Senin, 13 November 2023

menghindari agama islam

 

Menghindari Agama Islam

 

Saat kami pindah ke Solo, tahun ajaran baru sudah berjalan, aku dan saudara kembarku terpaksa mengulang masuk kelas 3 lagi di SR Negeri 47 Surakarta yang letaknya dekat dengan rumah. Baru berjalan dua minggu, datang rekomendasi dari bekas sekolahku SRN 1 Ceper, bahwa aku dan saudara kembarku naik kelas, boleh mengikuti pelajaran kelas 4. Akhirnya aku resmi dinaikan menjadi murid kelas 4.

Masalah pelajaran, semacam matematika, pengetahuan alam, pengetahuan sosial dan bahasa Indonesia aku tidak takut tertinggal, kami punya dasar yang kuat ketika kami sekolah di Cilacap di sekolah yang di kelola oleh Yayasan Katholik yang terbaik diwilayah Banyumas. Tetapi rupanya sekolahan di Solo lebih bervariasi mata pelajarannya, seperti ada pelajaran Kerawitan, Menulis Halus, Kerajinan tangan dan lain-lainnya.

Ada 2 mata pelajaran yang benar-benar aku mati kutu, bahkan baru kali ini aku menemuinya yakni pelajaran bahsa Jawa dan agama Islam. Dua mata pelajaran itu di kelas 4 sudah masuk tahap tinggi.

Dengan bantuan saudara-saudara sepupu yang tinggal satu komplek perumahan, pelajaran bahasa Jawa masih bisa dikejar, kecuali menulis huruf Jawa yang tak pernah melampaui angka 4, itu pun berkat kebaikan teman sebangkuku, ia namanya Budi. Jika ulangan sering aku mendapat ‘masukan’ lewat bisik-bisik malah kadang ditulis di secarik kertas.

Akan halnya pelajaran agama Islam, sama sekali buta. Apa lagi Budi tidak duduk disampingku, ia boleh keluar kelas jika waktunya pelajaran agama Islam, sebab ia beragama Kristen.

Suatu hari saatnya pelajaran agama Islam, kalau tak salah ingat guru agama itu namanya pak Ismail, tetapi yang selalu kuingat guru itu masih muda. Rambutnya disisir rapi lurus kebelakang, wajahnya selalu bersih, kulitnya kuning penampilanya simpatik.

Ketika itu ada PR menghafal doa Iftitah, sebuah kalimat yang diucapkan setelah takbir sebagai pembuka dalam ritual sholat. Dengan lantang dan lancar hampir semua murid yang ditunjuk, hafal.

Kini giliranku ditunjuk. Tak sepatah katapun keluar dari mulut, kata-kata dalam kalimat yang aku hafal itu hilang dari ingatan, jadi apa yang mau diucapkan? Keringat dingin keluar bahkan sampai (maaf) ngompol, menambah ketakutan dan malu. Ketika itu aku mengupat dalam hati, Islam ini benar-benar membuat susah orang. Kenapa mau-maunya didikte orang Arab, semua harus di ucapkan dengan bahasa Arab.

Aku ingat ketika masih di Lebeng, keponakan pak Mantri Guru, ia masih kecil, memimpin doa sebelum makan diawali dengan :

“Konjuk hing asmo dalem soho sang putro……” dan seterusnya dengan bahasa Jawa dialek Yogya yang halus, enak didengar, mudah dimengerti gampang dihafal.

Ketika aku sekolah di Cilacap, saat masuk kelas, salah satu murid disuruh memimpin doa sebelum belajar, diawali dengan:

“Atas nama Bapa dan Putra …” dan seterusnya dengan bahasa Indonesia, meski dengan dialek Banyumas medok, enak didengar, mudah dihafal.

 

“Apa kamu tidak menghafal?” tanya pak Ismail.

Aku kaget mendapat pertanyaan itu. Karena gugup dan suasan hati sedang kacau, pertanyaan yang mungkin wajar-wajar saja, tetapi di telangku kata-katanya seperti membentak. Dan segera aku menjawab lantang:

”Tidak.”

Pak Ismail tertegun. Segera aku sadar membuat kesalahan. Walaupun sejak kecil aku tak diberi pelajaran Agama, namun sejak kecil aku sudah menerima doktrin etika dan sopan santun dalam pergaulan, seperti makan tidak boleh sampai mulutnya bunyi, memberi, menerima dan mengambil sesuat harus selalu pakai tangan kanan, kepada orang tua harus hormat, ucapkan terima kasih jika kau senang dan ucapkan maaf jika orang lain tidak senang.

        “Kenapa? “ tanya pak Ismail.

        Aku tertunduk, diam saja.

        “Apa agamu bukan Islam?”

        Meskipun ragu aku mengguk, sambil berkata lirih:

        “Katholik.”

        “Oh, kalu begitu kamu boleh tidak mengikuti pelajaran ini, kamu boleh keluar kelas seprti teman-teman yang lain yang tidak beragama Islam.”

        Setelah mendapat ijin aku keluar kelas. Karena celana basah segera aku lari pulang kerumah. Niatku setelah ganti celana aku mau balik lagi ke sekolah. Tetapi hati sedang kacau, ya dongkol, ya malu, ya takut juga. Bagaimana kalau nanti ada orang dari sekolahan yang mengecek kerumah apa benar agamaku Katholik, ketahuan aku berbohong. Ah masa bodoh, akhirnya aku milih tidur saja.

Esok harinya aku masuk kelas tidak membawa tas, sebab tasku masih tertinggal dalam kelas. Jam istirahat pertama aku dipanggil kekantor menghadap Bu Mulyani, ia wali kelas 4 mengajar bahasa Indonesia. Kemarin setelah pelajaran Agama diteruskan pelajaran bahasa Indonesia, jadi bu Mulyani tau kalau aku bolos. Meskipun aku murid baru tetapi bu Mulyani sangat mengenal aku, sebab pas aku pindah, masuk ke kelas 4, saat itu ia sedang mengajar dan memberi PR mengarang. Tema karangan, menggambarkan kehidupan didesa. Tak ada kesulitan bagiku, tinggal menulis seperti aku membuat catatan buku harian.

Beberapa hari setelah karanganku diperiksa, dinyatakan sangat bagus, malah akan diikut sertakan dalam lomba mengarang antar SR tingkat daerah. Jika nanti menang, mendapat nomer, akan dilanjutkan ke tingkat Nasional. Tetapi aku tidak ingat bagaimana kelanjut perlombaan mengarang itu.

Bu Mulyani memberi tahu, aku diijinkan tidak mengikuti pelajaran agama Islam, tetapi tidak berarti pulang sekolah lebih awal, harus mengikuti pelajaran berikutnya. Aku paham peraturan itu tetapi kemarin keadaan darurat, aku mau bilang maaf kemarin aku ngompol, tetapi tidak berani.

Aku berani tidak mengikuti pelajaran Agama Islam, selain sulit bagiku mengejar ketinggalan, mata pelajarannya Agama Islam tidak diikut sertakan dalam ujian Negara. Tambahan lagi di sekolahan itu tidak ada pelajaran Agama lain, maka dengan seenaknya aku bisa berkelit menghindari pelajaran agama Islam. Coba kalau ada pelajaran agama Katholik, Kristen atau agama yang lain dan aku diharuskan mengikuti salah satu diantaranya, mungkin berpikir lain.

Keluar kelas saat murid lain belajar sangat menyenangkan, hitung-hitung seminggu sekali mendapat tambahan jam istirahat, itu yang menyebabkan tambah malas untuk mengikuti perlajaran agama Islam.

Sampai kelas 6 SR berakhir, aku berhasil lulus ujian Negara. Disekolah itu aku mendapat peringkat ke 3. Aku jatuh di mata ujian menulis yang hanya mendapat nilai 5. Sedang dua rivalku mata ujian menulis mendapat nilai 7. Aku menyumpah kenapa ada ujian menulis, sejak kecil tulisanku jelek, sebaliknya murid Sekolah di Solo, mulai dari kelas 1 SR sudah dapat pelajaran menulis halus. Kalau tidak pakai ujian menulis, akulah yang menjadi peringkat pertama, sebab total nilai dari 3 mata ujian yang pokok, bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan dan Berhitung aku mendapat nilai 28, hampir sempurna, sedang dua rivalku hanya mendapat angka 26.

Ketika itu, yang menjadi wali klas 6 Pak Ismail, ia sangat puas, hampir separoh kelas, nilai ujian murid yang diasuhnya mendapat nilai 30 keatas, itu berarti sekitar 20 siswa, otomatis masuk SMP Negeri.

Suatu yang berkesan dengan Pak Ismail, meskipun aku rangking 3 tetapi ia tetap menunjuk aku, sebagai murid yang prestasinya terbaik. Oleh karena itu aku mendapat tugas membuat karangan yang akan dibacakan oleh siswi rangking satu pada saat perpisahan sekolah nanti.

Baru kali ini aku mendapat perintah membuat naskah untuk pidato. Kalau mengarang bebas, aku sudah biasa. Apalagi aku senang baca komik, koran dan majalah. Malah aku pernah tergila-gila dengan majalah mingguan bahasa Jawa yang diterbitan di Surabaya, Penyebar Semangat nama majalahnya. Tidak hanya lembaran dongeng anak, tetapi semua artikel dan judul dalam majalah itu habis aku baca dalam waktu seminggu.

Meski dengan tertatih-tatih, nyabet kata dari sana dan mengambil kalimat dari sini, akhirnya naskah pidato dua lembar kertas folio jadi, setelah itu aku serahkan pada pak Ismail untuk dikoreksi.

Selesai membaca naskahku, pak Ismail diam sebentar sambil memandangiku dengan tajam. Aku jadi merasa tidak enak.

        “Ada yang salah pak?” tanyaku.

        “Kalau aku boleh komentar, nuansa tulisan ini Islamis. Mencerminkan anak yang berbudi luhur, yang berbakti pada orang tua maupun gurunya. Tidak sombong, merasa suksenya bukan semata-mata usahanya sendiri namun karena ada restu dari orang tua. Dan ini kamu menulis terakhirnya tepat sekali, ‘harus ada ridho Allah’. Ini cocok dengan judul naskah, Doa.”

        “Jadi karangan ini tak bisa dipakai?” tanyaku ragu-ragu.

        “Oh bukan begitu. Jujur aku harus mengakui, tulisan ini bagus sekali dan harus dibaca pada saat perpisahan nanti. Hanya yang aku heran kamu kan keluarga Kristen kok bisa menulis seperti ini?”

        Disebut keluarga Kristen aku jadi malu. Meskipun banyak sanak saudara dari keluarga kami yang beragama Kristen, Katholik bahkan ada yang beragama Hindu, tetapi orang-orang yang tinggal serumah dengan aku semuanya beragama Islam. Dua kakaku yang dulu sekolah di susteran Purworejo kini meneruskan sekolah di Solo juga sudah beralih ke agama Islam, tetapi seisi rumah tak jelas ibadahnya. Hanya mbak Amah yang tak pernah ketinggalan sholatnya, maklum ia anak Kiyai. Akhir-akhir ini Mbah Putri juga terlihat mulai rajin Sholat. Mbah Kakung sekali-sekali kelihatan sholat sedangkan aku dan saudara lain, sama sekali belum melakukan sholat. Akan halnya kakak nomer 2 masih beragama Kristen, mengikuti Agama yang dianut Ibu angkatnya.

Yang tau kalau aku beragama Katholik, ya hanya teman sekolah. Orang serumah tidak ada yang tau, selain aku tak pernah ceritera, aku juga tidak melakukan ibadah sebagai mana orang beragama Katholik, tak pernah pergi ke Gereja. Aku mengatakan orang Katholik, sebenarnya hanya alasan untuk menghindar dari pelajaran agama Islam yang aku merasa kesulitan untuk mengejar, terutama semua hafalan yang harus diucapkan dengan bahasa dan tulisan Arab.

        “Orang tuamu juga beragam Kristen?” tanya pak Ismail.

        Aku geragapan mendapat pertanyaan yang tiba-tiba, tanpa aku sadari kepalaku menggeleng.

        “Lho? Lantas apa agama orang tuamu?”

        “Islam, “jawabku perlahan.

        “Oh pantas namamu sendiri, Rahman sudah mencerminkan nama Islam, tentu yang memberi nama juga orang Islam.”

 

        Karena nilai ujianku bagus, selanjutnya aku diterima di SMP Negeri. Sayangnya aku tidak diterima di sekolah SMP Negeri Favorit gara-gara aku hanya peringkat 3. Sekali lagi aku mengumpat kenapa tahun itu diadakan ujian menulis, sebab tahun-tahun berikutnya ujian menulis dihapus.

Di Sekolah Menegah Pertama itu aku masih berkelit dari pelajaran Agama Islam. Awal kuwartal pertama aku masih mengikuti pelajaran Agama Islam tetapi ketika meteri pelajaran sudah mengenai hafalan dan tulisan Arab, aku lapor pada Wali kelas, sejak di SR aku tidak mengikuti pelajaran Agama Islam. Dan setelah dicek raportku ketika di SR, tak ada nilai pelajaran agama Islam, kemudian aku dibebaskan, boleh keluar tidak mengikuti pelajaran agama Islam. Di SMP ini pun tak ada pelajaran Agama lain, hingga aku semakin bebas.

Setelah lulus SMP aku memilih SMA yang dikelola yayasan Katholik. Sebab ketika itu semua ujian sekolah mulai dari SR sampi SMA diselenggarakan oleh Negara, jadi untuk lulus harus melalui perjuangan berat dan harus diakui faktor sekolahan sangat berperan. Dan nyatanya aku bisa lulus dengan nilai bagus. Sayangnya ketika masuk perguruan tinggi, nilai ujian sebagus apapun tak berlaku secara otomatis masuk Universitas Negeri, harus melalui ujian masuk perguruan tinggi. Dan aku gagal masuk Universitas Negeri. Akhirnya aku masuk perguruan tinggi Swasta di Semarang.

Selama sekolah aku tak pernah mengikuti pelajaran agama Islam tetapi uniknya semua dokumen sekolah seperti raport dan ijazahku mulai dari SD sampai SMA semua tertulis:

Nama                                      : Pangkat Surachman.

Kewarga Negaraan     : Indonesia.

Agama                                     : Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...