Senin, 13 November 2023

bumi hangus

 

Bumi Hangus

 

        Ceritera selanjutnya aku mulai dari ketika mbah Kakung menjadi kepala Poliklinik Pagak, Jeruk Legi. Poliklinik Pagak lengkap dengan rumah dinasnya didirikan oleh pemerintah Kolonial Belanda, bentuknya model loji. Zaman itu sangat langka bangunan yang menggunakan tembok, jadi bangunan Poliklinik itu kelihat megah, sangat mencolok diatara rumah dan bangunan lain sekitar Poliklinik.

        Awalnya status mbah Kakung, Amtenar, pegawai Gubermen, pemerintah Hindia Belanda, di bidang kesehatan.

Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, status mbah Kakung tidak jelas, namun yang jelas mbah Kakung terus mengemban misi kemanusian, menanggulangi penyakit dan menyembuhkan yang sakit, dengan terus mengoperasikan Poliklinik Pagak.

Setelah Indonesia merdeka, status Mbah Kakung juga belum jelas benar, tapi yang benar Mbah kakung masih terus mengoperasikan Poliklinik Pagak.

 

        Sampai beberapa tahun kemudian, pada suatu hari menjelang sore, datang seorang tamu, katanya ia kurir Tentara Republik. Ia memberi tahu ada konsentrasi pasukan Belanda di Jeruk Legi. Pasukan Belana ini masuk lagi ke Indonesia dengan cara mbonceng tentara Sekutu yang menjadi perantara peralihan pemerintah Indonesia dan Jepang.

Diduga Belanda akan menyerbu kota Yogya sebagai pusat sementara pemerintahan Republik Indonesia.

Tentara Republik hendak mengadakan perlawanan, mempertahankan Kemerdekaannya. Tetapi kalah persenjataannya, oleh karena itu Tentara Republik Indonesia akan malakukan taktik Bumi hangus. Yaitu membakar dan merusak banguna Belanda yang akan digunakan sebagi akses, semacam jalan dan jembatan serta banguna yang akan digunakan sebagai basis persinggahan, termasuk Poliklinik Pagak.

Karena Poliklinik dan rumah dinas akan dibakar, Mbah Kakung dan keluarganya diperintahkan meninggalkan Pagak, pindah ke Cilacap, bergabung dengan induk Kesehatan yang bermarkas di Rumah Sakit Umum.

Akan tetapi yang membuat terkejut, instruksi pindah itu harus dilaksanakan paling lambat esok hari sebelum matahari terbit.

Permasalahan menjadi lebih rumit, perjalanan kami tidak boleh lewat jalan protokol, takut kepergok Belanda. Jadi tidak boleh masuk kota Jeruk Legi, harus cari jalan alternatif menuju Cilacap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...