Senin, 13 November 2023

keluarga besar

 

Keluarga besar Mbah Kakung dan Mbah Putri

 

        Kejujuran Mbah Kakung membuat keluarga kami tak bisa kaya, tidak punya sawah, ladang. Hanya hibah tanah di puncak gunung Pagak, itu pun Mbah Kakung tidak pernah mengurus hak kepemilikannya, tak pernah memberi status ‘kepunyaanku’.

Sedangkan tanah, rumah dan poliklinik yang kami tempati saja tak jelas statusnya, apa hibah, apa sewa apa dipinjamkan.

Kata Mbah Putri, pernah dibicarakan pada pak Mantri Guru, apa dibeli apa disewa. Kata pak Mantri Guru, jangan dipikirkan, sepanjang masih betah tinggal disitu, silakan terus ditempati. Akhirnya Mbah Putri memberi status sendiri, tanah itu sebagai tanah Magersari. Oleh karena itu, Mbah Putri menganjurkan semua anggota keluarga kami harus loyal pada keluarga bu Mantri Guru. Loyal bukan berarti merendahkan derajat, namun bentuk imbal balik saling menunjukan etika hormat dan balas budi.

        Jangan salah, Mbah Kakung dan Mbah Putri itu bukan keturunan keluarga miskin, bahkan bukan dari kalangan rakyat biasa.

Mbah Putri adalah keturunan dari Thrah Sastrotaruno. Orang tua Mbah Putri, kami menyebutnya Mbah Ceper, orang terkaya di Karangmojo, wilayah Ceper, kabupaten Klaten. Mbah Ceper Putri terkenal dengan panggilan Sastro Iyeng, pedagang perhiasan emas berlian. Pelanggannya orang-orang bule dan karyawan level atas pabrik gula Ceper, itu dilakukan sejak jaman kolonial.

Mbah kakung adalah keturunan dari Trah Amat Syarif. Orang tua Mbah kakung kami menyebutnya Mbah Ponggok, karena domisilinya didekat umbul Ponggok. Mbah Ponggok Kakung terkenal sebagai seorang Bass (mungkin jabatan managerial) di pabrik gula Karang Anom, juga masih termasuk kabupaten Klaten. Makanya tak heran jika Mbah Kakung diperbolehkan masuk sekolah Paramedis di CBZ Semarang.

Melihat sejarah keturunan Mbah Kakung dan Mbah Putri seperti diceriterakan tersebut, pantas menyebut keluarga kami bukan dari kalangan keluarga biasa. Barangkali ini komitmen Mbah Kakung dan Mbah Putri, setelah membangun keluarga sendiri, ingin mandiri tidak bergantung pada keluarga besarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...