Paling jujur sedunia
Ceritera Mbah
Putri:“Mbah Kakung itu orang yang paling jujur. Paling jujur se dunia”. Tetapi
jeleknya, Mbah Kakung punya sifat disiplin mati, tak bisa dirubah, yang
terkadang kelihatan naif. Jika ada pasien membayar uang pengobatan lebih dari
tarif pengobatan pemerintah yang resmi, selalu dikembalikan selisih
pembayarannya. Tak perduli orang kaya, terlebih-lebih orang biasa. Bahkan keluarga sendiri jika sakit, harus
bayar juga.
Bagaimana jika
ada Pasien yang membayar kurang atau tak mampu bayar ongkos pengobatan? Ya tetap mendapat pelayanan pengobatan,
tetapi, tentu saja Pasien itu akan dimarahi. Anehnya Mbah
Kakung selalu membayar ongkos pengobatan atau kekurangan ongkos pengobatan dari
sakunya sendiri, lalu dimasukkan kedalam kas poliklinik.
Lebih aneh lagi, meskipun pasien itu
dimarahi, tetapi, jika pasien itu harus berobat ulang, Mbah Kakung wanti-wanti
benar agar pasien itu datang kembali dengan atau tanpa membawa uang. Sambil
masih marah, kadang ada pasien yang diberi uang dari dompet Mbah Kakung,
katanya untuk ongkos balik berobat lagi.
Tetapi yang
mengherankan tak ada warga atau masyarakat yang berani memanfaatkan, berbohong
atau menipu berobat pura-pura tidak punya uang. Barangkali mereka takut kualat hingga penyakitnya tidak bisa
disembuhkan.
Kelihatannya
eksentrik, tetapi karena itulah Mbah Kakung menjadi terkenal tidak hanya di
desa Lebeng, tetapi desa lain yang masih termasuk wilayah distrik Jeruk Legi,
bahkan desa-desa dari distrik lain seperti Kesugihan dan Karang Kandri.
Meskipun disetiap distrik itu juga ada poliklinik, tetapi banyak penduduk wilayah
itu berobat ke Poliklinik Lebeng.
Pada masa itu obat-obatan masih terbatas.
Kebetulan Mbah Kakung dan Mbah Putri asli kelahiran dan dibesarkan di daerah
Solo, oleh karena itu selain memberi obat menurut aturan kesehatan pemerintah, Mbah
Kakung dan Mbah Putri mengembangkan obat-obatan dan jamu tradisionil
seperti apa yang diajarkan oleh para leluhurnya untuk melengkapi kekurangan
persediaan obat yang ada. Tindakan ini sangat mebantu dan khasiatnya
sangat manjur. Makanya tak heran jika banyak orang mengatakan tangan Mbah
Kakung dingin, sanggup menyembuhkan segala macam penyakit.
Tentang
kejujuran Mbah Kakung, Mbah Putri berceritera kasusnya Haji Ambyah. Dan aku
masih samar-samar ingat sebagian kecil peristiwa itu.
Mungkin nama
aslinya Hamzah tetapi aksen penduduk di daerahnya lebih enak memanggil Haji
Ambyah. Ia orang kaya yang tinggal di perdikan Kedung Danu, masih satu distrik
dengan Lebang, hanya jaraknya agak jauh dan daerahnya agak terpencil, di lereng
pegunungan Kendeng. Ia punya perkebunan karet dan ladangnya berhektar-hektar.
Gara-gara pak Haji punya bisul (maaf) di pantat, seisi rumah dibuat kalang
kabut. Bisul itu besar, bengkak kemerah-merahan, kata penduduk setempat bisul
itu dinamakan wudhun semar.
Saatnya bisul mau pecah, timbunan nanah
nimbulkan rasa sakit bagai ditusuk seribu jarum, nyeri berkepanjangan membuat
pak Haji berteriak-teriak sepanjang hari.
“Bisul itu harus
dipecah, supaya nanahnya keluar,” kata bu haji, istrinya.
Pak haji
orangnya galak, temperamennya tinggi, tetapi memecah bisul sendiri tak berani.
Sedangkan keluarganya takut memecah bisul itu. Jangankan dipegang bisulnya, baru
mendekati pak Haji, orang itu langsung didampratnya, dijadikan tumpuan
kemarahan untuk melampiaskan rasa sakitnya.
Hari masih pagi,
bu Haji Ambyah diiringi dua pembantunya sudah tiba di poliklinik Lebeng. Ia
mohon agar Mbah Kakung bersedia datang ke Kedung Danu untuk mengobati bisul
suaminya. Mbah Kakung mau, tetapi harus tunggu sampai poliklinik tutup sekitar
jam 2 siang. Bu Haji setuju. Dengan sabar ia menunggu, duduk di bangku di teras
poliklinik. Mbah Kakung bukanya tidak tau siapa Haji Ambyah itu, orang terkaya
di Kedung Danu yang berjarak antara 4-5 km dari Lebeng, tetapi Mbah Kakung harus
menyelesaikan dulu tugasnya, itu prinsip.
Melihat kesetiaan bu Haji Ambyah, Mbah
Putri kasihan. Diajaknya bu Haji masuk kedalam rumah, agar bisa istirahat lebih
nyaman. Sambil ditemani ngobrol dan diselingi makan siang, tak terasa sudah jam
2 siang.
Setelah memeritah kang Kasim menutup
poliklinik, Mbah Kakung mengajak bu Haji Ambyah berangkat ke Kedung Danu.
Ceritera Mbah
Kakung, menjelang Maghrib Mbah Kakung dan rombongan bu Haji Ambyah sampai di
Kedung Danu. Semula pak Haji marah-marah, sambil mencak-mencak takut kalau
bisulnya dipegang, pokoknya tidak mau bisulnya diobati. Mbah Kakung diam saja.
Tanpa banyak bicara, Mbah Kakung membuka ‘tas dokter’nya. Dikeluarkannya alat suntik paling besar,
pisau operasi yang dinamakan scaple, beberapa jenis penjepit yang dinamakan
pinset dan lain-lain perabotan kedokteran yang kebanyakan terbuat dari besi
anti karat warnanya putih berkilauan.
Ajaib, pah Haji Ambyah mengkerut nyalinya. Mbah
Kakung bilang, jika pak Haji terus menerus teriak-teriak, Mbah Kakung akan
panggil orang-orang untuk memegangi pak haji, dan bisul itu akan dioperasi.
Tetapi jika pak Haji tenang, Mbah Kakung akan mengobati dengan olesan salep
saja.
Pak Haji ambil opsi yang terakhir dan bisul
itu hanya diolesi cairan kental warnanya seperti oli bekas, kata Mbah Kakung
namanya salep ihtisyol. Setelah itu, di atas bisul ditutup kain kasa lalu
diplester.
Mbah Kakung pulang, sampai di rumah sekitar
jam 8
malam. Beberapa orang buruh pak Haji Ambyah mengantarnya sambil membawa obor.
Adegan ini yang samar-samar aku ingat, dan menggunakan obor sebagai sarana
penerang perjalanan, nantinya akan banyak mewarnai kenangan masa kecilku di desa
Lebeng. Memoriku, sepertinya aku pernah hidup di alam era pra sejarah, sesuatu
yang historis.
Dua hari
kemudian bu Haji Ambyah datang ke poliklinik menemui Mbah Kakung. Ia
berceritera, pak Haji sudah sembuh, bisulnya pecah sendiri, mata bisulnya
keluar nempel di kain kasa. Sekarang sudah bisa tidur pulas, tidak
uring-uringan lagi. Sambil berterima kasih bu haji menyerahkan uang satu
ringgit, katanya untuk ongkos pengobatan pak Haji.
Melihat uang seharga 250 sen atau 2,5 perak ditangan
bu Haji, Mbah Kakung bertanya, apakah bu haji punya uang setali.
Buru-buru bu Haji menambahkan uang 25 sen,
lalu uang seringgit dan setali diangsurkan kepada Mbah Kakung. Mbah Kakung
mengambil uang setali, katanya itu tarif resmi dari pemerintah, itu pun sudah
termasuk ongkos kunjungan ke pasien sedangkan uang seringgit disuruhnya bu Haji
bawa pulang.
Saat itu uang sangat berharga, masih
beredar uang 1 sen, sekelip besarnya sama dengan 5 sen, sebenggol harganya sama dengan 5
kelip atau 2 1/2 sen, seperak seharga 100 sen.
Melihat Mbah Kakung hanya mengambil uang
yang setali, bu Haji tertegun. Sesaat kemudian bu Haji dengan sedikit memaksa
mengangsurkan ringgitnya agar Mbah Kakung mau menerimanya. Niat baik bu haji
bukan mendapat pujian tetapi malah membuat Mbah Kakung marah. Bu haji tak mau
mundur, ia tak mau pulang dengan membawa uang itu, katanya ia takut sama pak
Haji karena itu amanahnya. Aneh, sesuatu yang seharusnya menyenangkan kedua
belah pihak, ini malah mendatangkan perselisihan.
Mendengar semacam pertengkaran kecil, Mbah
Putri keluar dari dalam rumah untuk melerai. Mbah Putri sudah terbiasa dengan
kasus semacam itu. Mbah Putri bijaksana, dibawanya bu Haji masuk kedalam rumah.
“Tolong simpan dulu uangnya, katakan pada pak Haji, sewaktu waktu kami perlukan uang itu, pasti
kami akan mengambil ke Kedung Danu.”
Kata Mbah Putri.
Klir, semua bisa
teratasi. Bahkan ketika bu Haji pamit pulang, Mbah Kakung dan Mbah Putri
mengantar sampai depan pintu klinik. Tak ada tanda-tanda bekas Mbah Kakung
marah apa lagi dendam. Begitu sifat Mbah Kakung, jika marah, bla… bla…bla,
seteleh selesai ya sudah, tak ada followup, malah bisa tertawa dan
bercanda. Begitu juga ketika melepas bu haji Ambyah, Mbah Kakung berkata:
“Salam buat pak
Haji, nanti kalau bisulan lagi, olesi saja dengan telek lencung.”
“Telek lencung?”
tanya bu haji heran.
Telek lencung
adalah tai ayam yang lembek warnanya coklat kehijau-hijauan. Kalau terinjak
kaki luar biasa baunya.
“Lha itu obat
bisul yang kemarin saya oleskan kan warnanya seperti telek lencung,” kata Mbah Kakung.
Memang benar ihtisyol
warnanya seperti itu. Semua orang yang berada di dekat situ ikut tertawa
mendengar humor Mbah Kakung.
Kira-kira
sepekan dari peristiwa itu, datang ke rumah, 4 pasang buruh utusan pak Haji
Ambyah. Dikatakan pasang, karena mereka benar-benar berpasangan, setiap
pasang atau dua orang, memikul bambu panjang. Panjangnya seukuran hampir
separoh dari batang pohon bambu utuh. Diatas bambu itu digantungkan bermacam
macam hasil bumi. Ada padi, kelapa, pisang mentah, jagung, bodin, munthul, dan
lain palawijo sejenis itu. Bodain sama dengan singkong dan munthul sama dengan
ubi menurut bahasa setempat. Mbah Kakung tak bisa menolak, sebab amanah pak
Haji, kiriman ini untuk bu Mantri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar