HIDUP DI LINGKUNGAN KOTA
Dari
hidup dilingkungan desa yang masih primitip pindah ke kota rasanya seperti
bangun dari mimpi. Ada yang aneh, namun membuat hati berbinar binar
menyenangkan. Dari serba gelap diwaktu malam menjadi terang benderang siang
maupun malam. Tak habis habisnya aku memandang bolam lampu yang bisa menyala
tanpa minyak. Tak ada lagi lumpur dijalan. Jalan licin beraspal, yang aku ingat
pertama dan berkesan ketika habis hujan jalan itu warnanya hitam mengkilat
seperti cermin berpendar pendar memantulkan cahaya lampu-lampu jalanan.
Tak
ada lagi rumah beratap ilalang. Menyenangkan namun itu kesan pertama. Hari
berganti hari bulan berganti bulan telah dilalui, terasa ada yang hilang, rindu
mandi di kali, telentang di padang rumput, aroma khas kambing dan kerbau. Tapi
kami harus beradaptasi dengan habitat baru.
Hijrah
Selama itu kami mengenal yang namanya Kota,
yakni daerah atau tempat yang lebih ramai dari pasar Lebeng ketika hari pasaran,
seperti Jeruk Legi dan Kesugihan. Makanya ketika kami masuk kota Cilacap terkagum
kagum, aku menggangap ini kota paling besar yang pernah aku singgahi.
Ketika kami masuk
kota Cilacap selepas senja, kebetulan cuaca sudah terang sehabis diguyur hujan.
Kesan kami yang pertama yang tak pernah aku lupakan, aku melihat semua jalan
dikota warnanya hitam licin mengkilap, bak cermin berpendar pendar memantulkan
lampu penerangan sepanjang jalan yang kami lalui.
Sangat kontras
dengan jalanan di Lebeng. Jalan protokolnya saja hanya berupa batu kali ditata.
Karena seringnya dilalui menjadi rata dan keras. Namun jika hujan, lumpur dan
pasir berncampur menyelimuti diatas jalan.
Untuk sementara
waktu keluarga kami ditampung oleh adik Mbah Putri dari Trah Sastrotaruno, kami
memangginya Oom Harno. Kebetulan Oom Harno dibenum menjadi kepala Duane wilayah
Cilacap. Beliau baru menikah, belum punya anak, sedangkan rumah dinas yang
ditempati besar, kamarnya banyak hingga mampu menampung keluarga kami.
Sekitar 2-3 tahun
keluarga kami tinggal di Cilacap, di kota ini Agus, adikku bungsu
laki-laki lahir. Lengkap sudah, dari 7 anak, tak satupun mempunyai kota kelahiran yang
sama, kecuali sikembar Drajat
dan Pangkat.
Bagi Mbah Kakung, pindah ke kota manapun asal ditempat tujuan ada tempat
untuk mengabdi pada bidang kesehatan dan pengobatan tidak masalah.
Sebaliknya bagi
Mbah Putri, orang yang berperan penting memutar
perekonomian keluarga, pindah dari daerah kedaerah lain harus
berhitung, anggaran pendapatan dan anggaran belanja harus disesuaikan jumlah
anggota keluarganya.
Semisal ketika
kami pindah ke kota Cilacap, Mbah Putri tidak mengajak para pembantu rumah
tangga termasuk mbak Amah, mereka dipulangkan ke keluarga masing-masing. Mbah
Putri hanya mengajak anak kandung dan mbak Yanti yang akan masuk asrama Perawat.
Pertimbangan Mbah
Putri, hidup dikota tidak sesedarhana hidup di desa, lebih rumit lebih kompleks.
Meskipun seluruh gaji Mbah Kakung utuh diserahkan pada
Mbah Putri, namun masih jauh dari cukup untuk keperluan hidup satu bulan.
Kalau soal makan masih bisa bernafas lega, selain disuport adik Mbah Putri, kami masih sering mendapat kiriman bahan mentah dari Kiyai Jengrana, orang tua mbak
Amah. Tetapi rupanya hidup dikota tidak hanya perlu cukup makan saja, masih
banyak pengeluaran yang lebih besar lagi.
Celakanya semua
transaski di kota berupa uang tunai, tidak seperti dahulu di Lebeng, masih berlaku
transaksi barter, tukar minyak klentik bikian sendiri bisa jadi beras. Bawa
ayam ke pasar, pulang sudah bisa jadi baju dan lain semacam itu.
Beruntung
keluarga Pak Mantri Guru mencari keluarga Pak Mantri Kesehatan, untuk memberi
beawiswa, masuk asrama Suteran di Purworejo untuk Kakak nomer 1 Sri Amiyati kami
memanggilnya Yu Sri, masuk setingkat SMP dan kakak nomer 3 Siti Partinah kami
memanggilnya mbak Tin, masuk setingkat SR (sekarang SD). Semua keperluan
sekolah dan keperluan hidup termasuk asrama gratis.
Kakak no 2 Siti
Partini, Yu Tin (kelak kami memnaggilnya Yu Wir) tidak ikut, sebab sejak kecil
sudah diadopsi keluarga Mbah Putri, lihat ceriteranya di Trah Sastroatmodjo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar