Senin, 13 November 2023

mengungsi

 

Mengungsi

 

        Ceritera Mbah Putri: “Selepas subuh, kita mulai bergerak turun gunung. Rombongan kita terdiri dari Mbah Kakung, Mbah Putri 4 anak yang masih kecil-kecil (anak no 2 sudah diadopsi kelurga Mbah Putri, ceriteranya di lebih jauh mengenal Trah Sastroatmodjo). Ditambah dua orang pembantu rumah tangga, seorang wanita bernama yu War dan seorang laki-laki bernama kang Parjo. Seorang juru rawat laki-laki, namanya kang Mislam, ia asisten Mbah Kakung dan 5 penduduk Pagak yang dengan Sukarela ikut mengantar untuk membawa barang-barang.”

        Salah satu Relawan bernama kang Karya, ia penduduk asli gunung Pagak, sebenarnya ia juga pembantu rumah tangga kami, tetapi ia tidak ikut mengungsi, ia sudah beristri dan punya anak masih bayi. Sekarang ia menjadi salah satu Relawan sebagai penunjuk jalan.

Menurut kang Karya, alternatif yang akan diambil rombongan pengungsi ini, menuju Cilacap lewat Kesugihan. Meskipun jalan memutar dan jaraknya lebih jauh dibanding jika lewat Jeruk Legi, tetapi relatif aman. Untuk menyingkat perjalanan, sebaiknya setelah menembus hutan, mengambil jalan mengikuti rel kereta api yang menuju arah timur. Diperkirakan sebelum sore hari, perjalanan bisa mencapai kota Kesugihan. Disana bisa menginap di rumah saudara salah satu Relawan yang membawa barang, esok harinya bisa sewa dokar atau kereta kuda, melanjutkan perjalanan kearah selatan menuju Cilacap.

 

        Diluar perkiraan, hujan gerimis mengiringi sepanjang perjalanan rombongan pengungsi, akibatnya balok kayu bantalan rel kereta api menjadi licin, rombongan terpaksa bergerak tertatih-tatih bahkan harus merangkak jika menyeberangi jembatan.

        Sore hari. Setelah beberapa kali berteduh di gubug yang ditemui di pinggir rel kereta api, rombongan tiba di setatsiun kereta api Lebeng (huruf e dibaca seperti pada kata serem), sebuah desa kecil terletak di pertengahan antara Jeruk Legi dan Kesugihan.

Bangunan setatsiun kecil, hanya terdiri dari sebuah ruang kerja merangkap loket penjualan karcis dan satu ruangan lagi berisi peralatan mengatur sinyal dan bunyi lonceng tanda kereta api akan lewat. Peralatan itu bentuknya khas, seperti roda-roda besi berjajar-jajar dan diatasnya ada tuas-tuas untuk memutar roda yang dihubungkan dengan kawat nyambung ke tanda sinyal atau lonceng. Peron setatsiun bentuknya seperti teras, berupa ruang terbuka, ada atap tetapi tak ada dinding. Disekitar Statsiun sepi, tak ada manusia selain rombongan yang baru datang.

Mbah Kakung memutuskan istirahat, dan malam ini tidur saja di setatsiun Lebeng. Jika perjalanan diteruskan kasihan anak-anak dan para relawan yang membawa barang. Lagi pula mendung semakin hitam, mungkin tak lama lagi akan turun hujan lebat. Semua anggota rombongan setuju dan segera menyiapkan tempat untuk istirahat.

Begitu selesai mengatur tempat, hujan turun disertai angin kencang, air bagai dicurah dari langit, tampias dari segala panjuru, masuk ke dalam peron, membuat rombongan menjadi kalang kabut. Untung tak lama kemudian reda, hanya tinggal gerimis sedikit-sedikit.

Menjelang senja, datang seorang laki-laki tua, membawa payung dan lentera yang bentuknya khas, segi empat agak besar catnya warna hitam. Lentera itu khusus dipakai di setatsiun atau dipasang pada gerbong kereta api.

Laki-laki yang rambutnya hampir putih semua karena uban, kelihatan kaget dan heran melihat banyak orang diperon. Setelah dekat, lelaki itu memperkenalkan diri, ia kepala setatsiun Lebeng, orang-orang memanggilnya pak Sep.

        “Apakah rombongan ini mau naik kereta api?” Tanya pak Sep.

        Buru-buru Mbah Kakung dan kang Mislam memperkenalkan diri, lalu berceritera bahwa rombongan ini sedang dalam perjalanan mengungsi ke Cilacap lewat Kesugihan.

        “Wah sayang, dulu ada kereta api dari Bandung menuju Cilacap dan ada juga kereta api dari Bandung ke arah timur menuju Yogya, Solo sampai Surabaya, melewati Kesugihan. Untuk sementara waktu kereta api itu ditiadakan. Kereta api jurusan timur, sekarang diberangkatkan dari setatsiun Kroya, letaknya disebelah timur Kesugihan. Sekarang jalur ini hampir tak pernah dilewati kereta api lagi. Sekali-kali ada juga gerbong barang atau tangki minyak lewat disini, itu pun hanya satu kali dalam seminggu. Tetapi sebagi penanggung jawab setatsiun, setiap malam saya harus kontrol dan memasang lentera,” kata pak Sep.

        Mbah Kakung minta ijin untuk bermalam di peron setatsiun.

        “Bukannya saya melarang, tetapi jika nanti turun hujan lagi, kasihan anak-anak. Saya ingin rombongan ini menginap di ruamah saya, sayangnya rumah dinas saya kecil. Tetapi kalau tak keberatan rombongan ini bisa menginap didalam Gereja. Disana dindingnya tertutup dan ada alas karpet buat tidur, sepertinya lebih nyaman untuk istirahat dari pada disini.”

        Mbah Kakung kelihatan ragu-ragu.

        “Jangan takut, saya salah satu anggota Jemaah Gereja dan saya kenal baik juru kunci Gereja. Dalam keadaan darurat begini, tentu kuwajiban kami mengulurkan pertolongan, meskipun hanya sebatas memberi tumpangan menginap,” kata pak Sep.

        Setelah ditimbang-timbang akhirnya Mbah Kakung setuju dan rombongan berkemas-kemas meninggalkan setatsiun menuju Gereja.

Setelah berjalan sepanjang lebih dari 3 km, lewat jalan umum yang kiri kanannya berupa hamparan sawah luas, rombongan Mbah Kakung dipandu pak Sep yang membawa lentera, tiba dipinggiran sebuah desa.

        “Desa ini yang sebenarnya bernama Lebeng,” kata pak Sep sambil menoleh kearah Mbah Kakung.

        “Lha Gerejanya di mana?” tanya Mbah Kakung yang berada disisi pak Sep.

        “Dari jalan tidak nampak. Letaknya agak masuk ke dalam, kira-kira di belakang rumah loji itu.”

        “Rumah loji itu punya siapa?”

        “Persisnya saya tidak tahu. Saat saya mulai dinas di setatsiun Lebeng lima tahunan yang lalu, gereja dan rumah loji itu sudah ada. Menurut orang-orang tua disini dua bangunan itu peninggalan Belanda. Sekarang yang menempati, keluarga pak Mantri Guru, beliau ketua Faroki wilayah Lebeng dan sekitarnya.”

        “Kok dipanggil Mantri guru, apakah beliau kepala sekolah?”

        “Ya, memang beliau bekas kepala sekolah, tetapi sekarang sudah pensiun hanya diperbantukan menjadi Penilik Sekolah,” kata pak Sep lalu sambungnya:

        “Ayo kita belok kanan, lewat pinggir desa ini.”

        Tak lama kemudian rombongan Mbah Kakung sampai di halaman depan Gereja. Gereja itu Geraja Katholik, bangunanya seperti miniatur katedral, lengkap dengan menara yang ada loncengnya. Meskipun kecil kelihatan kokoh, dinding-dindingnya sebagian terbuat dari marmer, kelihatan bersih dan rapi.

        “Tunggu sebentar disini, saya mencari juru kunci, rumahnya dibelakang gereja,” kata pak Sep, lalu meninggalkan rombongan Mbah Kakung sambil membawa lenteranya.

        Senja telah menghilang, ditambah mendung hitam mengambang diangkasa, disekitar halaman gereja menjadi gelap pekat. Bayangan gereja dalam kegelapan, hitam menjulang tinggi, bagaikan raksasa siap menerkam, ditambah udara semakin dingin membuat suasana menjadi sangat mencekam. Anak-anak menangis terisak-isak dipelukan orang-orang dewasa. Untuk menghilangkan rasa takut, semua orang berusaha saling dekat. Suasana semakin tegang, ketika tiba tiba gerimis berubah menjadi hujan, rombongan berhamburan menuju teritisan gereja, untuk berteduh.

Tak lama kemudian pak Sep berlari lari kecil diiringi seorang yang kemudian dikenal dengan nama pak Giman, sebagai orang yang dipercaya memegang kunci pintu gereja. Ia buru-buru lari menuju pintu gereja.

        “Ayo-ayo masuk,” kata pak Giman ketika melewati rombongan yang sedang berjajar-jajar berdiri rapat pada dinding gereja.

        Setelah pak Giman membuka pintu, tanpa diberi aba-aba kedua, langsung rombongn berhamburan masuk kedalam gereja, bertepatan itu hujan semakin deras disertai tiupan angin kencang.

Pak Giman menyalakan lilin yang berada disudut belakang, lalu dibantu pak Sep, mereka berdua menyalakan lagi beberapa lilin hingga ruangan dalam gerja itu menjadi terang.

Ruangan dalam gereja cukup lega. Di ujung paling didepan, disebutnya altar. Mulai dari depan altar sampai ke bagian belakang dipenuhi deretan bangku dari kayu yang dibagi dua kelompok sisi kiri dan kanan. Diantar dua kelompok bangku itu ada jalan menuju altar, seperti dalam gedung bioskup.

Dibelakang bangku deretan terakhir, masih ada ruangan kosong, mungkin juga dijadikan jalan untuk tamu-tamu yang akan duduk di bangku, lewat samping kiri dan kanan. Di lorong inilah rombongan berkumpul. Tak lama kemudian pak Giman dan pak Sep datang sambil menggotong karpet.

        “Silahkan tidur di lorong ini. Percayalah semua dalam keadaan bersih. Untuk lebih hangat silahkan pakai karpet ini,” kata pak Giman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...