Senin, 13 November 2023

bah acong

 

Bah Acong

 

        Aku tak ingat ada berapa Cina yang dagang di pasar Lebeng, yang aku ingat hanya Bah Acong. Tokonya sekaligus rumahnya tidak tepat di areal pasar, tetapi di pinggir pasar sebelah utara, dekat dengan sungai kecil yang dibawah jembatannya ada bangunan dam dari beton. Kalau musim kering, air sungai surut dan bening seperti kolam renang. Saat itu aku sering mandi di dam, berenang dibagian yang dalam, meluncur di lantai tanggul dam yang lebar, posisinya miring dan licin karena banyak lumutnya. Tetapi kalau musim hujan sungai ini airnya penuh arusnya deras. Sungai kecil ini cabang dari sungai Lebeng, sungai besar yang ada jembatan rel kereta api panjang, terletak disebelah timur tidak jauh dari setatsiun Lebeng. Jika sungai besar sudah penuh karena luapan air dari hulunya yang berada di pegunung Kendeng, sebagian airnya dialirakan ke sungai kecil itu. Oleh karenanya sungai kecil itu sering disebut sungai Sodetan. Air sungai sodetan dibagi-bagi lagi manjadi sungai kecil yang disebut sier. Nama yang sebenarnya tersier, artinya cabang ketiga, tetapi penduduk setempat lebih enak mengucap sier. Dari sier ini, air dialirkan masuk ke tempat-tempat yang memerlukannya terutama persawahan dan blumbang (semacam tebat atau empang) untuk pemeliharaan ikan.

Salah satu sier sungai Sodetan melintas dari arah barat menuju timur sepanjang pinggir jalan umum Lebeng ke Kesugihan tepat melalui depan rumah pak Mantri Guru, depan poliklinik dan juga rumah kami.

Melihat geografinya mungkin daerah Lebeng dulunya berupa rawa, namun dengan sistem irigasi yang canggih seperti itu disulap menjadi desa yang subur dan makmur.

        Cina yang namanya Acong itu umurnya masih muda, lebih muda dari umur ibuku, tetapi penduduk desa Lebeng senang memanggilnya dengan tambahan Bah. Sebenarnya Bah atau Babah untuk sebutan Cina yang umurnya sudah tua, tetapi penduduk desa Lebeng senang memanggil Bah Acong, dan yang dipanggil dengan nama itupun tidak protes.

Aku tidak tau bagai mana riwayatnya sampai bah Acong baik sekali dengan keluargaku. Mungkin Mbah Putri selalu mempercayakan dia untuk memasarkan hasil home industrinya.

        Selain itu, Mbah Putri pernah ceritera, ayah bah Acong namanya Engkong, sudah lama mengidap sakit bengek. Di suatu malam ashma Engkong kambuh, hampir saja lewat, kalau tidak buru-buru ditolong Mbah Kakung.

Pada saat berobat ulang, Engkong diantar bah Acong ke poliklinik. Ketika Mbah Kakung memeriksa Engkong, Mbah Kakung melihat ada satu pak rokok siong di dalam saku baju Engkong. Rokok siong termasuk rokok kelas berat, rokok produk lokal, tembakaunya kasar, bumbunya klembak dan menyan. Dengan cepat Mbah Kakung mengambil rokok siong dari saku Engkong, sambil diacungkan ke hidungnya, Mbah Kakung berkata keras seperti orang marah:

        “Pilih rokok apa umur panjang.”

        Engkong diam saja. Bah Acong senang ada orang yang berani memarahi Engkong. Kata orang, Engkong itu galak, jago kungtouw (mungkin sekarang kungfu) jadi tak ada yang berani main-main dengan dia. Meskipun Acong anaknya tetapi ia tak berani memarahi Engkong, apa lagi melarang merokok.

        “Kalau pilih rokok, pulang saja nggak usah berobat, tetapi kalau pilih sembuh, rokok ini dibuang, jangan merokok lagi, kata Mbah Kakung.

        “Tetapi owe gak bisa putus lokok, gimana calanya hah?” kata Engkong, dialeknya medok gaya singkek.

        “Nih, aku kasih resep. Mantumu, itu istri Acong, suruh bikin kedele hitam digoreng sangan, jangan pakai minyak, diberi garam sedikit, taruh dalam stoples. Setiap pingin ngrokok, ganti saja dengan makan dele.”

        Sebulan kemudian bah Acong kerumah naik sepeda kumbang, semacam sepeda motor bentuknya lebih kecil, kalau tidak keliru mereknya atau namanya disebut bronfit.

Bah Acong ceritera, Engkong sudah sembuh, tidak merokok lagi, badannya sehat, giat kungtow untuk olah raga pagi, makanya bah Acong mau beri hadiah bronfit. Tetapi Mbah Kakung menolak dan bah Acong ngotot agar Mbah Kakung mau menerima.

Seperti biasa Mbah Putri sebagai penengah yang bijak.

        “Ya sudah dibeli saja, tapi jangan mahal-mahal harganya,” kata Mbah Putri.

        “Mau diterima begitu saja ya boleh, apa mau dibeli terserah, pokoknya bronfit ini saya tinggal,” kata bah Acong tegas.

        “Lho tunggu dulu, aku tak punya uang. Uangku habis, buat beli sepeda,” potong Mbah Kakung.

        Memang benar beberapa bulan yang lalu Mbah Kakung membeli sepeda baru model sepeda laki-laki mereknya Eddy. Uniknya sepeda ini bisa direm dengan cara pedal diputar arah belakang, istilahnya speda terpedo. Kelak, sejak aku bisa naik sepeda sampai aku selesai SMA, sepeda itu masih aku pakai.

Kisahnya, sudah lama Mbah Kakung diberi janji mau mendapat inventaris sepeda dari pemerintah. Karena kendaraan dinas tak kunjung tiba, sedangkan aktifitas lapangan semakin banyak, maka Mbah Kakung memutuskan membeli sepeda sendiri. Tetapi beberapa hari kemudian sepeda inventaris dari pemerintah turun. Kini di rumah ada dua sepeda, dan yang senang kang Kasim ia boleh membawa pulang sepeda inventaris yang mereknya Philips, sebab Mbah Kakung lebih senang naik speda terpedo.

        “Ndak dibayar ya boleh, dibayarnya kapan saja silakan, mau dibayar dikit-dikit juga boleh, pokoknya bronfit ini aku tinggal. Sekarang aku mau pulang,” kata bah Acong seenaknya. Memang bah Acong sama Mbah Kakung dan Mbah Putri sudah seperti kakak beradik saja.

        “Ya sudah biar sama-sama senang, tinggal saja bronfit itu nanti aku bayar, tetapi nggak bisa sekali gus, dicicil lho ya?” kata Mbah Putri pada bah Acong, lalu berpaling pada Mbah Kakung sambil berkata:

        “Itu Acong mau pulang, bapak antar saja pakai bronfits, hitung-hitung nganyari sepeda kumbang.”

        Akhirnya semua klir. Kalau mau dicatat dalam sejarah, barang kali ini pertama di Indonesia ada kridit motor dengan bayaran dicicil atau beberapa kali angsuran. Bedanya kredit bronfit Mbah Kakung tak pakai bunga, tak ada jatuh tempo serta tak ada ketentuan besarnya cicilan.

Kata Mbah Putri, malah kalau membayar cicilan motor ke toko bah Acong, pulangnya Mbah Putri dibekali oleh-oleh sembako, kadang-kadang nilainya lebih dari uang cicilan yang baru saja dibayarkan.

Keputusan Mbah Putri sangat tepat, dengan adanya sepeda kumbang memudahkan Mbah Kakung untuk kekota besar, mengambil obat tanpa harus menunggu kiriman. Malahan pulangnya masih mendapat penggantian uang transport, cukup buat keperluan beli bensin dan beli oleh-oleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...