Minggu, 12 November 2023

sastroatmodjo, prasejarah

MEMORABILIA

        

Mbah kakung dan mbah putri


















Aku selalu senang dan bangga jika menceriterakan awal mula terbentuknya sebuah keluarga yang kelak kemudian menurunkan keluarga besar bernama Trah Sastroatmodjo. Itu berarti mengenang karakter Bapak Sastroatmodjo yang terlahir dengan nama Amatrachman bin Amat Syarif yang didalam internal keluarga lebih populer disebut Mbah Kakung. Yang sangat disiplin, jujur, fulgar, blak blakan, apa adanya yang bahkan kelihatan naif. Oleh karena itu temperamen mbah kakung sangat tinggi, terutama pada orang orang yang perilaku dan pikirannya menyimpang dengan ekspetasi beliau.

        Sebelum Mbah Kakung wafat, kebetulan hampir semua anak dan menantu berkumpul mengitari tempat tidur dimana Mbah Kakung sedang berbaring, kerena sakit hampir sebulan lamanya. Tiba-tiba mbah Kakung memerintahkan semua yang ada disitu memegang kedua tangan beliau, kemudian beliau menaikkan tangan mereka, sampai 3 X sambil mengucap: RUKUN...RUKUN...RUKUN.” Itulah wasiat beliau yang terakhir, sebelum beliu berpulang ke Rohmatulloh.

Kata rukun itulah yang dijadikan warisan mbah Kakung yang paling berharga, bagi putra dan putrinya. Oleh karena itu putra putri dan menantu-menantunya membuat ikrar, selalu menjaga kerukuan diatara mereka, saling tolong menolong, saling sayang menyayangi jangan ada cecok, dusta dan fitnah diantara mereka.

Warisan rukun itu diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya hingga Trah Sastroatmodjo menjadi sebuah dinasti yang solid.

Jika ada permasalahan, keluarga besar trah Sastroatmodejo selalu mengadakan rapat atau pertemuan, mencari mufakat dalam permusyawarahan, dan umumnya segala masalah terselesaikan dengan tawa dan canda.

        Disebalik tangan, karakter Ibu Sastroatmodjo yang terlahir dengan nama Sumami binti Sastrotaruno yang didalam kalangan keluarga lebih populer dipanggil Mbah Putri, bisa tampil sangat piawai sebagai katalisator mempertahankan kebahagian dan kesejahteraan keluarga. Ya pandai mengedalikan temperamen Mbah Kakung, ya pintar memutar roda perekonomian rumah tangga, ya unggul mendidik putra dan cucu, ya ahli dalam bersosialitas.

        Dua karakter itu wajib hukumnya menjadi sebuah patrun, bagi siapa pun yang berkaitan dengan Trah Sastroatmodjo dalam membina kelurga bahagia dan sejahtera.

         Seperti pada umumnya sebuah keluarga yang berkembang menjadi sebuah keluarga besar yang disebut Trah, pastinya penuh bentangan peristiwa yang sangat dinamis naik turun, pasang surut hingga akhirnya eksis menjadi sebuah dinasti yang akan selalu dipertahankan oleh anak cucu dan keturunannya.

Seperti itulah trah Sastroatmodjo terbentuk, namun lebih dari itu dalam perjalanan waktu perkembangan keluarga besar Sastroatmodjo mempunyai karakter yang unik, bahkan jika diceriterakan seperti sebuah novel, namun itu nyata.

Sebelum memorabilia mbah kakung hilang ditelan masa, sebaiknya aku tuangkan dalam tulisan didalam blog ini agar keturunan trah Sastroatmodjo mengenal dari siapa ia diturunkan.

Karena sedikitnya Nara sumber, kami mohon partisipasinya memberi masukan, tambahan narasi, foto atau Vidio bagi siapa saja yang mempunyai korelasi dengan Trah Sastroatmodjo, Trah Sastrotaruno, dan Trah Amat Syarif baik itu dialami sendiri atau pun hanya sekedar mendengar, agar Blog ini selalu update. Kirim materinya lewat eMail pangkats26@gmail.com atau WA. 0852 8163 8889, atau tulis dalam komentar pada Blog ini.

Bagaimana kisah awalnya Mbah Kakung dan Mbah Putri mulai membangun keluarga perlu disimak hingga habis. Tidak hanya penuh pesan moral, tetapi kisahnya itu seperti dongeng, seperti ceritera fiktif, tetapi benar nyata, oleh karena itu, mengawali rangkain blog trah Sastroatmodjo ini, kita mulai dari sebelum tahun 1945, kita sebut prasejarah.



 

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...