Peluit Kang Parjo
Meskipun
keluarga kami tidak kaya, namun hidup tenang. Sandang dan pangan lebih dari
cukup, malah boleh dikatakan surplus. Makanya tak heran jika banyak orang
datang melamar ingin ikut bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau buruh
pekerjaan lain.
Karena pertimbangan tempat, Mbah Putri hanya
menerima dua orang lagi sebagai pembantu rumah tangga. Yang satu namanya Warti, umurnya
masih sebaya dengan mbak Yanti, ia diberi tugas membantu yu War. Dua orang itu nama
panggilannya sama hingga kadang-kadang membingungkan yang di panggil. Kalau kami memanggil
yu War, yang datang Warti dan begitu sebaliknya, jika kami memanggil Warti yang datang yu War. Karena sering dibuat bingung dibaut
kesepakatan, jika panggilannya pakai ‘yu’ berati manggil Yu War, kalau tidak
pakai ‘yu’ berati panggil Warti.
Pembantu baru yang satunya, laki-laki
namanya Sudarman. Kami memanggilnya Sudar tanpa tambahan kang sebab ia masih
muda sekali. Ia diberi tugas mengurusi ternak dan angon kambing.
Sejak dulu
pandangan Mbah Putri sangat moderat, tak mebedakan kedudukan pembantu dan
majikan, semua dianggap keluarga sendiri. Yang umurnya sudah lebih dari dewasa
dianggap adik, sedangkan yang masih muda dianggap seperti anak sendiri. Bagai
masyarakat lokal, hal itu masih baru, oleh karena itu, siapapun yang ikut
berkerja di dalam lingkungan keluarga kami menjadi betah. Mereka merasa
dihargai sebagai manusia, sebagai imbalannya mereka menjadi lebih loyal. Kepada
Mbah Kakung dan Mbah Putri semakin hormat, kepada anak-anaknya semakin sayang.
Tiada hari tanpa keceriaan, semua pekerjaan diselesaikan dengan tawa riang,
bahu membahu saling tolong, saling mengingatkan.
Kehidupan harmonis, rukun dan bahagia
seperti itu, kelak ketika aku sudah dewasa, amat sangat jarang terlihat.
Mungkin keluarga yang harmonis seperti itu hanya bisa dijumpai dalam buku novel
atau ceritera sinetron. Makanya kenangan indah semasa kecilku sangat lekat di
ingatan. Terlebih saat itu aku dan saudara kembarku anak laki-laki yang sedang dimanja, hidup bak anak raja. Di dalam rumah selalu mendapat prioritas pelayanan
istimewa, di luar rumah selalu dikawal.
Kata Mbah Putri,
ketika kecil aku dan saudara
kembarku nakal sekali. Senang mengikuti Sudar angon
kambing, sampai dipinggiran rel kereta. Kadang-kadang ikut kang Maryo
menggembala kerbaunya pak Mantri Guru sampai pinggiran hutan.
Dan yang paling sering, aku dan kakakku pergi
main diam-diam tanpa pamit. Terutama
sehabis sekolah, tidak pulang ke rumah dulu tapi terus main
mengikuti teman sampai ke rumahnya. Jika ketahuan kami menghilang dan lama
tidak pulang langsung dicari. Yang tugas mencari kang Parjo. Uniknya jika mencari, ia
naik sepeda sambil membawa peluit.
Aku masih ingat, peluit itu tidak seperti
sempritan yang digunakan Polisi atau Juru parkir zaman `sekarang. Peluit itu,
dulu banyak digunakan untuk Pandu (sekarang pramuka). Bentuk peluit silinder
seperti seruling pendek, besarnya seibu jari, panjangnya sekitar 5 cm warnanya
putih, terbuat dari pelat besi yang dikrom.
Sambil mengayuh sepeda sekali-sekali peluit
itu dibunyikan. Itu sudah menjadi kesepakatan Mbah Kakung, Mbah Putri, kami dan kang Parjo. Setiap kami dengar peluit itu, artinya kami disuruh
pulang, dan kami harus menghampiri kang Parjo, lalu kami berdua dibonceng
sepeda dibawa pulang kerumah, yang satu dibonceng dibelakang, yang satu didepan, duduk di palang besi
sepeda depan kang Parjo.
Lama kelamaan kami samakin bandel, jika
mendengar peluit tetapi kami masih asyik bermain, bukanya menghampiri kang
Parjo, malah lari bersembunyi.
Tetapi yang mengherankan, setiap kami ngumpet
selalu bisa ditemukan, meskipun sudah bersembunyi di balik rumah atau kandang
kerbau milik salah satu penduduk, bahkan bersembunyi dibawah kolong jembatan rel kereta api.
Setelah besar kami baru sadar, sebenarnya
bukan pandainya kang Parjo mencari kami, tetapi bunyi peluit itu lama kelamaan menjadi terkenal bagi
penduduk desa Lebeng, bunyi peluit itu tanda kang Parjo sedang mencari ‘momongan’ nya, hingga
banyak penduduk setempat diam-diam memberi petunjuk dimana kami bersembunyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar