HIDUP DI ALAM PRA SEJARAH
Tinggal di rumah beratap
anyaman ilalang,
berdinding anyaman
bambu, tidak ada listrik, hanya ada lampu minyak sebagai penerangan dimalam
hari. Masak dengan tungku dari tanah, pakai kayu bakar.
Jika melakukan perjalan
diwaktu malam, digunakan obor sebagai sarana penerangan. Obor itu dibuat dari
satu atau dua ruas babu panjang diisi minyak, ujungnya diberi sumbu dari
gombal.
Adegan itu yang masih
samar-samar aku ingat, dan menggunakan obor sebagai sarana penerangan jalan,
nantinya akan banyak mewarnai kenangan masa kecilku di desa Lebeng. Memoriku,
sepertinya aku pernah hidup di alam era pra sejarah, sesuatu yang historik.
Poliklinik Baru
Rumah pak Mantri
Guru ditepi jalan umum yang menghubungkan desa Lebeng dengan Kesugihan. Di
bagian belakang rumah loji bentuknya seperti paviliun. Di paviliun yang punya 2
kamar ini keluarga kami ditampung.
Di belakang rumah, halamannya luas, kosong
seperti lapangan. Lantainya terbuat dari batu bata yang ditata rapi. Kata bu
Mantri Guru, sawahnya luas dan lapangan ini untuk menjemur padi jika saat panen
tiba. Di belakang lapangan masih ada lagi halaman luas, tetapi disitu telah
didirikan beberapa bangunan. Sebagian bangunan itu bentuknya seperti los,
disekat-sekat menjadi beberapa kamar dengan pintu sendiri-sendiri menghadap ke
lapangan. Tempat ini diperuntukan sebagai kamar para pembantu rumah tangga
keluarga pak Mantri Guru. Termasuk yu War dan kang Parjo, pembantu kami dari
Pagak untuk sementara tinggal berbaur dengan mereka di tempat itu.
Sebagian bangunan lagi bentuknya seperti
rumah kecil-kecil, tertata rapi dan bersih. Umumnya yang menempati rumah-rumah
itu keponakan atau keluarga pak Mantri Guru yang sudah berkeluarga. Selain itu,
ada beberapa keluarga penghuni yang berasal dari baik asli penduduk Lebeng maupun pendatang
yang beragama Katholik. Mereka tidak dipungut bayar, malah mereka mendapat upah
karena membantu mengurus segala macam pekerjaan untuk kepentingan pak Mantri
Guru seperti menggarap sawah, ladang, kebon jeruk, perikanan dan ternak mulai
dari ayam, itik, angsa, kambing dan kerbau.
Pembantu dan orang upahan yang mendapat
fasilitas seperti itu, di keraton Yogya dan Solo disebutnya Abdi Dalem. Komplek
perumahan yang mereka tinggali disebut Magersari. Pak Mantri Guru dan istrinya,
memang masih keturuan bangsawan dari Yogya, mereka mencontoh sistem Magersari
yang banyak diterapkan oleh kalangan bangsawan dari keraton Yogya dan Solo.
Di belakang
rumah Magersari yang mengabdi pada keluarga pak Mantri Guru ada lagi halaman
luas. Ditempat itulah berdirinya gereja Katholik. Selanjutnya dibelakang dan
sisi kiri gereja terhampar perkebunan jeruk, diselang seling dengan kolam-kolam
tempat memelihara ikan, semacam empang, dalam bahasa setempat disebut blumbang.
Semua itu merupakan aset keluarga pak Mantri Guru.
Di sisi kanan rumah Loji pak Mantri Guru
yang menghadap jalan umum, masih ada tanah kosong cukup luas, disinilah
rencananya poliklinik itu akan dibangung.
Beberapa hari kemudian. Setelah rancangan
dan persiapan selesai, pembanguan poliklinik dimulai. Sejak pagi hari di kebon
kosong terlihat ramai orang sedang bekerja. Seperti kerja bakti, membersihkan
lahan, semak-semak dibabat, lalu dibakar, beberapa orang menggali saluran
pembuangan air, meninggikan tempat yang akan di jadikan bangunan poliklinik.
Hanya perlu waktu sekitar dua minggu,
bangunan poliklinik sudah berdiri. Bangunan itu berdekatan dengan rumah loji
pak Mantri guru hanya dibatasi sebuah saluran air yang menghubungkan kali kecil
yang mengalir sepanjang tepi jalan umum, dengan kolam-kolam ikan dibelakang
gereja. Sedangkan lahan samping kanan dan belakang poliklinik dibiarkan kosong
tetapi sudah bersih dari semak dan rumput. Beberapa pohon besar, seperti
kedondong, jeruk bali, duwet dan mangga kuweni, sengaja dibiarkan tumbuh
sebagai peneduh lahan.
Meski bangunan poliklinik itu sederhana
tetapi bersih. Tiang-tiangnya dari kayu hasil tanaman sendiri, dinding dari
gedek dan atapnya dari anyaman ilalang. Lantainya diplester dengan semen yang
dibuat sendiri, bahan campurannya terdiri dari kapur, bubukan batu merah dan
pasir. Banguanan poliklinik ini terdiri dari 3 ruang ukuran 3 m X 3 m.
Yang satu ruangan untuk menyimpan dan menyiapkan obat yang akan diberikan pada
pasien, semacam apotik, satu
ruangan untuk periksa dan mengobati pasien dan satu ruangan lagi untuk ruang
administrasi. Didepan ruangan dibuatkan teras untuk
pasien menunggu giliran diperiksa.
Beberapa propeti juga langsung tersedia,
semacam meja, kursi, rak dan lemari tempat menyimpan obat. Dipan atau tempat
tidur untuk memeriksa pasien, beberapa bangku untuk tempat pasien menunggu juga
telah siap.
Sebagian besar perabotan itu dibuat dari
kayu bekas meja, bangku, kursi sekolahan dan gereja yang sudah tidak dipakai
lagi.
Sambil menunggu kiriman obat-obatan dari
relasi pak Mantri Guru, Mbah Kakung sudah mulai buka praktek di poliklinik yang
didepannya ada tulisan ‘Balai Pengobatan Lebeng’. Jumlah pasien masih sedikit,
mungkin penduduk belum banyak yang tahu bahwa sekarang di desa Lebeng ada Balai Pengobatan,
jadi untuk sementara waktu bekal obat-obatan yang dulu dibawa dari Pagak masih
cukup memadai.
Sebulan kemudian, sumbangan obat-obatan
dari relasi pak Mantri Guru berdatangan, ada yang datang dari Cilacap, Yogya,
Purworejo, Semarang dan lain-lain kota. Umumnya mereka yang menyumbang lembaga-lembaga
Katholik yang bergerak di bidang sosial dan kesehatan. Seiring stok obat penuh,
pasien pun mulai banyak, membuat Mbah Kakung kewalahan.
Saatnya tepat.
Pada suatu hari, kang Mislam datang ingin menengok Mbah Kakung. Ia bersama
temannya seorang pemuda yang profilnya seperti orang Pakistan, badannya tinggi
besar dan kulitnya hitam mengkilap, namanya kang Kasim. Kang Mislam ingin
mengetahui perkembangan Mbah Kakung sambil mengabarkan, poliklinik Pagak jadi
dibakar, tetapi barang-barang dan obat obat masih tersimpan dirumahnya dengan
baik.
Dari percakapan dengan kang Mislam dan kang
Kasim, diketahui kang Kasim dulu juga pernah mendapat pelatihan sebagai juru
rawat di rumah sakit umum Purwokerto. Akhirnya kang Kasim disuruh tinggal di
Lebeng untuk membantu Mbah Kakung di Poliklinik, sedangkan kang Mislam disuruh
kembali ke Pagak. Meskipun tidak ada Poliklinik, dengan persedian obat yang ada
kang Mislam disuruh terus mengemban misi kemanusiaan memberi pertolongan
pengobatan, terutama untuk tindakan darurat.
Hari hari selanjutnya kang Kasim sudah
terlihat sibuk membantu Mbah Kakung. Kebetulan ia punya saudara yang tinggal di
desa Lebeng, di tempat saudaranya itu ia menumpang tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar