Mengungsi
Ceritera Mbah Putri: “Selepas
subuh, kita mulai bergerak turun gunung. Rombongan kita terdiri dari Mbah Kakung, Mbah Putri 4 anak yang masih
kecil-kecil (anak no 2 sudah diadopsi kelurga Mbah Putri, ceriteranya di lebih jauh
mengenal Trah Sastroatmodjo). Ditambah dua orang
pembantu rumah tangga, seorang wanita bernama yu War dan seorang laki-laki
bernama kang Parjo. Seorang juru rawat laki-laki, namanya kang Mislam, ia
asisten Mbah Kakung dan 5 penduduk Pagak yang dengan Sukarela ikut mengantar
untuk membawa barang-barang.”
Salah satu
Relawan bernama kang Karya, ia penduduk asli gunung Pagak, sebenarnya ia juga
pembantu rumah tangga kami, tetapi ia tidak ikut mengungsi, ia sudah
beristri dan punya anak masih bayi. Sekarang ia menjadi salah satu Relawan
sebagai penunjuk jalan.
Menurut kang Karya, alternatif yang akan
diambil rombongan pengungsi ini, menuju Cilacap lewat Kesugihan. Meskipun jalan
memutar dan jaraknya lebih jauh dibanding jika lewat Jeruk Legi, tetapi relatif
aman. Untuk menyingkat perjalanan, sebaiknya setelah menembus hutan, mengambil
jalan mengikuti rel kereta api yang menuju arah timur. Diperkirakan sebelum sore hari,
perjalanan bisa mencapai kota Kesugihan. Disana bisa menginap di rumah saudara
salah satu Relawan yang membawa barang, esok harinya bisa sewa dokar atau kereta kuda, melanjutkan
perjalanan kearah selatan menuju Cilacap.
Diluar
perkiraan, hujan gerimis mengiringi sepanjang perjalanan rombongan pengungsi,
akibatnya balok kayu bantalan rel kereta api menjadi licin, rombongan terpaksa
bergerak tertatih-tatih bahkan harus merangkak jika menyeberangi jembatan.
Sore hari.
Setelah beberapa kali berteduh di gubug yang ditemui di pinggir rel kereta api,
rombongan tiba di setatsiun kereta api Lebeng (huruf ‘e’ dibaca seperti pada kata
serem), sebuah desa kecil terletak di pertengahan antara Jeruk Legi dan
Kesugihan.
Bangunan setatsiun kecil, hanya terdiri
dari sebuah ruang kerja merangkap loket penjualan karcis dan satu ruangan lagi
berisi peralatan mengatur sinyal dan bunyi lonceng tanda kereta api akan lewat.
Peralatan itu bentuknya khas, seperti roda-roda besi berjajar-jajar dan
diatasnya ada tuas-tuas untuk memutar roda yang dihubungkan dengan kawat
nyambung ke tanda sinyal atau lonceng. Peron setatsiun bentuknya seperti teras,
berupa ruang terbuka, ada atap tetapi tak ada dinding. Disekitar Statsiun sepi,
tak ada manusia selain rombongan yang baru datang.
Mbah Kakung memutuskan istirahat, dan malam
ini tidur saja di setatsiun Lebeng. Jika perjalanan diteruskan kasihan
anak-anak dan para relawan yang membawa barang. Lagi pula mendung semakin
hitam, mungkin tak lama lagi akan turun hujan lebat. Semua anggota rombongan
setuju dan segera menyiapkan tempat untuk istirahat.
Begitu selesai mengatur tempat, hujan turun
disertai angin kencang, air bagai dicurah dari langit, tampias dari segala
panjuru, masuk ke dalam peron, membuat rombongan menjadi kalang kabut. Untung
tak lama kemudian reda, hanya tinggal gerimis sedikit-sedikit.
Menjelang senja, datang seorang laki-laki
tua, membawa payung dan lentera yang bentuknya khas, segi empat agak besar
catnya warna hitam. Lentera itu khusus dipakai di setatsiun atau dipasang pada
gerbong kereta api.
Laki-laki yang rambutnya hampir putih semua
karena uban, kelihatan kaget dan heran melihat banyak orang diperon. Setelah
dekat, lelaki itu memperkenalkan diri, ia kepala setatsiun Lebeng, orang-orang
memanggilnya pak Sep.
“Apakah
rombongan ini mau naik kereta api?” Tanya pak Sep.
Buru-buru Mbah
Kakung dan kang Mislam memperkenalkan diri, lalu berceritera bahwa rombongan
ini sedang dalam perjalanan mengungsi ke Cilacap lewat Kesugihan.
“Wah sayang,
dulu ada kereta api dari Bandung menuju Cilacap dan ada juga kereta api dari
Bandung ke arah timur menuju Yogya, Solo sampai Surabaya, melewati Kesugihan.
Untuk sementara waktu kereta api itu ditiadakan. Kereta api jurusan timur,
sekarang diberangkatkan dari setatsiun Kroya, letaknya disebelah timur Kesugihan.
Sekarang jalur ini hampir tak pernah dilewati kereta api lagi. Sekali-kali ada
juga gerbong barang atau tangki minyak lewat disini, itu pun hanya satu kali
dalam seminggu. Tetapi sebagi penanggung jawab setatsiun, setiap malam saya
harus kontrol dan memasang lentera,” kata pak Sep.
Mbah Kakung
minta ijin untuk bermalam di peron setatsiun.
“Bukannya saya
melarang, tetapi jika nanti turun hujan lagi, kasihan anak-anak. Saya ingin
rombongan ini menginap di ruamah saya, sayangnya rumah dinas saya kecil. Tetapi
kalau tak keberatan rombongan ini bisa menginap didalam Gereja. Disana
dindingnya tertutup dan ada alas karpet buat tidur, sepertinya lebih nyaman
untuk istirahat dari pada disini.”
Mbah Kakung
kelihatan ragu-ragu.
“Jangan takut,
saya salah satu anggota Jemaah Gereja dan saya kenal baik juru kunci Gereja.
Dalam keadaan darurat begini, tentu kuwajiban kami mengulurkan pertolongan,
meskipun hanya sebatas memberi tumpangan menginap,” kata pak Sep.
Setelah
ditimbang-timbang akhirnya Mbah Kakung setuju dan rombongan berkemas-kemas
meninggalkan setatsiun menuju Gereja.
Setelah berjalan sepanjang lebih dari 3 km, lewat jalan
umum yang kiri kanannya berupa hamparan sawah luas, rombongan Mbah Kakung
dipandu pak Sep yang membawa lentera, tiba dipinggiran sebuah desa.
“Desa ini yang
sebenarnya bernama Lebeng,” kata pak Sep sambil menoleh kearah Mbah Kakung.
“Lha Gerejanya
di mana?” tanya Mbah Kakung yang berada disisi pak Sep.
“Dari jalan
tidak nampak. Letaknya agak masuk ke dalam, kira-kira di belakang rumah loji
itu.”
“Rumah loji itu
punya siapa?”
“Persisnya saya
tidak tahu. Saat saya mulai dinas di setatsiun Lebeng lima tahunan yang lalu,
gereja dan rumah loji itu sudah ada. Menurut orang-orang tua disini dua
bangunan itu peninggalan Belanda. Sekarang yang menempati, keluarga pak Mantri
Guru, beliau ketua Faroki wilayah Lebeng dan sekitarnya.”
“Kok dipanggil
Mantri guru, apakah beliau kepala sekolah?”
“Ya, memang
beliau bekas kepala sekolah, tetapi sekarang sudah pensiun hanya diperbantukan menjadi
Penilik Sekolah,” kata pak Sep lalu sambungnya:
“Ayo kita belok
kanan, lewat pinggir desa ini.”
Tak lama
kemudian rombongan Mbah Kakung sampai di halaman depan Gereja. Gereja itu Geraja
Katholik, bangunanya seperti miniatur katedral, lengkap dengan menara yang ada
loncengnya. Meskipun kecil kelihatan kokoh, dinding-dindingnya sebagian terbuat
dari marmer, kelihatan bersih dan rapi.
“Tunggu sebentar
disini, saya mencari juru kunci, rumahnya dibelakang gereja,” kata pak Sep,
lalu meninggalkan rombongan Mbah Kakung sambil membawa lenteranya.
Senja telah
menghilang, ditambah mendung hitam mengambang diangkasa, disekitar halaman
gereja menjadi gelap pekat. Bayangan gereja dalam kegelapan, hitam menjulang
tinggi, bagaikan raksasa siap menerkam, ditambah udara semakin dingin membuat
suasana menjadi sangat mencekam. Anak-anak menangis terisak-isak dipelukan
orang-orang dewasa. Untuk menghilangkan rasa takut, semua orang berusaha saling
dekat. Suasana semakin tegang, ketika tiba tiba gerimis berubah menjadi hujan,
rombongan berhamburan menuju teritisan gereja, untuk berteduh.
Tak lama kemudian pak Sep berlari lari
kecil diiringi seorang yang kemudian dikenal dengan nama pak Giman, sebagai
orang yang dipercaya memegang kunci pintu gereja. Ia buru-buru lari menuju
pintu gereja.
“Ayo-ayo masuk,”
kata pak Giman ketika melewati rombongan yang sedang berjajar-jajar berdiri
rapat pada dinding gereja.
Setelah pak
Giman membuka pintu, tanpa diberi aba-aba kedua, langsung rombongn berhamburan
masuk kedalam gereja, bertepatan itu hujan semakin deras disertai tiupan angin
kencang.
Pak Giman menyalakan lilin yang berada
disudut belakang, lalu dibantu pak Sep, mereka berdua menyalakan lagi beberapa
lilin hingga ruangan dalam gerja itu menjadi terang.
Ruangan dalam gereja cukup lega. Di ujung
paling didepan, disebutnya altar. Mulai dari depan altar sampai ke bagian
belakang dipenuhi deretan bangku dari kayu yang dibagi dua kelompok sisi kiri
dan kanan. Diantar dua kelompok bangku itu ada jalan menuju altar, seperti
dalam gedung bioskup.
Dibelakang bangku deretan terakhir, masih
ada ruangan kosong, mungkin juga dijadikan jalan untuk tamu-tamu yang akan
duduk di bangku, lewat samping kiri dan kanan. Di lorong inilah rombongan
berkumpul. Tak lama kemudian pak Giman dan pak Sep datang sambil menggotong
karpet.
“Silahkan tidur
di lorong ini. Percayalah semua dalam keadaan bersih. Untuk lebih hangat
silahkan pakai karpet ini,” kata pak Giman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar