Senin, 13 November 2023

merdeka

 Aku hampir tidak lahir.

 

Proklamasi.

Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l. diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Djakarta, 17 Agoestoes 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno / Hatta.

 

         MERDEKA ! MERDEKA ! MERDEKA!

         Begitu kira-kira teriak serentak rakyat seluruh Indonesia, seusai mendengar Bung Karno membaca teks proklamasi. Ada yang mendengar langsung dari radio, ada pula yang mendengar lewat mulut orang. Ada juga yang tidak mendengar tetapi melihat. Ya, melihat orang teriak MERDEKA, mereka pun latah langsung teriak MERDEKA!

 Ini kisahku.

Aku tidak tahu peristiwa hari pertama Indonesia merdeka. Ketika itu umurku baru 1 tahun 6 bulan lebih 9 hari.

        Sekitar tahun 1940 an Mbah Kakung dan Mbah Putri sudah berdomisili di puncak gunung Pagak, salah satu gunung kecil dari deretan pegunungan Kendeng lingkar selatan. Kawasan ini terletak di Jawa Tengah berbatasan dengan Jawa Barat, masuk distrik Jeruk Legi yang kotanya terletak di pertengahan jalan protokol antara Wangon dan Cilacap. Mbah Kakung menjadi kepala Poliklinik yang berada di daerah itu.

Tahun-tahun menjelang kemerdekaan Indonesia Mbah Putri sedang hamil. Mbah Kakung senang sekali dan berharap sangat, anaknya yang lahir nanti anak laki-laki sebab, 3 anak yang telah lahir semua putri, yang diberi nama Sri Amiyati, Siti Partini dan Siti Partinah.

         Saatnya Mbah Putri melahirkan. Yang menangani pesalinan Mbah Kakung sendiri, karena ia memang Mantri kesehatan. Setelah lahir ternyata bayinya laki-laki. Saking gembiranya, mbah kakung membawa bayinya keluar ruang pesalinan untuk dipamerkan pada kerabat dan tetangga yang ikut menunggui proses kelahiran. Sedangkan mban putri, dirawat dan dibersihan oleh seorang Suster.

Ketika diluar ruang pesalinan sedang bergembira ria menyambut kelahiran putra laki-laki yang didamba-dambakan, dari dalam kamar bersalin terdengar teriakan Suster:

        “PAK MANTRI...PAK MANTRI, BAYINYA KETINGGALAN!”

        Mbah kakung binggung, Lho bayinya dibawa kok katanya ketinggalan. Karena penasaran bayi yang dibawa mbah kakung diserahkan pada seorang kerabat yang berada disitu lalu bergegas masuk lagi ke ruang bersalin.

Tak lama kemudian dari dalam kamar bersalin terdengan ...OEK... OEK... suara bayi menangis. Yang berada diluar ruang pesalinan kaget dan bingung. Misteri apa ini? Pikir mereka.

Tak lama kemudian mbah kakung keluar dari ruang bersalin sambil menggedong bayi laki-laki satu lagi. Dan meledaklah kegembiraan orang disekitar itu ketika tahu bayinya Mbah Putri kembar laki-laki.

        Jadi, ceriteranya ketika Suster membersihkan badan mbah Putri, ia meraba masih ada bayi didalam kandungan, karena terkejut ia teriak bayinya ketinggalan.

Kepingin anak laki-laki satu diberi bonus satu, ya itulah anugerah Allah, karena kebaikan dan kemuliaan hati Mabah Kakung.

Nah itulah kelahiran aku dan kakak kembaranku, yang oleh mbah kakung diberi nama Drajat Suratman dan Pangkat Surachman.

         Awalnya mbah kakung sekolah Doker Jawa di rumah sakit CBZ, sekarang RS DR Karyadi Semarang. Sayang ketika mau melajutkan sekolah dokternya ke Batavia sakit hingga waktu yang lama dan gagal melanjutkan sekolahnya. Beruntung setelah sembuh mbah Kakung ditawari menjadi Manteri Kesehatan saja, tugasnya membawahi sebuah Poliklinik (sekarang namanya Puskesmas).

Setelah resmi dibenum menjadi Mantri Kesehatan, tugas Mbah Kakung berpindah pindah dari satu daerah ke daerah lain seputar Jawa Tengan wilayah Selatan dari ujung timur hingga barat.

Pasien dan orang-orang yang tinggal disekitar Poliklinik dimana Mbah Kakung bertugas menyebutnya pak Mantri dan akhirnya sebutan pak Matri menjadi brand Mbah Kakung.

Karena tugasnya berpindah pindah itu, dari 7 anak kandungnya, berlainan pula nama daerah tempat kelahirannya.

Sri Amiyati lahir di Semarang, Siti Partini lahir di Kroya, Siti Partinah lahir di Klaten, Drajat Suratman dan Pangkat Surachman lahir di Jeruk Legi, seterunya Siti Ningsih lahir di Lebeng, dan Agus Wahyu Santosa, si ragil lahir di Kota Cilacap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...