Tamu Misterius
Bertepatan dengan
ceritera aku diculik makhluk halus, saat itu di desa Lebeng memang
sedang santer tersebar isue penculikan. Tetapi yang diculik bukan anak-anak,
malainkan orang dewasa.
Kata kang Kasim, salah satu
saudara sepupunya sudah seminggu tidak pulang ke rumah, hingga kini tidak ada
kabarnya, sudah dicari kemana-mana tidak ketemu, kemungkinan saudaranya itu
menjadi korban penculikan.
Dua bersaudara orang Sunda, tukang jahit
di pasar Lebeng, sudah sepuluh hari belakangan ini tidak kelihatan di dalam
kiosnya, diduga mereka juga diculik. Masih banyak lagi kabar angin mengatakan
orang-orang dewasa hilang, bagaikan lenyap ditelan bumi.
Desa Lebeng yang tadinya aman, tenang dan
tentram, kini kelihatan resah. Mereka tak berani membicarakan penculikan dengan
kata-kata keras atau blak-blakan, mereka hanya berani berbisi-bisik. Dari kabar
mulut ke mulut, orang-orang yang diculik, dibawa ke hutan di wilayah perbatasan
Jawa Barat. Mereka dipaksa menjadi tentara DI. Kabarnya DI itu singkatan Darul
Islam, pasukan yang dibentuk oleh Kartosuwiryo. Mereka mau berontak, pemerintah
Republik Indonesia akan dijadikan Negara Islam Indonesia. Penduduk yang tinggal
di kawasan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan tak berani membicarakan
soal gerombolan pembrontak itu, katanya dimana-mana sekarang sudah tersebar
mata-mata DI.
Dari hari ke hari berikutnya suasan desa
Lebeng semakin mencekam. Kadang-kadang di kejauhan terdengar rentetean
tembakan. Orang-orang berbisi-bisik lagi, katanya tentara DI kepregok patroli
TNI, mereka sedang dikejar-kejar.
Hari itu, tengah
siang hari bolong. Dari jarak jauh terdengar lagi rentetan tembakan, meskipun
suaranya terdengar samar-samar dan hanya sebentar, namun cukup membuat miris
hati rakyat.
Malam harinya. Kang kasim kebetulan tidur
dirumah kami, semua keluarganya sudah ngungsi ke Kawunganten tempat tinggal
orang tuanya. Memang semenjak desa Lebeng terasa tidak aman banyak keluarga
yang ngungsi. Sebagian besar keluarga pak Mantri Guru termasuk
keponakan-keponakannya yang menjadi penghuni Magersari, sudah diungsikan ke
Cilacap, dirumah besar itu tingal pak Mantri Guru sekalian dengan beberapa
pembantu saja. Umumnya orang orang mengungsi ke arah timur, menjahui perbatasan Jawa Barat.
Kira-kira tengah malam pintu rumah kami
digedor-gedor orang dari luar sambil berseru:
“Pak buka pintu,
pak buka pintu!”
Karena kerasnya
gedoran di pintu, hampir seisi rumah terbangung. Suasana tegang, kang Kasim
sudah berdiri di ruang tengah, tetapi tidak berani membukakan pintu. Suara
gedoran pintu semakin keras, Mbah Kakung mendekati kang Kasim.
“Mungkin orang
perlu pertolongan pengobatan,” bisik Mbah Kakung.
Kang Kasim
diiringi Mbah Kakung memberanikan diri membukakan pintu. Begitu pintu terbuka
sebuah moncong senjata laras panjan langsung menempel didada kang Kasim.
“Jangan banyak
bertanya, teman saya kena tembak di dada, tolong keluarkan pelurunya,” kata
tamu misterius itu dengan garangnya.
Tubuh kang
Kasim, tinggi dan besar, tetapi ketika dadanya ditempel mulut bedil, tak urung
badannya gemetaran hebat.
“Begini, kami
orang-orang dari dinas kesehatan mempunyai sumpah, tanpa memandang bangsa,
suku, musuh dan perbedaan lain, sudah menjadi kuwajiban kami untuk menolong
orang yang sakit, tarik senjatamu, sekarang mana yang sakit cepat bawa ke
poliklinik,” kata Mbah Kakung sambil membawa lampu minyak menuju ruangan
poliklinik untuk membukakan pintu.
“Baik Pak,” kata
tamu misterius nadanya beralih sopan, sambil menarik senjatanya.
Sesaat kemudian ia memasukkan
jari-jari tangannya ke mulut lalu terdengar siulan keras. Tiba-tiba dari arah
kegelapan muncul seorang yang dipapah dua orang temannya, sepertinya ia yang
dikatakan kena tembak. Di belakang mereka muncul lagi dua orang masing-masing
membawa senjata laras panjang sepertinya yang mengawal.
Sementara orang yang tertembak itu
dibaringkan didipan pasien, Mbah Kakung menyiapkan peralatan operasi, sedang
kang Kasim menyiapkan petromak agar terang untuk melakukan operasi. Tetapi
begitu kang Kasim masuk ke poliklinik sambil membawa petromak yang sudah nyala,
timbul sedikit ketegangan. Tamu-tamu yang tak diundang itu tidak mau cahaya
terang, mungkin takut dikenali wajahnya. Tetapi Mbah Kakung ngotot, nggak bisa
melaukan operasi dengan cahaya remang-remang.
Dengan nada acaman tamu misterius itu
berkata:
“Baik, tetapi
bapak-bapak sekalian harus jaga rahasia ini, kalau tidak, tau sendiri
akibatnya.”
“Kami punya kode
etik, tidak akan pernah menceriterakan penyakit seorang pasien kepada sipapun,
termasuk operasi ini,” kata Mbah Kakung lantang.
Semua yang hadir
disitu terdiam. Dengan cekatan Mbah Kakung dibantu kang Kasim melakukan bedah
kecil untuk mengeluarkan peluru. Untung timah itu terjepit diantara tulang iga,
hingga memudahkan jalannya operasi.
Operasi berjalan sukses, tamu tamu yang tak
diundang kelihatan puas, apa lagi Mbah Putri ambil inisiatif, memeritahkan yu
War menyuguhkan wedang kopi. Setelah semua beres, wedang kopi pun kering,
tamu-tamu misterius itu pamitan:
“Terima kasih,
bapak telah menyelamatkan Komandan kami, jasa bapak tak pernah kami lupakan,”
kata salah satu tamu misterius.
Mungkin Mbah
Kakung dan kang Kasim tau, mereka adalah tentara DI. Dilihat dari gayanya
seperti militer tetapi seragamnya campuran ada yang hijau ada yang loreng ada
pula yang pakaian biasa malah ada yang berkalung sarung. Mbah Kakung pun pesan pada
semua anggota keluarga, agar kita selamat tidak usah berceritera tentang
peristiwa semalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar