Toleransi tingkat Dewa
Keluarga pak
Mantri Guru pemeluk agama Katholik yang taat. Semua, 6 putra putrinya sekolah
yang dikelola oleh yayasan Katholik dan Seminari. Seorang putranya kelak
menjadi salah satu Uskup Indonesia, satu putrinya menjadi Suster (Biarawati), beberapa yang lainnya menjadi pengajar
disekolahan Katholik.
Saat keluarga Mbah Kakung ditampung di
rumah kediaman pak Mantri Guru, saat itu putra putri
pak Mantri Guru masih sekolah di kota-kota besar. Ada yang tinggal di asrama
Susteran dan Burderan di Porworejo, ada juga yang belajar di Yogya dan di kota Cilacap.
Jadi tidak satu pun putranya tinggal di Lebeng, kecuali jika hari libur
sekolah.
Bulan Desember
adalah bulan istimewa bagi keluarga pak Mantri Guru. Semua putra-putrinya
pulang untuk merayakan hari Natal dan Tahun Baru bersama keluarga. Selain itu
sanak saudara keluarga pak Mantri atau bu Mantri Guru dari kota lain juga
berdatangan menginap di Lebeng untuk ikut merayakan pesta akhir tahun itu.
Kalau sudah kumpul begitu bisa sampai berjumlah 30–50 orang menginap di rumah
Loji pak Mantri Guru. Supaya bisa bersama-sama, kalau makan dan tidur mereka
terpaksa menggelar tikar atau karpet. Selama kurang lebih sepuluh hari, suasana
rumah seperti sedang punya hajat. Diantara dari tamu-tamu itu ada juga orang
asing, sepertinya orang Eropa, mereka adalah pastur-pastur yang akan memipin
upacara perayaan Natal di gereja.
Selama menunggu datangnya perayaan Natal di
gereja, di rumah loji diisi dengan aneka acara lain hingga semua tamu tidak
merasa jenuh.
Aku masih
samar-samar ingat, ikut merayakan Natalan di rumah pak Mantri Guru. Hampir
setiap malam menjelang hari natal, silih berganti putra-putri dan keponakan pak
Mantri guru seperti berlatih khotbah, atau da’wah. Biasanya bentuknya ceritera,
sebagian besar mengkisahkan perjalanan hidup Isa Al Masih, mulai dari lahir
sampai wafat disalib. Kadang-kadang ada yang pandai mendramatisir khotbahnya,
sampai-sampai sebagian pendengarnya terisak-isak menangis.
Kira-kira lima hari sebelum hari Natal, ada
acara Santa Klaus. Ini pestanya anak-anak kecil. Selepas senja anak-anak
dikumpulkan di beranda rumah, sambil makan snack dan minum mereka dipimpin
menyanyi bersama, suasananya riang gembira.
Klimaksnya, beberapa lilin dimatikan hingga
ruangan menjdai redup. Dari arah luar datang Santa Klaus diiring pengikut
setianya yang dinamakan Swartepiet. Sesaat kemudian mereka berdua sampai
didepan anak-anak yang sedang pesta. Mereka berhenti sejenak, lalu
memperkenalkan diri.
Santa Klaus pakaiannya merah-merah, memakai
topi kurcaci juga berwarna merah. Wajahnya pakai janggut lebat, perutnya dibuat
buncit, warna kulitnya putih. Ia membawa karung besar, penuh dengan barang-barang.
Kata Santa Klaus, karung ini isinya kado yang akan di berikan pada setiap anak
yang baik budi pekertinya, tidak nakal, rajin dan patuh pada orang tua.
Swartepiet, pakaiannya hitam-hitam,
kulitnya juga hitam, seperti dilumuri jelaga, persis orang Negro. Ia juga bawa
karung besar tetapi kosong tak ada isinya, ia juga membawa sapu lidi. Kata
Swartepiet, karung ini akan digunakan membawa anak nakal, yang malas belajar,
suka membantah orang tua, sebelum dimasukkan karung anak nakal itu akan dipukuli
dulu dengan sapu lidinya.
Mendengar pidato Santa Klaus dan
Swartepiet, semua anak yang ada disitu terdiam, suasana mencekam, bahkan sudah
mulai ada suara tarikan nafas ketakutan, terutama anak-anak yang merasa dirinya
nakal. Tiba-tiba suasana menjadi gaduh ketika Santa Klaus dan Swartepit mulai
mendekati nak-anak. Anak-anak yang didekati Santa Klaus umumnya bersorak
gembira karena mendapat kado, sebaliknya anak yang didekati Swartepiet menjerit
ketakutan, apa lagi ketika Swartepiet menakut-nakuti dengan mengangkat sapu
lidi keatas, seolah-olah hendak memukul, jeritan itu tambah menjadi-jadi.
Aku masih ingat, betapa ngerinya ketika aku
didekati Swartepiet sambil ditanya:
”Kamu ya anak
nakal? Kamu suka mandi di kali? Kamu suka menangis, suka membatah orang tua?
Kamu harus dimasukkan karung.”
Aku
menjcerit-jerit histeris, keringat dingin mengucur seluruh tubuh, kepala aku
sembunyikan dibawah ketiak Mbah Putri.
Setelah semua anak rata mendapat kado,
Santa Klaus dan Swartepiet pergi. Tak satu anak pun yang jadi dimasukkan
kedalam karung Swartepiet, sebab anak nakal itu disuruh minta ampun, bertobat
tidak akan nakal lagi.
Lilin yang tadi dimatikan sekarang
dinyalakan lagi. Kini pestanya tambah meriah, masing-masing anak saling berebut
ingin berceritera bagai mana hebatnya dia tidak takut di datangi Swartepiet,
atau bagimana senangnya dia didekati Santa Klaus. Pesta ditutup dengan makan
malam bersama.
Kami selalu
mengikuti rangkai upacara perayaan Natal yang diadakan dirumah, namun saat
Upacara Natal di gereja keluarga kami tak ikut hadir. Sebab keluarga kami termasuknya penganut Agama
Islam. Inilah yang kami benar rasakan bagaimana toleransi kedua keluarga, yang
tidak mempermasalahkan perbedaan Agama walaupun hidup dalam satu atap.
Masing masing keluarga
saling menghormati, tidak ada yang saling mempengaruhi, tak ada yang
mencela, hingga tidak ada gesekan tidak menemui
benturan. Saat hari minggu semua keluarga pak Mantri guru pergi ke gereja,
keluarga kami tinggal dirumah sekalian menjagainya.
Ketika makan bersama, biasanya salah satu
keponakan pak Matri Guru memipin doa. Meski tidak mengikuti gerakan ritual doa
Agama Katholik, namun keluarga kami ikut khusuk mendengarkan.
Awal bulan
Januari putra-putri, sanak keluarga dan tamu pak Mantri Guru kembali kekota.
Hingar bingar, tawa riang, jerit tangis anak, tak terdengar lagi. Rumah Loji
kembali sepi, tinggal pak Mantri Guru dan bu Mantri Guru sendirian. Untung
masih ada keluarga kami hingga bisa sedikit mengobati rasa kesepian itu.
Sebenarnya bukan hanya berfungsi mengisi
kesepian saja keberadaan keluarga kami di rumah Loji ini. Lebih dari itu, Mbah
Putri mempunyai peranan penting dalam ikut mengurus baik rumah tangga maupun
urusan pekerjaan lain semacam pertanian dan peternakan.
Penampilan bu Mantri Guru masih jelas
kelihatan Ningratnya. Gerak dan bicaranya lemah lembut, sehingga tidak cocok
untuk mengurus urusan yang keras semacam mengatur pekerjaan Buruh, kontrol di
sawah, ladang atau blumbang, sedangkan pak Mantri Guru urusanya banyak, selain
organisasi agama juga kadang-kadang masih melakukan peninjaun sekolah keluar
desa Lebeng.
Awalnya Mbah Putri hanya membantu peran
kecil, ikut mengatur pekerjaan para pembantu rumah tangga, namun berangsur
angsur bu Mantri Guru ikut melibatkan Mbah Putri dalam segala urusan pekerjaan,
sampai akhirnya Mbah Putri mendapat mandat penuh, sebagai pengganti bu Mantri
guru.
Lebih 2 tahun
keluarga kami tinggal serumah dengan keluarga pak Mantri Guru. Mbah Putri
temasuk gesit, cerdas dalam mengendalikan tenaga kerja, dan sudah terbiasa
menghadapi buruh, maka dalam waktu 1-2 tahun saja, usaha agrobisnis keluarga
pak Mantri Guru kelihatan maju pesat. Bu Mantri Guru senang, sebagai
imbalannya, keluarga kami dibangunkan rumah. Tetapi Mbah Kakung minta supaya
bangunan itu menempel di ploklinik, jika ada hal yang emergensi Mbah Kakung
bisa cepat menangani.
Akhirnya jadi juga tempat tinggal kami.
Rumahnya besar, ukuran 9 m X 12 m. Bahan banguannya sama dengan yang digunakan
untuk membangun poliklinik, tiang dari kayu pohon keras yang bisa didapat
dikebun, dinding dari gedeg dan atap dari anyaman ilalang. Lantai bagian dalam
rumah diflur, bagian luar dan dapur masih berupa tanah.
Zaman dulu rumah dengan bahan bangunan
semacam itu, di desa Lebeng, masih dikatkan rumah standard. Meskipun keluarga
kami baru kali ini menempati rumah sangat sederhana bahan bangunannya, namun
kelihatannya bisa menikmati dan hidup bahagia. Baru beberapa tahun kemudian
atap rumah kami diganti genteng dan sebagaian dinding diganti papan.
Meskipun sudah pisah rumah, hubungan
keluarga Mantri Kesehatan dan Mantri Guru masih kelihatan terjalin dengan
harmonis. Secara periodik kami sekeluarga diundang makan ke rumah Loji.
Mbah Putri masih aktif membantu kegiatan
usaha bu Manri Guru, namun tak bisa dipungkiri rumah tangga sendiri juga perlu
mendapat perhatian. Apa lagi kesibukan di poliklinik semakin meningkat,
sehingga mau tidak mau setiap hari Mbah Putri ikut terlibat membantu Mbah
Kakung di poliklinik. Pasien dari hari ke hari makin banyak, Mbah Kakung dan
kang Kasim sering kewalahan. Mbah Putri sering mengisi kekurangan tenaga untuk
urusan administrasi, mendaftar, memanggil giliran pasien dan memberi obat
pasien.
Bertepatan dengan itu, saudara pak Mantri
guru, kami memanggilnya bu Carik, datang ke Lebeng. Sekarang ia sudah jadi
janda dan ingin tinggal menetap di Lebeng. Atas usulan Mbah Putri, biar bu
Carik mengganti semua urusan yang dikerjakan Mbah Putri, baik urusan rumah
tangga maupun agrobisnis keluarga Bu mantri guru. Dan usulan itu diterima,
berangsur-angsur Mbah Putri benar-benar lepas dari segala urusan kepentingan
keluarga pak Mantri guru.
Seusai perang
kles ke 2, Belanda kalah dan harus meninggalkan Indonesia. Kini Indonesia
berdaulat penuh, diakui dunia Internasional, dengan nama Negara Kesautan
Republik Indonesia.
Atas jasa dan diplomasi pak Mantri guru, Balai Pengobatan Lebeng
resmi diakui sebagai poliklinik Negeri dengan nama “Poliklinik Lebeng”. Sedangkan Poliklinik Pagak
dibubarkan, diganti Poliklinik baru yang didirikan di Jeruk legi. Dan kang
Mislam ditarik masuk bekerja di poliklinik yang baru itu. Kelak kemudian kang
Mislam berhasil naik pangkat menjadi Mantri Kesehatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar