Pasar Lebeng
Di desa Lebeng
juga ada pasar, letaknya tak jauh dengan Setatsiun kereta api. Pasar Lebeng itu
ramainya hanya lima hari sekali, jatuh pada hari yang memakai nama Manis atau
Legi menurut kalender Jawa. Misalnya hari pasaran jatuh hari Minggu Legi,
ketemu hari pasaran lagi di hari Jumat Legi, selanjutnya jatuh pasaran berikutnya
di hari Rabu Legi dan begitu seterusnya.
Saat hari pasaran, banyak pedagang dari
luar Lebeng datang, ikut menggelar dagangan hingga menambah ramai dan padatnya
pasar. Biasanya pedagang musiman itu menjual barang produk baru. Yang aku masih
ingat, Mbah Putri pernah membelikan aku pasta gigi, tetapi bentuknya tidak
seperti odol zaman sekarang. Pasta gigi yang kalau tidak salah nama merek
dagangnya Gibs. Bentuknya padat, warnanya putih, kemasannya kaleng bulat,
persis semir sepatu.
Selain pedagang, ada juga tontonan untuk
hiburan, ikut memeriahkan suasana hari pasaran. Ada dua macam pertunjukan,
yakni yang gratis dan yang dipungut bayaran.
Pertunjukan yang gratis, biasanya
ditampilkan oleh penjual obat. Umumnya mereka mencari tempat yang terbuka.
Beraneka cara mereka menyajikan pertunjukkan untuk menarik massa supaya
berkumpul, mulai dari sulap, akrobat sampai kekuatan fisik. Ada juga yang
menggunakan binatang seperti ular besar, kalajengking dan binatang berbisa lain
yang identik dengan racun dan kekebalan. Setelah banyak orang berkumpul
mengelelilingi tempat pertunjukan, baru penjual obat berteriak-teriak
propaganda, menawarkan barang dagangannya.
Pertunjukan yang tidak gratis, artinya
penonton harus membayar, biasanya mengambil tempat yang tertutup atau
mendirikan semacam tenda. Biasanya yang dipertontonkan binatang yang aneh-aneh, seperti kambing
berkepala dua, sapi berkaki lima, angsa berkaki tiga dan binatang unik yang
lainnya.
Yang masih aku
ingat, aku pernah diajak yu War nonton buaya raksasa di pasar Lebeng.
Setelah membayar karcis, kami masuk ke
dalam bilik yang dikelilingi gedek tidak pakai atap. Di dalam bilik itu ada
panggung pendek dikelilingi tali, bentuknya seperti ring tinju. Di atas
panggung itu ada buaya besar, panjang tubuh, dari ujung hidung sampai ujung
ekor sekitar 6 m. mulut dan kaki-kakinya diikat dengan tali.
Setelah pengunjung banyak berdiri
mengelilingi panggung, seorang pembawa acara naik ke panggung, selanjutnya ia berceritera.
Buaya raksasa
itu asalya dari sungai Serayu. Konon ceriteranya, ada putri anak seorang
Demang. Ia kegemarananya makan nasi yang masih tersisa di kukusan. Kebiasaan
penduduk setempat jika masak nasi, menggunakan dandang dan kukusan, setelah
nasi masak, diambil dan dipindah ke cething, bakul tempat nasi. Karena berasnya
pulen biasanya masih banyak nasi lengket dan tertinggal dikukusan.
Menurut kepercayaan penduduk sepanjang
sungai Serayu, makan nasi yang tertinggal di kukusan, dan juga kukusan
digunakan sebagai caping, tudung kepala, pemali atau tabu, bisa menjadi mangsa
buaya.
Putri Demang tidak percaya larangan itu.
Putri itu sudah sering ditegor, tetapi tidak pernah peduli. Sampai suatu hari,
ia mandi di sungai Serayu, dan benar, ia ditelan buaya.
Hari itu juga Pak Demang, memanggil pawang buaya untuk mencari buaya yang memangsa Putrinya. Tetapi sudah sepasar lebih Pawang itu tidak bisa menemukan buruannya.
Sampai akhirnya Pawang buaya menggunakan mantra dan persyaratan terakhir.
Dipancingnya buaya itu memakai umpan seekor monyet hidup yang ditali pada ujung
bambu besar sebagai kailnya. Pawang itu mempertaruhkan kesaktiannya. Dengan
umpan monyet hidup, buaya cepat tertangkap, namun jika gagal, buaya tidak mau
muncul dan monyet yang menjadi umpan mati karena kedinginan, maka kesaktian
sebagai pawang buaya hilang. Untuk menjadi pawang buaya lagi, ia harus
memulihkan kesaktiannya dengan jalan bertapa dulu selama 5 tahun.
Sayang Pawang
itu gagal menangkap buaya yang telah menelan putri Demang. Ia harus rela
menjadi manusia biasa atau bertapa agar kembali menjadi Pawang buaya.
Melihat kegagalan pawang buaya, pak Demang
itu panas hatinya, lalu pergi ke sebuah kedung dimana buaya itu diperkirakan
sembunyi. Dengan hanya membawa seutas tali ia terjun kedalam sungai, masuk
kesarang buaya dan akhirnya bisa menangkapnya.
Sebagai hukuman, buaya tidak dibunuh,
melainkan semua rakyatnya disuruh melihat, agar buaya ini malu. Dan sekarang
buaya ini diperbolehkan dibawa keliling dari desa satu ke desa lain, sebagai
barang tontonan. Begitu kata presenter mengakhiri ceriteranya.
Hening,
pengunjung masih tetap berdiri, termangu-mangu memandang buaya, sambil ikut
merasakan kesedihan bagai mana penderitaan dua korbannya, putri Demang yang
malang ditelan buaya dan Pawang buaya yang ilmunya hilang.
Penonton baru tersentak ketika Pemandu
acara mempersilahkan keluar, dan pengunjung pun digiring keluar bilik untuk
gantian dengan pengujung lain yang sudah antri.
Ini contoh tontonan klasik, meski yang
ditonton hanya seekor buaya tetapi pandainya pembawa acara berceritera,
penonton merasa puas, tidak merasa dibohongi.
Ceritera itu selalu teringat, sebab yu War
sering mendongeng buaya sungai Serayu itu ketika menemani aku tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar