Senin, 13 November 2023

pak mantri

 

Pak Mantri ketemu pak Mantri

 

        Esok harinya. Rombongan Pengungsi sedang berkemas-kemas. Sebagian membenahi barang-barang yang akan dibawa, sebagian lagi melipat karpet dan membersihkan bekas tempat mereka tidur. Rencananya Mbah Kakung dan kang Mislam mau menemui Pak Giman untuk pamitan dan mengucapkan terima kasih. Tetapi belum juga mereka beranjak, pintu gereja dibuka dari luar, di depan pintu berdiri pak Giman disertai seorang laki-laki yang kemudian mengenalkan diri bernama pak Mantri Guru.

Kedatangan pak Mantri Guru, untuk mengundang Mbah Kakung beserta rombongan mampir ke rumahnya untuk makan pagi.

        Rupa-rupanya semalam pak Giman dan pak Sep sempat lapor pada pak Mantri Guru, ada rombongan pengungsi Mantri Kesehatan dari Pagak, menginap didalam Gereja. Mendengar nama Mantri Kesehatan dari Gunung Pagak, pak Mantri Guru kaget lalu ingat peristiwa beberapa tahun yang telah berlalu.

Saat itu pak Mantri Guru sedang berada di Jeruk Legi. Tengah malam penyakit ashma pak Mantri Guru kambuh. Di sekitar tempat ia menginap tidak ada Poliklinik, tidak ada dokter, tak ada Paramedis. Seorang penduduk setempat mengambil inisiatf, menjemput Mbah Kakung ke gunung Pagak. Menjelang fajar Mbah Kakung baru tiba, untung pak Mantri Guru masih bisa tertolong. Setelah diobati dan ditunggu sampai masa kritis pak Mantri Guru terlampaui, Mbah Kakung pamitan pulang ke gunung Pagak. Meskipun banyak orang mencegah, Mbah Kakung tetap nekat pulang. Mbah Kakung tidak mau terlambat tiba di gunung Pagak untuk membuka Polikliniknya. Setelah kejadian itu pak Mantri Guru pernah 2-3 kali mengutus orang mencari Mbah Kakung, namun tidak pernah ketemu selanjutnya pak Mantri Guru sudah lupa peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Makanya ketika pak Sep mengatakan Mantri Kesehatan Gunung Pagak, pak Mantri Guru seperti diingatkan bahwa ia pernah ditolong Mbah Kakung.

        Dimas Mantri lupa sama saya?” tanya pak Mantri guru ketika melihat Mbah Kakung seperti tidak mengenali dirinya.

        Mbah Kakung berusaha mengingat ingat tetapi tetap tidak ingat siapa pak Mantri Guru ini. Sudah ribuang pasien ditangani Mbah Kakung, setiap pasien mendapat pelayanan yang sama, tak ada istilah perbedaan kasta, dirawat dengan tulus ikhlas dengan jiwa profesi, tak berhasrat mendapat tanda jasa tak ingin mendapat pujian dan tidak mengharap imbalan, hingga Mbah Kakung cepat melupakan nama atau wajah pasien, kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya tidak lebih dari 10 prosen.

 

        Rumah pak Mantri Guru model loji Belanda. Dinding temboknya tebal, dikapur warwna putih bersih, lantainya ubin warna abu-abu mengkilap, fondasi rumah tinggi, ada sekitar 5-8 undak-undakan untuk naik ke beranda. Pagi hari itu separoh dari beranda yang cukup luas telah digelari tikar dan diatasnya terhampar hidangan seperti mau kenduri saja layaknya, ditunggui bu Mantri Guru dan pak Sep. Ketika rombongan tiba, segera bu Mantri Guru menyongsong Mbah Putri, setelah mengenalkan diri, Mbah Putri dibimbingnya naik ke beranda. Pak Mantri Guru juga mempersilahkan Mbah Kakung dan rombongan mengikuti naik keberanda. Tak lama kemudian semua anggota rombongan sudah duduk mengelilingi hidangan. Pak Mantri Guru, istrinya, pak Giman dan pak Sep juga membaur dengan tamunya. Sebelum acara makan dimulai, pak Mantri Guru mengucapkan kata pembuka singkat, tetapi ungkapannya terlihat jelas sebagai cermin keramah tamahan penduduk desa Lebeng.

Tidak hanya Mbah Kakung dan Mbah Putri yang terharu mendapat sambutan seperti ini, juga semua anggota rombongan ikut merasakannya, lebih dari itu mereka merasa mendapat kehormatan boleh duduk bersama, dengan orang-orang yang dianggap mereka derajatnya lebih tinggi. Namun perasaan haru dan sungkan segera tenggelam dalam kesibukan makan sarapan, setelah tuan rumah mempersilahkan mencicipi hidangan.

Selesai sarapan, semua rombongan dipersilahkan istirahat sejenak, lalu pak Mantri Guru khusus menghampiri Mbah Kakung.

        “Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan,” kata pak Mantri Guru.

        Meskipun Mbah Kakung belum jelas maksud pak Mantri Guru, ia tidak bertanya, hanya berdiri lalu mengikuti pak Mantri Guru untuk duduk dikursi tamu yang berada di pojok beranda.

Pak Mantri Guru berceritera, kondisi hampir disemua daerah sekarang dalam status perang, ini yang kelak kemudian dinamakan perang kles kedua. Belanda berusaha menjajah Indonesia lagi, sedangkan rakyat mempertahankan kemerdekaannya. Dimana-mana tidak aman, rakyat mati-matian melakukan perlawanan terhadap Belanda. Jalan antara Kesugihan dan Cilacap diputus untuk mengantisipasi pergerakan Belanda supaya tidak masuk ke Cilacap. Sekaligus sebagai jebakaan jika Belanda masuk dari Wangon, mereka akan terperangkap di Cilacap. Maka dari itu pak Mantri Guru menghimbau supaya Mbah Kakung sementara waktu tinggal dulu di desa Lebeng. Desa ini relatif aman, sejak zaman penjajahan Belanda sampai Jepang, desa ini tak terjamah oleh peperangan. Makanya Zending (misi penyebar agama Katholik) berani mendirikan Gereja di desa ini.

Sudah lama pak Mantri Guru kepingin mendirikan semacam tempat untuk pengobatan. Bukan hanya khusus untuk melayani umat Katholik di wilayah yang ia pimpin, terlebih pak Mantri Guru melihat di desa ini masih banyak sekali Rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan yang perlu pengobatan gratis serta penyuluhan kesehatan dan kebersihan lingkungan agar kehidupan mereka lebih baik.

Pak Mantri Guru sanggup membangun poliklinik untuk tempat kerja Mbah Kakung, segala sesuatnya termasuk peralatan dan obat-obatan pak Mantri Guru akan menghubungi relasi-relasinya agar menjadi donatur.

Mbah Kakung bimbang, apakah akan meneruskan perjalanan mengungsi ke Cilacap yang belum jelas kelanjutan nasibnya, atau menerima tawaran pak Mantri Guru.

        “Jangan takut, ini tak ada ikatan dengan Agama, saya hanya ingin mengangkat Rakyat desa ini menjadi pandai dan sehat. Untuk pendidikan saya sudah merintis, tetapi kalau soal kesehatan, memang bukan bidang saya,” kata pak Mantri Guru.

        Selanjutnya pak Mantri Guru berkata, bahwa poliklinik yang bakal didirikan, saat negara telah aman akan diajukan untuk diakui sebagai poliklinik Negeri yang resmi, jadi status Mbah Kakung dan semua karyawan kembali menjadi Pegawai Negeri.

Mbah Kakung memang tak tahu soal politik, tak tahu liku-liku segala macam urusan pemerintah. Mbah Kakung tipikal pekerja keras, pertimbangan Mbah Kakung, cukup tempat untuk bekerja dan ada tempat untuk bernaung bagi keluarga. Kasihan jika anak-anak yang masih kecil harus diseret-seret terus dalam perjalanan yang tidak menentu. Sebab jika pun Mbah Kakung sampai di Cilacap, ia juga belum tahu kondisi kedepannya. Akhirnya tawaran pak Mantri Guru diterima.

Mbah Kakung mengumpulkan rombongan, lalu mengutarakan apa yang menjadi keputusannya. Para relawan disuruh pulang ke Pagak. Demikian juga kang Mislam sebab ia sudah punya anak dan istri di gunung Pagak. Disamping itu kang Mislam dipesan untuk mengamankan aset dan properti kesehatan yang ketika ditinggal ngungsi dititipkan di rumahnya. Jika kelak ada situasi yang memungkinkan, poliklinik bisa beroperasi kembali, kang Mislam disuruh meneruskan pekerjaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...