Senin, 13 November 2023

kadonya ternak

 

Kadonya Ternak

 

        Nama Hasan didesa Lebeng banyak. Ada Hasan tukang cukur, ia langganan Mbah Kakung dan aku juga sering diajak cukur di rumahnya. Yang aku masih ingat rumah sekaligus kios tempat cukurnya, letaknya sebelah timur pasar, dan di depan rumah ada pohon waru. Umurnya masih muda tetapi penampilanya sudah seperti orang tua, badannya kurus dadanya dibungkukkan, kata Mbah Kakung itu resiko tukang cukur, rentan kena penyakit TBC dan ashma.

        Ada lagi Hasan, kami memanggilnya kang Hasan. Ia adik ipar pak Diman, orang Kesugihan yang punya delman atau dokar bahasa lokal. Kereta kuda itu bisa disewa, tetapi kalau tak ada yang nyewa ia menarik penumpang dari Lebeng ke Kesugian pulang pergi.

Kang Hasan sendiri keahliannya menebang pohon besar. Jika ada orang mau menebang pohon yang besar seperti pohon kelapa, jati dan pohon besar lainnya, kebanyakan minta tolong kang Hasan. Jika tidak ada order, kang Hasan sering pergi ke hutan, mencari pokok kayu bekas pohon yang ditebang. Setelah di belah-belah dijadikan kayu bakar, lalu dijual kepasar.

Ya gara-gara kang Hasan ini kami sekeluarga, kadang diberi gratisan jika naik kereta kuda pak Diman. Kalau Mbah Kakung menyewa delmannya untuk bepergian ke Cilacap diberi tarif murah.

 

Suatu hari pak Diman membangun rumah di Lebeng. Di tanah kosong samping rumah kang Hasan.

Tradisi di desa kami, jika ada orang membangun rumah atau bangunan lain, yang namanya tetangga, kenalan atau saudara tanpa diminta, datang sendiri untuk mengulurkan bantuan. Ada yang membawakan material, ada yang menyumbang makanan dan ada juga yang menyumbang tenaga saja. Gotong royong semacam itu diberi istilah sambatan.

Saat itu kang Hasan juga datang ikut sambatan. Pagi hari sebelum orang-orang bekerja, disajikan sarapan seperti singkong rebus, kentang hitam, tales dan cemilan lain yang membuat perut kenyang. Biasanya cemilan semacam itu minumnya teh dan gulanya gula kelapa. Uniknya gulanya tidak dicampur, gulanya utuh caranya minum:

Gula dipotong potong seperti permen besar, sepotong gula diambil, digigit sedikit ujungnya, dikunyah seperti makan preman, setelah gula di dalam mulut agak lembut baru mengambil cangkir kecil isi air teh yang masih panas, menghirup seteguk lalu didalam mulut itu dikumur-kumur supaya air teh dan gula nyampur, baru ditelan. Minum teh, gula jawa dengan cara begitu mengasyikkan (kelak setelah tua aku pun masih sering melakukan).

 

Ceriteranya, pagi hari itu kang Hasan memotong-motong gula jawa dengan kapaknya yang tajam sekali, karena sering diasah. Setelah selesai memotong gula, dilihatnya di mata kapaknya masih banyak gula menempel, karena sayang barang kebuang, gula yang di kapak itu (maaf) dijilati dengan lidah. Malang, lidahnya menggores mata kapak yang tajam, spontan kang Hasan teriak, dari mulut tak henti-hentinya mengucurkan darah, orang–orang yang berada disitu panik, mengira lidahnya putus, segera ia dilarikan ke poliklinik.

Kang Hasan masih beruntung, setelah diperiksa ternyata lidahnya tak terlalu parah, tetapi justru bibir bagian dalamnya yang parah. Sebab setelah kang Hasan kaget, lidahnya tergores mata kapak, sepontan bibir yang tadinya menganga lalu menutup, tentu saja bibir atas dan bawah bagian dalam bagaikan diiris dengan kapak tajam.

Setelah beberapa kali perawatan, bibir kang hasan bisa sembuh seperti sedia kala. Sebagi ungkapan terima kasih, pak Diman menawarkan jasa, jika sewaktu-waktu memerlukan delman, ia siap mengantar.

 

        Dan nama Hasan yang satunya lagi Haji. Haji Hasan terkenal dengan sebutan juragan kambing Kali Ungu. Kali Ungu sebenanya bagian dari daerah Lebeng juga, karena letaknya paling pinggir, sebelah timur, dan terpisah dengan bulakan sawah, kadang-kadang disebut desa tersendiri.

Haji Hasan memang pedagang kambing, Selain ternak sendiri, ia juga membeli kambing yang masih cempe dari penduduk, lalu digemukkan. Secara berkala kambing yang sudah besar dikirim ke pasar utuk dijual. Tidak hanya pasar Lebeng, kadang juga ke Kesugiahan malah katanya sampai juga ke Cilacap.

        Suatu malam, pembantu Haji Hasan datang kerumah, katanya pak Haji sakit perut dan susah bernafas, Mbah Kakung diminta datang kerumahnya untuk mengobati.

Dengan senang hati Mbah Kakung memenuhi permintaan pak Haji. Setelah diperiksa, ternyata pak haji masuk angin berat, orang bilang angin duduk. Kata Mbah Kakung, memang angin duduk penyakit ringan, tetapi penyakit itu bisa berubah menjadi berbahaya. Jika anginnya tak bisa keluar dari perut, bisa mendesak diafrgma dan diafragma bisa mendesak paru-paru mengakibatkan sesak nafas. Tetapi lebih berbahaya lagi jika diafragma mendesak jantung bisa mengakibatkan jantung berhenti berdenyut.

Setelah diberi obat kembung, Mbah Kakung pulang. Sebelum pulang Mbah Kakung pesan kalau pak Haji tahan, dikeroki saja punggung, dada dan perut. Dan dianjurkan minum weda jahe yang panas.

 

        Dua hari berikutnya, haji Hasan bersama istrinya berkunjung ke poliklinik. Karena niatnya memang tidak borobat, ketika melihat Mbah Kakung sibuk di poliklinik, mereka tak berani menggangu, makanya mereka bertamu saja masuk kedalam rumah menemui Mbah Putri.

Maksud kedatangnaya mau mengucapkan terimakasih. Berkat pertolongan Mbah Kakung, pak Haji bisa sembuh.

        “Malam itu, rasanya seperti orang sekarat, kata pak Haji, lalu sambungnya:

        “Seumur hidup baru sekali itu saya dikeroki, tetapi nyatanya sekarang badan terasa nyaman dan enteng.”

        “Nanti setelah itu menjadi senang kerokan,” kata Mbah Putri.

        “Ah masa jadi tuman kerokan?” tanya Haji Hasan.

        “Jangan kan orang biasa, pak Mantri saja paling senang dikeroki,” kata Mbah Putri.

        Setelah beberapa lama bercakap-cakap, suami istri itu pamit pulang. Tetapi rupanya diam-diam bu Haji meneyelipkan sejumlah uang banyak di bawah taplak meja, sebagai ongkos pengobatan suaminya.

Uang tiggalan bu Haji ketahuan sesudah bubaran poliklinik. Mbah Kakung marah, Mbah Putri disalahkan menerima uang pengobatan yang berlebihan, pokoknya harus dikembalikan. Tetapi Mbah Putri membela diri, ia tak tau kalau bu Haji meletekkan uang dibawah taplak meja, kalau tau pasti disuruhnya bawa pulang.

Mbah Putri panggil kang Parjo, disuruhnya uang itu dikembalikan ke rumah haji Hasan. Klir semua kembali tenang.

Sore hari ketika Mbah Kakung dan Mbah Putri duduk-duduk di teras belakang, muncul kang Parjo sambil menuntun kambing.

        “Cempe siapa itu?” tanya Mbah Kakung heran.

        “Dari bu haji Hasan?” jawab kang Parjo

        “Lho gimana ceriteranya?” tanya Mbah Putri ikut heran.

        “Tadi saya ditanya, Jo bisa pelihara kambing tidak? Ya saya jawab bisa. Lalu bu Haji bilang, ya sudah, kambing itu bawa pulang sana. Ya saya bawa,” kata kang Parjo.

        Mbah Putri melirik Mbah Kakung, aneh kali ini Mbah Kakung tak mengeluarkan komentar.

        “Waktu kamu dikasih cempe bu Haji, Pak Haji ada nggak?” tanya Mbah Putri.

        “Ada, malah pak Haji bilang, wedus ini boleh dipelihara, boleh juga disembelih, dagingnya sudah enak,” kata kang Parjo.

        Lagi-lagi Mbah Kakung tak komentar.

        “Ya sudah dipelihara saja ya pak?” tanya Mbah Putri pada Mbah Kakung.

        “Terserah,” komentar Mbah Kakung pendek.

        Mbah Putri tanggap, esok hari Mbah Putri menghadap pak Mantri Guru dan istrinya, minta ijin mau membuat kandang di tanah kosong samping rumah. Pak Mantri Guru tak keberatan malah senang, biar Mbah Kakung punya hiburan berternak, tidak terus menerus bekerja, katanya.

 

        Meskipun hanya membangun kadang ternak, kecil atau besar tentu diperlukan uang. Dari mana Mbah Putri mendapat dananya? Mbah Kakung tak punya uang, Mbah Kakung hanya Mantri yang hidup dengan mengandalkan gaji dari Pemerintah. Tak mau buka praktek diluar jam kerja. Gaji yang diterima setiap bulan habis untuk keperluan keluarga, bahkan membuat setelan dinas dari kain dril putih saja tak mampu. Mbah Kakung hanya menunggu jatah Pemerintah yang kadang-kadang turunannya setahun atau dua tahun sekali. Kalau dapat dua setel, yang satu diberikan kang Kasim sebagai asisten Mantri, sebab ia tak pernah mendapat jatah pakaian dinas.

       

        Kalau Mbah Kakung terkenal Mantri yang ampuh, ternyata Mbah Putri mantri keuangan keluarga yang ulung. Diam-diam Mbah Putri membuat home industri. Bahan bakunya, hasil bumi pemberian dari pasien yang puas berobat, diolah menjadi makanan siap saji atau komoditi lain yang laku dijual, seperti pisang dijadikan ceriping, singkong dijadikan gaplek, jagung ditumbuk jadi beras jagung. Dan paling banyak kelapa dijadikan minyak goreng.

Selain dari pasien, Mbah Putri secara teratur mendapat semacam upeti dari gunung Pagak berupa kelapa dalam jumlah banyak.

Kata Mbah Putri, setelah gunung pagak dibumi hanguskan termasuk poliklinik, daerah itu dikosongkan, poliklinik dipindah ke kota Jeruk Legi. Kamituwo dan penduduk sekitar gunung Pagak sepakat, puncak gunung Pagak yang berupa tanah kosong, lahannya sekitar 3 hektar itu dihibahkan pada Mbah Kakung. Mbah Kakung tidak mengiakan dan juga tidak menolak. Mbah Kakung merasa terlalu berat menerima hibah itu, namun jika menolak takut melukai hati penduduk yang naif, tulus dan loyal. Berkali kali Mbah Kakung datang kesana untuk menghimbau pak Kamituwo, agar tanah itu dibudidayakan saja untuk kepentingan rakyat setempat. Akhirnya pak Kamituwo setuju. Dibuatnya peraturan yang tak tertulis, siapa saja boleh menggarap tanah itu, asal tidak merusak dan mengakui sebagai miliknya. Itu awal adanya upeti. Bagi penduduk yang menggarap lahan yang banyak ditumbuhi pohon kelapa itu merasa kuwajiban mengirimkan sebagian hasil panennya ke Lebeng.

Hasil home industri karya Mbah Putri, dikirim ke pasar. Disana sudah ada penampungnya namanya bah Acong. Hasilnya lumayan, malah kadang bisa melebihi gaji Mbah Kakung.

 

        Sehabis menemui pak Mantri Guru, Mbah Putri memanggil kang Parjo, untuk mulai membangun kandang ternak hari itu juga. Kang Parjo dibantu kang Maryo, pembantu rumah tangga pak Mantri Guru, mulai sibuk mencari bahan material untuk membangun kandang.

Suatu kejutan, ketika penduduk Lebeng mendengar Mbah Kakung mau bikin kandang, mereka ramai ramai menyumbang bahan bangunan seperti bambu, gedeg dan atap rumbia. Tidah hanya itu hampir setiap hari datang orang ikut sambatan. Akhirnya Mbah Putri malaham tak mengeluarkan uang, kecuali sekedar membeli gula, teh dan kopi. Juga menyediakan sarapan, cemilan dan makan siang.

Kira kira 10 hari kandang ternak itu telah jadi. Tak tangung-tangung, bangunan itu luasnya 6 X 10 m. Kata kang Parjo, dari pada materialnya sisa lebih baik dipakai semua.

Bentuk kandang itu seperti los pasar, tinggi. Dinding paling atas berupa ruji-ruji bambu, sebagai ventilasi udara. Semua sisi dindingnya terbuat dari gedeg, tertutup rapat, tetapi seperempat dinding paling bawah, merupkan pintu-pintu yang bisa dibuka untuk keluar masuknya ternak dan juga memudahkan membersihkan kotorannya.

Sekarang Mbah Kakung punya hobi baru, beternak. Mbah Putri juga senang melihat Mbah Kakung sibuk dengan selingan itu, mengurangi ketegangan yang selama ini membuat temperamen Mbah Kakung selalu tinggi.

        Ceritera Mbah Putri:

        “Tentang isi kandang itu juga ada kisahnya.”

        Awalnya kandang itu hanya diisi beberapa ekor ternak, seperti ayam, itik dan mentok yang selama ini sudah lama dipelihara di rumah. Tetapi tidak sampai seminggu kadang itu mulai penuh isinya.

Saat membangun kandang, Mbah Putri sedang hamil tua. Pas kandang selesai, Mbah Putri melahirkan adikku, anak perempuan keluarga kami yang ke 6 diberi nama Siti Ningsih.

Soal lahirnya, ya normal saja. Banyak tetangga-tetangga, bekas pasien bahkan bekas pasien dari desa lain yang jauh dari rumah, menyempatkan datang bezuk Mbah Putri, mereka juga biasa-biasa saja. Tetapi yang tidak biasa, banyak diantara mereka datang membawa sumbangan berupa ternak. Ada bebek, ayam, mentok bahkan kalkun.

Rupanya kabar pak Mantri poliklinik Lebeng membuat kandang sudah tersiar luas, oleh karena itu kebanyakan mereka berpikir, dari pada menyumbang bahan makanan lebih baik diganti hewan ternak.

Keluarga pak Mantri Guru paling banyak menyumbang ternak, ada angsa dan kambing. Yang aku masih ingat dan berkesan dari sumbangan pak Mantri Guru adalah pitik walik dan pitik kate, karen baru kali itu aku melihatnya. Pitik walik adalah ayam yang bulunya keriting, bulunya melengkung kearah luar dan pitik kate adalah ayam kerdil yang besarnya hanya seukuran genggaman tangan orang dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...