Panci Lux
Ceritera Mbah
Putri: “Ada tempat masakan yang dinamakan Panci Lux. Kita pernah mendapat
kiriman gulai kambing yang ditempatkan di Panci Lux.”
Suatu ketika disuatu
hari pasaran, di pasar Lebeng heboh dengan munculnya barang baru yang dinamakan
sabun Lux. Katanya sabun ini sabun yang paling modern, karena termakan
propaganda, barang itu laris. Tidak hanya sabunnya yang menjadi populer tetapi
kata ‘Lux’ berubah menjadi atribut untuk menunjuk barang-barang yang berbau
modern atau yang berkualitas baik. Misalnya kursi yang bagus, enak diduduki
disebut Kursi Lux. Sepeda yang baru, cat dan kromnya masih mengkilap disebut Sepeda Lux, buku
tulis yang kertasnya halus disebut buku lux dan lain semacam itu.
Haji Kohar juga
orang terkenal, juga kaya. Ladangnya seperti hutan saking luasnya, sawahnya
berpetak-petak, ternak kambing dan itiknya banyak. Sebenarnya ia tinggal di
distrik Karang Kandri. Di sana juga ada poliklinik, tetapi suatu hari pak Haji
diantar dua orang pembantunya berobat ke poliklinik Lebeng.
Pak Haji punya penyakit kulit, semacam
eksim di kakinya yang tidak pernah sembuh. Kata pak Haji, ia sudah bosan
berobat, malahan pernah berobat ke kota-kota besar, tetapi penyakitnya masih
setia nempel di kakinya. Mendengar ada Mantri ampuh di Poliklinik Lebeng, pak
Haji ingin mencoba berobat.
Karena Haji Kohar datangnya sudah agak
siang, maka pak Haji dapat giliran periksa terakhir. Dengan sabar pak Haji
duduk di bangku kayu yang disediakan untuk pasien menunggu. Kang Kasim
membisiki Mbah Kakung untuk mendahulukan memeriksa pak Haji, tetapi Mbah Kakung
hanya menggelengkan kepala, tidak peduli, semua harus tetap menurut
giliran. Bahkan beberapa pasien rela dilewati gilirannya, untuk memberi
kesempatan haji kondang dari Karang Kandri diperiksa duluan, tetapi Mbah Kakung
memerintah mbak Yanti untuk tetap tidak merubah giliran Pasien.
Sepertinya pak
Haji juga paham akan peraturan, ia tenang-tenang saja sabar menunggu giliran. Hampir bubaran
Poliklinik, pak haji mendapat pengobatan. Setelah selesai diobati pak Haji
membayar ongkos pengobatan sesuai tarif yang resmi. Rupanya kiyai dari Karang
Kandri sudah mendengar tentang bayar uang pas.
Beberapa hari
kemudian Haji Kohar berobat ulang, ia sangat berterima
kasih karena penyakitnya mengalami kemajuan pesat. Sekarang eksimnya sudah
kering tak berair lagi.
Zaman itu obat untuk penyakit kulit masih
sangat terbatas. Selain memberi obat standard seperti jenis sulfa dan
permanganat untuk kompres, Mbah Kakung juga memberi resep ramuan Jawa, yakni
buah tempaya, sejenis biji jambe atau pinang yang sudah kering ditambah
belerang yang masih berupa batu, lalu ditumbuk sampai halus, kemudian tambah
minyak kelapa murni, panaskan di atas tempurung kelapa yang sudah tua, sampai
meleleh menjadi cairan kental. Setiap mau tidur oleskan diatas eksimnya, begitu
dosisnya.
Entah sugesti, apa obat klinik atau obat tradisionil yang membuat penyakit pak Haji Kohar sembuh. Dan
seperti biasa Kiyai Karang Kandri pulang berobat setelah
membayar pengobatan dengan uang pas.
“Bukan
mengharap, juga bukan ngrasani,
sebenarnya pak Haji yang kaya itu sengaja mengikuti peraturan atau memang benar-benar
kikir,” begitu bathin Mbah Putri, sebab sering terdengar slentingan, Haji Kohar
orangnya pelit.
Tetapi ternyata kabar itu tidak
benar. Saat poliklinik sudah bubaran, Mbah Kakung dan Mbah Putri sedang duduk
dikursi makan, yu War muncul dari dapur.
“Kok beli telor
bebek banyak, apa mau dibikin telor asin?” tanya yu War sambil menunjukkan
telor itik sekranjang penuh.
Mbah Putri
memang pandai membuat telor asin, aku masih ingat resepnya. Batu bata ditumbuk,
diayak sampai halus. Tepung bubukan batu merah itu lalu dicampur dengan garam,
kemudian adonan ini dicampur dengan telor bebek yang sudah dicuci bersih,
selanjutnya dimasukkan kedalam guci Cina. Dirumah ada 5 guci Cina yang khusus
untuk membuat telor asin. Guci itu dindingnya tebal, terbuat dari keramik,
tinggi sekitar 50 cm penampang antara 20-30 cm dinding bagian dalam kasar,
tetapi yang bagian luar halus, tak ada ornamen atau gambar, warnanya polos, ada
yang putih, biru dan coklat tua. Karena Mbah Putri sering membuat telor asin,
maka tak heran jika suatu waktu Mbah Putri membeli telor bebek dalam jumlah
banyak. Tetapi kali ini Mbah Putri merasa tidak beli telor bebek. Makanya Mbah
Putri menoleh pada Mbah Kakung. Mbah Kakung dan Mbah Putri saling pandang dan
saling menggeleng merasa tidak membeli. Tetapi Mbah Putri yang terkenal punya
indra ke enam (perasaannya tajam) segera tanggap.
“Oh telor
kiriman dari Karang Kandri? Ya boleh dibikin telor asin,” kata Mbah Putri.
“Maaf pak Kiyai,
saya dosa, sudah negative thingking,” kata Mbah Putri dalam hati.
Kurang lebih 2
bulan, kira-kira 4-5 kali berobat ulang, penyakit kulit pak Haji Khohar total
sembuh, hanya bekasnya saja yang masih kelihatan putih-putih. Mbah Kakung
menyarankan agar bekasnya itu rajin diolesi unthuk bathok. Cara
membuatnya, tempurung kelapa yang tua atau sepotong kayu yang keras, ujungnya
dibakar. Setelah membara, nanti di bagian pangkal atau sisinya keluar buih,
itulah yang dinamakan unthuk bathok yang berkhasiat menormalkan warna kulit.
Seperti biasa,
setiap habis mengobati kiyai Karang Kandri, yu War selalu menemukan bahan
makanan dalam jumlah banyak di dapur. Ada kalanya beras ketan, ada juga gula
merah dan macam-macam bahan pangan lain seperti itu. Meskipun Mbah Kakung sudah
menegor dengan hormat, namun barang-barang itu selalu bisa ‘lolos’ dari pengawasan Mbah
Putri dan yu War.
Suatu hari
datang sorang utusan dari keluarga kiyai Karang Kandri sambil diiringi 4 orang
membawa 2 buah jodang penuh makanan. Jodang bentuknya seperti peti panjang
tanpa penutup. Lebih tepat membayangkan bentuk dan panjang jodang, seperti
dipan atau tempat tidur ukuran singgel. Kakinya pendek, sisi kanan dan kiri
agak tinggi, sekitar 30 cm biasanya berupa ukiran jeruji. Sisi depan dan
belakang lebih tinggi lagi, ditatah membentuk ornamen sedemikian rupa sehingga
tepi bagian atas membentuk segitiga atau seperti gunungan. Dibawah puncak
gunung ada lubag agak besar. Lubang ini gunanya untuk dimasuki bambu panjang,
membujur dari belakang sampai ke depan jodang. Dengan bambu ini jodang bisa
dipikul.
Jika mengirim makanan dengan jodang,
biasanya diatasnya ditutupi dengan kain berenda, seperti gorden atau sprei yang
pinggirannya berumbai-rumbai panjang. Kain itu disampirkan pada bambu
pemikulnya. Setelah makanan diserah terimakan, tempat makanan atau piring yang
kosong dimasukkan kembali kedalam jodang, lalu jodang itu dibawa kembali ke
pemiliknya.
Tidak semua penduduk mempunyai jodang,
hanya orang kaya yang punya jodang, ia merupakan simbul status. Yang punya
jodang orang terhormat dan yang dikirimi makanan juga hanya orang-orang pilihan.
Baru kali itu keluarga kami mendapat
kiriman jodang apa lagi sekali gus dua buah jodang, hampir seluruh penghuni rumah
mengermuninya ingin tau apa isinya.
Sesuai adat, sebelum jodang diserahkan,
utusan itu menyampaikan amanah. Katanya, Haji Kohar punya hajat khitanan
beberapa cucunya dan sekligus syukuran, usaha pertanian dan perternakannya
tambah maju.
Setelah jodang diserahkan, yu War dan mbak
Yanti dibantu anak-anak dan orang lain yang mengerumuni disekitar situ sibuk
memindah mindahkan makanan khas hajatan daerah Banyumas. Mulai dari makanan
ringan, ada jadah, wajik, kembang goyang, rengginan dan masih banyak cemilan
lain semacam itu. Ada jajan pasar seperti kacang rebus, tales, gembili, uwi dan
lain makanan seperti itu. Ditambah lagi makanan berat, ada nasi, ikan gurameh,
panggang ayam dan masih banyak lauk-lauk dan sayur lainnya.
Suasana riang, penuh canda, celoteh
anak-anak sambil ikut-ikutan sibuk membantu yu War, mengundang senyum orang
yang menjadi utusan kiyai Karang Kandri lalu katanya:
“Hati-hati
jangan sampai tumpah, ada gulai kambing ditematkan di Panci lux. Panci itu
masih gres, baru kemarin dibeli.”
“Yang mana?”
Tanya yu War penasaran.
“Itu di pojok
jodang, ditutupi daun pisang,” kata utusan dari Karang Kandri.
Yu War membuka
penutup daun pisang yang lebar, lalu hati-hati mengangkat panci lux yang
ditunjuk utusan Haji Kohar. Tetapi ketika panci lux diangkat keatas dan semua
yang berada disitu melihat panci lux, spontan meledak tawanya.
Ya ampun itu kan
pispot namanya.
Tetapi sebelum
ada yang melontarkan kata-kata itu, Mbah Putri sudah mendahuli menghardik
anak-anak:
“Apa yang kalian
tertawakan? Ayo cepat ganti tempatnya.”
Malam harinya,
ketika kami sekeluarga kumpul makan malam. Kalau sedang ngumpul semua begini,
kami menggelar tikar, apa lagi kali ini hidangannya banyak, bermacam-macam dan
lauknya komplit, semua kiriman dari Karang Kandri. Seperti sedang pesta saja
layaknya. Pas makan malam mau dimulai pas kang Kasim datang.
“Ayo Sim kesini,
sekalian makan,” kata Mbah Putri.
Kang Kasim memang tak pernah membantah
perintah baik Mbah Kakung maupun Mbah Putri, apalagi perintah makan. Dengan
patuh kang Kasim segera bergabung makan malam.
Tak lama kemudian muncul yu War dari dapur,
membawa basi (semacam bejana besar, bentuknya oval terbuat dari keramik) sambil
berkata:
“Ini gulai
kambingnya…”
Belum selesai yu
War bicara, anak anak sepontan menjawab:
“Enggak,
enggak,” sambil menutup mulutnya.
Yu War
tersenyum, sambil mau balik ke dapur. Tiba-tiba kang Kasim berdiri dari
duduknya lalu katanya:
“Tunggu, gulai
kambing ya? Aku mau.”
Kang kasim lalu
mendekati yu War sambil membawa piring nasinya. Setelah diambilkan gulai
kambing, kang Kasim kembali duduk, menerusklan makannya. Semua yang ada disitu
memandangi kang Kasim. Tetapi ia terus saja makan, tak merasa semua sedang
memperhatikan.
“Enak Sim?”
tanya Mbah Putri.
“Eunak sekali,”
kata Kasim sambil terus melahap nasinya.
“Nggak bau
urin?” tanya mbak Yanti.
“Ah ngawur saja,
ya bau gulai, enak, empuk.”
Selesai makan,
mbak Yanti ceritera, itu tadi gulainya diwadahi pispot. Dan semua yang ada
disutu tertawa, kecuali kang Kasim.
Aku sedikit-sedikit masih ingat peristiwa
itu, malah kalau enggak salah ingatan, esok sore hari aku ikut yu War mewakili Mbah
Putri nyumbang ke pesta khitanan cucu haji Kohar. Dan pulangnya, karena sudah
malam, kami diantar beberapa orang sambil membawa obor sampai rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar