Senin, 13 November 2023

anak pungut ke 1

 

Anak Pungut yang pertama

 

        Sepulang dari pasar yu War lapor pada Mbah Putri.

        “Bu, tadi saya ketemu den Saban,” kata yu War. Mbah Putri kelihatan kaget mendengar nama itu disebut yu War.

        “Saban? Ah nggak mungkin, jangan-jangan kamu salah lihat,” kata Mbah Putri tak percaya.

        “Lho, orang saya tadi sudah ngomong-ngomong sama den Saban, katanya ia sekarang menjadi pegawai satatsiun Lebeng, menjadi wakilnya pak Sep. Den Saban juga kaget mendengar keluarga kita sekarang ada di Lebeng.”

        “Apa ia ceritera kemana perginya setelah lari dari Pagak?” tanya Mbah Putri.

        “Tadi saya juga tanya itu, tapi jawabnya ceriteranya panjang. Katanya ia sudah mencari keluarga kita, sampai di Jeruk Legi, mendengar Pagak dibumi hanguskan, den Saban balik lagi ke Semarang. Kata den Saban nanti sore mau kemari, saya sudah kasih tau rumah kita yang ada tulisannya Poliklinik Lebeng, kata yu War.

        Setelah laporan yu War pergi kedapur. Tinggal Mbah Putri sendirian duduk termenung dikursi ruang tengah.

       

        Nama yang di sebut yu War, den Saban, nama aslinya Syahban adalah anak pungut Mbah Putri yang pertama, jauh sebelum mbak Yanti dan mbak Amah diadopsi, maka kami memanggilnya mas Saban susah menyebutkan Syahban. Kejadian itu saat masih zaman kolonial Belanda.

        Menurut riwayatnya, mas Saban putra tunggal keluarga Dokter Syahnan yang masih punya darah India.

        Ketika Dokter Syahnan bekerja di rumah sakit CBZ Semarang, ia kawin dengan seorang perempuan bule, berdarah Inggris dan lahir putranya, diberi naman Syahban.

Mbah Kakung kenal baik dengan keluarga dokter Syahnan, karena pernah menjadi asistennya ketika masih bekerja di rumah sakit CBZ.

Setelah Mbah Kakung resmi diangkat menajadi Amtenar, hingga tahun-tahun awal Mbah Kakung bekerja di Poliklinik gunung Pagak, tak pernah lagi mendengar berita keluarga dokter Syahnan.

       

        Suatu hari, Mbah Kakung mengurus jatah obat-obatan sekalian diundang menghadiri penyuluhan penyakit rabies di rumah sakit Pastur Bandung, disitu ketemu dengan doker Syahnan. Selesai acara Rumah Sakit, Mbah Kakung diundang ke rumah dokter Syahnan.

Ketika itu keluarganya sedang mempunyai persoalan berat. Katanya, mas Saban bertengkar dengan temannya seorang sinyo Belanda. Dari pertengkaran menjadi perkelaian mengakibatkan anak orang Belanda itu meninggal. Menurut saksi mata sebetulnya kejadian itu termasuk suatu kecelakaan, makanya putranya luput dari jerat hukum. Namun yang ditakutkan pak dokter, balas dendam keluarga orang Belanda atau teman-teman Sinyo yang meninggal itu.

        Mbah Kakung memberi usulan, kalau anaknya mau, biar ikut ke gunung Pagak, untuk istirahat menenangkan pikiran sambil menghidari hal-hal yang tak diinginkan. Jika kelak sudah aman biar pulang ke Bandung, tetapi jika kerasan di daerah, bisa meneruskan sekolah tekniknya di Cilacap atau Purworejo.

Mas Saban dipangil lalu dikenalkan pada Mbah Kakung. Profil mas Saban seperti kebanyakan anak Indo. Meski darah Indianya masih terbayang pada dagu dan hidungnya, namun secara utuh penampilan pemuda itu tak ubahnya seperti anak Indo lainnya. Kulit yang putih, mata yang biru dan rambut yang pirang.

Kalau melihat tampangnya, sepertinya pemuda itu tak punya karakter nakal, maka agak mengherankan jika ia sampai berani bertengkar dan berkelai dengan temannya. Apalagi ketika anak itu bicara, tuturnya sopan dan hormat pada orang tua malah kelihatan patuh. Terbukti, ketika dokter Syahnan menyarankan agar ia ikut Mbah Kakung ke Pagak, tak sedikitpun mambantah, langsung setuju.

 

        Kurang lebih dua minggu mas Saban tinggal digunung Pagak. Selama di Pagak, mas Saban kelihatan kerasan, hampir tak pernah pergi kemana-mana. Hanya sekali pergi ke Jeruk Legi dan Cilacap, tetapi waktu terbanyaknya dihabiskan di rumah. Membatu kang Mislam di poliklinik atau ikut kang Karya yang akan nderes legen ke kebun kelapa. Kesukaanya memang minum legen yang baru, yang baru diambil dari atas pohon. Makanya ia rela bangun pagi, supaya tak ditinggal kang Karya.

Mbah Putri dan Mbah Kakung sudah lama mendambakan anak-laki-laki, dari 3 anak yang telah lahir semuanya perempuan, makanya dengan kehadirannya mas Saban sedikit mengobati. Mbah Kakung dan Mbah Putri menggangap anak itu seperti anaknya sendiri, kebetulan anaknya tidak canggung, seperti hidup dilingkungan keluarga sendiri. Apalagi ia anak tunggal yang belum pernah merasakan punya saudara, makanya ketika di Pagak seakan-akan ia mendapat adik yang bisa diajak bermain dan bergurau. Suasana bahagia seperti itu yang selama ini belum pernah ia temukan. Maka tak heran sampai mas Saban menitikkan air mata, karena terharu ketika ia pamitan mau pulang ke Bandung.

Mbah Kakung dan Mbah Putri menduga perpisahan itu merupakan hari terakhir melihat mas Saban. Tetapi kisahnya menjadi lain. Kurang lebih dua minggu kemudian mas Saban muncul di gunang Pagak. Ia ingin ikut Mbah Kakung dan Mbah Putri tinggal di gunung pagak.

Ceritera mas Saban, setiba di rumahnya Bandung, ia disambut salah satu tetangganya, mengabarkan dokter Syahnan dan istrinya meninggal karena kecelakaan mobil di Dago. sekarang dimakamkan di pemakaman Belanda di Cimahi. Ia ingin mengabarkan sanak saudaranya tetapi tak tau harus lapor kemana. Mas Saban sempat soch, ia sendiri juga bingung, tidak tau apakah ia punya saudara atau tidak di Indonesia. Makanya setelah semua urusan beres ia segera pulang ke Gunung Pagak.

Itu peristiwanya sampai mas Saban menjadi anak angkat Mbah Putri. Setelah tenang mas Saban meneruskan sekolah tekniknya di Purwokerto. Di kota itu ia indekos, dan kalau liburan sekolah ia pulang ke gunung Pagak.

 

        Waktu berjalan terus, sampai meletus perang antara Jepang yang mendarat di Indonesia dan Belanda yang ingin mempertahankan daerah Koloninya. Sayang Belanda kalah.

Pada awal Jepang menjadi Penjajah di Indonesia, yang mereka lakukan pertama-tama sweeping orang-orang Belanda. Perburuan itu tidak hanya dilakukan di kota saja, melainkan sampai jauh masuk ke pelosok desa, bahkan sampai puncak gunung.

Mas Saban sudah sebulan tidak berani pergi, malah Mbah Kakung menyuruhnya setiap hari pergi ke sawah ikut nyangkul, biar kulitnya menjadi hitam.

Suatu hari, datang serombongan Jepang ke gunung Pagak. Mereka sedang melaklukan sweeping orang Belanda. Kebetulan mas Saban masih berada disawah, ketika mendengar Jepang sudah sampai di Poliklinik, ia bingung, sebentar lagi Jepang-jepang itu sampai ke mari, apa mau melarikan diri atau tetap tinggal disawah.

Dua orang petani yang ada didekatnya menyarankan tak usah lari, hanya badannya saja dilumuri lumpur dan wajahnya ditenggelamkan dalam capingnya

Hari itu mas Saban selamat, namun karena Mbah Putri setiap hari khawatir mas Saban ditangkap Jepang, Mas Saban disuruh mengungsi ke Ceper, tempat tinggal orang tua Mbah Putri. Dengan bekal yang cukup Mas Saban berangkat. Tetapi ternyata mas Saban tidak mengungsi ke Ceper. Sejak itu, sampai kami tinggal di Lebeng, tak pernah mendengar beritanya lagi.

        Mbah Putri tergagap, melihat Mbah Kakung masuk keruang tengah, membubarkan kenangan peristiwa mengabdosi mas Saban beberapa tahu yang lalu.

        “Bu, katanya Saban sekarang di Lebeng,” kata Mbah Kakung.

        “Iya, lho kok bapak tau?” tanya Mbah Putri heran.

        “Tadi waktu aku ke belakang si War ceritera ketemu Saban. Nanti habis bubaran klinik, coba aku tengok ke Setatsiun.”

        “Nggak usah pak, kata si War, nanti sore Saban mau kesini.”

        “Oh ya sudah,” kata Mbah Kakung, sambil keluar ruangan, balik ke ruangan poloklinik.

        Sore hari, dirumah kami rame, semua anggota keluarga kumpul mengerumuni tamunya, mas Saban dan pak Sep.

Air mata dan haru mewarnai kegembiraan pertemuan itu. Dan aku terheran-heran baru kali itu aku melihat orang Bule.

Ceritera mas Saban, setelah pergi dari gunung Pagak ia sampai di kota Solo. Rencananya ia mau ke Ceper, tetapi ia ingat ada perkumpulan orang Inggris di kota Semarang, ia batalkan ngungsi ke Ceper, pergi ke Semarang untuk mencari komunitas orang Inggris yang berdomisili di Semarang. Akhirnya ketemu, selanjutnya ia ditampung oleh salah satu keluarga Warga negara Inggris dan meneruskan sekolah dikota itu. Setelah Indonesia Merdeka ia masuk bekerja menjadi pegawai Djawatan Kereta Api. Dan kini diangkat menjadi pegawai Setatsiun Lebeng membantu pak Sep. Ia juga menadapat rumah dinas kecil, bersebelahan dengan rumah dinas Pak Sep.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...