Aku hampir tidak lahir.
Proklamasi.
Kami bangsa Indonesia, dengan
ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang
mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l. diselenggarakan dengan
tjara seksama dan dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya.
Djakarta, 17 Agoestoes 1945
Atas nama bangsa
Indonesia
Soekarno / Hatta.
Aku tidak tahu peristiwa hari pertama
Indonesia merdeka. Ketika itu umurku baru 1 tahun 6 bulan lebih 9 hari.
Sekitar tahun 1940 an Mbah Kakung dan Mbah
Putri sudah berdomisili di puncak gunung Pagak, salah satu
gunung kecil dari deretan pegunungan Kendeng lingkar selatan. Kawasan ini
terletak di Jawa Tengah berbatasan dengan Jawa Barat, masuk distrik Jeruk Legi
yang kotanya terletak di pertengahan jalan protokol antara Wangon dan Cilacap. Mbah Kakung menjadi kepala Poliklinik
yang berada di daerah itu.
Tahun-tahun
menjelang kemerdekaan Indonesia Mbah Putri sedang hamil. Mbah Kakung senang
sekali dan berharap sangat, anaknya yang lahir nanti anak laki-laki sebab, 3
anak yang telah lahir semua putri, yang diberi nama Sri Amiyati, Siti Partini
dan Siti Partinah.
Ketika diluar
ruang pesalinan sedang bergembira ria menyambut kelahiran putra laki-laki yang
didamba-dambakan, dari dalam kamar bersalin terdengar teriakan Suster:
“PAK MANTRI...PAK MANTRI, BAYINYA
KETINGGALAN!”
Mbah kakung binggung, Lho bayinya dibawa
kok katanya ketinggalan. Karena penasaran bayi yang dibawa mbah kakung
diserahkan pada seorang kerabat yang berada disitu lalu bergegas masuk lagi ke
ruang bersalin.
Tak lama kemudian
dari dalam kamar bersalin terdengan ...OEK... OEK... suara bayi menangis. Yang
berada diluar ruang pesalinan kaget dan bingung. Misteri apa ini? Pikir mereka.
Tak lama kemudian
mbah kakung keluar dari ruang bersalin sambil menggedong bayi laki-laki satu
lagi. Dan meledaklah kegembiraan orang disekitar itu ketika tahu bayinya Mbah Putri
kembar laki-laki.
Jadi, ceriteranya ketika Suster
membersihkan badan mbah Putri, ia meraba masih ada bayi didalam kandungan,
karena terkejut ia teriak bayinya ketinggalan.
Kepingin anak
laki-laki satu diberi bonus satu, ya itulah anugerah Allah, karena kebaikan dan
kemuliaan hati Mabah Kakung.
Nah itulah
kelahiran aku dan kakak kembaranku, yang oleh mbah kakung diberi nama Drajat
Suratman dan Pangkat Surachman.
Setelah resmi
dibenum menjadi Mantri Kesehatan, tugas Mbah Kakung berpindah pindah dari satu
daerah ke daerah lain seputar Jawa Tengan wilayah Selatan dari ujung timur
hingga barat.
Pasien dan
orang-orang yang tinggal disekitar Poliklinik dimana Mbah Kakung bertugas
menyebutnya pak Mantri dan akhirnya sebutan pak Matri menjadi brand Mbah Kakung.
Karena tugasnya
berpindah pindah itu, dari 7 anak kandungnya, berlainan pula nama daerah tempat
kelahirannya.
Sri Amiyati lahir
di Semarang, Siti Partini lahir di Kroya, Siti Partinah lahir di Klaten, Drajat
Suratman dan Pangkat Surachman lahir di Jeruk Legi, seterunya Siti Ningsih
lahir di Lebeng, dan Agus Wahyu Santosa, si ragil lahir di Kota Cilacap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar