Senin, 13 November 2023

jeneng tuwo

 

Jeneng Tuwo.

 

        Seandainya ada kerumunan massa disebuah pertemuan, atau di tempat semacam itu di kota Solo, lalu salah seorang dari mereka bertanya:

        “Siapa yang bernama Sastro, angkat tangan!”

        Kemungkinan tidak hanya satu orang tapi lebih, bahkan mungkin belasan hadirin sertamerta mengangkat tangan.

Kenapa di Solo banyak orang bernama Sastro? Jumlahnya ratusan malah mungkin ribuan.

Dahulu di Solo, Yogya khususnya dan Suku Jawa pada umumnya, setiap pasangan yang menikah lalu membangun rumah tangga sendiri, namanya sering diganti atau ditambah nama baru, istilahnya diberi Jeneng Tuwo. Arti harafiahnya ‘nama tua,’ mungkin tafsirnya ‘nama keluarga’ dengan harapan setelah membangun rumah tangga menjadilah sebuah keluarga yang eksist. Boleh jadi Jeneng tuwo itu padanan dengan Dinasti.

Salah satu nama depan Jeneng tuwo yang paling banyak dipakai Orang Jawa adalah Sastro. Misalnya, Paijo setelah menikah diberi Jeneng tuwo Sastro-dimejo, maka selanjutnya ia dikenal dengan nama Paijo Sastrodimeja. Lama kelamaan nama aslinya, Paijo, terkubur, orang lebih mengenal ia namanya Sastrodimedjo, dan selanjutnya ia hanya dipanggil pak Sastro atau mas Sastro saja.

Dan itu dilakukan oleh banyak orang, hingga tak heran jika kita panggil Pak Sastro, maka yang unjuk tangan banyak, mungkin aslinya mereka bernama Sastrodimejo, Sastrotenoyo, Sastromengolo, Sastroprawiro dan lain seperti itu.

 

        Yang unik, pemberian Jeneng tuwo, Sastrodimejo misalnya, tidak untuk satu orang, melainkan banyak orang, meskipun tak ada pertalian saudara. Untuk membedakan Sastrodimejo satu dengan yang lainnya, orang sering mengganti nama belakangnya (Dimejo) dengan mengindetikkan ciri fisik, atau profesi si Empunya nama, misalnya: Sastro-dhengkek, Sastro yang badannya bungkuk, Sastro-peyang, Sastro yang kepalanya peyang (unsimetris), Sastro-jamu, Sastro yang jualan jamu dan lain semacam itu.

Selain nama Sastro sebagai nama depan Jeneng Tuwo yang paling banyak digunakan antara lain: Wiro, Wiryo, Karto, Karyo, Marto, Joyo, Darmo, Mangun dan lain lainnya.

        Nama depan Jeneng Tuwo bukanlah sebuah nama turun temurun seperti pemberian nama Marga pada Suku Batak, suku Minahasa, suku Bali dan lain semacam itu, meskipun ada pula keluarga Jawa yang turun temurun memakai nama depan Jeneng Tuwo yang sama.

Namun gambaran secara umum, seorang yang telah diberi titel Jeneng Tuwo menjadi pertanda si Empunya nama, orang yang sudah berumah tangga.

 

        Lain zaman dulu, lain pula zaman sekarang. Sepertinya masa kini, budaya memberi Jeneng Tuwo, sudah luntur malahan mungkin sudah punah. Alasannya sederhana dan bisa dipahami. Sekarang, orang merubah nama, memberi tambahan nama, urusannya rumit, tidak cukup ke RT/RW, Kelurahan, Kecamatan, bahkan sampai Catatan Sipil, ke pengadilan dan imigrasi dan pastinya setiap pos itu keluar duit.

Sedangkan zaman dulu, merubah nama, memberi tambahan Jeneng Tuwo, cukup membuat bancakan (semacam kenduri, kecil-kecilan) dibuatkan tumpeng kecil diatas tampah dilengkapi urap sayuran, ditambah lauk pauk seperti tahu, tempe dan beberapa telor rebus (satu telor dibagi 4-8 potong) dan lain lain, tidak ketinggalan gereh pethek (ikan asin) bakar, sedangkan yang mampu, ditambah ingkung ayam. Setelah bancaan siap, panggil tetangga (biasanya yang datang anak-anak kecil), sambil membagi bancakan sambil menyosialisasikan, perubahan atau penambahan nama. Tak ada Modin yang berdoa, gak ada Uztadz untuk tousiah, tidak ada Pendeta yang khotbah dan nggak perlu dibaptis oleh Pastur.

 

        Biografi tokoh yang akan kita tampilkan dalam blog ini, nama aslinya Amat Rachman bin Amat-Syarif, setelah menikah dengan Sumami, salah satu putri dari Dinasti Trah Satrotaruno, dianugerahi Jeneng Tuwo Sastro-Atmodjo, selanjutnya dikenal dengan nama resmi, Amatrachman Sastroatmodjo.

Dalam perjalanan masa, keluarga Amatrachman Sastroatmodjo, eksist menjadi sebuah dinasti, yang kini lebih populer dipanggil keluarga besar Trah Sastroatmodjo, yang sekarang telah melahirkan generasi ke 4, disebutnya Canggah, malahan mungkin Canggah sudah melahirkan generasi ke 5 disebutnya Wareng.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

G 30 S

  G 30 S   Tanggal 30 September 1965. Dikediam kami di Jalan Sindoro Perumahan Rakyat Gremet sedang punya hajat, khitanan dik Agus. Sele...