Senin, 13 November 2023

digondol wewe

 

Digondol Wewe

        Aku masih ingat, saat itu sepertinya aku sudah sekolah di kelas 1 SR (Sekolah Rakyat). Setelah bubaran sekolah, aku dan saudara kembarku tidak langsung pulang. Ikut teman, main kerumahnya yang tinggalnya dekat pasar. Jadi, dari sekolahan melewati depan rumah, tetapi kami tidak belok pulang, malah mengendap-endap supaya tak terlihat, terus kearah barat menuju pasar.

Orang tua temanku, aku lupa namanya sebut saja pak Jumadi, seperti kebanyakan penduduk desa, tahu betul anak kembar anaknya pak Mantri. Makanya setelah makan siang kami dibujuknya untuk pulang, lalu kami diantar pak Jumadi pulang dengan jalan kaki. Sampai batas desa, dekat Gereja, aku bilang, bisa pulang sendiri. Karena rumah sudah dekat, pak Jumadi tidak merasa kuatir, lalu ia balik pulang ke pasar.

Merasa belum puas bermain, kami tidak langsung pulang melainkan belok, masuk halaman depan Gerja. Tak lama antaranya kami asyik bermain, sayup-sayup terdengar suara peluit. Nah itu kang Parjo sedang mencari, padahal kami masih ingin main, makanya kami lari menjauhi Gereja masuk ke tegalan. Bunyi peluit semakin dekat, takut ditangkap kang Parjo kami masuk ke hamparan sawah yang luas, berlari diatas pematang-pematang. Pikiran kami tak mungkin sepeda bisa lewat pematang. Saat itu tanaman padi sudah saatnya panen malah ada beberapa petak yang telah di panen. Sambil mengendap endap diantara rimbunya padi kami terus berlari. Entah sudah belok ganti berapa pematang akirnya kami tiba disebuah kebon kosong.

        Nah lho.... sampai dimana ini? Kami kaget, seperti mendarat ditempat terasing, sama sekali tak mengenali daerah apa ini namanya, bahkan nggak tau dimana letak utara selatan. Aku dan kakak saling pandang dalam kebingungan, apa lagi langit mulai gelap, menambah panik. Pikiran buntu, tak ada ide yang keluar dari otak, malahan kami seperti menyerah, hanya bisa pasrah, duduk dibawah pohon randu sambil berharap ada orang menemukan kami.

Langit benar benar sudah gelap, entah sudah berapa lama kami hanya bisa duduk berdiam diri hanya sekali sekali mengusir nyamuk yang semakin lama semakin banyak.

Tiba tiba dari kejauhan kami mendengar sura gemuruh tetabuhan dan teriak teriakan yang tidak jelas. Kami sempat berdiri, mana kala melihat beberapa titik nyala api berarak-arakan ditengah sawah, seketika badan kami bergetar hebat bahana takutnya.

        “Memedi colok (hantu api),” gumam kami, sertamerta kami kembali duduk sambil berangkulan menyembunyikan kepala.

        Memedi colok menurut ceritera setempat adalah hantu yang kemana mana membawa api untuk menebar teror.

Tetabuhan dan nyala api semakin dekat bahkan sesekali terdengan nama kami dipanggil, menambah ketakutan. Tiba tiba nyala api menjadi terang dan terdengar teriakan:

        “Itu itu disana,” disusul suara lain.

        “Den Drajat den Pangkat.”

        Mendengar nama kami dipanggil semakin erat berpelukan dan semakin dalam kepala disembunyikan sambil terisak menangis.

        Tiba tiba ada yang datang lalu membongkar rangkulan dan berusaha membangunkan kami, karena takut kami bertahan, meronta ronta sambil menangis menjerit jerit histeris. Akhirnya rangkulan kami terbuka dan seorang raksasa mengangkangi kami dalam posisi telentang diatas tanah.

        “Den, den... ini saya.... kang Kasim.”

        Mendengar nama Kasim, kami memberanikan diri membuka mata. Ya ampun... memang benar itu kang Kasim yang kulitnya hitam, badannya besar, tinggi jangkung kami kira raksasa.

 

        Ceritera Mbah Putri. Setelah kang Parjo tidak bisa menemukan kami dan hingga sore tak kunjung pulang, penduduk setempat mengatakanan kami digondol wewe (diculik makhluk halus semacam gendruwo perempuan atau kuntilanak). Lalu mereka mendatangkan Pawang. Maka dibentuk regu mencari anak hilang digondol wewe. Regu itu terdiri dari orang laki laki dewasa, sebagian membawa tetabuhan dan sebagian lagi membawa obor. Tetabuhan itu barang apa saja yang dipukul bisa meghasilkan suara, seperti kentongan, batang besi, kaleng bekas bahkan perabot dapur seperti tampah, panci, dan lain semacam itu. Semula Mbah Kakung mau ikut mencari, tetapi kang Kasim melarangnya.

        “Dari pada capek dijalan sebaiknya tunggu saja di rumah, biar saya saja yang mencari,” kata kang Kasim. Meskipun Mbah Kakung adatnya keras, tetapi kadang-kadang sama kang Kasim tidak membantah. Soalnya kang Kasim selain total setia, juga pandai melayani Mbah Kakung baik dalam pekerjaan maupun diluar kedinasan. Makanya sering, kalau Mbah Putri mau memberi saran atau melarang Mbah Kakung, terpaksa harus lewat minta tolong pada kang Kasim. Kalau Mbah Putri sendiri yang melarang sering Mbah Kakung membantah. Seperti saat mencari kami diogondol wewe, Mbah Putri bilang pada kang Kasim:

        “Sim, bilang babak, enggak usah ikut mencari.”

 

        Tepat bedug Maghrib, regu pencari yang dipimpin seorang Pawah mulai bergerak. Kata Pawang, pergantian atara terang ke gelap, saat itu semua makhluh ciptaan Tuhan sedang kosong pikirannya. Dan saat itu jika Wewe mendengar tetabuhan, melihat obor berarak-arakan ia kaget, pikirannya menjadi kacau. Karena ketakutan, lalu lari. Anak yang diculiknya yang tadinya tak bisa dilihat manusia, setelah ditinggal Wewe kembali bisa terlihat.

Ketika arak-arakan regu pencari anak digondol wewe sampai di pasar, pak Jumadi keluar rumah, mau melihat ada apa kok ramai-ramai. Saat melihat kang Kasim ia mendekat lalu tanyanya:

        “Kang Kasim Siapa yang digondol wewe?”

        Den Drajat sama den Pangkat.

        “Lho siang tadi habis main disini, lalu aku sendiri yang ngatar pulang, tapi hanya sampai depan Gereja. Karena sudah dekat Poliklinik, ya sudah saya tinggal,” kata pak Jumadi.

        “Kalau begitu ayo kita cari sekitar Gereja,” kata Pawang. Dan arak-arakan tetabuhan balik arah menuju Gereja.

        Di halaman gereja, kebon seputar gereja sudah dikitari tapi tak membuahkan hasil. Pawang dan tim pencari sudah hampir menyerah. Tiba tiba datang seorang yang pingin melihat ada apa ramai ramai disekitar gereja.

        “Ada anak digondol Wewe” kata salah seorang yang membawa obor.

        “Yang digondol wewe siapa?” Tanya orang itu ternyata ia seorang gembala bebek.

        “Den Drajat sama den Pangkat anaknya pak Mantri.”

        “Oh anak kembar itu ya, tadi sore waktu saya nggiring bebek pulang, saya lihat dua anak itu lari lari lewat pematang kearah sana,” kata Gembala bebek sambil menunjuk desa diseberang bulakan sawah.

        Akhirnya tim pencari, memutuskan untuk menelusuri pematang sawah hingga kebon kosong dimana kami bisa ditemukan.

 

        Sampai dirumah, betapa senang dan terharunya Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh penghuni rumah, melihat kami pulang. Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan, dan kami ingin menjawab, kepingin ceritera bagaimana rasanya ketakutan setengah mati melihat memedi colok yang sebenarnya bukan hantu dan tak ada Wewe yang menculik kami dan macam-macam ceritera lagi, tetapi suaraku dan juga kakaku menjadi parau mungkin karena tenggoran sangat kering, sehabis ketakutan hebat dan manangis menjerit jerit.

        “Biasa bu, kalau habis digondol Wewe pasti menjadi bisu, tetapi besok sudah bisa bicara lagi,” kata Pawang, menjawab pertanyaan Mbah Putri.

Ketika beberapa hari suaraku sudah pulih, aku berceritera apa yang terjadi sesungguhnya. Tetapi tak ada yang mau percaya, semua mengira, aku anak kecil yang sedang membual. Oleh karenanya peristiwa itu tetap dipercaya penduduk Lebeng sebagai legenda anak kembar digondol wewe. Semenjak peristiwa itu aku lebih ketat diawasi, dan diberinya aku gelang terbuat dari batang pohon murbei ditambah macam-macam rempah ada kunyit, dlingo bengle dan lain sejenis itu yang harus aku selalu pakai jika keluar rumah. Pakai jimat, katanya sebagai pagar, agar tidak diculik wewe lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...