Senin, 13 November 2023

pluit kang parjo

 

Peluit Kang Parjo

 

        Meskipun keluarga kami tidak kaya, namun hidup tenang. Sandang dan pangan lebih dari cukup, malah boleh dikatakan surplus. Makanya tak heran jika banyak orang datang melamar ingin ikut bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau buruh pekerjaan lain.

Karena pertimbangan tempat, Mbah Putri hanya menerima dua orang lagi sebagai pembantu rumah tangga. Yang satu namanya Warti, umurnya masih sebaya dengan mbak Yanti, ia diberi tugas membantu yu War. Dua orang itu nama panggilannya sama hingga kadang-kadang membingungkan yang di panggil. Kalau kami memanggil yu War, yang datang Warti dan begitu sebaliknya, jika kami memanggil Warti yang datang yu War. Karena sering dibuat bingung dibaut kesepakatan, jika panggilannya pakai ‘yu’ berati manggil Yu War, kalau tidak pakai ‘yu’ berati panggil Warti.

Pembantu baru yang satunya, laki-laki namanya Sudarman. Kami memanggilnya Sudar tanpa tambahan kang sebab ia masih muda sekali. Ia diberi tugas mengurusi ternak dan angon kambing.

        Sejak dulu pandangan Mbah Putri sangat moderat, tak mebedakan kedudukan pembantu dan majikan, semua dianggap keluarga sendiri. Yang umurnya sudah lebih dari dewasa dianggap adik, sedangkan yang masih muda dianggap seperti anak sendiri. Bagai masyarakat lokal, hal itu masih baru, oleh karena itu, siapapun yang ikut berkerja di dalam lingkungan keluarga kami menjadi betah. Mereka merasa dihargai sebagai manusia, sebagai imbalannya mereka menjadi lebih loyal. Kepada Mbah Kakung dan Mbah Putri semakin hormat, kepada anak-anaknya semakin sayang. Tiada hari tanpa keceriaan, semua pekerjaan diselesaikan dengan tawa riang, bahu membahu saling tolong, saling mengingatkan.

Kehidupan harmonis, rukun dan bahagia seperti itu, kelak ketika aku sudah dewasa, amat sangat jarang terlihat. Mungkin keluarga yang harmonis seperti itu hanya bisa dijumpai dalam buku novel atau ceritera sinetron. Makanya kenangan indah semasa kecilku sangat lekat di ingatan. Terlebih saat itu aku dan saudara kembarku anak laki-laki yang sedang dimanja, hidup bak anak raja. Di dalam rumah selalu mendapat prioritas pelayanan istimewa, di luar rumah selalu dikawal.

 

        Kata Mbah Putri, ketika kecil aku dan saudara kembarku nakal sekali. Senang mengikuti Sudar angon kambing, sampai dipinggiran rel kereta. Kadang-kadang ikut kang Maryo menggembala kerbaunya pak Mantri Guru sampai pinggiran hutan.

Dan yang paling sering, aku dan kakakku pergi main diam-diam tanpa pamit. Terutama sehabis sekolah, tidak pulang ke rumah dulu tapi terus main mengikuti teman sampai ke rumahnya. Jika ketahuan kami menghilang dan lama tidak pulang langsung dicari. Yang tugas mencari kang Parjo. Uniknya jika mencari, ia naik sepeda sambil membawa peluit.

Aku masih ingat, peluit itu tidak seperti sempritan yang digunakan Polisi atau Juru parkir zaman `sekarang. Peluit itu, dulu banyak digunakan untuk Pandu (sekarang pramuka). Bentuk peluit silinder seperti seruling pendek, besarnya seibu jari, panjangnya sekitar 5 cm warnanya putih, terbuat dari pelat besi yang dikrom.

Sambil mengayuh sepeda sekali-sekali peluit itu dibunyikan. Itu sudah menjadi kesepakatan Mbah Kakung, Mbah Putri, kami dan kang Parjo. Setiap kami dengar peluit itu, artinya kami disuruh pulang, dan kami harus menghampiri kang Parjo, lalu kami berdua dibonceng sepeda dibawa pulang kerumah, yang satu dibonceng dibelakang, yang satu didepan, duduk di palang besi sepeda depan kang Parjo.

Lama kelamaan kami samakin bandel, jika mendengar peluit tetapi kami masih asyik bermain, bukanya menghampiri kang Parjo, malah lari bersembunyi.

Tetapi yang mengherankan, setiap kami ngumpet selalu bisa ditemukan, meskipun sudah bersembunyi di balik rumah atau kandang kerbau milik salah satu penduduk, bahkan bersembunyi dibawah kolong jembatan rel kereta api.

Setelah besar kami baru sadar, sebenarnya bukan pandainya kang Parjo mencari kami, tetapi bunyi peluit itu lama kelamaan menjadi terkenal bagi penduduk desa Lebeng, bunyi peluit itu tanda kang Parjo sedang mencari momongan’ nya, hingga banyak penduduk setempat diam-diam memberi petunjuk dimana kami bersembunyi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...