Digondol Wewe
Aku masih ingat,
saat itu sepertinya aku sudah sekolah di kelas 1 SR (Sekolah Rakyat). Setelah
bubaran sekolah, aku dan saudara
kembarku tidak langsung pulang. Ikut teman, main
kerumahnya yang tinggalnya dekat pasar. Jadi, dari sekolahan melewati depan
rumah, tetapi kami tidak belok pulang, malah mengendap-endap supaya tak
terlihat, terus kearah barat menuju pasar.
Orang tua temanku, aku lupa namanya sebut
saja pak Jumadi, seperti
kebanyakan penduduk desa, tahu betul anak kembar anaknya
pak Mantri. Makanya setelah makan siang kami dibujuknya untuk pulang, lalu kami
diantar pak Jumadi pulang dengan jalan kaki. Sampai batas desa, dekat Gereja,
aku bilang, bisa pulang sendiri. Karena rumah sudah dekat, pak Jumadi tidak merasa
kuatir, lalu ia balik pulang ke pasar.
Merasa belum puas
bermain, kami tidak langsung pulang melainkan belok, masuk halaman depan Gerja.
Tak lama antaranya kami asyik bermain, sayup-sayup
terdengar suara peluit. Nah itu kang Parjo sedang mencari, padahal kami
masih ingin main, makanya kami lari menjauhi Gereja masuk ke tegalan. Bunyi
peluit semakin dekat, takut
ditangkap kang Parjo kami masuk ke hamparan sawah yang luas, berlari diatas
pematang-pematang. Pikiran kami tak mungkin sepeda bisa lewat pematang. Saat
itu tanaman padi sudah saatnya panen malah ada beberapa petak yang telah di
panen. Sambil mengendap endap diantara rimbunya padi kami terus berlari. Entah
sudah belok ganti berapa pematang akirnya kami tiba disebuah kebon kosong.
Nah lho.... sampai dimana ini? Kami kaget,
seperti mendarat ditempat terasing, sama sekali tak mengenali daerah apa ini
namanya, bahkan nggak tau dimana letak utara selatan. Aku dan kakak saling
pandang dalam kebingungan, apa lagi langit mulai gelap, menambah panik. Pikiran
buntu, tak ada ide yang keluar dari otak, malahan kami seperti menyerah, hanya
bisa pasrah, duduk dibawah pohon randu sambil berharap ada orang menemukan kami.
Langit benar
benar sudah gelap, entah sudah berapa lama kami hanya bisa duduk berdiam diri
hanya sekali sekali mengusir nyamuk yang semakin lama semakin banyak.
Tiba tiba dari
kejauhan kami mendengar sura gemuruh tetabuhan dan teriak teriakan yang tidak
jelas. Kami sempat berdiri, mana kala melihat beberapa titik nyala api berarak-arakan
ditengah sawah, seketika badan kami bergetar hebat bahana takutnya.
“Memedi colok (hantu api),” gumam kami,
sertamerta kami kembali duduk sambil berangkulan menyembunyikan kepala.
Memedi colok menurut ceritera setempat
adalah hantu yang kemana mana membawa api untuk menebar teror.
Tetabuhan dan
nyala api semakin dekat bahkan sesekali terdengan nama kami dipanggil, menambah
ketakutan. Tiba tiba nyala api menjadi terang dan terdengar teriakan:
“Itu itu disana,” disusul suara lain.
“Den Drajat den Pangkat.”
Mendengar nama kami dipanggil semakin
erat berpelukan dan semakin dalam kepala disembunyikan sambil terisak menangis.
Tiba tiba ada yang datang lalu
membongkar rangkulan dan berusaha membangunkan kami, karena takut kami bertahan,
meronta ronta sambil menangis menjerit jerit histeris. Akhirnya rangkulan kami
terbuka dan seorang raksasa mengangkangi kami dalam posisi telentang diatas
tanah.
“Den, den... ini saya.... kang Kasim.”
Mendengar nama Kasim, kami memberanikan
diri membuka mata. Ya ampun... memang benar itu kang Kasim yang kulitnya hitam,
badannya besar, tinggi jangkung kami kira raksasa.
Ceritera Mbah
Putri. Setelah kang Parjo tidak
bisa menemukan kami dan hingga sore tak kunjung pulang, penduduk setempat mengatakanan kami digondol wewe (diculik makhluk halus semacam gendruwo perempuan atau
kuntilanak). Lalu mereka mendatangkan Pawang. Maka dibentuk regu mencari anak
hilang digondol wewe. Regu itu
terdiri dari orang laki laki dewasa, sebagian membawa tetabuhan dan sebagian lagi membawa obor. Tetabuhan itu barang apa saja yang dipukul
bisa meghasilkan suara, seperti kentongan, batang besi, kaleng bekas bahkan
perabot dapur seperti tampah, panci, dan lain semacam itu. Semula Mbah Kakung mau ikut mencari, tetapi kang Kasim melarangnya.
“Dari pada capek
dijalan sebaiknya tunggu saja di rumah, biar saya saja yang mencari,” kata kang
Kasim. Meskipun Mbah Kakung adatnya keras, tetapi kadang-kadang sama kang Kasim
tidak membantah. Soalnya kang Kasim selain total setia, juga pandai melayani Mbah
Kakung baik dalam pekerjaan maupun diluar kedinasan. Makanya sering, kalau Mbah
Putri mau memberi saran atau melarang Mbah Kakung, terpaksa harus lewat minta
tolong pada kang Kasim. Kalau Mbah Putri sendiri yang melarang sering Mbah
Kakung membantah. Seperti saat mencari kami diogondol wewe, Mbah Putri bilang
pada kang Kasim:
“Sim, bilang
babak, enggak usah ikut mencari.”
Tepat bedug
Maghrib, regu pencari yang dipimpin seorang Pawah mulai bergerak. Kata Pawang,
pergantian atara terang ke gelap, saat itu semua makhluh ciptaan Tuhan sedang
kosong pikirannya. Dan saat itu jika Wewe mendengar tetabuhan, melihat obor
berarak-arakan ia kaget, pikirannya menjadi kacau. Karena ketakutan, lalu lari.
Anak yang diculiknya yang tadinya tak bisa dilihat manusia, setelah ditinggal
Wewe kembali bisa terlihat.
Ketika arak-arakan regu pencari anak
digondol wewe sampai di pasar, pak Jumadi keluar rumah, mau melihat ada apa kok
ramai-ramai. Saat melihat kang Kasim ia mendekat lalu tanyanya:
“Kang Kasim
Siapa yang digondol wewe?”
“Den Drajat sama den Pangkat.”
“Lho siang tadi
habis main disini, lalu aku sendiri yang ngatar pulang, tapi hanya sampai depan Gereja. Karena sudah
dekat Poliklinik, ya sudah saya tinggal,” kata pak Jumadi.
“Kalau begitu
ayo kita cari sekitar Gereja,” kata Pawang. Dan arak-arakan tetabuhan balik
arah menuju Gereja.
Di halaman gereja, kebon seputar gereja
sudah dikitari tapi tak membuahkan hasil. Pawang dan tim pencari sudah hampir
menyerah. Tiba tiba datang seorang yang pingin melihat ada apa ramai ramai disekitar
gereja.
“Ada anak digondol Wewe” kata salah seorang
yang membawa obor.
“Yang digondol wewe siapa?” Tanya orang
itu ternyata ia seorang gembala bebek.
“Den Drajat sama den Pangkat anaknya pak
Mantri.”
“Oh anak kembar itu ya, tadi sore waktu
saya nggiring bebek pulang, saya lihat dua anak itu lari lari lewat pematang
kearah sana,” kata Gembala bebek sambil menunjuk desa diseberang bulakan sawah.
Akhirnya tim pencari, memutuskan untuk
menelusuri pematang sawah hingga kebon kosong dimana kami bisa ditemukan.
Sampai dirumah,
betapa senang dan terharunya Mbah Kakung, Mbah Putri dan seluruh penghuni
rumah, melihat kami pulang. Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan, dan kami ingin
menjawab, kepingin ceritera bagaimana rasanya ketakutan setengah mati melihat memedi colok yang sebenarnya
bukan hantu dan tak ada Wewe yang menculik kami dan
macam-macam ceritera lagi, tetapi suaraku dan juga kakaku menjadi parau mungkin
karena tenggoran sangat kering, sehabis ketakutan hebat dan manangis menjerit jerit.
“Biasa bu, kalau
habis digondol Wewe pasti menjadi bisu, tetapi besok sudah bisa bicara lagi,”
kata Pawang, menjawab pertanyaan Mbah Putri.
Ketika beberapa hari suaraku sudah pulih,
aku berceritera apa yang terjadi sesungguhnya. Tetapi tak ada yang mau percaya,
semua mengira, aku anak kecil yang sedang membual. Oleh karenanya peristiwa itu
tetap dipercaya penduduk Lebeng sebagai legenda anak kembar digondol wewe.
Semenjak peristiwa itu aku lebih ketat diawasi, dan diberinya aku gelang terbuat
dari batang pohon murbei
ditambah macam-macam rempah ada kunyit, dlingo bengle dan
lain sejenis itu yang harus aku selalu pakai jika keluar rumah. Pakai jimat, katanya
sebagai pagar, agar tidak diculik wewe lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar