Bah Acong
Aku tak ingat
ada berapa Cina yang dagang di pasar Lebeng, yang aku ingat hanya Bah Acong.
Tokonya sekaligus rumahnya tidak tepat di areal pasar, tetapi di pinggir pasar
sebelah utara, dekat dengan sungai kecil yang dibawah jembatannya ada bangunan
dam dari beton. Kalau musim kering, air sungai surut dan bening seperti kolam renang. Saat itu aku sering mandi di dam, berenang dibagian yang dalam,
meluncur di lantai tanggul dam yang lebar, posisinya miring dan licin karena
banyak lumutnya. Tetapi kalau musim hujan sungai ini airnya penuh arusnya
deras. Sungai kecil ini cabang dari sungai Lebeng, sungai besar yang ada
jembatan rel kereta api panjang, terletak disebelah timur tidak jauh dari
setatsiun Lebeng. Jika sungai besar sudah penuh karena luapan air dari hulunya
yang berada di pegunung Kendeng, sebagian airnya dialirakan ke sungai kecil itu.
Oleh karenanya sungai kecil itu sering disebut sungai Sodetan. Air sungai
sodetan dibagi-bagi lagi manjadi sungai kecil yang disebut sier. Nama yang
sebenarnya tersier, artinya cabang ketiga, tetapi penduduk setempat lebih enak
mengucap sier. Dari sier ini, air dialirkan masuk ke tempat-tempat yang
memerlukannya terutama persawahan dan blumbang (semacam tebat atau empang)
untuk pemeliharaan ikan.
Salah satu sier sungai Sodetan melintas
dari arah barat menuju timur sepanjang pinggir jalan umum Lebeng ke Kesugihan
tepat melalui depan rumah pak Mantri Guru, depan poliklinik dan juga rumah
kami.
Melihat geografinya mungkin daerah Lebeng
dulunya berupa rawa, namun dengan sistem irigasi yang canggih seperti itu
disulap menjadi desa yang subur dan makmur.
Cina yang
namanya Acong itu umurnya masih muda, lebih muda dari umur ibuku, tetapi
penduduk desa Lebeng senang memanggilnya dengan tambahan Bah. Sebenarnya Bah
atau Babah untuk sebutan Cina yang umurnya sudah tua, tetapi penduduk desa
Lebeng senang memanggil Bah Acong, dan yang dipanggil dengan nama itupun tidak
protes.
Aku tidak tau bagai mana riwayatnya sampai
bah Acong baik sekali dengan keluargaku. Mungkin Mbah Putri selalu
mempercayakan dia untuk memasarkan hasil home
industrinya.
Selain itu, Mbah
Putri pernah ceritera, ayah bah Acong namanya Engkong, sudah lama mengidap sakit bengek. Di
suatu malam ashma Engkong kambuh, hampir saja lewat, kalau tidak buru-buru ditolong Mbah Kakung.
Pada saat berobat ulang, Engkong diantar
bah Acong ke poliklinik. Ketika Mbah Kakung memeriksa Engkong, Mbah Kakung
melihat ada satu pak rokok siong di dalam saku baju Engkong. Rokok siong
termasuk rokok kelas berat, rokok produk lokal, tembakaunya kasar, bumbunya
klembak dan menyan. Dengan cepat Mbah Kakung mengambil rokok siong dari saku
Engkong, sambil diacungkan ke hidungnya, Mbah Kakung berkata keras seperti
orang marah:
“Pilih rokok apa
umur panjang.”
Engkong diam
saja. Bah Acong senang ada orang yang berani memarahi Engkong. Kata orang,
Engkong itu galak, jago kungtouw (mungkin sekarang kungfu) jadi tak ada yang
berani main-main dengan dia. Meskipun Acong anaknya tetapi ia tak berani
memarahi Engkong, apa lagi melarang merokok.
“Kalau pilih
rokok, pulang saja nggak usah berobat, tetapi kalau pilih sembuh, rokok ini
dibuang, jangan merokok lagi,” kata Mbah Kakung.
“Tetapi owe gak
bisa putus lokok, gimana calanya hah?” kata Engkong, dialeknya medok gaya
singkek.
“Nih, aku kasih
resep. Mantumu, itu istri Acong, suruh bikin kedele hitam digoreng sangan,
jangan pakai minyak, diberi garam sedikit, taruh dalam stoples. Setiap pingin
ngrokok, ganti saja dengan makan dele.”
Sebulan kemudian
bah Acong kerumah naik sepeda kumbang, semacam sepeda motor bentuknya lebih
kecil, kalau tidak keliru mereknya atau namanya disebut bronfit.
Bah Acong ceritera, Engkong sudah sembuh,
tidak merokok lagi, badannya sehat, giat kungtow untuk olah raga pagi, makanya
bah Acong mau beri hadiah bronfit. Tetapi Mbah Kakung menolak dan bah Acong
ngotot agar Mbah Kakung mau menerima.
Seperti biasa Mbah Putri sebagai penengah
yang bijak.
“Ya sudah dibeli
saja, tapi jangan mahal-mahal harganya,” kata Mbah Putri.
“Mau diterima
begitu saja ya boleh, apa mau dibeli terserah, pokoknya bronfit ini saya
tinggal,” kata bah Acong tegas.
“Lho tunggu
dulu, aku tak punya uang. Uangku habis, buat beli sepeda,” potong Mbah Kakung.
Memang benar
beberapa bulan yang lalu Mbah Kakung membeli sepeda baru model sepeda laki-laki
mereknya Eddy. Uniknya sepeda ini bisa direm dengan cara pedal diputar arah belakang,
istilahnya speda terpedo. Kelak, sejak aku bisa naik sepeda sampai aku selesai
SMA, sepeda itu masih aku pakai.
Kisahnya, sudah lama Mbah Kakung diberi
janji mau mendapat inventaris sepeda dari pemerintah. Karena kendaraan dinas
tak kunjung tiba, sedangkan aktifitas lapangan semakin banyak, maka Mbah Kakung
memutuskan membeli sepeda sendiri. Tetapi beberapa hari kemudian sepeda
inventaris dari pemerintah turun. Kini di rumah ada dua sepeda, dan yang senang
kang Kasim ia boleh membawa pulang sepeda inventaris yang mereknya Philips,
sebab Mbah Kakung lebih senang naik speda terpedo.
“Ndak dibayar ya
boleh, dibayarnya kapan saja silakan, mau dibayar dikit-dikit juga boleh,
pokoknya bronfit ini aku tinggal. Sekarang aku mau pulang,” kata bah Acong
seenaknya. Memang bah Acong sama Mbah Kakung dan Mbah Putri sudah seperti kakak
beradik saja.
“Ya sudah biar
sama-sama senang, tinggal saja bronfit itu nanti aku bayar, tetapi nggak bisa
sekali gus, dicicil lho ya?” kata Mbah Putri pada bah Acong, lalu berpaling
pada Mbah Kakung sambil berkata:
“Itu Acong mau
pulang, bapak antar saja pakai bronfits, hitung-hitung nganyari sepeda
kumbang.”
Akhirnya semua
klir. Kalau mau dicatat dalam sejarah, barang kali ini pertama di Indonesia ada
kridit motor dengan bayaran dicicil atau beberapa kali angsuran. Bedanya kredit
bronfit Mbah Kakung tak pakai bunga, tak ada jatuh tempo serta tak ada
ketentuan besarnya cicilan.
Kata Mbah Putri, malah kalau membayar
cicilan motor ke toko bah Acong, pulangnya Mbah Putri dibekali oleh-oleh
sembako, kadang-kadang nilainya lebih dari uang cicilan yang baru saja
dibayarkan.
Keputusan Mbah Putri sangat tepat, dengan
adanya sepeda kumbang memudahkan Mbah Kakung untuk kekota besar, mengambil obat
tanpa harus menunggu kiriman. Malahan pulangnya masih mendapat penggantian uang
transport, cukup buat keperluan beli bensin dan beli oleh-oleh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar