Senin, 13 November 2023

panci lux

 

Panci Lux

 

Ceritera Mbah Putri: “Ada tempat masakan yang dinamakan Panci Lux. Kita pernah mendapat kiriman gulai kambing yang ditempatkan di Panci Lux.”

       

        Suatu ketika disuatu hari pasaran, di pasar Lebeng heboh dengan munculnya barang baru yang dinamakan sabun Lux. Katanya sabun ini sabun yang paling modern, karena termakan propaganda, barang itu laris. Tidak hanya sabunnya yang menjadi populer tetapi kata ‘Lux’ berubah menjadi atribut untuk menunjuk barang-barang yang berbau modern atau yang berkualitas baik. Misalnya kursi yang bagus, enak diduduki disebut Kursi Lux. Sepeda yang baru, cat dan kromnya masih mengkilap disebut Sepeda Lux, buku tulis yang kertasnya halus disebut buku lux dan lain semacam itu.

 

        Haji Kohar juga orang terkenal, juga kaya. Ladangnya seperti hutan saking luasnya, sawahnya berpetak-petak, ternak kambing dan itiknya banyak. Sebenarnya ia tinggal di distrik Karang Kandri. Di sana juga ada poliklinik, tetapi suatu hari pak Haji diantar dua orang pembantunya berobat ke poliklinik Lebeng.

Pak Haji punya penyakit kulit, semacam eksim di kakinya yang tidak pernah sembuh. Kata pak Haji, ia sudah bosan berobat, malahan pernah berobat ke kota-kota besar, tetapi penyakitnya masih setia nempel di kakinya. Mendengar ada Mantri ampuh di Poliklinik Lebeng, pak Haji ingin mencoba berobat.

Karena Haji Kohar datangnya sudah agak siang, maka pak Haji dapat giliran periksa terakhir. Dengan sabar pak Haji duduk di bangku kayu yang disediakan untuk pasien menunggu. Kang Kasim membisiki Mbah Kakung untuk mendahulukan memeriksa pak Haji, tetapi Mbah Kakung hanya menggelengkan kepala, tidak peduli, semua harus tetap menurut giliran. Bahkan beberapa pasien rela dilewati gilirannya, untuk memberi kesempatan haji kondang dari Karang Kandri diperiksa duluan, tetapi Mbah Kakung memerintah mbak Yanti untuk tetap tidak merubah giliran Pasien.

        Sepertinya pak Haji juga paham akan peraturan, ia tenang-tenang saja sabar menunggu giliran. Hampir bubaran Poliklinik, pak haji mendapat pengobatan. Setelah selesai diobati pak Haji membayar ongkos pengobatan sesuai tarif yang resmi. Rupanya kiyai dari Karang Kandri sudah mendengar tentang bayar uang pas.

Beberapa hari kemudian Haji Kohar berobat ulang, ia sangat berterima kasih karena penyakitnya mengalami kemajuan pesat. Sekarang eksimnya sudah kering tak berair lagi.

Zaman itu obat untuk penyakit kulit masih sangat terbatas. Selain memberi obat standard seperti jenis sulfa dan permanganat untuk kompres, Mbah Kakung juga memberi resep ramuan Jawa, yakni buah tempaya, sejenis biji jambe atau pinang yang sudah kering ditambah belerang yang masih berupa batu, lalu ditumbuk sampai halus, kemudian tambah minyak kelapa murni, panaskan di atas tempurung kelapa yang sudah tua, sampai meleleh menjadi cairan kental. Setiap mau tidur oleskan diatas eksimnya, begitu dosisnya.

Entah sugesti, apa obat klinik atau obat tradisionil yang membuat penyakit pak Haji Kohar sembuh. Dan seperti biasa Kiyai Karang Kandri pulang berobat setelah membayar pengobatan dengan uang pas.

 

        “Bukan mengharap, juga bukan ngrasani, sebenarnya pak Haji yang kaya itu sengaja mengikuti peraturan atau memang benar-benar kikir,” begitu bathin Mbah Putri, sebab sering terdengar slentingan, Haji Kohar orangnya pelit.

        Tetapi ternyata kabar itu tidak benar. Saat poliklinik sudah bubaran, Mbah Kakung dan Mbah Putri sedang duduk dikursi makan, yu War muncul dari dapur.

        “Kok beli telor bebek banyak, apa mau dibikin telor asin?” tanya yu War sambil menunjukkan telor itik sekranjang penuh.

        Mbah Putri memang pandai membuat telor asin, aku masih ingat resepnya. Batu bata ditumbuk, diayak sampai halus. Tepung bubukan batu merah itu lalu dicampur dengan garam, kemudian adonan ini dicampur dengan telor bebek yang sudah dicuci bersih, selanjutnya dimasukkan kedalam guci Cina. Dirumah ada 5 guci Cina yang khusus untuk membuat telor asin. Guci itu dindingnya tebal, terbuat dari keramik, tinggi sekitar 50 cm penampang antara 20-30 cm dinding bagian dalam kasar, tetapi yang bagian luar halus, tak ada ornamen atau gambar, warnanya polos, ada yang putih, biru dan coklat tua. Karena Mbah Putri sering membuat telor asin, maka tak heran jika suatu waktu Mbah Putri membeli telor bebek dalam jumlah banyak. Tetapi kali ini Mbah Putri merasa tidak beli telor bebek. Makanya Mbah Putri menoleh pada Mbah Kakung. Mbah Kakung dan Mbah Putri saling pandang dan saling menggeleng merasa tidak membeli. Tetapi Mbah Putri yang terkenal punya indra ke enam (perasaannya tajam) segera tanggap.

        “Oh telor kiriman dari Karang Kandri? Ya boleh dibikin telor asin,” kata Mbah Putri.

        “Maaf pak Kiyai, saya dosa, sudah negative thingking,” kata Mbah Putri dalam hati.

        Kurang lebih 2 bulan, kira-kira 4-5 kali berobat ulang, penyakit kulit pak Haji Khohar total sembuh, hanya bekasnya saja yang masih kelihatan putih-putih. Mbah Kakung menyarankan agar bekasnya itu rajin diolesi unthuk bathok. Cara membuatnya, tempurung kelapa yang tua atau sepotong kayu yang keras, ujungnya dibakar. Setelah membara, nanti di bagian pangkal atau sisinya keluar buih, itulah yang dinamakan unthuk bathok yang berkhasiat menormalkan warna kulit.

        Seperti biasa, setiap habis mengobati kiyai Karang Kandri, yu War selalu menemukan bahan makanan dalam jumlah banyak di dapur. Ada kalanya beras ketan, ada juga gula merah dan macam-macam bahan pangan lain seperti itu. Meskipun Mbah Kakung sudah menegor dengan hormat, namun barang-barang itu selalu bisa lolos dari pengawasan Mbah Putri dan yu War.

 

        Suatu hari datang sorang utusan dari keluarga kiyai Karang Kandri sambil diiringi 4 orang membawa 2 buah jodang penuh makanan. Jodang bentuknya seperti peti panjang tanpa penutup. Lebih tepat membayangkan bentuk dan panjang jodang, seperti dipan atau tempat tidur ukuran singgel. Kakinya pendek, sisi kanan dan kiri agak tinggi, sekitar 30 cm biasanya berupa ukiran jeruji. Sisi depan dan belakang lebih tinggi lagi, ditatah membentuk ornamen sedemikian rupa sehingga tepi bagian atas membentuk segitiga atau seperti gunungan. Dibawah puncak gunung ada lubag agak besar. Lubang ini gunanya untuk dimasuki bambu panjang, membujur dari belakang sampai ke depan jodang. Dengan bambu ini jodang bisa dipikul.

Jika mengirim makanan dengan jodang, biasanya diatasnya ditutupi dengan kain berenda, seperti gorden atau sprei yang pinggirannya berumbai-rumbai panjang. Kain itu disampirkan pada bambu pemikulnya. Setelah makanan diserah terimakan, tempat makanan atau piring yang kosong dimasukkan kembali kedalam jodang, lalu jodang itu dibawa kembali ke pemiliknya.

Tidak semua penduduk mempunyai jodang, hanya orang kaya yang punya jodang, ia merupakan simbul status. Yang punya jodang orang terhormat dan yang dikirimi makanan juga hanya orang-orang pilihan.

Baru kali itu keluarga kami mendapat kiriman jodang apa lagi sekali gus dua buah jodang, hampir seluruh penghuni rumah mengermuninya ingin tau apa isinya.

Sesuai adat, sebelum jodang diserahkan, utusan itu menyampaikan amanah. Katanya, Haji Kohar punya hajat khitanan beberapa cucunya dan sekligus syukuran, usaha pertanian dan perternakannya tambah maju.

Setelah jodang diserahkan, yu War dan mbak Yanti dibantu anak-anak dan orang lain yang mengerumuni disekitar situ sibuk memindah mindahkan makanan khas hajatan daerah Banyumas. Mulai dari makanan ringan, ada jadah, wajik, kembang goyang, rengginan dan masih banyak cemilan lain semacam itu. Ada jajan pasar seperti kacang rebus, tales, gembili, uwi dan lain makanan seperti itu. Ditambah lagi makanan berat, ada nasi, ikan gurameh, panggang ayam dan masih banyak lauk-lauk dan sayur lainnya.

Suasana riang, penuh canda, celoteh anak-anak sambil ikut-ikutan sibuk membantu yu War, mengundang senyum orang yang menjadi utusan kiyai Karang Kandri lalu katanya:

        “Hati-hati jangan sampai tumpah, ada gulai kambing ditematkan di Panci lux. Panci itu masih gres, baru kemarin dibeli.”

        “Yang mana?” Tanya yu War penasaran.

        “Itu di pojok jodang, ditutupi daun pisang,” kata utusan dari Karang Kandri.

        Yu War membuka penutup daun pisang yang lebar, lalu hati-hati mengangkat panci lux yang ditunjuk utusan Haji Kohar. Tetapi ketika panci lux diangkat keatas dan semua yang berada disitu melihat panci lux, spontan meledak tawanya.

        Ya ampun itu kan pispot namanya.

        Tetapi sebelum ada yang melontarkan kata-kata itu, Mbah Putri sudah mendahuli menghardik anak-anak:

        “Apa yang kalian tertawakan? Ayo cepat ganti tempatnya.”

 

        Malam harinya, ketika kami sekeluarga kumpul makan malam. Kalau sedang ngumpul semua begini, kami menggelar tikar, apa lagi kali ini hidangannya banyak, bermacam-macam dan lauknya komplit, semua kiriman dari Karang Kandri. Seperti sedang pesta saja layaknya. Pas makan malam mau dimulai pas kang Kasim datang.

        “Ayo Sim kesini, sekalian makan,” kata Mbah Putri.

Kang Kasim memang tak pernah membantah perintah baik Mbah Kakung maupun Mbah Putri, apalagi perintah makan. Dengan patuh kang Kasim segera bergabung makan malam.

Tak lama kemudian muncul yu War dari dapur, membawa basi (semacam bejana besar, bentuknya oval terbuat dari keramik) sambil berkata:

        “Ini gulai kambingnya…”

        Belum selesai yu War bicara, anak anak sepontan menjawab:

        “Enggak, enggak,” sambil menutup mulutnya.

        Yu War tersenyum, sambil mau balik ke dapur. Tiba-tiba kang Kasim berdiri dari duduknya lalu katanya:

        “Tunggu, gulai kambing ya? Aku mau.”

        Kang kasim lalu mendekati yu War sambil membawa piring nasinya. Setelah diambilkan gulai kambing, kang Kasim kembali duduk, menerusklan makannya. Semua yang ada disitu memandangi kang Kasim. Tetapi ia terus saja makan, tak merasa semua sedang memperhatikan.

        “Enak Sim?” tanya Mbah Putri.

        “Eunak sekali,” kata Kasim sambil terus melahap nasinya.

        “Nggak bau urin?” tanya mbak Yanti.

        “Ah ngawur saja, ya bau gulai, enak, empuk.”

        Selesai makan, mbak Yanti ceritera, itu tadi gulainya diwadahi pispot. Dan semua yang ada disutu tertawa, kecuali kang Kasim.

Aku sedikit-sedikit masih ingat peristiwa itu, malah kalau enggak salah ingatan, esok sore hari aku ikut yu War mewakili Mbah Putri nyumbang ke pesta khitanan cucu haji Kohar. Dan pulangnya, karena sudah malam, kami diantar beberapa orang sambil membawa obor sampai rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...