Anak Pungut
Suatu sore, Mbah
Kakung dan Mbah Putri keluar rumah, mau duduk santai di teras depan rumah.
Teras depan rumah itu nyambung dengan teras rumah sakit yang dijadikan ruang
tunggu pasien. Sampai di teras, Mbah Kakung dan Mbah Putri kaget, melihat ada
seorang anak perempuan ABG, masih dibawah umur, maksudnya belum dewasa tetapi sudah lewat masa
anak-anak, sedang duduk di bangku tempat pasien menunggu giliran berobat.
Mbah Kakung dan Mbah Putri menghampirinya.
Mengetahui ada orang mendekati anak perempuan itu berdiri, dan ketika Mbah
Kakung dan Mbah Putri sudah di depanya anak perempuan itu buru-buru menyalami
tangan Mbah Putri lalu dicium, setelah itu gantian tangan Mbah Kakung juga disalami dan dicium,
hormat dan sopan sekali.
Ketika ditanya apa ia mau berobat, ia
menggeleng. Remaja putri itu mengaku bernama Yanti asal dari desa Gumilir
terletak disebelah barat Lebeng. Katanya, ia sudah lulus SMP makanya ia mau
melamar kerja, untuk meringankan beban ibunya untuk menghidupi dua adiknya yang
masih kecil-kecil. Dulu bapak
dan ibunya menjadi buruh sadap, perkebunan karet
Belanda, kini bapaknya sudah tidak ada. Sekarang pekerjaan ibunya serabutan, ketika musim
tanam dan musim panen ia menjadi buruh tani, selebihnya membantu tetangga yang
memerlukan pertolongan.
Mbah Kakung dan Mbah Putri tertegun
mendengar kata-katanya yang penuh percaya diri. Yang menjadi Mbah Kakung dan Mbah
Putri simpatik, selain parasnya cantik, hidungnya mancung, bibirnya tipis,
matanya bulat besar, besinar jernih, pertanda anak jujur dan cerdas. Juga
sikapnya sopan. Kulitnya bersih berwarna kuning keputih putihan, rambutnya
lurus warnanya agak pirang seperti rambut jagung. Di atas dahinya dibentuk jambul dan
rambut bagian belakang yang panjang dikepang menjadi dua, ujungnya diberi pita
warna merah jambu selaras dengan warna bajunya. Meskipun pakaiannya sudah usang
dan lusuh tak mengurangi penampilannya yang anggun.
“Kalau saja anak
ini diberi pakaian kayak dandanan anak kota, pantas kalau disebut Noni (anak
Belanda kalau laki-laki disebut Sinyo kalau perempuan disebut Noni),” kata Mbah
Putri dalam hati.
Mbah Kakung
sebenarnya tidak tega mau mempekerjakan anak yang masih dibawah umur ini,
tetapi Mbah Putri telanjur jatuh hati. Iba dan trenyuh naluri keibuannya,
ketika mendengar riwayat hidupnya, dan melihat tekadnya untuk bekerja apa
saja, sampai dibela-belain jalan kaki sendirian dari desanya menuju Lebeng.
Akhirnya Mbah Putri menawarkan agar anak itu mau tinggal di rumah kami,
dijadikan anak pungut. Sementara umurnya belum cukup untuk diangkat menjadi
Pegawai, ia boleh membantu kerja di poliklinik. Selama belajar bekerja ia akan
diberi uang saku. Tidak perlu dipikir dua kali langsung tawaran Mbah Putri
diterimanya. Dan seterusnya kami memanggilnya anak itu mbak Yanti.
Mbak Yanti bukan
anak pungut Mbah Putri yang pertama, jauh sebelum itu Mbah Putri pernah
menggambil anak pungut, Sinyo, anak Londo Ingris, namanya Syahban. Ketika perang Jepang
ia disuruh mengungsi oleh Mbah Putri, takut ditangkap tentara Dai Nipon, sampai sekarang tak ada
beritanya. Makanya ketika melihat profil mbak Yanti seperti Noni,
langsung Mbah Putri menyukainya.
Dengan adanya mbak Yanti, pekerjaan Mbah
Putri menjadi lebih ringan. Tak perlu lagi membantu Mbah Kakung di poliklinik,
semua yang menjadi tugas Mbah Putri sudah bisa dikerjakan mbak Yanti. Anaknya
gampang diajari dan rajin. Periang dan ramah, menyenangkan bagi pasien-pasien
yang berobat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar