Senin, 13 November 2023

anak pungut ke 3

 

Anak Pungut yang ke 3

 

        Suatu hari datang utusan Haji Dulrahman, ia juga orang kaya, sawah banyak, ladangnya luas dan punya pondok pesantren.

Memang semasa tahun itu yang namanya Haji identik dengan orang kaya. Itu bisa dimaklumi, sebab untuk mendapatkan titel haji, mereka harus menempuh perjalanan panjang. Perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit. Mereka harus menempuh jalan lewat laut, berbulan-bulan malah ada yang bilang setahun mereka baru pulang dengan gelar haji. Jadi sebenarnya bukan setelah haji baru kaya, awalnya memang mereka berasal dari orang kaya.

        Haji Dulrahman mungkin nama aslinya Abdul Rakhman tetapi lebih populer dipanggil Dulrahman. Ia tinggalnya di desa Jayeng Rana, tetapi penduduk setempat menamakan Jengrana, oleh karena itu pak Haji lebih sering di panggil Kiyai Jengrana (huruf ‘e’ dibaca seperti kata elok).

Maksud kedatangan utusan itu, Mbah Kakung sekeluarga dimohon datang menghadiri perkawinan putri sulungnya. Perkawinananya sendiri jatuh di hari Ahad, namun keluarga kami di mohon datang di hari Kamis, sekalian istirahat dipadepokan.

 

        Hubungan keluarga kami dengan keluarga Kiyai Jengrana sudah seperti saudara, malahan kelak ada salah satu putrinya yang diadopsi Mbah Putri. Kami memanggilnya mbak Amah. Umurnya lebih muda dari kakaku  nomer 2 dan lebih tua dari kakaku nomer 3. Hubungan dua keluarga itu, ya awalnya dari mbak Amah ini.

        Saat itu penyakit cacar sedang wabah. Hari masih pagi, mata hari baru saja muncul, Poliklinik belum buka, tetapi di bangku tempat tunggu pasien sudah duduk Haji Dulrahman sekalian, berserta putrinya yang sedang sakit cacar.

Ketika Mbah Putri mau membuka pintu poliklinik, kaget, kok sudah ada tamu. Buru-buru Mbah Putri memanggil Mbah Kakung. Kalau soal menangani pasien, menjadi prioritas Mbah Kakung, makanya meski poliklinik belum buka Mbah Kakung segera menanganinya. Kata Mbah Kakung, putri pak haji sudah akut.

        “Apa di rumah ada keluarga lain yang kena cacar?” Tanya Mbah Kakung.

        “Tidak ada, baru anak ini yang sudah kena cacar,” kata bu Haji.

        Mbah Kakung menyarankan agar putrinya di isolir, sebaiknya biar tinggal saja di sini, sedangkan keluarga lainnya dianjurkan segera divaksin cacar. Kalau mau, sore ini ditunggu di poliklinik, semua akan dicacar gratis, karena itu program pemerintah.

Akhirnya putrinya ditinggal dan kebetulan anaknya mau, setelah Haji Dulrahman sekalian divaksin cacar, mereka pulang sambil berjanji mau mengirim keluarganya sore hari ini.

 

        Beberapa waktu kemudian, mbak Amah sembuh dari penyakit cacar. Untung bagian wajah mbak Amah, bisa terselamatkan, ia sangat senang sekali, luput dari rasa malu, dengan wajah bopeng. Sebagai ungkapan terima kasih dan juga sebagai nadarnya, jika wajahnya tidak bopeng karena cacar ia mau ikut Mbah Putri selama-lamanya.

        Profil mbak Amah kebalikan dari mbak Yanti, badanya agak gemuk, kulit tubuh warna hitam manis. Wajah bulat, mata juga bulat bersinar jernih, hidung agak pesek dan bibirnya agak tebal, selalu tersenyum meskipun ia sedang marah. Semua menampilkan mimik jenaka. Dengan rambutnya hitam legam sedikit berombak, siapaun memandang langsung menyenanginya.

Hubungan dua keluarga, keluarga kami dengan keluarga Kiyai Jengrana semakin baik. Setelah sembuh, mbak Amah tidak mau pulang ke Jengrana, mau nerusin sekolah di Lebeng. Mbah Putri juga tidak keberatan malah terima kasih sebab mbak Amah rajin, mau membantu yu War bisa kerja sama dengan mbak Yanti. Ia juga pandai menemani bermain saudara-saudara kami, sifatnya sabar dan senang mengalah. Haji Dulrahman sekalian juga tidak keberatan anaknya tinggal di Lebeng.

Hubungan keluarga kami dengan keluarga kiyai Jengrana, lebih erat lagi ketika wabah malaria. Meskipun banyak penduduk Jengrana kena penyakit itu tetapi keluarga Haji Dulrahman kalis dari wabah. Mbah Kakung memberi saran teknis mencegah wabah, selain lingkungan harus bersih juga di anjurkan membeli kelambu. Kelambu saat itu masih merupakan barang mewah. Tidak semua orang mampu beli, apa lagi yang jual hanya di kota-kota besar seperti Cilacap.

Mengikuti nasehat Mbah Kakung, keluarga kiyai Jengrana kalis dari malaria. Namun demikian pak haji tetap ikut peduli untuk membantu mengobati orang-orang yang kena malaria, oleh karena itu sering ia mengutus orang ke poliklinik Lebeng untuk mendapatkan pil kina.

Selain mengirim pil ampuh itu Mbah Kakung memberi saran, aga penduduk Jengrana rajin mengkonsumsi daun pepaya. Bisa direbus, bisa dioseng, bisa juga buat lalap.

Berkat bantuan dan saran Mbah Kakung, penduduk desa Jengrana relatif dikatakan terhindar dari parahnya wabah malaria.

Yang penduduk desa Jengrana menjadi lebih berterima kasih pada Mbah Kakung, sekarang desanya menjadi pemasok utama buah gandul nama lokal pepaya. Buahnya yang muda atau mentah dijual di pasar lokal dan buah yang masak dikirim kekota besar sampai ke Cilacap dan Purwokerto.

 

        Untuk memenuhi undangan keluarga kiyai Jengrana, Mbah Putri usul pada Mbah Kakung agar mengambil cuti. Jadi bisa istirahat 3-4 hari di Jengrana. Tetapi dasar Mbah Kakung, yang seluruh hidupnya diperuntukan kerja, tidak mau mengambil cuti. Kali ini kang Kasim memberi usulan yang jitu. Sebaiknya hari Kamis sampai Sabtu dijadikan hari pengobatan keliling, dulu istilahnya turni. Akhirnya semua sepakat, besok Kamis Mbah Kakung dan mbak Yanti akan ikuti keluarga ke Jengrana sambil turni, sedangkan poliklinik di tunggu kang Kasim.

Jengrana adalah desa kecil dengan hunian tak lebih dari 50 Kepala Keluarga. Letaknya terpencil, dikelilingi sawah yang luas sekali, jika dilihat sepintas seperti sebuah pulau kecil ditengah-tengah lautan. Tak ada jalan menuju desa itu. Satu satunya akses masuk desa ya harus melalui pematang-pematang sawah.

Bagi penduduk desa Jengrana, keluar masuk desanya tak masalah, mereka sudah hafal betul pematang-pematang yang mana yang harus dilalui supaya singkat masuk kedesanya.

Pematang sawah yang digunakan sebagai jalan masuk ke desanya dari Lebeng atau dari arah Timur dan Utara, berlainan dengan pematang sawah yang digunakan sebagai jalan ke desanya dari Gumilir atau dari arah Barat. Sebaliknya yang dari arah Selatan atau dari arah Karang Kandri lain lagi pematang sawah yang digunakan sebagai jalan masuk ke desa Jengrana.

Bagi pendatang, orang yang belum pernam masuk ke desa Jengrana bahkan yang pernah tetapi hanya sesekali saja, masuk ke desa Jengrana bagaikan menembus lorong labyrinth.

Salah memilih pematang sawah yang hendak dijadikan jalan masuk ke desa, semakin jauh dilalui semakin jauh pula ia tersesat, berputar putar ditengah sawah tak sampai tujuannya, padahal desa itu terlihat didepan hidungnya.

Uniknya penduduk desa Jengrana tak mau meberi tanda atau petunjuk pematang mana yang benar yang harus dilalui. Kabarnya dengan cara begitu desa mereka aman dari pencurian dan perampokan.

 

        Hari Kemis seperti yang telah menjadi jadual hari turni Mbah Kakung, rombongan keluarga kami terlihat tengah menyeberangi sawah, kami tidak takut tersesat, sebab dalam rombongan itu ada mbak Amah penduduk asli Jengrana.

Aku ingat sedikit kenangan itu, berjalan beriring-iringan di atas pematang sawah, satu persatu seperti sedang baris sambil bercanda dan bergurau. Petani-petani yang kami lewati yang sedang mengerjakan sawah, sejenak menghentikan pekerjaanya, lalu memandang dengan heran. Ada juga yang melambaikan capingnya sebagai tanda hormat. Ada pula yang sudah kenal Mbah Kakung berlari-larian kecil menyambut, sambil mengulurkan tangan. Dengan ramah dan spontan Mbah Kakung menyalami tangan-tangn petani. Rupanya ada salah satu petani yang pernah berobat ke Poliklinik Lebeng, ia tak sabar, lari-lari mendahului temannya lalu menyodorkan tangan untuk menjabat tangan Mbah Kakung, ia tak sadar tanganya belum dibersihkan, masih bergelimangan lumpur, dan Mbah Kakung pun tak melihat tangan itu kotor, langsung dijabatnya. Mbah Kakung kakget ketika merasakan tangnya dingin dan licin. Ketika dilihat, ya ampun lumpur yang tebal itu menempel di tangan Mbah Kakung. Semua yang melihat tangan Mbah Kakung menjadi kotor, tertawa terbahak-bahak.

Sungguh menyenangkan, itu mungkin kenangan pertama kali aku piknik dengan keluarga. Sebelum itu tak pernah kami sekeluarga rekreasi. Lebih mengharukan lagi begitu rombongan menginjakkan kakinya di atas tanah desa Jengrana, telinga kami menagkap tetabuhan musik terbang (sejenis rebana) ditabuh bertalu-talu, iramanya merdu sambil mengiringi santri pondok melantunkan salawat badar. Oleh karena itu musik ini dinamakan selawatan.

Semakin dekat ke rumah pak Haji Dulrahman, terbang selawatan semakin terdengar kencang dan memang musik itu diperuntukkan menyambut kedatangna rombongan pak Mantri Kesehatan. Di depan pintu gerbang bu Hajah dan pak Haji Dulrahman sudah berdiri, dan ketika rombongan masuk segere mereka menyambutnya.

Pak Haji sudah diberitahu rencana hari itu Mbah Kakung turni didesanya, maka ia pun sudah menyiapkan tempat untuk pelayanan pengobatan. Sebuah bangunan semacam gubuk panjang, telah didirikan di pekarangan rumahnya. Ketika Mbah Kakung lewat tempat itu, Mbah Kakung melihat disana sudah di penuhi orang yang mau berobat, Mbah Kakung tidak jadi istirahat kedalam rumah, langsung cuci tangan terus buka praktek, dibantu mbak Yanti, ditemani pak Haji dan pak Amir, ia sebagai kamituwo di desa Jengrana. Kamituwo adalah orang yang dianggap menjadi pemuka masyarakat, seperti ketua RT atau ketua RW zaman sekarang.

Sedangkan Mbah Putri dan rombongan mengikuti bu haji Dulraham masuk kedalam pendopo rumah. Sambil bercengkrama, berbaur dengan sanak keluarga Bu Haji, sambil mencicipi makanan lezat yang telah digelar di serambi itu.

Esok harinya praktek pengobatan dilanjutkan, tetapi menjelang sholat Jumatan praktek ditutup sebentar. Sementara semua keluarga pak Haji yang laki-laki pergi ke mesjid yang berada di tengah pondok, Mbah Kakung istirahat di dalam serambi rumah pak Haji.

Selesai Jumatan, praktek dibuka kembali, malah sekarang kerumunan orang yang mau berobat bertambah banyak. Mereka baru tau ada pengobatan gratis ketika sholat Jum’atan, lalu mereka memanfaatkan kesempatan yang jarang diadakan seperti itu.

 

        Sabtu pagi Mbah Kakung menghilang. Waktu semua keluarga berkumpul untuk sarapan, Mbah Kakung tidak muncul. Bu haji menyuruh orang mencari pak Mantri, tetapi sudah dicari disekitar rumah sampai ke pondok pesantren tidak ada.

        “Ya mungkin pak Mantri lagi jalan-jalan menghirup udara segar,” kata Mbah Putri menenangkan semua orang yang sudah berkumpul. Lalu sambungnya:

        “Biarkan saja, sekarang kita sarapan dulu, nanti kan pak Mantri menyusul.”

        Hari ini memang tidak ada jadual pengobatan lagi, tetapi masih saja ada orang datang minta diobati, untung mbak Yanti sudah cukup terampil mengatasi.

Menjelang sholat Zuhur, Mbah Kakung diiringi pak Amir muncul di rumah pak Haji.

Memang benar Mbah Kakung sedang jalan-jalan pagi, tetapi ketika sampai di depan rumah pak Kamituwo, kebetulan ia muncul mau jalan ke rumah Pak haji. Karena hari masih pagi pak Amir menemani Mbah Kakung jalan-jalan seputar desanya.

Dari rencananya hanya jalan-jalan, berubah menjadi inspeksi kebersihan dan kesehatan lingkungan desa Jengrana. Dari hasil observasi Mbah Kakung, disana banyak sanitasi dan irigasi yang tidak memenuhi standard kebersihan lingkungan. Mbah Kakung memberi wacana, pekerjaan membenahi infrastuktur sperti membedah selokan yang mampet, membuat tanggul pada sisi jalan, tanah yang legok ditimbun tanah, sehingga tak ada lagi sarang nyamuk. Membuat liang untuk menimbun sampah, agar tidak menumpuk dijadikan sarang lalat dan pekerjaan lainnya semacam itu tidak perlu biaya mahal, cukup dikerjakan sambatan atau gotong royong, dulu istilah kerja bakti belum populer.

 

        Hari minggu, dirumah kediaman pak Haji Dulrahman sibuk luar biasa, maklum hajatan menikahkan putri sulungnya ini, juga dihadiri undangan dari luar desa Jengrana. Termasuk tokoh masyarakat dan kiyai kondang dari desa lain.

Sebelum akad nikah dimulai, waktunya banyak diisi dengan pengajian dan setelah akad nikah selesai waktunya diisi khotbah.

Saatnya giliran pak Amir tampil. Ditengah-tengan pidatonya untuk memberi nasehat pada kedua memepelai, ia menyelipkan sosialisasi kebersihan lingkungan dan ajakan kerja bakti membenahi sanitasi lingkungan secepatnya.

Selesai pak Kamituwo pidato, diteruskan jamuan makan sambil menikmati hiburan yang ditampilkan para santri pondok menampilkan musik selawat dan marawis. Malam harinya Pesta pernikahan ini masih diteruskan dengan hiburan pertunjukan menoreh, kesenian tradisionil semacam ketoprak, biasanya mengambil ceritera tentang tokoh-tokoh penyebaran Islam, dikemas seperti ceritera 1001 malam.

 

        Rencananya, Senin pagi Mbah Kakung sekeluarga mau pulang ke Lebeng. Ketika keluarga kami dan keluarga pak haji sedang bareng-bareng sarapan, pak Kamituwo datang, ia memohon Mbah Kakung untuk menunda keberangkatan pulangnya, sebab semalam pemuda dan orang-orang dewasa di desa itu sepakat hari ini mengadakan sambatan, Mbah Kakung diminta memberi petunjuk walaupun hanya sebentar, kayaknya bisa memberi semangat penduduk desa.

Mbah Putri sudah kuatir, Mbah Kakung menolak permintaan pak Amir, tetapi rupanya itu tak terjadi. Meskipun karakter Mbah Kakung disiplin mati, namun soal sosial, Mbah Kakung masih punya toleran. Tanpa ragu sedikitpun Mbah Kakung mengabulkan permintaan mereka.

Baru sore hari, kami sekeluarga meninggalkan Jengrana. Beriring-iringan lewat pematang, menelusuri jalan desa sambil membawa obor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...