Pak Mantri ketemu pak Mantri
Esok harinya.
Rombongan Pengungsi sedang berkemas-kemas. Sebagian membenahi barang-barang
yang akan dibawa, sebagian lagi melipat karpet dan membersihkan bekas tempat
mereka tidur. Rencananya Mbah Kakung dan kang Mislam mau menemui Pak Giman
untuk pamitan dan mengucapkan terima kasih. Tetapi belum juga mereka beranjak,
pintu gereja dibuka dari luar, di depan pintu berdiri pak Giman disertai
seorang laki-laki yang kemudian mengenalkan diri bernama pak Mantri Guru.
Kedatangan pak Mantri Guru, untuk mengundang Mbah
Kakung beserta rombongan mampir ke rumahnya untuk makan pagi.
Rupa-rupanya
semalam pak Giman dan pak Sep sempat lapor pada pak Mantri Guru, ada rombongan
pengungsi Mantri Kesehatan dari Pagak, menginap didalam Gereja. Mendengar nama
Mantri Kesehatan dari Gunung Pagak, pak Mantri Guru kaget lalu ingat peristiwa
beberapa tahun yang telah berlalu.
Saat itu pak Mantri Guru sedang berada di
Jeruk Legi. Tengah malam penyakit ashma pak Mantri Guru kambuh. Di sekitar
tempat ia menginap tidak ada Poliklinik, tidak ada dokter, tak ada Paramedis. Seorang
penduduk setempat mengambil inisiatf, menjemput Mbah Kakung ke gunung Pagak.
Menjelang fajar Mbah Kakung baru tiba, untung pak Mantri Guru masih bisa
tertolong. Setelah diobati dan ditunggu sampai masa kritis pak Mantri Guru
terlampaui, Mbah Kakung pamitan pulang ke gunung Pagak. Meskipun banyak orang
mencegah, Mbah Kakung tetap nekat pulang. Mbah Kakung tidak mau terlambat tiba
di gunung Pagak untuk membuka Polikliniknya. Setelah kejadian itu pak Mantri
Guru pernah 2-3 kali mengutus orang mencari Mbah Kakung, namun tidak pernah
ketemu selanjutnya pak Mantri Guru sudah lupa peristiwa yang hampir merenggut
nyawanya. Makanya ketika pak Sep mengatakan Mantri Kesehatan Gunung Pagak, pak
Mantri Guru seperti diingatkan bahwa ia pernah ditolong Mbah Kakung.
“Dimas Mantri lupa sama saya?” tanya pak Mantri guru ketika melihat Mbah
Kakung seperti tidak mengenali dirinya.
Mbah Kakung
berusaha mengingat ingat tetapi tetap tidak ingat siapa pak Mantri Guru ini.
Sudah ribuang pasien ditangani Mbah Kakung, setiap pasien mendapat pelayanan
yang sama, tak ada istilah perbedaan kasta, dirawat dengan tulus ikhlas dengan
jiwa profesi, tak berhasrat mendapat tanda jasa tak ingin mendapat pujian dan
tidak mengharap imbalan, hingga Mbah Kakung cepat melupakan nama atau wajah
pasien, kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya tidak lebih dari 10 prosen.
Rumah pak Mantri
Guru model loji Belanda. Dinding temboknya tebal, dikapur warwna putih bersih,
lantainya ubin warna abu-abu mengkilap, fondasi rumah tinggi, ada sekitar 5-8
undak-undakan untuk naik ke beranda. Pagi hari itu separoh dari beranda yang
cukup luas telah digelari tikar dan diatasnya terhampar hidangan seperti mau
kenduri saja layaknya, ditunggui bu Mantri Guru dan pak Sep. Ketika rombongan
tiba, segera bu Mantri Guru menyongsong Mbah Putri, setelah mengenalkan diri, Mbah
Putri dibimbingnya naik ke beranda. Pak Mantri Guru juga mempersilahkan Mbah
Kakung dan rombongan mengikuti naik keberanda. Tak lama kemudian semua anggota
rombongan sudah duduk mengelilingi hidangan. Pak Mantri Guru, istrinya, pak
Giman dan pak Sep juga membaur dengan tamunya. Sebelum acara makan dimulai, pak
Mantri Guru mengucapkan kata pembuka singkat, tetapi ungkapannya terlihat jelas
sebagai cermin keramah tamahan penduduk desa Lebeng.
Tidak hanya Mbah Kakung dan Mbah Putri yang
terharu mendapat sambutan seperti ini, juga semua anggota rombongan ikut
merasakannya, lebih dari itu mereka merasa mendapat kehormatan boleh duduk
bersama, dengan orang-orang yang dianggap mereka derajatnya lebih tinggi. Namun
perasaan haru dan sungkan segera tenggelam dalam kesibukan makan sarapan,
setelah tuan rumah mempersilahkan mencicipi hidangan.
Selesai sarapan, semua rombongan
dipersilahkan istirahat sejenak, lalu pak Mantri Guru khusus menghampiri Mbah
Kakung.
“Ada sesuatu
yang ingin saya bicarakan,” kata pak Mantri Guru.
Meskipun Mbah
Kakung belum jelas maksud pak Mantri Guru, ia tidak bertanya, hanya berdiri
lalu mengikuti pak Mantri Guru untuk duduk dikursi tamu yang berada di pojok
beranda.
Pak Mantri Guru berceritera, kondisi hampir
disemua daerah sekarang dalam status perang, ini yang kelak kemudian dinamakan
perang kles kedua. Belanda berusaha menjajah Indonesia lagi, sedangkan rakyat
mempertahankan kemerdekaannya. Dimana-mana tidak aman, rakyat mati-matian melakukan perlawanan
terhadap Belanda. Jalan antara Kesugihan dan Cilacap diputus untuk
mengantisipasi pergerakan Belanda supaya tidak masuk ke Cilacap. Sekaligus
sebagai jebakaan jika Belanda masuk dari Wangon, mereka akan terperangkap di
Cilacap. Maka dari itu pak Mantri Guru menghimbau supaya Mbah Kakung sementara
waktu tinggal dulu di desa Lebeng. Desa ini relatif aman, sejak zaman
penjajahan Belanda sampai Jepang, desa ini tak terjamah oleh peperangan.
Makanya Zending (misi penyebar agama Katholik) berani mendirikan Gereja di desa
ini.
Sudah lama pak Mantri Guru kepingin
mendirikan semacam tempat untuk pengobatan. Bukan hanya khusus untuk melayani
umat Katholik di wilayah yang ia pimpin, terlebih pak Mantri Guru melihat di desa ini masih
banyak sekali Rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan yang perlu pengobatan gratis serta
penyuluhan kesehatan dan kebersihan lingkungan agar kehidupan mereka lebih
baik.
Pak Mantri Guru sanggup membangun
poliklinik untuk tempat kerja Mbah Kakung, segala sesuatnya termasuk peralatan
dan obat-obatan pak Mantri Guru akan menghubungi relasi-relasinya agar menjadi
donatur.
Mbah Kakung bimbang, apakah akan meneruskan
perjalanan mengungsi ke Cilacap yang belum jelas kelanjutan nasibnya, atau
menerima tawaran pak Mantri Guru.
“Jangan takut, ini tak ada
ikatan dengan Agama, saya hanya ingin mengangkat Rakyat desa ini menjadi pandai
dan sehat. Untuk pendidikan saya sudah merintis, tetapi kalau soal kesehatan,
memang bukan bidang saya,” kata pak Mantri Guru.
Selanjutnya pak
Mantri Guru berkata, bahwa poliklinik yang bakal didirikan, saat negara telah
aman akan diajukan untuk diakui sebagai poliklinik Negeri yang resmi, jadi
status Mbah Kakung dan semua karyawan kembali menjadi Pegawai Negeri.
Mbah Kakung memang tak tahu soal politik,
tak tahu liku-liku segala macam urusan pemerintah. Mbah Kakung tipikal pekerja
keras, pertimbangan Mbah Kakung, cukup tempat untuk bekerja dan ada tempat untuk
bernaung bagi keluarga. Kasihan jika anak-anak yang masih kecil harus diseret-seret
terus dalam perjalanan yang tidak menentu. Sebab jika pun Mbah Kakung sampai di
Cilacap, ia juga belum tahu kondisi kedepannya. Akhirnya tawaran pak Mantri
Guru diterima.
Mbah Kakung mengumpulkan rombongan, lalu
mengutarakan apa yang menjadi keputusannya. Para relawan disuruh pulang ke
Pagak. Demikian juga kang Mislam sebab ia sudah punya anak dan istri di gunung
Pagak. Disamping itu kang Mislam dipesan untuk mengamankan aset dan properti
kesehatan yang ketika ditinggal ngungsi dititipkan di rumahnya. Jika kelak ada situasi yang memungkinkan,
poliklinik bisa beroperasi kembali, kang Mislam disuruh meneruskan
pekerjaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar