tembakan sporadis, tambah menciutkan yali. Jalan didepan rumah sepi.

Tiba-tiba pintu rumah didobrak paksa dari luar tahu-tahu enama orang bersenjata sudah masuk kedalam rumah. Pakaiannya tidak seragam malah kelihatan acak-acakan, tampangnya sangar-sangar. Seorang dari mereka yang paling garang dengan senjata bren ditangannya memerintahkan semua yang ada di dalam ruang itu duduk dilantai. Ia sendiri berdiri, mengancam sambil mengacungkan senjatanya siap tembak. Bukan alang kepalang takutnya kami sekeluarga, dibawah ancaman senjata orang itu. Mungkin dalam hitungan detik kalau dia menyapukan tembakan kearah kami, tak ada satupun yang bisa selamat.

Ini diluar dugaan Mbah Kakung, mereka sama sekali tidak mengindahkan kode etik, di depan ada tanda piliklinik, ada tanda palang merah, seharusnya tidak boleh digangu. Kini malah kami diperlakukan seperti tawanan, duduk bersimpuh tak berdaya dibawah ancaman senjata. Diam-diam Mbah Kakung menyesal tidak mau mengikuti saran bah Acong untuk mengungsi.

Sesaat kemudian salah seorang dari gerombolan itu berkata:

        “Jangan dianggap kami kejam, membunuhi orang, kami hanya melakukan jihat menumbangkan rezim yang kafir. Siapa pun yang tidak bisa diajak kompromi, tidak sejalan dengan nafas Islam pasti kami binasakan. Saya mengajak saudara-saudara ikut jihad mendirikan Negara Islam. Tetapi saudara-saudara tidak usah ikut maju perang, cukup kami-kami yang digaris depan, saudara-saudara cukup membantu, menyumbangkan apa saja yang berharga untuk menambah kekuatan kami.”

        Mbah Kakung berdiri, mungkin ingin mengatakan sesuatu, tapi spontan orang yang membawa bren mendorong Mbah Kakung sambil menghardik:

        ”Duduk!”

        Karena kerasnya dorongan itu sampai Mbah Kakung jatuh telentang, belum sempat Mbah Kakung duduk orang itu telah menempelkan laras brennya tepat didahi Mbah Kakung. Semuanya terdiam, tegang. Kejadian itu aku saksikan dengan mata kepala sendiri, menjadi sebuah memori yang paling buruk mungkin sepanjang hidupku.

Selagi suasana mencekam, dari pintu, tiba-tiba muncul seorang yang berpakain loreng. Melihat adegan itu orang yang baru datang tadi berseru:

        “Tahan Kar…(menyembut nama).”

        Semua orang yang ada di ruangan menoleh kearah pintu. Rupanya orang yang datang itu komandan mereka, dan orang itu yang pernah diopersi dadanya oleh Mbah Kakung. Orang itu menghapiri Mbah Kakung, ditolongnya Mbah Kakung berdiri lalu katanya:

        “Kami hanya minta partisipasi, sumbangan untuk kelangsungan perjuangan kita mendirikan Negara Islam.”

        “Kami tidak mempunyai barang berharga, disini hanya ada obat-obatan, silahkan periksa sendiri, apa yang anda suka silahkan diambil,” kata Mbah Kakung yang masih gemetaran.

        Tanpa menunggu perintah, beberapa orang mulai mengobrak abrik seisi rumah mencari barang-barang yang berharga. Salah seorang yang menggeledah kamar Mbah Kakung menemukan kaleng bekas roti berisi uang Diponegoro, buru-buru ia keluar menemui Komandannya. Komandan itu melihat isi kaleng, dibawah cahaya lampu tempel yang remang-ramang, uang itu dikira kepingan emas. Rupanya mereka belum pernah melihat uang logam baru, makanya mereka kelihatan puas. Setelah memasukkan kaleng itu dalam karung yang dibawa salah satu anggota gerombolan, komandan DI itu memerintahkan anak buahnya keluar. Sebelum keluar, komandan itu mendekati Mbah Kakung lalu katanya:

        “Trima kasih, bapak sudah memberi sumbangan banyak sekali, maafkan kelakuan anak buah saya.”

 

        Tidak lama setelah gerombolan DI meninggalkan rumah, dari arah timur terdengar rentetan tembakan, diselingi dentaman suara mortir. Rupanya bala bantuan TNI telah datang dari arah Kesugihan. Mendapat serangan itu tentara DI lari kocar kacir. Sambil mengundurkan diri kearah utara sesekali mereka melepaskan tembakan balasan. Nampaknya TNI akan mengahajar hambis DI yang sudah merambah Jawa Tengah. Kabarnya dari arah Jeruk Legi, TNI juga mengadakan serangan, makanya sampai di Lebeng ini gerombolan DI tercepit. Satu-satunya jalan, mereka melarikan diri kearah utara, masuk hutan lereng pegunungan Kendeng. Hanya sekitar dua jam tembak menembak dipagi buta itu sudah reda.

Sementara waktu Lebeng dinyatakan sebagai daerah darurat artinya daerah dalam keadaan perang, sebab daerah ini berhadapan langsung dengan markas DI. Untuk mengimbangi itu TNI mendirikan markas sementara di dekat setatsiun Lebeng.

 

        Diluar rumah matahari sudah bersinar cerah, tapi kami sekeluarga belum berani beranjak dari ruang tengah. Meskipun sudah ada rasa lega lepas dari maut, naum hati tetap was-was kalau-kalau terjadi lagi peristiwa yang sangat mengerikan seperti tadi.

Tiba-tiba dari luar muncul kang Kasim. Baju, celana dan sarungnya kotor berlumuran lumpur, tidak hanya itu, wajah dan rambutnya juga penuh lumpur yang sudah mengering. Sudah kulitnya hitam dengan pakaian seperti itu menambah penampilannya lucu. Melihat kang Kasim seperti badut, semua yang ada diruangan itu tak kuat menahan ketawanya. Dasar kang Kasim orangnya kocak, suasana yang tadinya mencekam, cair dengan sendirinya.

Kata kang Kasim, tadi malam ia mau ke Ploklinik, tetapi takut, jalanan sepi sekali, makanya ia tidur di langgar (bahasa lokal, semacam musola). Subuh baru berani jalan ke Poliklinik. Tapi ditengah jalan terdengar rentetan tembakan keras, ia segera terjun ke sawah, tiarap diatas lumpur tak berani bergerak.

Mbah Putri menyuruh kang Kasim mandi, dan minta supaya ia selalu siaga di poliklinik.

Tak lama kemudian kang Kasim selesai mandi, tetapi ketika ia muncul di ruang tengah, semua yang berada disitu meledak tertawanya. Badanya memang sudah bersih, tapi baju dan celananya yang dipakai serba kekecilan, sebab ia pijam pakaian kang Parjo.

 

        Pagi itu Mbah Kakung mengutarakan niatnya, mau pindah ke Cilacap. Sementara waktu kang Kasim disuruh tunggu Poliklinik sampai ada ketentuan dari Pusat. Hari itu juga Mbah Kakung pergi ke Cilacap naik bronfits dan malamnya Mbah Kakung tidak pulang, baru esok siang Mbah Kakung datang.

Permohonan Mbah Kakung pindah ke Cilacap, disetujui kantor pusat. Mbah Kakung ditempatkan ke kantor pusat, di RSU Cilacap.

        “Dua hari lagi, kita akan dijemput. Mulai sekarang siapkan barang-barang apa saja yang akan dibawa,” kata Mbah Kakung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...