Anak Pungut yang pertama
Sepulang dari
pasar yu War lapor pada Mbah Putri.
“Bu, tadi saya
ketemu den Saban,” kata yu War. Mbah Putri kelihatan kaget mendengar nama itu
disebut yu War.
“Saban? Ah nggak
mungkin, jangan-jangan kamu salah lihat,” kata Mbah Putri tak percaya.
“Lho, orang saya
tadi sudah ngomong-ngomong sama den Saban, katanya ia sekarang menjadi pegawai satatsiun
Lebeng, menjadi wakilnya pak Sep. Den Saban juga kaget mendengar keluarga kita sekarang ada di Lebeng.”
“Apa ia ceritera
kemana perginya setelah lari dari Pagak?” tanya Mbah Putri.
“Tadi saya juga
tanya itu, tapi jawabnya ceriteranya panjang. Katanya ia sudah mencari keluarga
kita, sampai di Jeruk Legi, mendengar Pagak dibumi hanguskan, den Saban balik lagi ke
Semarang. Kata den Saban nanti sore mau kemari, saya sudah kasih tau rumah kita yang ada
tulisannya Poliklinik Lebeng,” kata yu War.
Setelah laporan
yu War pergi kedapur. Tinggal Mbah Putri sendirian duduk termenung dikursi
ruang tengah.
Nama yang di
sebut yu War, den Saban, nama aslinya
Syahban adalah anak pungut Mbah Putri yang pertama,
jauh sebelum mbak Yanti dan mbak Amah diadopsi, maka kami memanggilnya mas
Saban susah menyebutkan Syahban. Kejadian itu saat masih zaman kolonial Belanda.
Menurut
riwayatnya, mas Saban putra tunggal keluarga Dokter Syahnan yang masih punya darah India.
Ketika Dokter
Syahnan bekerja di rumah sakit CBZ Semarang, ia kawin dengan seorang perempuan bule, berdarah
Inggris dan lahir putranya, diberi naman Syahban.
Mbah Kakung kenal baik dengan keluarga
dokter Syahnan, karena pernah menjadi asistennya ketika masih bekerja di rumah
sakit CBZ.
Setelah Mbah Kakung resmi diangkat menajadi
Amtenar, hingga tahun-tahun awal Mbah Kakung bekerja di Poliklinik gunung Pagak,
tak pernah lagi mendengar berita keluarga dokter Syahnan.
Suatu hari, Mbah
Kakung mengurus jatah obat-obatan sekalian diundang menghadiri penyuluhan
penyakit rabies di rumah sakit Pastur Bandung, disitu ketemu dengan doker
Syahnan. Selesai acara Rumah Sakit, Mbah Kakung diundang ke rumah dokter
Syahnan.
Ketika itu keluarganya sedang mempunyai
persoalan berat. Katanya, mas Saban bertengkar dengan temannya seorang sinyo
Belanda. Dari pertengkaran menjadi perkelaian mengakibatkan anak orang Belanda
itu meninggal. Menurut saksi mata sebetulnya kejadian itu termasuk suatu
kecelakaan, makanya putranya luput dari jerat hukum. Namun yang ditakutkan pak
dokter, balas dendam keluarga orang Belanda atau teman-teman Sinyo yang
meninggal itu.
Mbah Kakung
memberi usulan, kalau anaknya mau, biar ikut ke gunung Pagak, untuk istirahat
menenangkan pikiran sambil menghidari hal-hal yang tak diinginkan. Jika kelak sudah
aman biar pulang ke Bandung, tetapi jika kerasan di daerah, bisa meneruskan
sekolah tekniknya di Cilacap atau Purworejo.
Mas Saban dipangil lalu dikenalkan pada Mbah
Kakung. Profil mas Saban seperti kebanyakan anak Indo. Meski darah Indianya
masih terbayang pada dagu dan hidungnya, namun secara utuh penampilan pemuda
itu tak ubahnya seperti anak Indo lainnya. Kulit yang putih, mata yang biru dan
rambut yang pirang.
Kalau melihat tampangnya, sepertinya pemuda
itu tak punya karakter nakal, maka agak mengherankan jika ia sampai berani
bertengkar dan berkelai dengan temannya. Apalagi ketika anak itu bicara,
tuturnya sopan dan hormat pada orang tua malah kelihatan patuh. Terbukti,
ketika dokter Syahnan menyarankan agar ia ikut Mbah Kakung ke Pagak, tak
sedikitpun mambantah, langsung setuju.
Kurang lebih dua
minggu mas Saban tinggal digunung Pagak. Selama di Pagak, mas Saban kelihatan
kerasan, hampir tak pernah pergi kemana-mana. Hanya sekali pergi ke Jeruk Legi
dan Cilacap, tetapi waktu terbanyaknya dihabiskan di rumah. Membatu kang Mislam
di poliklinik atau ikut kang Karya yang akan nderes legen ke kebun kelapa.
Kesukaanya memang minum legen yang baru, yang baru diambil dari atas pohon.
Makanya ia rela bangun pagi, supaya tak ditinggal kang Karya.
Mbah Putri dan Mbah Kakung sudah lama
mendambakan anak-laki-laki, dari 3 anak yang telah lahir semuanya perempuan,
makanya dengan kehadirannya mas Saban sedikit mengobati. Mbah Kakung dan Mbah
Putri menggangap anak itu seperti anaknya sendiri, kebetulan anaknya tidak
canggung, seperti hidup dilingkungan keluarga sendiri. Apalagi ia anak tunggal
yang belum pernah merasakan punya saudara, makanya ketika di Pagak seakan-akan
ia mendapat adik yang bisa diajak bermain dan bergurau. Suasana bahagia seperti
itu yang selama ini belum pernah ia temukan. Maka tak heran sampai mas Saban
menitikkan air mata, karena terharu ketika ia pamitan mau pulang ke Bandung.
Mbah Kakung dan Mbah Putri menduga
perpisahan itu merupakan hari terakhir melihat mas Saban. Tetapi kisahnya
menjadi lain. Kurang lebih dua minggu kemudian mas Saban muncul di gunang
Pagak. Ia ingin ikut Mbah Kakung dan Mbah Putri tinggal di gunung pagak.
Ceritera mas Saban, setiba di rumahnya
Bandung, ia disambut salah satu tetangganya, mengabarkan dokter Syahnan dan
istrinya meninggal karena kecelakaan mobil di Dago. sekarang dimakamkan di
pemakaman Belanda di Cimahi. Ia ingin mengabarkan sanak saudaranya tetapi tak
tau harus lapor kemana. Mas Saban sempat soch, ia sendiri juga bingung, tidak
tau apakah ia punya saudara atau tidak di Indonesia. Makanya setelah semua
urusan beres ia segera pulang ke Gunung Pagak.
Itu peristiwanya sampai mas Saban menjadi
anak angkat Mbah Putri. Setelah tenang mas Saban meneruskan sekolah tekniknya
di Purwokerto. Di kota itu ia indekos, dan kalau liburan sekolah ia pulang ke
gunung Pagak.
Waktu berjalan
terus, sampai meletus perang antara Jepang yang mendarat di Indonesia dan
Belanda yang ingin mempertahankan daerah Koloninya. Sayang Belanda kalah.
Pada awal Jepang menjadi Penjajah di
Indonesia, yang mereka lakukan pertama-tama sweeping
orang-orang Belanda. Perburuan itu tidak hanya dilakukan di kota saja,
melainkan sampai jauh masuk ke pelosok desa, bahkan sampai puncak gunung.
Mas Saban sudah sebulan tidak berani pergi,
malah Mbah Kakung menyuruhnya setiap hari pergi ke sawah ikut nyangkul, biar
kulitnya menjadi hitam.
Suatu hari, datang serombongan Jepang ke
gunung Pagak. Mereka sedang melaklukan sweeping
orang Belanda. Kebetulan mas Saban masih berada disawah, ketika mendengar
Jepang sudah sampai di Poliklinik, ia bingung, sebentar lagi Jepang-jepang itu
sampai
ke mari, apa mau melarikan diri atau tetap tinggal disawah.
Dua orang petani yang ada didekatnya
menyarankan tak usah lari, hanya badannya saja dilumuri lumpur dan wajahnya
ditenggelamkan dalam capingnya
Hari itu mas Saban selamat, namun karena Mbah
Putri setiap hari khawatir mas Saban ditangkap Jepang, Mas Saban disuruh
mengungsi ke Ceper, tempat tinggal orang tua Mbah Putri. Dengan bekal yang cukup Mas Saban
berangkat. Tetapi ternyata mas Saban tidak mengungsi ke Ceper. Sejak itu,
sampai kami tinggal di Lebeng, tak pernah mendengar beritanya lagi.
Mbah Putri
tergagap, melihat Mbah Kakung masuk keruang tengah, membubarkan kenangan
peristiwa mengabdosi mas Saban beberapa
tahu yang lalu.
“Bu, katanya Saban
sekarang di Lebeng,” kata Mbah Kakung.
“Iya, lho kok
bapak tau?” tanya Mbah Putri heran.
“Tadi waktu aku
ke belakang si War ceritera ketemu Saban. Nanti habis bubaran klinik, coba aku
tengok ke Setatsiun.”
“Nggak usah pak,
kata si War, nanti sore Saban mau kesini.”
“Oh ya sudah,”
kata Mbah Kakung, sambil keluar ruangan, balik ke ruangan poloklinik.
Sore hari,
dirumah kami rame, semua anggota keluarga kumpul mengerumuni tamunya, mas Saban
dan pak Sep.
Air mata dan haru mewarnai kegembiraan
pertemuan itu. Dan aku terheran-heran baru kali itu aku melihat orang Bule.
Ceritera mas Saban, setelah pergi dari
gunung Pagak ia sampai di kota Solo. Rencananya ia mau ke Ceper, tetapi ia
ingat ada perkumpulan orang Inggris di kota Semarang, ia batalkan ngungsi ke
Ceper, pergi ke Semarang untuk mencari komunitas orang Inggris yang berdomisili
di Semarang. Akhirnya ketemu, selanjutnya ia ditampung oleh salah satu keluarga
Warga negara Inggris dan meneruskan sekolah dikota itu. Setelah Indonesia
Merdeka ia masuk bekerja menjadi pegawai Djawatan Kereta Api. Dan kini diangkat
menjadi pegawai Setatsiun Lebeng membantu pak Sep. Ia juga menadapat rumah
dinas kecil, bersebelahan dengan rumah dinas Pak Sep.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar