MEMORABILIA
| Mbah kakung dan mbah putri |
Aku selalu
senang dan bangga jika menceriterakan awal mula terbentuknya sebuah keluarga
yang kelak kemudian menurunkan keluarga besar bernama Trah Sastroatmodjo. Itu
berarti mengenang karakter Bapak Sastroatmodjo yang terlahir dengan nama
Amatrachman bin Amat Syarif yang didalam internal keluarga lebih populer
disebut Mbah Kakung. Yang sangat disiplin, jujur, fulgar, blak blakan, apa
adanya yang bahkan kelihatan naif. Oleh karena itu temperamen mbah kakung
sangat tinggi, terutama pada orang orang yang perilaku dan pikirannya
menyimpang dengan ekspetasi beliau.
Sebelum Mbah Kakung wafat, kebetulan hampir semua anak dan menantu berkumpul
mengitari tempat tidur dimana Mbah Kakung sedang berbaring, kerena sakit hampir sebulan lamanya. Tiba-tiba
mbah Kakung memerintahkan semua yang ada disitu memegang kedua tangan beliau,
kemudian beliau menaikkan tangan mereka, sampai 3 X sambil mengucap: “RUKUN...RUKUN...RUKUN.” Itulah
wasiat beliau yang terakhir, sebelum beliu berpulang ke Rohmatulloh.
Kata
rukun itulah yang dijadikan warisan mbah Kakung yang paling berharga, bagi
putra dan putrinya. Oleh karena itu putra putri dan menantu-menantunya
membuat ikrar, selalu menjaga kerukuan diatara mereka, saling tolong menolong,
saling sayang menyayangi jangan ada cecok, dusta dan fitnah diantara mereka.
Warisan
rukun itu diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya hingga Trah
Sastroatmodjo menjadi sebuah dinasti yang solid.
Jika ada
permasalahan, keluarga besar trah Sastroatmodejo selalu mengadakan rapat atau pertemuan, mencari mufakat dalam
permusyawarahan, dan umumnya segala masalah terselesaikan dengan tawa dan
canda.
Disebalik tangan, karakter Ibu Sastroatmodjo
yang terlahir dengan nama Sumami binti Sastrotaruno yang didalam kalangan keluarga
lebih populer dipanggil Mbah Putri, bisa tampil sangat piawai sebagai
katalisator mempertahankan kebahagian dan kesejahteraan keluarga. Ya pandai
mengedalikan temperamen Mbah Kakung, ya pintar memutar roda perekonomian rumah
tangga, ya unggul mendidik putra dan cucu, ya ahli dalam bersosialitas.
Dua karakter itu wajib hukumnya menjadi
sebuah patrun, bagi siapa pun yang berkaitan dengan Trah Sastroatmodjo dalam
membina kelurga bahagia dan sejahtera.
Seperti pada umumnya sebuah keluarga yang berkembang menjadi sebuah keluarga besar yang disebut Trah, pastinya penuh bentangan peristiwa yang sangat dinamis naik turun, pasang surut hingga akhirnya eksis menjadi sebuah dinasti yang akan selalu dipertahankan oleh anak cucu dan keturunannya.
Seperti itulah
trah Sastroatmodjo terbentuk, namun lebih dari itu dalam perjalanan waktu
perkembangan keluarga besar Sastroatmodjo mempunyai karakter yang unik, bahkan
jika diceriterakan seperti sebuah novel, namun itu nyata.
Sebelum
memorabilia mbah kakung hilang ditelan masa, sebaiknya aku tuangkan dalam tulisan
didalam blog ini agar keturunan trah Sastroatmodjo mengenal dari siapa ia
diturunkan.
Karena
sedikitnya Nara sumber, kami mohon partisipasinya memberi masukan, tambahan
narasi, foto atau Vidio bagi siapa saja yang mempunyai korelasi dengan Trah
Sastroatmodjo, Trah Sastrotaruno, dan Trah Amat Syarif baik itu dialami
sendiri atau pun hanya sekedar mendengar, agar Blog ini selalu update. Kirim materinya lewat eMail pangkats26@gmail.com atau WA. 0852 8163 8889, atau tulis dalam komentar pada Blog ini.
Bagaimana kisah awalnya Mbah Kakung dan Mbah Putri mulai membangun keluarga perlu disimak hingga habis. Tidak hanya penuh pesan moral, tetapi kisahnya itu seperti dongeng, seperti ceritera fiktif, tetapi benar nyata, oleh karena itu, mengawali rangkain blog trah Sastroatmodjo ini, kita mulai dari sebelum tahun 1945, kita sebut prasejarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar