Senin, 13 November 2023

toleransi

 

Toleransi tingkat Dewa

 

        Keluarga pak Mantri Guru pemeluk agama Katholik yang taat. Semua, 6 putra putrinya sekolah yang dikelola oleh yayasan Katholik dan Seminari. Seorang putranya kelak menjadi salah satu Uskup Indonesia, satu putrinya menjadi Suster (Biarawati), beberapa yang lainnya menjadi pengajar disekolahan Katholik.

        Saat keluarga Mbah Kakung ditampung di rumah kediaman pak Mantri Guru, saat itu putra putri pak Mantri Guru masih sekolah di kota-kota besar. Ada yang tinggal di asrama Susteran dan Burderan di Porworejo, ada juga yang belajar di Yogya dan di kota Cilacap. Jadi tidak satu pun putranya tinggal di Lebeng, kecuali jika hari libur sekolah.

        Bulan Desember adalah bulan istimewa bagi keluarga pak Mantri Guru. Semua putra-putrinya pulang untuk merayakan hari Natal dan Tahun Baru bersama keluarga. Selain itu sanak saudara keluarga pak Mantri atau bu Mantri Guru dari kota lain juga berdatangan menginap di Lebeng untuk ikut merayakan pesta akhir tahun itu. Kalau sudah kumpul begitu bisa sampai berjumlah 30–50 orang menginap di rumah Loji pak Mantri Guru. Supaya bisa bersama-sama, kalau makan dan tidur mereka terpaksa menggelar tikar atau karpet. Selama kurang lebih sepuluh hari, suasana rumah seperti sedang punya hajat. Diantara dari tamu-tamu itu ada juga orang asing, sepertinya orang Eropa, mereka adalah pastur-pastur yang akan memipin upacara perayaan Natal di gereja.

Selama menunggu datangnya perayaan Natal di gereja, di rumah loji diisi dengan aneka acara lain hingga semua tamu tidak merasa jenuh.

 

        Aku masih samar-samar ingat, ikut merayakan Natalan di rumah pak Mantri Guru. Hampir setiap malam menjelang hari natal, silih berganti putra-putri dan keponakan pak Mantri guru seperti berlatih khotbah, atau da’wah. Biasanya bentuknya ceritera, sebagian besar mengkisahkan perjalanan hidup Isa Al Masih, mulai dari lahir sampai wafat disalib. Kadang-kadang ada yang pandai mendramatisir khotbahnya, sampai-sampai sebagian pendengarnya terisak-isak menangis.

Kira-kira lima hari sebelum hari Natal, ada acara Santa Klaus. Ini pestanya anak-anak kecil. Selepas senja anak-anak dikumpulkan di beranda rumah, sambil makan snack dan minum mereka dipimpin menyanyi bersama, suasananya riang gembira.

Klimaksnya, beberapa lilin dimatikan hingga ruangan menjdai redup. Dari arah luar datang Santa Klaus diiring pengikut setianya yang dinamakan Swartepiet. Sesaat kemudian mereka berdua sampai didepan anak-anak yang sedang pesta. Mereka berhenti sejenak, lalu memperkenalkan diri.

Santa Klaus pakaiannya merah-merah, memakai topi kurcaci juga berwarna merah. Wajahnya pakai janggut lebat, perutnya dibuat buncit, warna kulitnya putih. Ia membawa karung besar, penuh dengan barang-barang. Kata Santa Klaus, karung ini isinya kado yang akan di berikan pada setiap anak yang baik budi pekertinya, tidak nakal, rajin dan patuh pada orang tua.

Swartepiet, pakaiannya hitam-hitam, kulitnya juga hitam, seperti dilumuri jelaga, persis orang Negro. Ia juga bawa karung besar tetapi kosong tak ada isinya, ia juga membawa sapu lidi. Kata Swartepiet, karung ini akan digunakan membawa anak nakal, yang malas belajar, suka membantah orang tua, sebelum dimasukkan karung anak nakal itu akan dipukuli dulu dengan sapu lidinya.

Mendengar pidato Santa Klaus dan Swartepiet, semua anak yang ada disitu terdiam, suasana mencekam, bahkan sudah mulai ada suara tarikan nafas ketakutan, terutama anak-anak yang merasa dirinya nakal. Tiba-tiba suasana menjadi gaduh ketika Santa Klaus dan Swartepit mulai mendekati nak-anak. Anak-anak yang didekati Santa Klaus umumnya bersorak gembira karena mendapat kado, sebaliknya anak yang didekati Swartepiet menjerit ketakutan, apa lagi ketika Swartepiet menakut-nakuti dengan mengangkat sapu lidi keatas, seolah-olah hendak memukul, jeritan itu tambah menjadi-jadi.

Aku masih ingat, betapa ngerinya ketika aku didekati Swartepiet sambil ditanya:

        ”Kamu ya anak nakal? Kamu suka mandi di kali? Kamu suka menangis, suka membatah orang tua? Kamu harus dimasukkan karung.”

        Aku menjcerit-jerit histeris, keringat dingin mengucur seluruh tubuh, kepala aku sembunyikan dibawah ketiak Mbah Putri.

Setelah semua anak rata mendapat kado, Santa Klaus dan Swartepiet pergi. Tak satu anak pun yang jadi dimasukkan kedalam karung Swartepiet, sebab anak nakal itu disuruh minta ampun, bertobat tidak akan nakal lagi.

Lilin yang tadi dimatikan sekarang dinyalakan lagi. Kini pestanya tambah meriah, masing-masing anak saling berebut ingin berceritera bagai mana hebatnya dia tidak takut di datangi Swartepiet, atau bagimana senangnya dia didekati Santa Klaus. Pesta ditutup dengan makan malam bersama.

        Kami selalu mengikuti rangkai upacara perayaan Natal yang diadakan dirumah, namun saat Upacara Natal di gereja keluarga kami tak ikut hadir. Sebab keluarga kami termasuknya penganut Agama Islam. Inilah yang kami benar rasakan bagaimana toleransi kedua keluarga, yang tidak mempermasalahkan perbedaan Agama walaupun hidup dalam satu atap.

Masing masing keluarga saling menghormati, tidak ada yang saling mempengaruhi, tak ada yang mencela, hingga tidak ada gesekan tidak menemui benturan. Saat hari minggu semua keluarga pak Mantri guru pergi ke gereja, keluarga kami tinggal dirumah sekalian menjagainya.

Ketika makan bersama, biasanya salah satu keponakan pak Matri Guru memipin doa. Meski tidak mengikuti gerakan ritual doa Agama Katholik, namun keluarga kami ikut khusuk mendengarkan.

 

        Awal bulan Januari putra-putri, sanak keluarga dan tamu pak Mantri Guru kembali kekota. Hingar bingar, tawa riang, jerit tangis anak, tak terdengar lagi. Rumah Loji kembali sepi, tinggal pak Mantri Guru dan bu Mantri Guru sendirian. Untung masih ada keluarga kami hingga bisa sedikit mengobati rasa kesepian itu.

Sebenarnya bukan hanya berfungsi mengisi kesepian saja keberadaan keluarga kami di rumah Loji ini. Lebih dari itu, Mbah Putri mempunyai peranan penting dalam ikut mengurus baik rumah tangga maupun urusan pekerjaan lain semacam pertanian dan peternakan.

Penampilan bu Mantri Guru masih jelas kelihatan Ningratnya. Gerak dan bicaranya lemah lembut, sehingga tidak cocok untuk mengurus urusan yang keras semacam mengatur pekerjaan Buruh, kontrol di sawah, ladang atau blumbang, sedangkan pak Mantri Guru urusanya banyak, selain organisasi agama juga kadang-kadang masih melakukan peninjaun sekolah keluar desa Lebeng.

Awalnya Mbah Putri hanya membantu peran kecil, ikut mengatur pekerjaan para pembantu rumah tangga, namun berangsur angsur bu Mantri Guru ikut melibatkan Mbah Putri dalam segala urusan pekerjaan, sampai akhirnya Mbah Putri mendapat mandat penuh, sebagai pengganti bu Mantri guru.

 

        Lebih 2 tahun keluarga kami tinggal serumah dengan keluarga pak Mantri Guru. Mbah Putri temasuk gesit, cerdas dalam mengendalikan tenaga kerja, dan sudah terbiasa menghadapi buruh, maka dalam waktu 1-2 tahun saja, usaha agrobisnis keluarga pak Mantri Guru kelihatan maju pesat. Bu Mantri Guru senang, sebagai imbalannya, keluarga kami dibangunkan rumah. Tetapi Mbah Kakung minta supaya bangunan itu menempel di ploklinik, jika ada hal yang emergensi Mbah Kakung bisa cepat menangani.

Akhirnya jadi juga tempat tinggal kami. Rumahnya besar, ukuran 9 m X 12 m. Bahan banguannya sama dengan yang digunakan untuk membangun poliklinik, tiang dari kayu pohon keras yang bisa didapat dikebun, dinding dari gedeg dan atap dari anyaman ilalang. Lantai bagian dalam rumah diflur, bagian luar dan dapur masih berupa tanah.

Zaman dulu rumah dengan bahan bangunan semacam itu, di desa Lebeng, masih dikatkan rumah standard. Meskipun keluarga kami baru kali ini menempati rumah sangat sederhana bahan bangunannya, namun kelihatannya bisa menikmati dan hidup bahagia. Baru beberapa tahun kemudian atap rumah kami diganti genteng dan sebagaian dinding diganti papan.

Meskipun sudah pisah rumah, hubungan keluarga Mantri Kesehatan dan Mantri Guru masih kelihatan terjalin dengan harmonis. Secara periodik kami sekeluarga diundang makan ke rumah Loji.

Mbah Putri masih aktif membantu kegiatan usaha bu Manri Guru, namun tak bisa dipungkiri rumah tangga sendiri juga perlu mendapat perhatian. Apa lagi kesibukan di poliklinik semakin meningkat, sehingga mau tidak mau setiap hari Mbah Putri ikut terlibat membantu Mbah Kakung di poliklinik. Pasien dari hari ke hari makin banyak, Mbah Kakung dan kang Kasim sering kewalahan. Mbah Putri sering mengisi kekurangan tenaga untuk urusan administrasi, mendaftar, memanggil giliran pasien dan memberi obat pasien.

Bertepatan dengan itu, saudara pak Mantri guru, kami memanggilnya bu Carik, datang ke Lebeng. Sekarang ia sudah jadi janda dan ingin tinggal menetap di Lebeng. Atas usulan Mbah Putri, biar bu Carik mengganti semua urusan yang dikerjakan Mbah Putri, baik urusan rumah tangga maupun agrobisnis keluarga Bu mantri guru. Dan usulan itu diterima, berangsur-angsur Mbah Putri benar-benar lepas dari segala urusan kepentingan keluarga pak Mantri guru.

 

        Seusai perang kles ke 2, Belanda kalah dan harus meninggalkan Indonesia. Kini Indonesia berdaulat penuh, diakui dunia Internasional, dengan nama Negara Kesautan Republik Indonesia.

Atas jasa dan diplomasi pak Mantri guru, Balai Pengobatan Lebeng resmi diakui sebagai poliklinik Negeri dengan nama “Poliklinik Lebeng”. Sedangkan Poliklinik Pagak dibubarkan, diganti Poliklinik baru yang didirikan di Jeruk legi. Dan kang Mislam ditarik masuk bekerja di poliklinik yang baru itu. Kelak kemudian kang Mislam berhasil naik pangkat menjadi Mantri Kesehatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...