Bumi Hangus
Ceritera selanjutnya aku mulai dari
ketika mbah Kakung menjadi kepala Poliklinik Pagak, Jeruk Legi. Poliklinik
Pagak lengkap dengan rumah dinasnya didirikan oleh pemerintah Kolonial Belanda,
bentuknya model loji. Zaman itu sangat langka bangunan yang menggunakan tembok,
jadi bangunan Poliklinik itu kelihat megah, sangat mencolok diatara rumah dan
bangunan lain sekitar Poliklinik.
Awalnya status mbah Kakung,
Amtenar, pegawai Gubermen, pemerintah Hindia
Belanda, di bidang kesehatan.
Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, status
mbah Kakung tidak jelas, namun yang jelas mbah Kakung terus
mengemban misi kemanusian, menanggulangi penyakit dan menyembuhkan yang sakit, dengan
terus mengoperasikan Poliklinik Pagak.
Setelah Indonesia merdeka, status
Mbah Kakung juga belum jelas benar, tapi yang benar Mbah kakung masih terus
mengoperasikan Poliklinik Pagak.
Sampai beberapa tahun kemudian, pada suatu hari menjelang sore, datang seorang tamu, katanya ia kurir
Tentara Republik. Ia memberi tahu ada konsentrasi pasukan Belanda di Jeruk Legi. Pasukan Belana ini masuk lagi ke
Indonesia dengan cara mbonceng tentara Sekutu yang menjadi perantara peralihan
pemerintah Indonesia dan Jepang.
Diduga Belanda akan menyerbu kota Yogya
sebagai pusat sementara pemerintahan Republik Indonesia.
Tentara Republik
hendak mengadakan perlawanan, mempertahankan Kemerdekaannya. Tetapi kalah
persenjataannya, oleh karena itu Tentara Republik Indonesia akan malakukan
taktik Bumi hangus. Yaitu membakar dan merusak banguna Belanda yang akan
digunakan sebagi akses, semacam jalan dan jembatan serta banguna yang akan
digunakan sebagai basis persinggahan, termasuk Poliklinik Pagak.
Karena Poliklinik
dan rumah dinas akan dibakar, Mbah Kakung dan
keluarganya diperintahkan meninggalkan Pagak, pindah ke Cilacap, bergabung
dengan induk Kesehatan yang bermarkas di Rumah Sakit Umum.
Akan tetapi yang membuat terkejut,
instruksi pindah itu harus dilaksanakan paling lambat esok hari sebelum
matahari terbit.
Permasalahan menjadi lebih rumit,
perjalanan kami tidak boleh lewat jalan protokol, takut kepergok Belanda.
Jadi tidak boleh masuk kota Jeruk Legi, harus cari jalan alternatif menuju
Cilacap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar