Anak Pungut yang ke 3
Suatu hari
datang utusan Haji Dulrahman, ia juga orang kaya, sawah banyak, ladangnya luas
dan punya pondok pesantren.
Memang semasa tahun itu yang namanya Haji
identik dengan orang kaya. Itu bisa dimaklumi, sebab untuk mendapatkan titel
haji, mereka harus menempuh perjalanan panjang. Perlu waktu dan biaya yang
tidak sedikit. Mereka harus menempuh jalan lewat laut, berbulan-bulan malah ada
yang bilang setahun mereka baru pulang dengan gelar haji. Jadi sebenarnya bukan
setelah haji baru kaya, awalnya memang mereka berasal dari orang kaya.
Haji Dulrahman
mungkin nama aslinya Abdul Rakhman tetapi lebih populer dipanggil Dulrahman. Ia
tinggalnya di desa Jayeng Rana, tetapi penduduk setempat menamakan Jengrana,
oleh karena itu pak Haji lebih sering di panggil Kiyai Jengrana (huruf ‘e’ dibaca seperti kata elok).
Maksud kedatangan utusan itu, Mbah Kakung sekeluarga
dimohon datang menghadiri perkawinan putri sulungnya. Perkawinananya sendiri
jatuh di hari Ahad, namun keluarga kami di mohon datang di hari Kamis, sekalian
istirahat dipadepokan.
Hubungan
keluarga kami dengan keluarga Kiyai Jengrana sudah seperti saudara, malahan
kelak ada salah satu putrinya yang diadopsi Mbah Putri. Kami memanggilnya mbak
Amah. Umurnya lebih muda dari
kakaku nomer 2 dan lebih tua dari kakaku
nomer 3. Hubungan dua keluarga itu, ya awalnya dari
mbak Amah ini.
Saat itu
penyakit cacar sedang wabah. Hari masih pagi, mata hari baru saja muncul,
Poliklinik belum buka, tetapi di bangku tempat tunggu pasien sudah duduk Haji
Dulrahman sekalian, berserta putrinya yang sedang sakit cacar.
Ketika Mbah Putri mau membuka pintu
poliklinik, kaget, kok sudah ada tamu. Buru-buru Mbah Putri memanggil Mbah
Kakung. Kalau soal menangani pasien, menjadi prioritas Mbah Kakung, makanya
meski poliklinik belum buka Mbah Kakung segera menanganinya. Kata Mbah Kakung,
putri pak haji sudah akut.
“Apa di rumah
ada keluarga lain yang kena cacar?” Tanya Mbah Kakung.
“Tidak ada, baru
anak ini yang sudah kena cacar,” kata bu Haji.
Mbah Kakung
menyarankan agar putrinya di isolir, sebaiknya biar tinggal saja di sini,
sedangkan keluarga lainnya dianjurkan segera divaksin cacar. Kalau mau, sore
ini ditunggu di poliklinik, semua akan dicacar gratis, karena itu program
pemerintah.
Akhirnya putrinya ditinggal dan kebetulan
anaknya mau, setelah Haji Dulrahman sekalian divaksin cacar, mereka pulang
sambil berjanji mau mengirim keluarganya sore hari ini.
Beberapa waktu kemudian, mbak
Amah sembuh dari penyakit cacar. Untung bagian wajah mbak Amah, bisa terselamatkan, ia sangat
senang sekali, luput dari rasa malu, dengan wajah bopeng. Sebagai ungkapan
terima kasih dan juga sebagai nadarnya, jika wajahnya tidak bopeng karena cacar
ia mau ikut Mbah Putri selama-lamanya.
Profil mbak Amah
kebalikan dari mbak Yanti, badanya agak gemuk, kulit tubuh warna hitam manis.
Wajah bulat, mata juga bulat bersinar jernih, hidung agak pesek dan bibirnya
agak tebal, selalu tersenyum meskipun ia sedang marah. Semua menampilkan mimik
jenaka. Dengan rambutnya hitam legam sedikit berombak, siapaun memandang
langsung menyenanginya.
Hubungan dua keluarga, keluarga kami dengan
keluarga Kiyai Jengrana semakin baik. Setelah sembuh, mbak Amah tidak mau
pulang ke Jengrana, mau
nerusin sekolah di Lebeng. Mbah Putri juga tidak
keberatan malah terima kasih sebab mbak Amah rajin, mau membantu yu War bisa
kerja sama dengan mbak Yanti. Ia juga pandai menemani bermain saudara-saudara kami, sifatnya
sabar dan senang mengalah. Haji Dulrahman sekalian juga tidak keberatan anaknya
tinggal di Lebeng.
Hubungan keluarga kami dengan keluarga
kiyai Jengrana, lebih erat lagi ketika wabah malaria. Meskipun banyak penduduk
Jengrana kena penyakit itu tetapi keluarga Haji Dulrahman kalis dari wabah. Mbah
Kakung memberi saran teknis mencegah wabah, selain lingkungan harus bersih juga
di anjurkan membeli kelambu. Kelambu saat itu masih merupakan barang mewah.
Tidak semua orang mampu beli, apa lagi yang jual hanya di kota-kota besar
seperti Cilacap.
Mengikuti nasehat Mbah Kakung, keluarga
kiyai Jengrana kalis dari malaria. Namun demikian pak haji tetap ikut peduli
untuk membantu mengobati orang-orang yang kena malaria, oleh karena itu sering
ia mengutus orang ke poliklinik Lebeng untuk mendapatkan pil kina.
Selain mengirim pil ampuh itu Mbah Kakung
memberi saran, aga penduduk Jengrana rajin mengkonsumsi daun pepaya. Bisa
direbus, bisa dioseng, bisa juga buat lalap.
Berkat bantuan dan saran Mbah Kakung,
penduduk desa Jengrana relatif dikatakan terhindar dari parahnya wabah malaria.
Yang penduduk desa Jengrana menjadi lebih
berterima kasih pada Mbah Kakung, sekarang desanya menjadi pemasok utama buah
gandul nama lokal pepaya. Buahnya yang muda atau mentah dijual di pasar lokal
dan buah yang masak dikirim kekota besar sampai ke Cilacap dan Purwokerto.
Untuk memenuhi
undangan keluarga kiyai Jengrana, Mbah Putri usul pada Mbah Kakung agar mengambil
cuti. Jadi bisa istirahat 3-4 hari di Jengrana. Tetapi dasar Mbah Kakung, yang
seluruh hidupnya diperuntukan kerja, tidak mau mengambil cuti. Kali ini kang
Kasim memberi usulan yang jitu. Sebaiknya hari Kamis sampai Sabtu dijadikan
hari pengobatan keliling, dulu istilahnya turni.
Akhirnya semua sepakat, besok Kamis Mbah Kakung dan mbak Yanti akan ikuti
keluarga ke Jengrana sambil turni, sedangkan poliklinik di tunggu kang Kasim.
Jengrana adalah desa kecil dengan hunian
tak lebih dari 50 Kepala Keluarga. Letaknya terpencil, dikelilingi sawah yang luas sekali, jika
dilihat sepintas seperti sebuah pulau kecil ditengah-tengah lautan. Tak ada
jalan menuju desa itu. Satu satunya akses masuk desa ya harus melalui
pematang-pematang sawah.
Bagi penduduk desa Jengrana, keluar masuk
desanya tak masalah, mereka sudah hafal betul pematang-pematang yang mana yang
harus dilalui supaya singkat masuk kedesanya.
Pematang sawah yang digunakan sebagai jalan
masuk ke desanya dari Lebeng atau dari arah Timur dan Utara, berlainan dengan
pematang sawah yang digunakan sebagai jalan ke desanya dari Gumilir atau dari
arah Barat. Sebaliknya yang dari arah Selatan atau dari arah Karang Kandri lain
lagi pematang sawah yang digunakan sebagai jalan masuk ke desa Jengrana.
Bagi pendatang, orang yang belum pernam
masuk ke desa Jengrana bahkan yang pernah tetapi hanya sesekali saja, masuk ke
desa Jengrana bagaikan menembus lorong labyrinth.
Salah memilih pematang sawah yang hendak
dijadikan jalan masuk ke desa, semakin jauh dilalui semakin jauh pula ia
tersesat, berputar putar ditengah sawah tak sampai tujuannya, padahal desa itu
terlihat didepan hidungnya.
Uniknya penduduk desa Jengrana tak mau
meberi tanda atau petunjuk pematang mana yang benar yang harus dilalui.
Kabarnya dengan cara begitu desa mereka aman dari pencurian dan perampokan.
Hari Kemis
seperti yang telah menjadi jadual hari turni Mbah Kakung, rombongan keluarga
kami terlihat tengah menyeberangi sawah, kami tidak takut tersesat, sebab dalam
rombongan itu ada mbak Amah penduduk asli Jengrana.
Aku ingat sedikit kenangan itu, berjalan
beriring-iringan di atas pematang sawah, satu persatu seperti sedang baris
sambil bercanda dan bergurau. Petani-petani yang kami lewati yang sedang
mengerjakan sawah, sejenak menghentikan pekerjaanya, lalu memandang dengan
heran. Ada juga yang melambaikan capingnya sebagai tanda hormat. Ada pula yang
sudah kenal Mbah Kakung berlari-larian kecil menyambut, sambil mengulurkan
tangan. Dengan ramah dan spontan Mbah Kakung menyalami tangan-tangn petani.
Rupanya ada salah satu petani yang pernah berobat ke Poliklinik Lebeng, ia
tak sabar, lari-lari mendahului temannya lalu menyodorkan tangan untuk menjabat
tangan Mbah Kakung, ia tak sadar tanganya belum dibersihkan, masih
bergelimangan lumpur, dan Mbah
Kakung pun tak melihat tangan itu kotor, langsung
dijabatnya. Mbah Kakung kakget ketika merasakan tangnya dingin dan licin. Ketika dilihat, ya
ampun lumpur yang tebal itu menempel di tangan Mbah Kakung. Semua yang melihat
tangan Mbah Kakung menjadi kotor, tertawa terbahak-bahak.
Sungguh menyenangkan, itu mungkin kenangan
pertama kali aku piknik dengan keluarga. Sebelum itu tak pernah kami sekeluarga
rekreasi. Lebih mengharukan lagi begitu rombongan menginjakkan kakinya di atas tanah desa
Jengrana, telinga kami menagkap tetabuhan musik terbang (sejenis rebana)
ditabuh bertalu-talu, iramanya merdu sambil mengiringi santri pondok
melantunkan salawat badar. Oleh karena itu musik ini dinamakan selawatan.
Semakin dekat ke rumah pak Haji Dulrahman,
terbang selawatan semakin terdengar kencang dan memang musik itu diperuntukkan
menyambut kedatangna rombongan pak Mantri Kesehatan. Di depan pintu gerbang bu
Hajah dan pak Haji Dulrahman sudah berdiri, dan ketika rombongan masuk segere
mereka menyambutnya.
Pak Haji sudah diberitahu rencana hari itu Mbah
Kakung turni didesanya, maka ia pun sudah menyiapkan tempat untuk pelayanan
pengobatan. Sebuah bangunan semacam gubuk panjang, telah didirikan di
pekarangan rumahnya. Ketika Mbah Kakung lewat tempat itu, Mbah Kakung melihat
disana sudah di penuhi orang yang mau berobat, Mbah Kakung tidak jadi istirahat
kedalam rumah, langsung cuci tangan terus buka praktek, dibantu mbak Yanti,
ditemani pak Haji dan pak Amir, ia sebagai kamituwo di desa Jengrana. Kamituwo
adalah orang yang dianggap menjadi pemuka masyarakat, seperti ketua RT atau
ketua RW zaman sekarang.
Sedangkan Mbah Putri dan rombongan
mengikuti bu haji Dulraham masuk kedalam pendopo rumah. Sambil bercengkrama,
berbaur dengan sanak keluarga Bu Haji, sambil mencicipi makanan lezat yang
telah digelar di serambi itu.
Esok harinya praktek pengobatan
dilanjutkan, tetapi menjelang sholat Jumatan praktek ditutup sebentar.
Sementara semua keluarga pak Haji yang laki-laki pergi ke mesjid yang berada di
tengah pondok, Mbah Kakung istirahat di dalam serambi rumah pak Haji.
Selesai Jumatan, praktek dibuka kembali,
malah sekarang kerumunan orang yang mau berobat bertambah banyak. Mereka baru
tau ada pengobatan gratis ketika sholat Jum’atan, lalu mereka memanfaatkan
kesempatan yang jarang diadakan seperti itu.
Sabtu pagi Mbah
Kakung menghilang. Waktu semua keluarga berkumpul untuk sarapan, Mbah Kakung
tidak muncul. Bu haji menyuruh orang mencari pak Mantri, tetapi sudah dicari
disekitar rumah sampai ke pondok pesantren tidak ada.
“Ya mungkin pak
Mantri lagi jalan-jalan menghirup udara segar,” kata Mbah Putri menenangkan
semua orang yang sudah berkumpul. Lalu sambungnya:
“Biarkan saja,
sekarang kita sarapan dulu, nanti kan pak Mantri menyusul.”
Hari ini memang
tidak ada jadual pengobatan lagi, tetapi masih saja ada orang datang minta
diobati, untung mbak Yanti sudah cukup terampil mengatasi.
Menjelang sholat Zuhur, Mbah Kakung
diiringi pak Amir muncul di rumah pak Haji.
Memang benar Mbah Kakung sedang jalan-jalan
pagi, tetapi ketika sampai di depan rumah pak Kamituwo, kebetulan ia muncul mau
jalan ke rumah Pak haji. Karena hari masih pagi pak Amir menemani Mbah Kakung
jalan-jalan seputar desanya.
Dari rencananya hanya jalan-jalan, berubah
menjadi inspeksi kebersihan dan kesehatan lingkungan desa Jengrana. Dari hasil
observasi Mbah Kakung, disana banyak sanitasi dan irigasi yang tidak memenuhi
standard kebersihan lingkungan. Mbah Kakung memberi wacana, pekerjaan membenahi
infrastuktur sperti membedah selokan yang mampet, membuat tanggul pada sisi
jalan, tanah yang legok ditimbun tanah, sehingga tak ada lagi sarang nyamuk.
Membuat liang untuk menimbun sampah, agar tidak menumpuk dijadikan sarang lalat
dan pekerjaan lainnya semacam itu tidak perlu biaya mahal, cukup dikerjakan sambatan
atau gotong royong, dulu istilah kerja bakti belum populer.
Hari minggu,
dirumah kediaman pak Haji Dulrahman sibuk luar biasa, maklum hajatan menikahkan
putri sulungnya ini, juga dihadiri undangan dari luar desa Jengrana. Termasuk
tokoh masyarakat dan kiyai kondang dari desa lain.
Sebelum akad nikah dimulai, waktunya banyak
diisi dengan pengajian dan setelah akad nikah selesai waktunya diisi khotbah.
Saatnya giliran pak Amir tampil.
Ditengah-tengan pidatonya untuk memberi nasehat pada kedua memepelai, ia
menyelipkan sosialisasi kebersihan lingkungan dan ajakan kerja bakti membenahi
sanitasi lingkungan secepatnya.
Selesai pak Kamituwo pidato, diteruskan
jamuan makan sambil menikmati hiburan yang ditampilkan para santri pondok
menampilkan musik selawat dan marawis. Malam harinya Pesta pernikahan ini masih
diteruskan dengan hiburan pertunjukan menoreh, kesenian tradisionil semacam
ketoprak, biasanya mengambil ceritera tentang tokoh-tokoh penyebaran Islam,
dikemas seperti ceritera 1001 malam.
Rencananya,
Senin pagi Mbah Kakung sekeluarga mau pulang ke Lebeng. Ketika keluarga kami
dan keluarga pak haji sedang bareng-bareng sarapan, pak Kamituwo datang, ia
memohon Mbah Kakung untuk menunda keberangkatan pulangnya, sebab semalam pemuda
dan orang-orang dewasa di desa itu sepakat hari ini mengadakan sambatan, Mbah
Kakung diminta memberi petunjuk walaupun hanya sebentar, kayaknya bisa memberi
semangat penduduk desa.
Mbah Putri sudah kuatir, Mbah Kakung
menolak permintaan pak Amir, tetapi rupanya itu tak terjadi. Meskipun karakter Mbah
Kakung disiplin mati, namun soal sosial, Mbah Kakung masih punya toleran. Tanpa
ragu sedikitpun Mbah Kakung mengabulkan permintaan mereka.
Baru sore hari, kami sekeluarga
meninggalkan Jengrana. Beriring-iringan lewat pematang, menelusuri jalan desa
sambil membawa obor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar