Senin, 13 November 2023

pasar lebeng

 

Pasar Lebeng

Di desa Lebeng juga ada pasar, letaknya tak jauh dengan Setatsiun kereta api. Pasar Lebeng itu ramainya hanya lima hari sekali, jatuh pada hari yang memakai nama Manis atau Legi menurut kalender Jawa. Misalnya hari pasaran jatuh hari Minggu Legi, ketemu hari pasaran lagi di hari Jumat Legi, selanjutnya jatuh pasaran berikutnya di hari Rabu Legi dan begitu seterusnya.

Saat hari pasaran, banyak pedagang dari luar Lebeng datang, ikut menggelar dagangan hingga menambah ramai dan padatnya pasar. Biasanya pedagang musiman itu menjual barang produk baru. Yang aku masih ingat, Mbah Putri pernah membelikan aku pasta gigi, tetapi bentuknya tidak seperti odol zaman sekarang. Pasta gigi yang kalau tidak salah nama merek dagangnya Gibs. Bentuknya padat, warnanya putih, kemasannya kaleng bulat, persis semir sepatu.

Selain pedagang, ada juga tontonan untuk hiburan, ikut memeriahkan suasana hari pasaran. Ada dua macam pertunjukan, yakni yang gratis dan yang dipungut bayaran.

Pertunjukan yang gratis, biasanya ditampilkan oleh penjual obat. Umumnya mereka mencari tempat yang terbuka. Beraneka cara mereka menyajikan pertunjukkan untuk menarik massa supaya berkumpul, mulai dari sulap, akrobat sampai kekuatan fisik. Ada juga yang menggunakan binatang seperti ular besar, kalajengking dan binatang berbisa lain yang identik dengan racun dan kekebalan. Setelah banyak orang berkumpul mengelelilingi tempat pertunjukan, baru penjual obat berteriak-teriak propaganda, menawarkan barang dagangannya.

Pertunjukan yang tidak gratis, artinya penonton harus membayar, biasanya mengambil tempat yang tertutup atau mendirikan semacam tenda. Biasanya yang dipertontonkan binatang yang aneh-aneh, seperti kambing berkepala dua, sapi berkaki lima, angsa berkaki tiga dan binatang unik yang lainnya.

 

        Yang masih aku ingat, aku pernah diajak yu War nonton buaya raksasa di pasar Lebeng.

Setelah membayar karcis, kami masuk ke dalam bilik yang dikelilingi gedek tidak pakai atap. Di dalam bilik itu ada panggung pendek dikelilingi tali, bentuknya seperti ring tinju. Di atas panggung itu ada buaya besar, panjang tubuh, dari ujung hidung sampai ujung ekor sekitar 6 m. mulut dan kaki-kakinya diikat dengan tali.

Setelah pengunjung banyak berdiri mengelilingi panggung, seorang pembawa acara naik ke panggung, selanjutnya ia berceritera.

 

        Buaya raksasa itu asalya dari sungai Serayu. Konon ceriteranya, ada putri anak seorang Demang. Ia kegemarananya makan nasi yang masih tersisa di kukusan. Kebiasaan penduduk setempat jika masak nasi, menggunakan dandang dan kukusan, setelah nasi masak, diambil dan dipindah ke cething, bakul tempat nasi. Karena berasnya pulen biasanya masih banyak nasi lengket dan tertinggal dikukusan.

Menurut kepercayaan penduduk sepanjang sungai Serayu, makan nasi yang tertinggal di kukusan, dan juga kukusan digunakan sebagai caping, tudung kepala, pemali atau tabu, bisa menjadi mangsa buaya.

Putri Demang tidak percaya larangan itu. Putri itu sudah sering ditegor, tetapi tidak pernah peduli. Sampai suatu hari, ia mandi di sungai Serayu, dan benar, ia ditelan buaya.

Hari itu juga Pak Demang, memanggil pawang buaya untuk mencari buaya yang memangsa Putrinya. Tetapi sudah sepasar lebih Pawang itu tidak bisa menemukan buruannya. Sampai akhirnya Pawang buaya menggunakan mantra dan persyaratan terakhir. Dipancingnya buaya itu memakai umpan seekor monyet hidup yang ditali pada ujung bambu besar sebagai kailnya. Pawang itu mempertaruhkan kesaktiannya. Dengan umpan monyet hidup, buaya cepat tertangkap, namun jika gagal, buaya tidak mau muncul dan monyet yang menjadi umpan mati karena kedinginan, maka kesaktian sebagai pawang buaya hilang. Untuk menjadi pawang buaya lagi, ia harus memulihkan kesaktiannya dengan jalan bertapa dulu selama 5 tahun.

        Sayang Pawang itu gagal menangkap buaya yang telah menelan putri Demang. Ia harus rela menjadi manusia biasa atau bertapa agar kembali menjadi Pawang buaya.

Melihat kegagalan pawang buaya, pak Demang itu panas hatinya, lalu pergi ke sebuah kedung dimana buaya itu diperkirakan sembunyi. Dengan hanya membawa seutas tali ia terjun kedalam sungai, masuk kesarang buaya dan akhirnya bisa menangkapnya.

Sebagai hukuman, buaya tidak dibunuh, melainkan semua rakyatnya disuruh melihat, agar buaya ini malu. Dan sekarang buaya ini diperbolehkan dibawa keliling dari desa satu ke desa lain, sebagai barang tontonan. Begitu kata presenter mengakhiri ceriteranya.

 

        Hening, pengunjung masih tetap berdiri, termangu-mangu memandang buaya, sambil ikut merasakan kesedihan bagai mana penderitaan dua korbannya, putri Demang yang malang ditelan buaya dan Pawang buaya yang ilmunya hilang.

Penonton baru tersentak ketika Pemandu acara mempersilahkan keluar, dan pengunjung pun digiring keluar bilik untuk gantian dengan pengujung lain yang sudah antri.

Ini contoh tontonan klasik, meski yang ditonton hanya seekor buaya tetapi pandainya pembawa acara berceritera, penonton merasa puas, tidak merasa dibohongi.

Ceritera itu selalu teringat, sebab yu War sering mendongeng buaya sungai Serayu itu ketika menemani aku tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...