Senin, 13 November 2023

tamu misterius

 

Tamu Misterius

 

        Bertepatan dengan ceritera aku diculik makhluk halus, saat itu di desa Lebeng memang sedang santer tersebar isue penculikan. Tetapi yang diculik bukan anak-anak, malainkan orang dewasa.

Kata kang Kasim, salah satu saudara sepupunya sudah seminggu tidak pulang ke rumah, hingga kini tidak ada kabarnya, sudah dicari kemana-mana tidak ketemu, kemungkinan saudaranya itu menjadi korban penculikan.

Dua bersaudara orang Sunda, tukang jahit di pasar Lebeng, sudah sepuluh hari belakangan ini tidak kelihatan di dalam kiosnya, diduga mereka juga diculik. Masih banyak lagi kabar angin mengatakan orang-orang dewasa hilang, bagaikan lenyap ditelan bumi.

Desa Lebeng yang tadinya aman, tenang dan tentram, kini kelihatan resah. Mereka tak berani membicarakan penculikan dengan kata-kata keras atau blak-blakan, mereka hanya berani berbisi-bisik. Dari kabar mulut ke mulut, orang-orang yang diculik, dibawa ke hutan di wilayah perbatasan Jawa Barat. Mereka dipaksa menjadi tentara DI. Kabarnya DI itu singkatan Darul Islam, pasukan yang dibentuk oleh Kartosuwiryo. Mereka mau berontak, pemerintah Republik Indonesia akan dijadikan Negara Islam Indonesia. Penduduk yang tinggal di kawasan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan tak berani membicarakan soal gerombolan pembrontak itu, katanya dimana-mana sekarang sudah tersebar mata-mata DI.

Dari hari ke hari berikutnya suasan desa Lebeng semakin mencekam. Kadang-kadang di kejauhan terdengar rentetean tembakan. Orang-orang berbisi-bisik lagi, katanya tentara DI kepregok patroli TNI, mereka sedang dikejar-kejar.

 

        Hari itu, tengah siang hari bolong. Dari jarak jauh terdengar lagi rentetan tembakan, meskipun suaranya terdengar samar-samar dan hanya sebentar, namun cukup membuat miris hati rakyat.

Malam harinya. Kang kasim kebetulan tidur dirumah kami, semua keluarganya sudah ngungsi ke Kawunganten tempat tinggal orang tuanya. Memang semenjak desa Lebeng terasa tidak aman banyak keluarga yang ngungsi. Sebagian besar keluarga pak Mantri Guru termasuk keponakan-keponakannya yang menjadi penghuni Magersari, sudah diungsikan ke Cilacap, dirumah besar itu tingal pak Mantri Guru sekalian dengan beberapa pembantu saja. Umumnya orang orang mengungsi ke arah timur, menjahui perbatasan Jawa Barat.

Kira-kira tengah malam pintu rumah kami digedor-gedor orang dari luar sambil berseru:

        Pak buka pintu, pak buka pintu!”

        Karena kerasnya gedoran di pintu, hampir seisi rumah terbangung. Suasana tegang, kang Kasim sudah berdiri di ruang tengah, tetapi tidak berani membukakan pintu. Suara gedoran pintu semakin keras, Mbah Kakung mendekati kang Kasim.

        “Mungkin orang perlu pertolongan pengobatan,” bisik Mbah Kakung.

        Kang Kasim diiringi Mbah Kakung memberanikan diri membukakan pintu. Begitu pintu terbuka sebuah moncong senjata laras panjan langsung menempel didada kang Kasim.

        “Jangan banyak bertanya, teman saya kena tembak di dada, tolong keluarkan pelurunya,” kata tamu misterius itu dengan garangnya.

        Tubuh kang Kasim, tinggi dan besar, tetapi ketika dadanya ditempel mulut bedil, tak urung badannya gemetaran hebat.

        “Begini, kami orang-orang dari dinas kesehatan mempunyai sumpah, tanpa memandang bangsa, suku, musuh dan perbedaan lain, sudah menjadi kuwajiban kami untuk menolong orang yang sakit, tarik senjatamu, sekarang mana yang sakit cepat bawa ke poliklinik,” kata Mbah Kakung sambil membawa lampu minyak menuju ruangan poliklinik untuk membukakan pintu.

        “Baik Pak,” kata tamu misterius nadanya beralih sopan, sambil menarik senjatanya.

        Sesaat kemudian ia memasukkan jari-jari tangannya ke mulut lalu terdengar siulan keras. Tiba-tiba dari arah kegelapan muncul seorang yang dipapah dua orang temannya, sepertinya ia yang dikatakan kena tembak. Di belakang mereka muncul lagi dua orang masing-masing membawa senjata laras panjang sepertinya yang mengawal.

Sementara orang yang tertembak itu dibaringkan didipan pasien, Mbah Kakung menyiapkan peralatan operasi, sedang kang Kasim menyiapkan petromak agar terang untuk melakukan operasi. Tetapi begitu kang Kasim masuk ke poliklinik sambil membawa petromak yang sudah nyala, timbul sedikit ketegangan. Tamu-tamu yang tak diundang itu tidak mau cahaya terang, mungkin takut dikenali wajahnya. Tetapi Mbah Kakung ngotot, nggak bisa melaukan operasi dengan cahaya remang-remang.

Dengan nada acaman tamu misterius itu berkata:

        “Baik, tetapi bapak-bapak sekalian harus jaga rahasia ini, kalau tidak, tau sendiri akibatnya.”

        “Kami punya kode etik, tidak akan pernah menceriterakan penyakit seorang pasien kepada sipapun, termasuk operasi ini,” kata Mbah Kakung lantang.

        Semua yang hadir disitu terdiam. Dengan cekatan Mbah Kakung dibantu kang Kasim melakukan bedah kecil untuk mengeluarkan peluru. Untung timah itu terjepit diantara tulang iga, hingga memudahkan jalannya operasi.

Operasi berjalan sukses, tamu tamu yang tak diundang kelihatan puas, apa lagi Mbah Putri ambil inisiatif, memeritahkan yu War menyuguhkan wedang kopi. Setelah semua beres, wedang kopi pun kering, tamu-tamu misterius itu pamitan:

        “Terima kasih, bapak telah menyelamatkan Komandan kami, jasa bapak tak pernah kami lupakan,” kata salah satu tamu misterius.

        Mungkin Mbah Kakung dan kang Kasim tau, mereka adalah tentara DI. Dilihat dari gayanya seperti militer tetapi seragamnya campuran ada yang hijau ada yang loreng ada pula yang pakaian biasa malah ada yang berkalung sarung. Mbah Kakung pun pesan pada semua anggota keluarga, agar kita selamat tidak usah berceritera tentang peristiwa semalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...