Kadonya Ternak
Nama Hasan
didesa Lebeng banyak. Ada Hasan tukang cukur, ia langganan Mbah Kakung dan aku
juga sering diajak cukur di rumahnya. Yang aku masih ingat rumah sekaligus kios
tempat cukurnya, letaknya sebelah timur pasar, dan di depan rumah ada pohon
waru. Umurnya masih muda tetapi penampilanya sudah seperti orang tua,
badannya kurus dadanya dibungkukkan, kata Mbah Kakung itu resiko tukang cukur,
rentan kena penyakit TBC dan ashma.
Ada lagi Hasan,
kami memanggilnya kang Hasan. Ia adik ipar pak Diman, orang Kesugihan yang
punya delman atau dokar
bahasa lokal. Kereta kuda itu bisa disewa, tetapi kalau tak ada yang
nyewa ia menarik penumpang dari Lebeng ke Kesugian pulang pergi.
Kang Hasan sendiri keahliannya menebang pohon besar.
Jika ada orang mau menebang pohon yang besar seperti pohon kelapa, jati dan
pohon besar lainnya, kebanyakan minta tolong kang Hasan. Jika tidak ada order,
kang Hasan sering pergi ke hutan, mencari pokok kayu bekas pohon yang ditebang.
Setelah di belah-belah dijadikan kayu bakar, lalu dijual kepasar.
Ya gara-gara kang Hasan ini kami
sekeluarga, kadang diberi gratisan jika naik kereta kuda pak Diman. Kalau Mbah
Kakung menyewa delmannya untuk bepergian ke Cilacap diberi tarif murah.
Suatu hari pak Diman membangun rumah di Lebeng. Di tanah kosong
samping rumah kang Hasan.
Tradisi di desa kami, jika ada orang
membangun rumah atau bangunan lain, yang namanya tetangga, kenalan atau saudara
tanpa diminta, datang sendiri untuk mengulurkan bantuan. Ada yang membawakan
material, ada yang menyumbang makanan dan ada juga yang menyumbang tenaga saja.
Gotong royong semacam itu diberi istilah sambatan.
Saat itu kang Hasan juga datang ikut
sambatan. Pagi hari sebelum orang-orang bekerja, disajikan sarapan seperti
singkong rebus, kentang hitam, tales dan cemilan lain yang membuat perut
kenyang. Biasanya cemilan semacam itu minumnya teh dan gulanya gula kelapa.
Uniknya gulanya tidak dicampur, gulanya utuh caranya minum:
Gula dipotong potong seperti permen besar,
sepotong gula diambil, digigit sedikit ujungnya, dikunyah seperti makan preman,
setelah gula di dalam mulut agak lembut baru mengambil cangkir kecil isi air
teh yang masih panas, menghirup seteguk lalu didalam mulut itu dikumur-kumur supaya
air teh dan gula nyampur, baru ditelan. Minum teh, gula jawa dengan cara begitu
mengasyikkan (kelak setelah tua aku pun masih sering melakukan).
Ceriteranya, pagi hari itu kang Hasan
memotong-motong gula jawa dengan kapaknya yang tajam sekali, karena sering diasah.
Setelah selesai memotong gula, dilihatnya di mata kapaknya masih banyak gula
menempel, karena sayang barang kebuang, gula yang di kapak itu (maaf) dijilati
dengan lidah. Malang, lidahnya menggores mata kapak yang tajam, spontan kang Hasan
teriak, dari mulut tak henti-hentinya mengucurkan darah, orang–orang yang
berada disitu panik, mengira lidahnya putus, segera ia dilarikan ke poliklinik.
Kang Hasan masih beruntung, setelah
diperiksa ternyata lidahnya tak terlalu parah, tetapi justru bibir bagian
dalamnya yang parah. Sebab setelah kang Hasan kaget, lidahnya tergores mata
kapak, sepontan bibir yang tadinya menganga lalu menutup, tentu saja bibir atas
dan bawah bagian dalam bagaikan diiris dengan kapak tajam.
Setelah beberapa kali perawatan, bibir kang
hasan bisa sembuh seperti sedia kala. Sebagi ungkapan terima kasih, pak Diman
menawarkan jasa, jika sewaktu-waktu memerlukan delman, ia siap mengantar.
Dan nama Hasan
yang satunya lagi Haji. Haji Hasan terkenal dengan sebutan juragan kambing Kali
Ungu. Kali Ungu sebenanya bagian dari daerah Lebeng juga, karena letaknya
paling pinggir, sebelah timur, dan terpisah dengan bulakan sawah, kadang-kadang
disebut desa tersendiri.
Haji Hasan memang pedagang kambing, Selain
ternak sendiri, ia juga membeli kambing yang masih cempe dari penduduk, lalu
digemukkan. Secara berkala kambing yang sudah besar dikirim ke pasar utuk
dijual. Tidak hanya pasar Lebeng, kadang juga ke Kesugiahan malah katanya
sampai juga ke Cilacap.
Suatu malam,
pembantu Haji Hasan datang kerumah, katanya pak Haji sakit perut dan susah
bernafas, Mbah Kakung diminta datang kerumahnya untuk mengobati.
Dengan senang hati Mbah Kakung memenuhi
permintaan pak Haji. Setelah diperiksa, ternyata pak haji masuk angin berat,
orang bilang angin duduk. Kata Mbah Kakung, memang angin duduk penyakit ringan,
tetapi penyakit itu bisa berubah menjadi berbahaya. Jika anginnya tak bisa
keluar dari perut, bisa mendesak diafrgma dan diafragma bisa mendesak paru-paru
mengakibatkan sesak nafas. Tetapi lebih berbahaya lagi jika diafragma mendesak
jantung bisa mengakibatkan jantung berhenti berdenyut.
Setelah diberi obat kembung, Mbah Kakung
pulang. Sebelum pulang Mbah Kakung pesan kalau pak Haji tahan, dikeroki saja
punggung, dada dan perut. Dan dianjurkan minum weda jahe yang panas.
Dua hari
berikutnya, haji Hasan bersama istrinya berkunjung ke poliklinik. Karena
niatnya memang tidak borobat, ketika melihat Mbah Kakung sibuk di poliklinik,
mereka tak berani menggangu, makanya mereka bertamu saja masuk kedalam rumah
menemui Mbah Putri.
Maksud kedatangnaya mau mengucapkan
terimakasih. Berkat pertolongan Mbah Kakung, pak Haji bisa sembuh.
“Malam itu,
rasanya seperti orang sekarat,” kata pak Haji, lalu sambungnya:
“Seumur hidup
baru sekali itu saya dikeroki, tetapi nyatanya sekarang badan terasa nyaman dan
enteng.”
“Nanti setelah
itu menjadi senang kerokan,” kata Mbah Putri.
“Ah masa jadi
tuman kerokan?” tanya Haji Hasan.
“Jangan kan
orang biasa, pak Mantri saja paling senang dikeroki,” kata Mbah Putri.
Setelah beberapa
lama bercakap-cakap, suami istri itu pamit pulang. Tetapi rupanya diam-diam bu
Haji meneyelipkan sejumlah uang banyak di bawah taplak meja, sebagai ongkos
pengobatan suaminya.
Uang tiggalan bu Haji ketahuan sesudah
bubaran poliklinik. Mbah Kakung marah, Mbah Putri disalahkan menerima uang
pengobatan yang berlebihan, pokoknya harus dikembalikan. Tetapi Mbah Putri
membela diri, ia tak tau kalau bu Haji meletekkan uang dibawah taplak meja,
kalau tau pasti disuruhnya bawa pulang.
Mbah Putri panggil kang Parjo, disuruhnya
uang itu dikembalikan ke rumah haji Hasan. Klir semua kembali tenang.
Sore hari ketika Mbah Kakung dan Mbah Putri
duduk-duduk di teras belakang, muncul kang Parjo sambil menuntun kambing.
“Cempe siapa
itu?” tanya Mbah Kakung heran.
“Dari bu haji
Hasan?” jawab kang Parjo
“Lho gimana
ceriteranya?” tanya Mbah Putri ikut heran.
“Tadi saya
ditanya, Jo bisa pelihara kambing tidak? Ya saya jawab bisa. Lalu bu Haji
bilang, ya sudah, kambing itu bawa pulang sana. Ya saya bawa,” kata kang Parjo.
Mbah Putri
melirik Mbah Kakung, aneh kali ini Mbah Kakung tak mengeluarkan komentar.
“Waktu kamu
dikasih cempe bu Haji, Pak Haji ada nggak?” tanya Mbah Putri.
“Ada, malah pak
Haji bilang, wedus ini boleh dipelihara, boleh juga disembelih, dagingnya sudah
enak,” kata kang Parjo.
Lagi-lagi Mbah
Kakung tak komentar.
“Ya sudah
dipelihara saja ya pak?” tanya Mbah Putri pada Mbah Kakung.
“Terserah,”
komentar Mbah Kakung pendek.
Mbah Putri
tanggap, esok hari Mbah Putri menghadap pak Mantri Guru dan istrinya, minta
ijin mau membuat kandang di tanah kosong samping rumah. Pak Mantri Guru tak
keberatan malah senang, biar Mbah Kakung punya hiburan berternak, tidak terus
menerus bekerja, katanya.
Meskipun hanya
membangun kadang ternak, kecil atau besar tentu diperlukan uang. Dari mana Mbah
Putri mendapat dananya? Mbah Kakung tak punya uang, Mbah Kakung hanya Mantri
yang hidup dengan mengandalkan gaji dari Pemerintah. Tak mau buka praktek
diluar jam kerja. Gaji yang diterima setiap bulan habis untuk keperluan
keluarga, bahkan membuat setelan dinas dari kain dril putih saja tak mampu. Mbah
Kakung hanya menunggu jatah Pemerintah yang kadang-kadang turunannya setahun
atau dua tahun sekali. Kalau dapat dua setel, yang satu diberikan kang Kasim sebagai
asisten Mantri, sebab ia tak pernah mendapat jatah pakaian dinas.
Kalau Mbah
Kakung terkenal Mantri yang ampuh, ternyata Mbah Putri mantri keuangan
keluarga yang ulung. Diam-diam Mbah Putri membuat home industri. Bahan bakunya, hasil bumi pemberian dari pasien yang puas
berobat, diolah menjadi makanan siap saji atau komoditi lain yang laku dijual,
seperti pisang dijadikan ceriping, singkong dijadikan gaplek, jagung ditumbuk
jadi beras jagung. Dan paling banyak kelapa dijadikan minyak goreng.
Selain dari pasien, Mbah Putri secara
teratur mendapat semacam upeti dari gunung Pagak berupa kelapa dalam jumlah
banyak.
Kata Mbah Putri, setelah gunung pagak
dibumi hanguskan termasuk poliklinik, daerah itu dikosongkan, poliklinik
dipindah ke kota Jeruk Legi. Kamituwo dan penduduk sekitar gunung Pagak
sepakat, puncak gunung Pagak yang berupa tanah kosong, lahannya sekitar 3
hektar itu dihibahkan pada Mbah Kakung. Mbah Kakung tidak mengiakan dan juga
tidak menolak. Mbah Kakung merasa terlalu berat menerima hibah itu, namun jika
menolak takut melukai hati penduduk yang naif, tulus dan loyal. Berkali kali Mbah
Kakung datang kesana untuk menghimbau pak Kamituwo, agar tanah itu
dibudidayakan saja untuk kepentingan rakyat setempat. Akhirnya pak Kamituwo
setuju. Dibuatnya peraturan yang tak tertulis, siapa saja boleh menggarap tanah
itu, asal tidak merusak dan mengakui sebagai miliknya. Itu awal adanya upeti.
Bagi penduduk yang menggarap lahan yang banyak ditumbuhi pohon kelapa itu
merasa kuwajiban mengirimkan sebagian hasil panennya ke Lebeng.
Hasil home industri karya Mbah Putri,
dikirim ke pasar. Disana sudah ada penampungnya namanya bah Acong. Hasilnya
lumayan, malah kadang bisa melebihi gaji Mbah Kakung.
Sehabis menemui
pak Mantri Guru, Mbah Putri memanggil kang Parjo, untuk mulai membangun kandang
ternak hari itu juga. Kang Parjo dibantu kang Maryo, pembantu rumah tangga pak
Mantri Guru, mulai sibuk mencari bahan material untuk membangun kandang.
Suatu kejutan, ketika penduduk Lebeng
mendengar Mbah Kakung mau bikin kandang, mereka ramai ramai menyumbang bahan
bangunan seperti bambu, gedeg dan atap rumbia. Tidah hanya itu hampir setiap
hari datang orang ikut sambatan. Akhirnya Mbah Putri malaham tak mengeluarkan
uang, kecuali sekedar membeli gula, teh dan kopi. Juga menyediakan sarapan,
cemilan dan makan siang.
Kira kira 10 hari kandang ternak itu telah
jadi. Tak tangung-tangung, bangunan itu luasnya 6 X 10 m. Kata kang Parjo, dari
pada materialnya sisa lebih baik dipakai semua.
Bentuk kandang itu seperti los pasar,
tinggi. Dinding paling atas berupa ruji-ruji bambu, sebagai ventilasi udara.
Semua sisi dindingnya terbuat dari gedeg, tertutup rapat, tetapi seperempat
dinding paling bawah, merupkan pintu-pintu yang bisa dibuka untuk keluar
masuknya ternak dan juga memudahkan membersihkan kotorannya.
Sekarang Mbah Kakung punya hobi baru,
beternak. Mbah Putri juga senang melihat Mbah Kakung sibuk dengan selingan itu,
mengurangi ketegangan yang selama ini membuat temperamen Mbah Kakung selalu
tinggi.
Ceritera Mbah
Putri:
“Tentang isi
kandang itu juga ada kisahnya.”
Awalnya kandang
itu hanya diisi beberapa ekor ternak, seperti ayam, itik dan mentok yang selama
ini sudah lama dipelihara di rumah. Tetapi tidak sampai seminggu kadang itu
mulai penuh isinya.
Saat membangun kandang, Mbah Putri sedang
hamil tua. Pas kandang selesai, Mbah Putri melahirkan adikku, anak perempuan
keluarga kami yang ke 6
diberi nama Siti Ningsih.
Soal lahirnya, ya normal saja. Banyak
tetangga-tetangga, bekas pasien bahkan bekas pasien dari desa lain yang jauh
dari rumah, menyempatkan datang bezuk Mbah Putri, mereka juga biasa-biasa saja.
Tetapi yang tidak biasa, banyak diantara mereka datang membawa sumbangan berupa
ternak. Ada bebek, ayam, mentok bahkan kalkun.
Rupanya kabar pak Mantri poliklinik Lebeng
membuat kandang sudah tersiar luas, oleh karena itu kebanyakan mereka berpikir,
dari pada menyumbang bahan makanan lebih baik diganti hewan ternak.
Keluarga pak Mantri Guru paling banyak
menyumbang ternak, ada angsa dan kambing. Yang aku masih ingat dan berkesan
dari sumbangan pak Mantri Guru adalah pitik walik dan pitik kate, karen baru
kali itu aku melihatnya. Pitik walik adalah ayam yang bulunya keriting, bulunya
melengkung kearah luar dan pitik kate adalah ayam kerdil yang besarnya hanya seukuran
genggaman tangan orang dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar