Senin, 13 November 2023

hijrah

 

HIDUP DI LINGKUNGAN KOTA

 

Dari hidup dilingkungan desa yang masih primitip pindah ke kota rasanya seperti bangun dari mimpi. Ada yang aneh, namun membuat hati berbinar binar menyenangkan. Dari serba gelap diwaktu malam menjadi terang benderang siang maupun malam. Tak habis habisnya aku memandang bolam lampu yang bisa menyala tanpa minyak. Tak ada lagi lumpur dijalan. Jalan licin beraspal, yang aku ingat pertama dan berkesan ketika habis hujan jalan itu warnanya hitam mengkilat seperti cermin berpendar pendar memantulkan cahaya lampu-lampu jalanan.

Tak ada lagi rumah beratap ilalang. Menyenangkan namun itu kesan pertama. Hari berganti hari bulan berganti bulan telah dilalui, terasa ada yang hilang, rindu mandi di kali, telentang di padang rumput, aroma khas kambing dan kerbau. Tapi kami harus beradaptasi dengan habitat baru.

 

Hijrah

 

        Selama itu kami mengenal yang namanya Kota, yakni daerah atau tempat yang lebih ramai dari pasar Lebeng ketika hari pasaran, seperti Jeruk Legi dan Kesugihan. Makanya ketika kami masuk kota Cilacap terkagum kagum, aku menggangap ini kota paling besar yang pernah aku singgahi.

Ketika kami masuk kota Cilacap selepas senja, kebetulan cuaca sudah terang sehabis diguyur hujan. Kesan kami yang pertama yang tak pernah aku lupakan, aku melihat semua jalan dikota warnanya hitam licin mengkilap, bak cermin berpendar pendar memantulkan lampu penerangan sepanjang jalan yang kami lalui.

Sangat kontras dengan jalanan di Lebeng. Jalan protokolnya saja hanya berupa batu kali ditata. Karena seringnya dilalui menjadi rata dan keras. Namun jika hujan, lumpur dan pasir berncampur menyelimuti diatas jalan.

Untuk sementara waktu keluarga kami ditampung oleh adik Mbah Putri dari Trah Sastrotaruno, kami memangginya Oom Harno. Kebetulan Oom Harno dibenum menjadi kepala Duane wilayah Cilacap. Beliau baru menikah, belum punya anak, sedangkan rumah dinas yang ditempati besar, kamarnya banyak hingga mampu menampung keluarga kami.

Sekitar 2-3 tahun keluarga kami tinggal di Cilacap, di kota ini Agus, adikku bungsu laki-laki lahir. Lengkap sudah, dari 7 anak, tak satupun mempunyai kota kelahiran yang sama, kecuali sikembar Drajat dan Pangkat.

 

Bagi Mbah Kakung, pindah ke kota manapun asal ditempat tujuan ada tempat untuk mengabdi pada bidang kesehatan dan pengobatan tidak masalah.

Sebaliknya bagi Mbah Putri, orang yang berperan penting memutar perekonomian keluarga, pindah dari daerah kedaerah lain harus berhitung, anggaran pendapatan dan anggaran belanja harus disesuaikan jumlah anggota keluarganya.

Semisal ketika kami pindah ke kota Cilacap, Mbah Putri tidak mengajak para pembantu rumah tangga termasuk mbak Amah, mereka dipulangkan ke keluarga masing-masing. Mbah Putri hanya mengajak anak kandung dan mbak Yanti yang akan masuk asrama Perawat.

 

Pertimbangan Mbah Putri, hidup dikota tidak sesedarhana hidup di desa, lebih rumit lebih kompleks. Meskipun seluruh gaji Mbah Kakung utuh diserahkan pada Mbah Putri, namun masih jauh dari cukup untuk keperluan hidup satu bulan.

Kalau soal makan masih bisa bernafas lega, selain disuport adik Mbah Putri, kami masih sering mendapat kiriman bahan mentah dari Kiyai Jengrana, orang tua mbak Amah. Tetapi rupanya hidup dikota tidak hanya perlu cukup makan saja, masih banyak pengeluaran yang lebih besar lagi.

Celakanya semua transaski di kota berupa uang tunai, tidak seperti dahulu di Lebeng, masih berlaku transaksi barter, tukar minyak klentik bikian sendiri bisa jadi beras. Bawa ayam ke pasar, pulang sudah bisa jadi baju dan lain semacam itu.

Beruntung keluarga Pak Mantri Guru mencari keluarga Pak Mantri Kesehatan, untuk memberi beawiswa, masuk asrama Suteran di Purworejo untuk Kakak nomer 1 Sri Amiyati kami memanggilnya Yu Sri, masuk setingkat SMP dan kakak nomer 3 Siti Partinah kami memanggilnya mbak Tin, masuk setingkat SR (sekarang SD). Semua keperluan sekolah dan keperluan hidup termasuk asrama gratis.

Kakak no 2 Siti Partini, Yu Tin (kelak kami memnaggilnya Yu Wir) tidak ikut, sebab sejak kecil sudah diadopsi keluarga Mbah Putri, lihat ceriteranya di Trah Sastroatmodjo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...