Menghindari Agama Islam
Saat kami pindah ke Solo, tahun ajaran baru
sudah berjalan, aku dan
saudara kembarku terpaksa mengulang masuk kelas 3 lagi
di SR Negeri 47 Surakarta yang letaknya dekat dengan rumah. Baru berjalan dua minggu, datang
rekomendasi dari bekas sekolahku SRN 1 Ceper, bahwa aku dan saudara kembarku naik kelas, boleh mengikuti pelajaran kelas 4. Akhirnya aku resmi dinaikan
menjadi murid kelas 4.
Masalah pelajaran, semacam matematika, pengetahuan
alam, pengetahuan sosial dan
bahasa Indonesia aku tidak takut tertinggal, kami punya dasar yang kuat ketika kami sekolah di Cilacap
di sekolah yang di kelola oleh Yayasan Katholik yang
terbaik diwilayah Banyumas. Tetapi rupanya sekolahan di Solo lebih bervariasi
mata pelajarannya, seperti ada pelajaran Kerawitan, Menulis Halus, Kerajinan tangan
dan lain-lainnya.
Ada 2 mata pelajaran yang benar-benar aku
mati kutu, bahkan baru kali ini aku menemuinya yakni pelajaran bahsa Jawa dan
agama Islam. Dua mata pelajaran itu di kelas 4 sudah masuk tahap tinggi.
Dengan bantuan saudara-saudara sepupu yang
tinggal satu komplek perumahan, pelajaran bahasa Jawa masih bisa dikejar,
kecuali menulis huruf Jawa yang tak pernah melampaui angka 4, itu pun berkat
kebaikan teman sebangkuku, ia namanya Budi. Jika ulangan sering aku mendapat
‘masukan’ lewat bisik-bisik malah kadang ditulis di secarik kertas.
Akan halnya pelajaran agama Islam, sama
sekali buta. Apa lagi Budi tidak duduk disampingku, ia boleh keluar kelas jika
waktunya pelajaran agama Islam, sebab ia beragama Kristen.
Suatu hari saatnya pelajaran agama Islam,
kalau tak salah ingat guru agama itu namanya pak Ismail, tetapi yang selalu
kuingat guru itu masih muda. Rambutnya disisir rapi lurus kebelakang, wajahnya
selalu bersih, kulitnya kuning penampilanya simpatik.
Ketika itu ada PR menghafal doa Iftitah,
sebuah kalimat yang diucapkan setelah takbir sebagai pembuka dalam ritual
sholat. Dengan lantang dan lancar hampir semua murid yang ditunjuk, hafal.
Kini giliranku ditunjuk. Tak sepatah
katapun keluar dari mulut, kata-kata dalam kalimat yang aku hafal itu hilang
dari ingatan, jadi apa yang mau diucapkan? Keringat dingin keluar bahkan sampai
(maaf) ngompol, menambah ketakutan dan malu. Ketika itu aku mengupat dalam
hati, Islam ini benar-benar membuat susah orang. Kenapa mau-maunya didikte
orang Arab, semua harus di ucapkan dengan bahasa Arab.
Aku ingat ketika masih di Lebeng, keponakan
pak Mantri Guru, ia masih kecil, memimpin doa sebelum makan diawali dengan :
“Konjuk hing asmo dalem soho sang putro……”
dan seterusnya dengan bahasa Jawa dialek Yogya yang halus, enak didengar, mudah
dimengerti gampang dihafal.
Ketika aku sekolah di Cilacap, saat masuk
kelas, salah satu murid disuruh memimpin doa sebelum belajar, diawali dengan:
“Atas nama Bapa dan Putra …” dan seterusnya
dengan bahasa Indonesia, meski dengan dialek Banyumas medok, enak didengar,
mudah dihafal.
“Apa kamu tidak menghafal?” tanya pak
Ismail.
Aku kaget mendapat pertanyaan itu. Karena
gugup dan suasan hati sedang kacau, pertanyaan yang mungkin wajar-wajar saja,
tetapi di telangku kata-katanya seperti membentak. Dan segera aku menjawab
lantang:
”Tidak.”
Pak Ismail tertegun. Segera aku sadar
membuat kesalahan. Walaupun sejak kecil aku tak diberi pelajaran Agama, namun
sejak kecil aku sudah menerima doktrin etika dan sopan santun dalam pergaulan,
seperti makan tidak boleh sampai mulutnya bunyi, memberi, menerima dan
mengambil sesuat harus selalu pakai tangan kanan, kepada orang tua harus
hormat, ucapkan terima kasih jika kau senang dan ucapkan maaf jika orang lain
tidak senang.
“Kenapa? “ tanya
pak Ismail.
Aku tertunduk,
diam saja.
“Apa agamu bukan
Islam?”
Meskipun ragu
aku mengguk, sambil berkata lirih:
“Katholik.”
“Oh, kalu begitu
kamu boleh tidak mengikuti pelajaran ini, kamu boleh keluar kelas seprti
teman-teman yang lain yang tidak beragama Islam.”
Setelah mendapat
ijin aku keluar kelas. Karena celana basah segera aku lari pulang kerumah.
Niatku setelah ganti celana aku mau balik lagi ke sekolah. Tetapi hati sedang
kacau, ya dongkol, ya malu, ya takut juga. Bagaimana kalau nanti ada orang dari
sekolahan yang mengecek kerumah apa benar agamaku Katholik, ketahuan aku
berbohong. Ah masa bodoh, akhirnya aku milih tidur saja.
Esok harinya aku masuk kelas tidak membawa
tas, sebab tasku masih tertinggal dalam kelas. Jam istirahat pertama aku
dipanggil kekantor menghadap Bu Mulyani, ia wali kelas 4 mengajar bahasa
Indonesia. Kemarin setelah pelajaran Agama diteruskan pelajaran bahasa
Indonesia, jadi bu Mulyani tau kalau aku bolos. Meskipun aku murid baru tetapi
bu Mulyani sangat mengenal aku, sebab pas aku pindah, masuk ke kelas 4, saat
itu ia sedang mengajar dan memberi PR mengarang. Tema karangan, menggambarkan
kehidupan didesa. Tak ada kesulitan bagiku, tinggal menulis seperti aku membuat
catatan buku harian.
Beberapa hari setelah karanganku diperiksa,
dinyatakan sangat bagus, malah akan diikut sertakan dalam lomba mengarang antar
SR tingkat daerah. Jika nanti menang, mendapat nomer, akan dilanjutkan ke
tingkat Nasional. Tetapi aku tidak ingat bagaimana kelanjut perlombaan
mengarang itu.
Bu Mulyani memberi tahu, aku diijinkan tidak
mengikuti pelajaran agama Islam, tetapi tidak berarti pulang sekolah lebih
awal, harus mengikuti pelajaran berikutnya. Aku paham peraturan itu tetapi
kemarin keadaan darurat, aku mau bilang maaf kemarin aku ngompol, tetapi tidak berani.
Aku berani tidak mengikuti pelajaran Agama
Islam, selain sulit bagiku mengejar ketinggalan, mata pelajarannya Agama Islam
tidak diikut sertakan dalam ujian Negara. Tambahan lagi di sekolahan itu tidak ada
pelajaran Agama lain, maka dengan seenaknya aku bisa berkelit menghindari
pelajaran agama Islam. Coba kalau ada pelajaran agama Katholik, Kristen atau
agama yang lain dan aku diharuskan mengikuti salah satu diantaranya, mungkin
berpikir lain.
Keluar kelas saat murid lain belajar sangat
menyenangkan, hitung-hitung seminggu sekali mendapat tambahan jam istirahat,
itu yang menyebabkan tambah malas untuk mengikuti perlajaran agama Islam.
Sampai kelas 6 SR berakhir, aku berhasil
lulus ujian Negara. Disekolah itu aku mendapat peringkat ke 3. Aku jatuh di
mata ujian menulis yang hanya mendapat nilai 5. Sedang dua rivalku mata ujian
menulis mendapat nilai 7. Aku menyumpah kenapa ada ujian menulis, sejak kecil
tulisanku jelek, sebaliknya murid Sekolah di Solo, mulai dari kelas 1 SR sudah
dapat pelajaran menulis halus. Kalau tidak pakai ujian menulis, akulah yang
menjadi peringkat pertama, sebab total nilai dari 3 mata ujian yang pokok,
bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan dan Berhitung aku mendapat nilai 28, hampir
sempurna, sedang dua rivalku hanya mendapat angka 26.
Ketika itu, yang menjadi wali klas 6 Pak
Ismail, ia sangat puas, hampir separoh kelas, nilai ujian murid yang diasuhnya
mendapat nilai 30 keatas, itu berarti sekitar 20 siswa, otomatis masuk SMP
Negeri.
Suatu yang berkesan dengan Pak Ismail,
meskipun aku rangking 3 tetapi ia tetap menunjuk aku, sebagai murid yang
prestasinya terbaik. Oleh karena itu aku mendapat tugas membuat karangan yang
akan dibacakan oleh siswi rangking satu pada saat perpisahan sekolah nanti.
Baru kali ini aku mendapat perintah membuat
naskah untuk pidato. Kalau mengarang bebas, aku sudah biasa. Apalagi aku senang
baca komik, koran dan majalah. Malah aku pernah tergila-gila dengan majalah
mingguan bahasa Jawa yang diterbitan di Surabaya, Penyebar Semangat nama majalahnya. Tidak hanya lembaran dongeng anak, tetapi semua artikel dan judul
dalam majalah itu habis aku baca dalam waktu seminggu.
Meski dengan tertatih-tatih, nyabet kata
dari sana dan mengambil kalimat dari sini, akhirnya naskah pidato dua lembar
kertas folio jadi, setelah itu aku serahkan pada pak Ismail untuk dikoreksi.
Selesai membaca naskahku, pak Ismail diam
sebentar sambil memandangiku dengan tajam. Aku jadi merasa tidak enak.
“Ada yang salah
pak?” tanyaku.
“Kalau aku boleh
komentar, nuansa tulisan ini Islamis. Mencerminkan anak yang berbudi luhur,
yang berbakti pada orang tua maupun gurunya. Tidak sombong, merasa suksenya
bukan semata-mata usahanya sendiri namun karena ada restu dari orang tua. Dan
ini kamu menulis terakhirnya tepat sekali, ‘harus ada ridho Allah’. Ini cocok
dengan judul naskah, Doa.”
“Jadi karangan
ini tak bisa dipakai?” tanyaku ragu-ragu.
“Oh bukan
begitu. Jujur aku harus mengakui, tulisan ini bagus sekali dan harus dibaca
pada saat perpisahan nanti. Hanya yang aku heran kamu kan keluarga Kristen kok
bisa menulis seperti ini?”
Disebut keluarga
Kristen aku jadi malu. Meskipun banyak sanak saudara dari keluarga kami yang
beragama Kristen, Katholik bahkan ada yang beragama Hindu, tetapi orang-orang
yang tinggal serumah dengan aku semuanya beragama Islam. Dua kakaku yang dulu
sekolah di susteran Purworejo kini meneruskan sekolah di Solo juga sudah
beralih ke agama Islam, tetapi seisi rumah tak jelas ibadahnya. Hanya mbak Amah
yang tak pernah ketinggalan sholatnya, maklum ia anak Kiyai. Akhir-akhir ini Mbah
Putri juga terlihat mulai rajin Sholat. Mbah Kakung sekali-sekali kelihatan
sholat sedangkan aku dan saudara lain, sama sekali belum melakukan sholat. Akan
halnya kakak nomer 2 masih beragama Kristen, mengikuti Agama yang dianut Ibu angkatnya.
Yang tau kalau aku beragama Katholik, ya
hanya teman sekolah. Orang serumah tidak ada yang tau, selain aku tak pernah
ceritera, aku juga tidak melakukan ibadah sebagai mana orang beragama Katholik,
tak pernah pergi ke Gereja. Aku mengatakan orang Katholik, sebenarnya hanya
alasan untuk menghindar dari pelajaran agama Islam yang aku merasa kesulitan
untuk mengejar, terutama semua hafalan yang harus diucapkan dengan bahasa dan
tulisan Arab.
“Orang tuamu
juga beragam Kristen?” tanya pak Ismail.
Aku geragapan
mendapat pertanyaan yang tiba-tiba, tanpa aku sadari kepalaku menggeleng.
“Lho? Lantas apa
agama orang tuamu?”
“Islam, “jawabku
perlahan.
“Oh pantas
namamu sendiri, Rahman sudah mencerminkan nama Islam, tentu yang memberi nama
juga orang Islam.”
Karena nilai
ujianku bagus, selanjutnya aku diterima di SMP Negeri. Sayangnya aku tidak
diterima di sekolah SMP Negeri Favorit gara-gara aku hanya peringkat 3. Sekali
lagi aku mengumpat kenapa tahun itu diadakan ujian menulis, sebab tahun-tahun
berikutnya ujian menulis dihapus.
Di Sekolah Menegah Pertama itu aku masih
berkelit dari pelajaran Agama Islam. Awal kuwartal pertama aku masih mengikuti
pelajaran Agama Islam tetapi ketika meteri pelajaran sudah mengenai hafalan dan
tulisan Arab, aku lapor pada Wali kelas, sejak di SR aku tidak mengikuti
pelajaran Agama Islam. Dan setelah dicek raportku ketika di SR, tak ada nilai
pelajaran agama Islam, kemudian aku dibebaskan, boleh keluar tidak mengikuti
pelajaran agama Islam. Di SMP ini pun tak ada pelajaran Agama lain, hingga aku
semakin bebas.
Setelah lulus SMP aku memilih SMA yang
dikelola yayasan Katholik. Sebab ketika itu semua ujian sekolah mulai dari SR
sampi SMA diselenggarakan oleh Negara, jadi untuk lulus harus melalui
perjuangan berat dan harus diakui faktor sekolahan sangat berperan. Dan
nyatanya aku bisa lulus dengan nilai bagus. Sayangnya ketika masuk perguruan
tinggi, nilai ujian sebagus apapun tak berlaku secara otomatis masuk
Universitas Negeri, harus melalui ujian masuk perguruan tinggi. Dan aku gagal
masuk Universitas Negeri. Akhirnya aku masuk perguruan tinggi Swasta di
Semarang.
Selama sekolah aku tak pernah mengikuti
pelajaran agama Islam tetapi uniknya semua dokumen sekolah seperti raport dan
ijazahku mulai dari SD sampai SMA semua tertulis:
Nama : Pangkat
Surachman.
Kewarga Negaraan : Indonesia.
Agama : Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar