Senin, 13 November 2023

prasejarah

 

HIDUP DI ALAM PRA SEJARAH

 

Tinggal di rumah beratap anyaman ilalang,

berdinding anyaman bambu, tidak ada listrik, hanya ada lampu minyak sebagai penerangan dimalam hari. Masak dengan tungku dari tanah, pakai kayu bakar.

Jika melakukan perjalan diwaktu malam, digunakan obor sebagai sarana penerangan. Obor itu dibuat dari satu atau dua ruas babu panjang diisi minyak, ujungnya diberi sumbu dari gombal.

Adegan itu yang masih samar-samar aku ingat, dan menggunakan obor sebagai sarana penerangan jalan, nantinya akan banyak mewarnai kenangan masa kecilku di desa Lebeng. Memoriku, sepertinya aku pernah hidup di alam era pra sejarah, sesuatu yang historik.

 

Poliklinik Baru

        Rumah pak Mantri Guru ditepi jalan umum yang menghubungkan desa Lebeng dengan Kesugihan. Di bagian belakang rumah loji bentuknya seperti paviliun. Di paviliun yang punya 2 kamar ini keluarga kami ditampung.

Di belakang rumah, halamannya luas, kosong seperti lapangan. Lantainya terbuat dari batu bata yang ditata rapi. Kata bu Mantri Guru, sawahnya luas dan lapangan ini untuk menjemur padi jika saat panen tiba. Di belakang lapangan masih ada lagi halaman luas, tetapi disitu telah didirikan beberapa bangunan. Sebagian bangunan itu bentuknya seperti los, disekat-sekat menjadi beberapa kamar dengan pintu sendiri-sendiri menghadap ke lapangan. Tempat ini diperuntukan sebagai kamar para pembantu rumah tangga keluarga pak Mantri Guru. Termasuk yu War dan kang Parjo, pembantu kami dari Pagak untuk sementara tinggal berbaur dengan mereka di tempat itu.

Sebagian bangunan lagi bentuknya seperti rumah kecil-kecil, tertata rapi dan bersih. Umumnya yang menempati rumah-rumah itu keponakan atau keluarga pak Mantri Guru yang sudah berkeluarga. Selain itu, ada beberapa keluarga penghuni yang berasal dari baik asli penduduk Lebeng maupun pendatang yang beragama Katholik. Mereka tidak dipungut bayar, malah mereka mendapat upah karena membantu mengurus segala macam pekerjaan untuk kepentingan pak Mantri Guru seperti menggarap sawah, ladang, kebon jeruk, perikanan dan ternak mulai dari ayam, itik, angsa, kambing dan kerbau.

Pembantu dan orang upahan yang mendapat fasilitas seperti itu, di keraton Yogya dan Solo disebutnya Abdi Dalem. Komplek perumahan yang mereka tinggali disebut Magersari. Pak Mantri Guru dan istrinya, memang masih keturuan bangsawan dari Yogya, mereka mencontoh sistem Magersari yang banyak diterapkan oleh kalangan bangsawan dari keraton Yogya dan Solo.

 

        Di belakang rumah Magersari yang mengabdi pada keluarga pak Mantri Guru ada lagi halaman luas. Ditempat itulah berdirinya gereja Katholik. Selanjutnya dibelakang dan sisi kiri gereja terhampar perkebunan jeruk, diselang seling dengan kolam-kolam tempat memelihara ikan, semacam empang, dalam bahasa setempat disebut blumbang. Semua itu merupakan aset keluarga pak Mantri Guru.

Di sisi kanan rumah Loji pak Mantri Guru yang menghadap jalan umum, masih ada tanah kosong cukup luas, disinilah rencananya poliklinik itu akan dibangung.

Beberapa hari kemudian. Setelah rancangan dan persiapan selesai, pembanguan poliklinik dimulai. Sejak pagi hari di kebon kosong terlihat ramai orang sedang bekerja. Seperti kerja bakti, membersihkan lahan, semak-semak dibabat, lalu dibakar, beberapa orang menggali saluran pembuangan air, meninggikan tempat yang akan di jadikan bangunan poliklinik.

Hanya perlu waktu sekitar dua minggu, bangunan poliklinik sudah berdiri. Bangunan itu berdekatan dengan rumah loji pak Mantri guru hanya dibatasi sebuah saluran air yang menghubungkan kali kecil yang mengalir sepanjang tepi jalan umum, dengan kolam-kolam ikan dibelakang gereja. Sedangkan lahan samping kanan dan belakang poliklinik dibiarkan kosong tetapi sudah bersih dari semak dan rumput. Beberapa pohon besar, seperti kedondong, jeruk bali, duwet dan mangga kuweni, sengaja dibiarkan tumbuh sebagai peneduh lahan.

Meski bangunan poliklinik itu sederhana tetapi bersih. Tiang-tiangnya dari kayu hasil tanaman sendiri, dinding dari gedek dan atapnya dari anyaman ilalang. Lantainya diplester dengan semen yang dibuat sendiri, bahan campurannya terdiri dari kapur, bubukan batu merah dan pasir. Banguanan poliklinik ini terdiri dari 3 ruang ukuran 3 m X 3 m. Yang satu ruangan untuk menyimpan dan menyiapkan obat yang akan diberikan pada pasien, semacam apotik, satu ruangan untuk periksa dan mengobati pasien dan satu ruangan lagi untuk ruang administrasi. Didepan ruangan dibuatkan teras untuk pasien menunggu giliran diperiksa.

Beberapa propeti juga langsung tersedia, semacam meja, kursi, rak dan lemari tempat menyimpan obat. Dipan atau tempat tidur untuk memeriksa pasien, beberapa bangku untuk tempat pasien menunggu juga telah siap.

Sebagian besar perabotan itu dibuat dari kayu bekas meja, bangku, kursi sekolahan dan gereja yang sudah tidak dipakai lagi.

Sambil menunggu kiriman obat-obatan dari relasi pak Mantri Guru, Mbah Kakung sudah mulai buka praktek di poliklinik yang didepannya ada tulisan ‘Balai Pengobatan Lebeng’. Jumlah pasien masih sedikit, mungkin penduduk belum banyak yang tahu bahwa sekarang di desa Lebeng ada Balai Pengobatan, jadi untuk sementara waktu bekal obat-obatan yang dulu dibawa dari Pagak masih cukup memadai.

Sebulan kemudian, sumbangan obat-obatan dari relasi pak Mantri Guru berdatangan, ada yang datang dari Cilacap, Yogya, Purworejo, Semarang dan lain-lain kota. Umumnya mereka yang menyumbang lembaga-lembaga Katholik yang bergerak di bidang sosial dan kesehatan. Seiring stok obat penuh, pasien pun mulai banyak, membuat Mbah Kakung kewalahan.

 

        Saatnya tepat. Pada suatu hari, kang Mislam datang ingin menengok Mbah Kakung. Ia bersama temannya seorang pemuda yang profilnya seperti orang Pakistan, badannya tinggi besar dan kulitnya hitam mengkilap, namanya kang Kasim. Kang Mislam ingin mengetahui perkembangan Mbah Kakung sambil mengabarkan, poliklinik Pagak jadi dibakar, tetapi barang-barang dan obat obat masih tersimpan dirumahnya dengan baik.

Dari percakapan dengan kang Mislam dan kang Kasim, diketahui kang Kasim dulu juga pernah mendapat pelatihan sebagai juru rawat di rumah sakit umum Purwokerto. Akhirnya kang Kasim disuruh tinggal di Lebeng untuk membantu Mbah Kakung di Poliklinik, sedangkan kang Mislam disuruh kembali ke Pagak. Meskipun tidak ada Poliklinik, dengan persedian obat yang ada kang Mislam disuruh terus mengemban misi kemanusiaan memberi pertolongan pengobatan, terutama untuk tindakan darurat.

Hari hari selanjutnya kang Kasim sudah terlihat sibuk membantu Mbah Kakung. Kebetulan ia punya saudara yang tinggal di desa Lebeng, di tempat saudaranya itu ia menumpang tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...